<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa  &#187; Setengah Baya</title>
	<atom:link href="http://ceritadewasa.situsbokep.info/category/setengah-baya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info</link>
	<description>Koleksi Cerita Dewasa, Cerita Panas, Cerita Seks, Cerita Porno 17 tahun Keatas</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Aug 2010 12:02:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Janda Kesepian Tetangga Baruku</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-kesepian-tetangga-baruku.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-kesepian-tetangga-baruku.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 16:55:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[jablay]]></category>
		<category><![CDATA[janda]]></category>
		<category><![CDATA[seks tante]]></category>
		<category><![CDATA[tetangga baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Cerita dewasa yang kali datang dari seorang tante dan kebetulan menyandang status janda pindah ke kompleks perumahan yang sudah lama aku tempati. Seperti keadaan tante atau pun janda yang jablay kesepian dan merindukan belaian manja dari lelaki.
Mau tau kelanjutan kisah percintaanku dengan tante yana tetangga baruku? simak kisah yang satu ini. Panggil saja aku Ade, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita dewasa yang kali datang dari seorang tante dan kebetulan menyandang status janda pindah ke kompleks perumahan yang sudah lama aku tempati. Seperti keadaan tante atau pun janda yang jablay kesepian dan merindukan belaian manja dari lelaki.</p>
<p>Mau tau kelanjutan kisah percintaanku dengan tante yana tetangga baruku? simak kisah yang satu ini. Panggil saja aku Ade, panggilan sehari-hari meski aku bukan anak bontot. Aku murid SMU kelas 3. Aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta. <span id="more-136"></span>Daerahnya mirip-mirip di PI deh, tapi bukan perumahan “or-kay” kok. Sekitar beberapa bulan lalu, rumah kontrakan kosong di sebelah kiri rumahku ditempati oleh keluarga baru. Awalnya mereka jarang kelihatan, namun sekitardua minggu kemudian mereka sudah cepat akrab dengan tetangga–tetangga sekitar. Ternyata penghuninya seorang wanita dengan perkiraanku umurnya baru 30-an, anak perempuannya dan seorang PRT. Nama lengkapnya aku tidak tahu, namun nama panggilannya Tante Yana. Anaknya bernama Anita, sepantaran denganku, siswi SMU kelas 3. Ternyata Tante Yana adalah janda seorang bule kalau tidak salah, asal Perancis. Sikapnya friendly, gampang diajak ngobrol. Tapi, yang paling utama adalah penampilannya yang “mengundang”. Rambutnya ikal di bawah telinga. Kulitnya coklat muda. Bodinya tidak langsing tapi kalau dilihat terus, malah jadi seksi. Payudaranya juga besar. Taksiranku sekitar 36-an. Yang membikin mengundang adalah Tante Yana sering memakai baju sleeveless dengan celana pendek sekitar empat jari dari lutut. Kalau duduk, celananya nampak sempit oleh pahanya. Wajahnya tidak cantik–cantik amat, wajah ciri khas Indonesia, tipe yang disuka orang-orang bule. Seperti bodinya, wajahnya juga kalau diperhatikan, apalagi kalau bajunya agak “terbuka”, malah jadi muka–muka ranjang gitu deh. Dari cara berpakaiannya aku mengira kalau Tante Yana itu hypersex. Kalau Anita, kebalikan ibunya. Wajahnya cantik Indo, dan kulitnya putih. Rambutnya hitam kecoklatan, belah pinggir sebahu. Meski buah dadanya tidak terlalu besar, kecocokan pakaiannya justru membuat Anita jadi seksi. </p>
<p>Nampaknya aku terserang sindrom tetangga sebelah nih. Berhari-hari berlalu, nafsuku terhadap Tante Yana semakin bergolak sehingga aku sering nekat ngumpet di balik semak-semak, onani sambil melihati Tante Yana kalau sedang di luar rumah. Tapi terhadap Anita, nafsuku hanya sedikit, itu juga karena kecantikannya dan kulit putihnya. Nafsu besarku kadang-kadang membuatku ingin menunjukkan batangku di depan Tante Yana dan onani didepan dia. Pernah sesekali kujalankan niatku itu, namun pas Tante Yana lewat, buru-buru kututup “anu”-ku dengan baju, karena takut tiba-tiba Tante Yana melapor sama ortu. Tapi, kenyataannya berbeda. Tante Yana justru menyapaku, (dan kusapa balik sambil menutupi kemaluanku), dan pas di depan pagar rumahnya, ia tersenyum sinis yang menjurus ke senyuman nakal. “Ehem.. hmm..” dengan sorotan mata nakal pula. Sejenak aku terbengong dan menelan ludah, serta malah tambah nafsu. Kemudian, pada suatu waktu, kuingat sekali itu hari Rabu. Saat aku pulang kuliah dan mau membuka pagar rumah, Tante Yana memanggilku dengan lembut, “De, sini dulu.. Tante bikinin makanan nih buat papa-mamamu.” Langsung saja kujawab, “Ooh, iya Tante..” Nafasku langsung memburu, dan dag dig dug. Setengah batinku takut dan ragu-ragu, dan setengahnya lagi justru menyuruh supaya “mengajak” Tante Yana. Tante Yana memakai baju sleeveless hijau muda, dan celana pendek hijau muda juga. Setelah masuk ke ruang tamunya, ternyata Tante Yana hanya sendirian, katanya pembantunya lagi belanja. Keadaan tersebut membuatku semakin dag dig dug. Tiba-tiba tante memanggilku dari arah dapur, “De, sini nih.. makanannya.” Memang benar sih, ada beberapa piring makanan di atas baki sudah Tante Yana susun. Saat aku mau mengangkat bakinya, tiba-tiba tangan kanan Tante Yana mengelus pinggangku sementara tangan kirinya mengelus punggungku. Tante Yana lalu merapatkan wajahnya di pipiku sambil berkata, “De, mm.. kamu.. nakal juga yah ternyata..” Dengan tergagap-gagap aku berbicara, “Emm.. ee.. nakal gimana sih Tante?” Jantungku tambah cepat berdegup. “Hmm hmm.. pura-pura nggak inget yah? Kamu nakal.. ngeluarin titit, udah gitu ngocok-ngocok..”Tante Yana meneruskan bicaranya sambil meraba-raba pipi dekat bibirku. Kontan saja aku tambah gagap plus kaget karena Tante Yana ternyata mengetahuinya. Itulah sebabnya dia tersenyum sinis dan nakal waktu itu. Aku tambah gagap, “Eeehh? Eee.. itu..” Tante Yana langsung memotong sambil berbisik sambil terus mengelus pipiku dan bahkan pantatku. “Kamu mau yah sama Tante? Hmm?” Tanpa banyak omong-omong lagi, tante langsung mencium ujung bibir kananku dengan sedikit sentuhan ujung lidahnya. Ternyata benar perkiraanku, Tante Yana hypersex. Aku tidak mau kalah, kubalas segera ciumannya ke bibir tebal seksinya itu. Lalu kusenderkan diriku di tembok sebelah wastafel dan kuangkat pahanya ke pinggangku. Ciuman Tante Yana sangat erotis dan bertempo cepat. Kurasakan bibirku dan sebagian pipiku basah karena dijilati oleh Tante Yana. Pahanya yang tadi kuangkat kini menggesek-gesek pinggangku. Akibat erotisnya ciuman Tante Yana, nafsuku menjadi bertambah. Kumasukkan kedua tanganku ke balik bajunya di punggungnya seperti memeluk, dan kuelusi punggungnya.</p>
<p> Saat kuelus punggungnya, Tante Yana mendongakkan kepalanya dan terengah. Sesekali tanganku mengenai tali BH-nya yang kemudian terlepas akibat gesekan tanganku. Kemudian Tante Yana mencabut bibirnya dari bibirku, menyudahi ciuman dan mengajakku untuk ke kamarnya. Kami buru-buru ke kamarnya karena sangat bernafsu. Aku sampai tidak memperhatikan bentuk dan isi kamarnya, langsung direbah oleh Tante Yana dan meneruskan ciuman. Posisi Tante Yana adalah posisi senggama kesukaanku yaitu nungging. Ciumannya benar-benar erotis. Kumasukkan tanganku ke celananya dan aku langsung mengelus belahan pantatnya yang hampir mengenai belahan vaginanya. Tante Yana yang hyper itu langsung melucuti kaosku dengan agak cepat. Tapi setelah itu ada adegan baru yang belum pernah kulihat baik di film semi ataupun di BF manapun. Tante Yana meludahi dada abdomen-ku dan menjilatinya kembali. Sesekali aku merasa seperti ngilu ketika lidah Tante Yana mengenai pusarku. Ketika aku mencoba mengangkat kepalaku, kulihat bagian leher kaos tante Yana kendor, sehingga buah dadanya yang bergoyang-goyang terlihat jelas. Kemudian kupegang pinggangnya dan kupindahkan posisinya ke bawahku. Lalu, kulucuti kaosnya serta beha nya, kulanjutkan menghisapi puting payudaranya. Nampak Tante Yana kembali mendongakkan kepalanya dan terengah sesekali memanggil namaku. Sambil terus menghisap dan menjilati payudaranya, kulepas celana panjangku dan celana dalamku dan kubuang ke lantai. Ternyata pas kupegang “anu”-ku, sudah ereksi dengan level maksimum. Sangat keras dan ketika kukocok-kocok sesekali mengenai dan menggesek urat-uratnya. Tante Yana pun melepas celana-celananya dan mengelusi bulu-bulu dan lubang vaginanya. Ia juga meraup sedikit mani dari vaginanya dan memasukkan jari-jari tersebut ke mulutku. Aku langsung menurunkan kepalaku dan menjilati daerah “bawah” Tante Yana. Rasanya agak seperti asin-asin ditambah lagi adanya cairan yang keluar dari lubang “anu”-nya Tante Yana. Tapi tetap saja aku menikmatinya. Di tengah enaknya menjilat-jilati, ada suara seperti pintu terbuka namun terdengarnya tidak begitu jelas. Aku takut ketahuan oleh pembantunya atau Anita. Sejenak aku berhenti dan ngomong sama Tante Yana, “Eh.. Tante..” Ternyata tante justru meneruskan “adegan” dan berkata, “Ehh.. bukan siapa-siapa.. egghh..” sambil mendesah. Posisiku kini di bawah lagi dan sekarang Tante Yana sedang menghisap “lollypop”. Ereksiku semakin maksimum ketika bibir dan lidah Tante Yana menyentuh bagian-bagian batangku. Tante Yana mengulangi adegan meludahi kembali. Ujung penisku diludahi dan sekujurnya dijilati perlahan. Bayangkan, bagaimana ereksiku tidak tambah maksimum?? Tak lama, Tante Yana yang tadinya nungging, ganti posisi berlutut di atas pinggangku. Tante Yana bermaksud melakukan senggama. Aku sempat kaget dan bengong melihat Tante Yana dengan perlahan memegang dan mengarahkan penisku ke lubangnya layaknya film BF saja. Tapi setelah ujungnya masuk ke liang senggama, kembali aku seperti ngilu terutama di bagian pinggang dan selangkanganku dimana kejadian itu semakin menambah nafsuku. Tante mulai menggoyangkan tubuhnya dengan arah atas-bawah awalnya dengan perlahan. Aku merasa sangat nikmat meskipun Tante Yana sudah tidak virgin. Di dalam liang itu, aku merasa ada cairan hangat di sekujur batang kemaluanku. Sambil kugoyangkan juga badanku, kuelus pinggangnya dan sesekali buah dadanya kuremas-remas. Tante Yana juga mengelus-elus dada dan pinggangku sambil terus bergoyang dan melihati ku dengan tersenyum. Mungkin karena nafsu yang besar, Tante Yana bergoyang sangat cepat tak beraturan entah itu maju-mundur atau atas bawah. Sampai-sampai sesekali aku mendengar suara “Ngik ngik ngik” dari kaki ranjangnya. Akibat bergoyang sangat cepat, tubuh Tante Yana berkeringat. Segera kuelus badannya yang berkeringat dan kujilati tanganku yang penuh keringat dia itu. Lalu posisinya berganti lagi, jadinya aku bersandar di ujung ranjang, dan Tante Yana menduduki pahaku. Jadinya, aku bisa mudah menciumi dada dan payudaranya. Juga kujilati tubuhnya yang masih sedikit berkeringat itu, lalu aku menggesekkan tubuhku yang juga sedikit berkeringat kedada Tante Yana. Tidak kupikirkan waktu itu kalau yang kujilati adalah keringat karena nafsu yang terlalu meledak. Tak lama, aku merasa akan ejakulasi. “Ehh.. Tante.. uu.. udaahh..” Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Tante Yana sudah setengah berdiri dan nungging di depanku. </p>
<p>Tante Yana mengelus-elus dan mengocok penisku, dan mulutnya sudah ternganga dan lidahnya menjulur siap menerima semprotan spermaku. Karena kocokan Tante Yana, aku jadi ejakulasi. “Crit.. crroott.. crroott..” ternyata semprotan spermaku kuhitung sampai sekitar tujuh kali dimana setiap kencrotan itu mengeluarkan sperma yang putih, kental dan banyak. Sesekali jangkauan kencrotannya panjang, dan mengenai rambut Tante Yana. Mungkin ada juga yang jatuh ke sprei. Persis sekali film BF. Kulihat wajah Tante Yana sudah penuh sperma putih kental milikku. Tante Yana yang memang hyper, meraup spermaku baik dari wajahnya ataupun dari sisa di sekujur batangku, dan memasukkan ke mulutnya. Setelah itu, aku merasa sangat lemas. Staminaku terkuras oleh Tante Yana. Aku langsung rebahan sambil memeluk Tante Yana sementara penisku masih tegak namun tidak sekeras tadi. Sekitar seminggu berlalu setelah ML sama Tante Yana. Siang itu aku sedang ada di rumah hanya bersama pembantu (orang tuaku pulangnya sore atau malam, adikku juga sedang sekolah). Sekitar jam satu-an, aku yang sedang duduk di kursi malas teras, melihat Tante Yana mau pergi entah kemana dengan mobilnya. Kulihat Anita menutup pagar dan ia tidak melihatku. Sekitar 10 menit kemudian, telepon rumahku berdering. Saat kuangkat, ternyata Anita yang menelepon. Nada suaranya agak ketus, menyuruhku ke rumahnya. Katanya ada yang ingin diomongin. Di ruang tamunya, aku duduk berhadapan sama Anita. Wajahnya tidak seperti biasanya, terlihat jutek, judes, dan sebagainya. Berhubung dia seperti itu, aku jadi salah tingkah dan bingung mau ngomong apa. Tak lama Anita mulai bicara duluan dengan nada ketus kembali, “De, gue mau tanya!” “Hah? Nanya apaan?” Aku kaget dan agak dag dig dug. “Loe waktu minggu lalu ngapain sama nyokap gue?” Dia nanya langsung tanpa basa-basi. “Ehh.. minggu lalu? Kapan? Ngapain emangnya?” Aku pura-pura tidak tahu dan takutnya dia mau melaporkan ke orang tuaku. “Aalahh.. loe nggak usah belagak bego deh.. Emangnya gue nggak tau? Gue baru pulang sekolah, gue liat sendiri pake mata kepala gue.. gue intip dari pintu, loe lagi make nyokap gue!!” Seketika aku langsung kaget, bengong, dan tidak tahu lagi mau ngapain, badan sudah seperti mati rasa. Batinku berkata, “Mati gue.. bisa-bisa gue diusir dari rumah nih.. nama baik ortu gue bisa jatoh.. mati deh gue.” Anita pun masih meneruskan omongannya, “Loe napsu sama nyokap gue??” Anita kemudian berdiri sambil tolak pinggang. Matanya menatap sangat tajam. </p>
<p>Aku cuma bisa diam, bengong tidak bisa ngomong apa-apa. Keringat di leher mengucur. Anita menghampiriku yang hanya duduk diam kaku beku perlahan masih dengan tolak pinggang dan tatapan tajam. Pipiku sudah siap menerima tamparan ataupun tonjokan namun untuk hal dia akan melaporkannya ke orang tuaku dan aku diusir tidak bisa aku pecahkan. Tapi, sekali lagi kenyataan sangat berbeda. Anita yang memakai kaos terusan yang mirip daster itu, justru membuka ikatan di punggungnya dan membuka kaosnya. Ternyata ia tidak mengenakan beha dan celana dalam. Jadi di depanku adalah Anita yang bugil. Takutku kini hilang namun bingungku semakin bertambah. “Kalo gitu, loe mau juga kan sama gue?” Anita langsung mendekatkan bibir seksi-nya ke bibirku. Celana pendekku nampak kencang di bagian “anu”. Kini yang kurasakan bukan ciuman erotis seperti ciuman Tante Yana, namun ciuman Anita yang lembut dan romantis. Betapa nikmatnya ciuman dari Anita. Aku langsung memeluknya lembut. Tubuh putihnya benar-benar mulus. Bulu vaginanya sekilas kulihat coklat gelap. Sesegera mungkin kulepas celana-celanaku dan Anita membuka kaosku. Lumayan lama Anita menciumiku dengan posisi membungkuk. Kukocok-kocok penis besarku itu sedikit-sedikit. Aku langsung membisikkannya, “Nit, kita ke kamarmu yuk..!” Anita menjawab, “Ayoo.. biar lebih nyaman.” Anita kurebahkan di ranjangnya setelah kugendong dari ruang tamu. Seperti ciuman tadi, kali ini suasananya lebih lembut, romantis dan perlahan. Anita sesekali menciumi dan agak menggigit daun telingaku ketika aku sedang mencumbu lehernya. Anita juga sesekali mencengkeram lenganku dan punggungku. Kaki kanannya diangkat hingga ke pinggangku dan kadang dia gesek-gesekkan. Dalam pikiranku, mungkin kali ini ejakulasiku tidak selama seperti sama Tante Yana akibat terbawa romantisnya suasana. Dari sini aku bisa tahu bahwa Anita itu tipe orang romantis dan lembut. Tapi tetap saja nafsunya besar. Malah dia langsung mengarahkan dan menusukkan penisku ke liang senggamanya tanpa adegan-adegan lain. Berhubung Anita masih virgin, memasukkannya tidak mudah. Butuh sedikit dorongan dan tahan sakit termasuk aku juga. Wajah Anita nampak menahan sakit. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya dan matanya terpejam keras persis seperti keasaman makan buah mangga atau jambu yang asem. Tak lama, “Aaahh.. aa.. aahh..” Anita berteriak lumayan keras, aku takutnya terdengar sampai keluar. Selaput perawannya sudah tertembus. Aku mencoba menggoyangkan maju-mundur di dalam liang yang masih sempit itu. Tapi, aku merasa sangat enak sekali senggama di liang perawan. Anita juga ikutan goyang maju-mundur sambil meraba-raba dadaku dan mencium bibirku. Ternyata benar perkiraanku. Sedikit lagi aku akan ejakulasi. Mungkin hanya sekitar 6 menit. Meski begitu, keringatku pun tetap mengucur. Begitupun Anita. Dengan agak menahan ejakulasi, gantian kurebahkan Anita, kukeluarkan penisku lalu kukocokdi atas dadanya. Mungkin akibat masih sempit dan rapatnya selaput dara Anita, batang penisku jadi lebih mudah tergesek sehingga lebih cepat pula ejakulasinya. Ditambah pula dalam seminggu tersebut aku tidak onani, nonton BF, atau sebagainya. Kemudian, “Crit.. crit.. crott..” kembali kujatuhkan spermaku di tubuh orang untuk kedua kalinya. Kusemprotkan spermaku di dada dan payudaranya Anita. Kali ini kencrotannya lebih sedikit, namun spermanya lebih kental. Bahkan ada yang sampai mengenai leher dan dagunya. Anita yang baru pertamakali melihat sperma lelaki, mencoba ingin tahu bagaimana rasanya menelan sperma. Anita meraup sedikit dengan agakcanggung dan ekspresi wajahnya sedikit menggambarkan orang jijik, dan lalu menjilatnya. Terus, Anita berkata dengan lugu, “Emm.. ee.. De.. kalo ‘itu’ gimana sih rasanya?” sambil menunjuk ke kejantananku yang masih berdiri tegak dan kencang. “Eh.. hmm hmm.. cobain aja sendiri..” sambil tersenyum ia memegang batang kemaluanku perlahan dan agak canggung. </p>
<p>Tak lama, ia mulai memompa mulutnya perlahan malu-malu karena baru pertama kali. Mungkin ia sekalian membersihkan sisa spermaku yang masih menetes di sekujur batangku itu. Kulihat sekilas di lubang vaginanya, ada noda darah yang segera kubersihkan dengan tissue dan lap. Setelah selesai, aku yang sedang kehabisan stamina, terkulai loyo di ranjang Anita, sementara Anita juga rebahan di samping. Kami sama-sama puas, terutama aku yang puas menggarap ibu dan anaknya itu <!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-kesepian-tetangga-baruku.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembantu Janda Haus Seks</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/pembantu-janda-haus-seks.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/pembantu-janda-haus-seks.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 12:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[hasrat seks]]></category>
		<category><![CDATA[haus seks]]></category>
		<category><![CDATA[janda]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Hallo para pejantan tangguh, perkenalkan namaku Sari seoragn janda cantik yang pernah 4 kali menikah. Gagal hamil adalah salah satu alasan para mantan suamiku pergi dari kehidupanku. Meskipun aku memiliki wajah yang cantik mirip Dessy Ratnasari, dengan kulit kuning langsat dan tinggi 161 cm, tetap saja mereka melepasku karena butuh pendamping hidup yang bisa menghasilkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo para pejantan tangguh, perkenalkan namaku Sari seoragn janda cantik yang pernah 4 kali menikah. Gagal hamil adalah salah satu alasan para mantan suamiku pergi dari kehidupanku. Meskipun aku memiliki wajah yang cantik mirip Dessy Ratnasari, dengan kulit kuning langsat dan tinggi 161 cm, tetap saja mereka melepasku karena butuh pendamping hidup yang bisa menghasilkan keturunan. Sekarang aku adalah seorang janda yang selalu merindukan sentuhan seorang lelaki, sering menghayal bisa menyalurkan hasrat seksku yang menggebu-gebu. Cerita Dewasa kali ini akan menuturkan bagaimana aku mendaptkan keperjakaan majikanku.</p>
<p>Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di kota Gudeg Yogyakarta, majikanku seorang janda berusia 50 thn, Ibu Sumiati yang masih bekerja sebagai pegawai negeri di Gubernuran. Anaknya 3 orang.Yang pertama perempuan, Aryati 28 thn, bekerja sebagai sekretaris, 2 bulan lagi menikah. Yang kedua juga perempuan, Suryati 25 thn, bekerja sebagai guru. Yang ketiga laki-laki, satu-satunya laki-laki di rumah ini, tampan dan halus budi-pekertinya, Harianto 22 tahun, masih kuliah, kata Ibu Sum, Mas Har (demikian aku memanggilnya) tahun depan lulus jadi insinyur komputer. Wah hebat, sudah guaaanteng, pinter pula&#8230;<span id="more-133"></span></p>
<p>Setiap pagi, aku selalu bangun jam 4:30, sebelum bekerja aku sudah mandi dengan sangat bersih, berpakaian rapi. Aku selalu memakai rok panjang hingga semata-kaki, bajuku berlengan panjang. Aku tahu, Ibu Sum senang dengan cara berpakaianku, dia selalu memujiku bahwa aku sopan dan soleha, baik sikap yang santun, maupun cara berpakaian. Meskipun begitu, pakaianku semuanya agak ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhku cukup terlihat dengan jelas.</p>
<p>Mas Har sering melirik ke arahku sambil terkagum-kagum melihat bentuk tubuhku, aku selalu membalasnya dengan kedipan mata dan goyangan lidah ke arahnya, sehingga membuat wajahnya yang lugu jadi pucat seketika. Paling telat jam 7:15, mereka semua berangkat meninggalkan rumah, kecuali Mas Har sekitar jam 8:00. Aku tahu, Mas Har sangat ingin menghampiriku dan bercumbu denganku, tapi ia selalu nampak pasif, mungkin ia takut kalau ketahuan ibunya. Padahal aku juga ingin sekali merasakan genjotan keperjakaannya.</p>
<p>Pagi itu, mereka semua sudah pergi, tinggal Mas Har dan aku yang ada di rumah, Mas Har belum keluar dari kamar, menurut Ibu Sum sebelum berangkat tadi bahwa Mas Har sedang masuk angin, tak masuk kuliah. Bahkan Ibu Sum minta tolong supaya aku memijatnya, setelah aku selesai membersihkan rumah dan mencuci pakaian. &#8220;Baik, Bu!&#8221;, begitu sahutku pada Ibu Sum. Ibu Sum sangat percaya kepadaku, karena di hadapannya aku selalu nampak dewasa, dengan pakaian yang sangat sopan. Setelah pasti mereka sudah jauh meninggalkan rumah, aku segera masuk kamarku dan mengganti pakaianku dengan rok supermini dan kaus singlet yang ketat dan sexy. Kusemprotkan parfum di leher, belakang telinga, ketiak, pusar dan pangkal pahaku dekat lubang vagina. Rambutku yang biasanya kusanggul, kuurai lepas memanjang hingga sepinggang. Kali ini, aku pasti bisa merenggut keperjakaan Mas Har, pikirku.</p>
<p>&#8220;Mas Har. Mas Har!&#8221; panggilku menggoda, &#8220;tadi Ibu pesan supaya Mbak Sari memijati Mas Har, supaya Mas Har cepat sembuh. Boleh saya masuk, Mas Har?&#8221;</p>
<p>Pintu kamarnya langsung terbuka, dan nampak Mas Har terbelalak melihat penampilanku,</p>
<p>&#8220;Aduh, kamu cantik sekali, Mbak Sari&#8230; Persis Desy Ratnasari&#8230; ck, ck, ck&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, Mas Har, bisa saja, jadi mau dipijat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi, dong&#8230;&#8221; sekarang Mas Har mulai nampak tidak sok alim lagi, &#8220;ayo, ayo&#8230;&#8221;, ditariknya tanganku ke arah tempat tidurnya yang wangi&#8230;.</p>
<p>&#8220;Kok Wangi, Mas Har?&#8221; Rupanya dia juga mempersiapkan tempat tidur percumbuan ini, dia juga sudah mandi dengan sabun wangi.</p>
<p>&#8220;Ya dong, kan ada Desy Ratnasari mau datang ke sini,&#8221;.</p>
<p>Kami mulai mengobrol ngalor-ngidul, dia tanya berapa usiaku, dari mana aku berasal, sudah kawin atau belum, sudah punya anak atau belum, sampai kelas berapa aku sekolah. Omongannya masih belum &#8220;to-the-point&#8221;, padahal aku sudah memijatnya dengan sentuhan-sentuhan yang sangat merangsang. Aku sudah tak sabar ingin bercumbu dengannya, merasakan sodokan dan genjotannya, tapi maklum sang pejantan belum berpengalaman.</p>
<p>&#8220;Mas Har sudah pernah bercumbu dengan perempuan?&#8221;, aku mulai mengarahkan pembicaraan kami, dia hanya menggeleng lugu.</p>
<p>&#8220;Mau Mbak Sari ajari?&#8221;, wajahnya merah padam dan segera berubah pucat. Kubuka kaus singletku dan mulai kudekatkan bibirku di depan bibirnya, dia langsung memagut bibirku, kami bergulingan di atas tempat tidurnya yang empuk dan wangi, kukuatkan pagutanku dan menggigit kecil bibirnya yang merah delima, dia makin menggebu, batang penisnya mengeras seperti kayu&#8230;</p>
<p>Wow! dia melepas beha-ku, dan mengisap puting susuku yang kiri, dan meremas-remas puting susuku yang kanan&#8230;</p>
<p>&#8220;Aaah.. sssshhhh, Mas Har, yang lembut doooong&#8230;&#8221; desahku makin membuat nafasnya menderu&#8230;</p>
<p>&#8220;Mbak Sari, aku cinta kamu&#8230;.&#8221; suaranya agak bergetar..</p>
<p>&#8220;Jangan, Mas Har, saya cuma seorang Pembantu, nanti Ibu marah,&#8221; kubisikkan desahanku lagi&#8230;. Kulucuti seluruh pakaian Mas Har, kaos oblong dan celana pendeknya sekaligus celana dalamnya, langsung kupagut penisnya yang sudah menjulang bagai tugu monas, kuhisap-hisap dan kumaju-mundurkan mulutku dengan lembut dan terkadang cepat&#8230;</p>
<p>&#8220;Aduuuh, enaaaak, Mbak Sari&#8230;.&#8221; jeritnya&#8230;</p>
<p>Aku tahu air-mani akan segera keluar, karena itu segera kulepaskan penisnya, dan segera meremasnya bagian pangkalnya, supaya tidak jadi muncrat. Dia membuka rok-miniku sekaligus celana dalamku, segera kubuka selangkanganku.</p>
<p>&#8220;Jilat itil Mbak Sari, Mas Haaaarrr&#8230;, yang lamaaa&#8230;&#8221;, godaku lagi&#8230; Bagai robot, dia langsung mengarahkan kepalanya ke vegie-ku dan menjilati itilku dengan sangat nafsunya&#8230;.</p>
<p>&#8220;Sssshhhh, uu-enaaak, Mas Haaaarrrr&#8230;., sampai air mani Mbak Sari keluar, ya mas Haaar&#8221;.</p>
<p>&#8220;Lho, perempuan juga punya air mani..?&#8221; tanyanya blo&#8217;on. Aku tak menyahut karena keenakan&#8230;</p>
<p>&#8220;Mas Haaarrr, saya mau keluaaar&#8230;&#8221; serrrrrr&#8230;. serrrrrrrrr&#8230;. membasahi wajahnya yang penuh birahi.</p>
<p>&#8220;Aduuuuh, enak banget, Mas Har! Mbak Sari puaaaaaassss sekali bercinta dengan Mas Har&#8230;.. penis Mas Har masih keras? &#8230;belum keluar ya? Mari saya masukin ke liang kenikmatan saya, Mas! Saya jamin Mas Har pasti puas-keenakan&#8230;.&#8221;<br />
Kugenggam batang penisnya, dan kutuntun mendekati lubang vegieku, kugosok-gosokkan pada itilku, sampai aku terangsang lagi&#8230; Sebelum kumasukkan batang keperkasaannya yang masih ting-ting itu ke lubang vegieku, kuambil kaos singletku dan kukeringkan dulu vegieku dengan kaos, supaya lebih peret dan terasa uuenaaaak pada saat ditembus penisnya Mas Har nanti&#8230;</p>
<p>&#8220;Sebelum masuk, bilang &#8216;kulonuwun&#8217; dulu, dong sayaaaaaang&#8230;&#8221;, Candaku&#8230;.</p>
<p>Mas Har bangkit sebentar dan menghidupkan radio-kaset yang ada di atas meja kecil di samping ranjang&#8230;.. lagunya&#8230;. mana tahaaaan&#8230;. &#8220;Kemesraan ini Janganlah Cepat Berlalu&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kulonuwun, Mbak Sari&#8230;cintakuuuuu&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Monggo, silakan masuk, Mas Haaaarrr Kekasihkuuuuu&#8230;&#8221;, segera kubuka lebar-lebar selangkanganku, sambil kuangkat pinggulku lebih tinggi dan kuganjel dengan guling yang agak keras, supaya batang penisnya bisa menghujam dalam-dalam&#8230;. Sreslepppppp&#8230;&#8230;&#8230; blebessss&#8230;..</p>
<p>&#8220;Auuuuuow&#8230;.&#8221;, kami berdua berteriak bersamaan&#8230;..</p>
<p>&#8220;Enaaaak banget Mbak Sari, vegie Mbak Sari kok enak gini sih&#8230;.?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena Mbak Sari belum pernah melahirkan, Mas Har&#8230; Jadi vegie Mbak Sari belum pernah melar dibobol kepala bayi&#8230;.. kalau pernah melahirkan, apalagi kalau sudah melahirkan berkali-kali, pasti vegienya longgar sekali, dan nggak bisa rapet seperti vegienya Mbak Sari begini, sayaaaaang&#8230; lagi pula Mbak selalu minum jamu sari-rapet, pasti SUPER-PERET&#8230;.&#8221;, kami berdua bersenggama sambil cekikikan keenakan&#8230; Kami berguling-guling di atas ranjang-cinta kami sambil berpelukan erat sekali&#8230;.</p>
<p>Sekarang giliranku yang di atas&#8230; Mas Har terlentang keenakan, aku naik-turunkan pinggulku, rasanya lebih enak bila dibanding aku di bawah, kalau aku di atas, itilku yang bertumbukan dengan pangkal penis Mas Har, menimbulkan rasa nikmat yang ruaaaaarbiassssa uu-enaaaaaaknya&#8230;..</p>
<p>Keringat kami mulai berkucuran, padahal kamar Mas Har selalu pakai AC, sambil bersenggama kami mulut kami tetap berpagutan-kuat. Setelah bosan dgn tengkurap di atas tubuh Mas Har, aku ganti gaya. Mas Har masih tetap terlentang, aku berjongkok sambil kunaik-turunkan bokongku. Mas Har malah punya kesempatan untuk menetek pada susuku, sedotannya pada tetekku makin membuatku tambah liar, serasa seperti di-setrum sekujur tubuhku.</p>
<p>Setelah 10 menit aku di atas, kami berganti gaya lagi&#8230; kami berguling-gulingan lagi tanpa melepaskan penis dan vegie kami.</p>
<p>Sekarang giliran Mas Har yang di atas, waduuuuh&#8230; sodokannya mantep sekali&#8230; terkadang lambat sampai bunyinya blep-blep-blep&#8230; terkadang cepat plok-plok-plok&#8230; benar-benar beruntung aku bisa senggama dengan Mas Harianto yang begini kuaaaatnya, kalau kuhitung-kuhitung sudah tiga kali cairan vegieku keluar karena orgasme, kalau ditambah sekali pada waktu itilku dijilati tadi sudah empat kali aku orgasme&#8230; benar-benar vegieku sampai kredut-kredut karena dihujam dengan mantapnya oleh penis yang sangat besar dan begitu keras, bagaikan lesung dihantam alu&#8230;.. bertubi-tubi&#8230;. kian lama kian cepat&#8230;&#8230; waduuuuhhhhh&#8230;&#8230; Wenaaaaaaaaakkkkk tenaaaaan&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Mbak Sari, aku hampir keluaaaaaar nih&#8230;!!&#8221; &#8230;.</p>
<p>&#8220;Saya juga mau keluar lagi untuk kelima kalinya ini, Mas Haaaaar&#8230;. Yuk kita bersamaan sampai di puncak gunung kenikmatan, yaaa sayaaaaanngggg&#8221;</p>
<p>&#8220;Ambil nafas panjang, Mas Har&#8230; lalu tancepkan penisnya sedalam-dalamnya sampai kandas&#8230;&#8230; baru ditembakkan, ya Maaaasss&#8230; ssssshhhhhh&#8230;&#8230;..&#8221;</p>
<p>Sambil mendesis, aku segera mengangkat pinggulku lagi, kedua kakiku kulingkarkan pada pinggangnya, guling yang sudah terlempar tadi kuraih lagi dan kuganjelkan setinggi-tingginya pada pinggulku, hujaman penis Mas Har semakin keras dan cepat, suara lenguhan kami berdua hhh&#8230;hhhhh&#8230;.hhhhhh&#8230;.. seirama dengan hujaman penisnya yang semakin cepat&#8230;..</p>
<p>&#8220;Tembakkan sekaraaaaang, Maaaasssss!&#8221;, Mas Har menancapkan penisnya lebih dalam lagi, padahal sedari tadi sudah mentok sampai ke mulut rahimku&#8230;. bersamaan dengan keluarnya cairan vegieku yang kelima kali, Mas Har pun menembakkan senjata otomatis berkali-kali dengan sangat kerasnya&#8230;.</p>
<p>CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! Berhenti sebentar dan CROOTTTTT!!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! lagi&#8230;.. Seperti wong edan, kami berdua berteriak panjaaaaanggg bersamaan;</p>
<p>&#8220;Enaaaaaaaaaakkkkk!&#8221;&#8230;.. sekujur tubuhku rasanya bergetar semuanya&#8230; dari ujung kepala sampai ujung kaki, terutama vegieku sampai seperti &#8220;bonyok&#8221; rasanya&#8230;.. Mas Har pun rebah tengkurep di atas tubuh telanjangku&#8230;.. sambil nafas kami kejar-mengejar karena kelelahan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
&#8220;Jangan cabut dulu, ya Maaasss sayaaaang&#8230; masih terasa enaknya&#8230; tunggu sampai semua getaran dan nafas kita reda, baru Mas Har boleh cabut yaaa&#8230;&#8230;&#8221; pintaku memelas&#8230;.. kami kembali bercipokan dengan lekatnya&#8230;&#8230; penisnya masih cukup keras, dan tidak segera loyo seperti punya mantan-mantan suamiku dulu&#8230;.</p>
<p>&#8220;Mbak Sari sayaaaang, terima kasih banyak ya&#8230;.. pengalaman pertama ini sungguh-sungguh luar biasa&#8230; Mbak Sari telah memberikan pelayanan dan pelajaran yang maha-penting untuk saya&#8230;&#8230; saya akan selalu mencintai dan memiliki Mbak Sari selamanya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas Har cintaku, cinta itu bukan harus memiliki&#8230; tanpa kawin pun kalau setiap pagi &#8211;setalah Ibu &amp; Mbak-mbak Mas Har pergi kerja&#8211;, kita bisa melakukan senggama ini, saya sudah puas kok, Massss&#8230;.. Apalagi Mas Harianto tadi begitu kuatnya, setengah jam lebih lho kita tadi bersetubuhnya, Mas! Sampai vegie saya endut-endutan rasanya tadi&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku hari ini tidak pergi kuliah, kebetulan memang ada acara untuk mahasiswa baru&#8230; jadi ndak ada kuliah&#8230;&#8221;, kata Mas Harianto.</p>
<p>&#8220;Nah&#8230; kalau begitu, hari ini kita kan punya banyak waktu, pokoknya sampai sebelum Ibu dan Mbak-mbak Mas Har pulang nanti sore, kita main teruuuusss, sampai 5 ronde, kuat nggak Mas Har?&#8221;, sahutku semakin menggelorakan birahinya.</p>
<p>&#8220;Nantang ya?&#8221; Tanyanya sambil tersenyum manis, tambah guanteeeeng dia&#8230;..</p>
<p>&#8220;aku cabut sekarang, ya Mbak? sudah layu tuh sampai copot sendiri&#8230;.&#8221;</p>
<p>kami tertawa cekikikan dengan tubuh masih telanjang bulat&#8230;. setelah mencabut penisnya dari vegieku, Mas Har terlentang di sisiku, kuletakkan kepalaku di atas dadanya yang lapang dan sedikit berbulu&#8230;. radio kaset yang sedari tadi terdiam, dihidupkan lagi&#8230; lagunya masih tetap &#8220;kemesraan ini janganlah cepat berlaluuuuuu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Setelah lagunya habis, &#8220;Mas sayaaang, Mbak Sari mau bangun dulu ya&#8230;. Mbak Sari harus masak sarapan untuk Mas&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk kita berdua, dong, Mbak Sari&#8230;. masak untuk dua porsi ya&#8230; nanti kita makan berdua sambil suap-suapan. Setuju?&#8221;, sambil ditowelnya tetekku, aku kegelian dan &#8220;auuuwwww! Mas sudah mulai pinter nggangguin Mbak Sari ya.., Mbak Sari tambah sayang deh&#8221;.</p>
<p>Aku bangkit dari ranjang, dan berlari kecil ke kamar mandi yang jadi satu dengan kamar tidurnya,</p>
<p>&#8220;Mas, numpang cebokan, ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Kuceboki vegieku, vegie Sari yang paling beruntung hari ini, karena bisa merenggut dan menikmati keperjakaan si ganteng Mas Har&#8230; waduuuuhhh&#8230; benar-benar nikmat persetubuhanku tadi dengannya.. meskipun vegieku sampai kewalahan disumpal dengan penis yang begitu gede dan kerasnya &#8212; hampir sejengkal-tanganku panjangnya&#8230;. wheleh.. wheleh&#8230;.</p>
<p>&#8220;Sebelum bikin nasi goreng, nanti Mbak bikinkan Susu-Telor-Madu-Jahe (STMJ) buat Mas Har, biar ronde-ronde berikutnya nanti Mas tambah kuat lagi, ya sayaaaaaang&#8230;.&#8221;</p>
<p>Kuambil selimut dan kututupi sekujur tubuhnya dengan selimut, sambil kubisikkan kata-kata sayangku&#8230; &#8220;Sekarang Mas Har istirahat dulu, ya&#8230;&#8221; kuciumi seluruh wajahnya yang mirip Andy Lau itu&#8230;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Mbak Sari&#8230; Mbak begitu baik sama saya&#8230; saya sangat sayang sama Mbak Sari&#8230;&#8221;.</p>
<p>Kupakai pakaianku lagi, segera aku lari ke dapur dan kubuatkan STMJ untuk kekasihku&#8230;. setelah STMJ jadi, kuantarkan lagi ke kamarnya,</p>
<p>&#8220;Mas Har sayaaaang&#8230;. mari diminum dulu STMJ-nya, biar penisnya keras kayak batang kayu nanti, nanti Mbak Sari ajari lagi gaya-gaya yang lain, ada gaya kuda-kudaan, anjing-anjingan, gaya enam-sembilan (69), dan masih ada seratus gaya lagi lainnya, Masssss,&#8221; kataku membangkitkan lagi gelora birahinya&#8230; selesai minum diciuminya bibirku dan kedua pipiku&#8230;. dan Mas Harianto-ku, cintaanku, tidur lagi dengan tubuh telanjang dilapisi selimut.</p>
<p>Aku segera kembali ke tempat biasanya aku mencuci pakaian majikanku, menyapu rumah dan mengepelnya.. semua kulakukan dengan cepat dan bersih, supaya tidak ada ganjelan utang kerjaan pada saat bersenggama lagi dengan Mas Har nanti&#8230;.</p>
<p>Kumasakkan nasi goreng kesukaan Mas Har dalam porsi yang cukup besar, sehingga cukup untuk sarapan berdua dan juga makan siang berdua&#8230; hmmm&#8230;. nikmat dan mesranya&#8230; seperti penganten baru rasanya&#8230;</p>
<p>Setelah nasi gorengnya jadi, kusiapkan dalam piring yang agak lebar, kutata penyajian dengan kelengkapan tomat, timun, telur mata-sapi, dan kulengkapi pula dengan sebuah pisang mas yang agak mungil, kusiapkan pula segelas coca-cola kesukaannya. Dengan memakai daster tipis tanpa beha dan celana dalam, kuantarkan makanan tadi ke kamarnya. Langsung kubuka saja pintu kamarnya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. &#8230;&#8230;.</p>
<p>Aduh! Betapa terkejutnya diriku, ketika kulihat Mas Har sudah bangun dari tidurnya, tanpa memakai selimut lagi, Mas Har sedang ngeloco (mengocok penisnya) dengan wajah merah-padam&#8230; Segera kuletakkan makanan di atas meja tulisnya..</p>
<p>&#8220;Aduuuuhhh, jangan seperti itu, sayang, ngocoknya&#8230; nanti bisa lecet&#8230; nanti pasti Mbak Sari kocokin&#8230; tapi Mas Har harus makan dulu, supaya ada tenaga lagi&#8230; kalau ndak makan dulu, nggak bisa kuat dan tahan lama senggamanya, Mas!&#8221;</p>
<p>Kutanggalkan dasterku, segera dia menyergap tubuh telanjangku, dihisapnya puting tetekku yang kanan, sedang tangannya memilin tetekku yang kiri&#8230; Kupikir ini pasti gara-gara STMJ tadi,</p>
<p>&#8220;Sabar dong, Mas-ku tersayaaaaang&#8230;, yuk kita makan nasi goreng kesukaan Mas, sepiring berdua Mas, kayak judulnya lagu dangdut&#8230;&#8221;</p>
<p>Kusuapi Mas Har-ku dan disuapinya pula aku, sambil tangannya mengkilik-kilik itilku dengan sangat nakalnya. Wah! Edhiaan tenan reaksi STMJ tadi&#8230;. Hihihi&#8230;</p>
<p>&#8220;Mas Har sayang, jangan kenceng-kenceng dong kilikannya, nggak nikmaaat&#8230;.&#8221;, dia memperlambat kilikannya, sambil kami lanjutkan dan tuntaskan sarapan kami. Selesai makan, kuambilkan pula segelas besar coca-cola, kuulurkan gelas coca-cola ke mulutnya. Minum seteguk, Mas Har pun mengambil gelas dan mengulurkan pula ke mulutku&#8230;. wah! mesranya, Mas Har-ku ini&#8230;</p>
<p>Kuambil pisang mas, kukupas dan kubuang kulitnya, lalu aku berbaring di samping Mas Har, kubuka selangkanganku lebar-lebar, dan kumasukkan pisang tadi ke dalam liang vegieku&#8230;. Mas Har agak terkejut,</p>
<p>&#8220;Ayo! Bisa nggak makan pisang sampai habis dari lubang vegie Mbak Sari? Kalau bisa, nanti Mbak Sari ajari teknik-teknik dan gaya-gaya senggama yang lain deh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa takut!&#8221; sahut Mas Har&#8230;</p>
<p>Dia segera menaiki tubuhku, dengan posisi tengkurap&#8230; mulutnya di depan vegieku, ditariknya pisang itu dengan pelan-pelan dan sedikit-sedikit digigitnya daging pisangnya, sedangkan penisnya pun terjuntai ngaceng di depan mulutku&#8230;. segera kugenggam dan kumasukkan barangnya yang ngaceng itu ke dalam mulutku, kumainkan lidahku mengusap-usap kepala penisnya, dan dimaju-mundurkannya pisang mas tadi dalam liang vegieku, sehingga menimbulkan perasaan yang sangat nikmaaaaat dan memerindingkan seluruh bulu-bulu tubuhku&#8230;.</p>
<p>&#8220;Mbak Sari, pisangnya sudah habis&#8230;. hebat kan?&#8221; Katanya lugu&#8230;</p>
<p>&#8220;Mas Har memang nomer satu buat Mbak Sari&#8230;&#8221; sahutku memujinya, membuatnya tersanjung dan sangat ditinggikan harga dirinya.</p>
<p>&#8220;Sekarang apa lagi?&#8221; tanya Mas Har&#8230;</p>
<p>&#8220;Silakan Mas jilati dan mainkan lidah dalam liang vegie saya&#8230; dan saya akan meng-emuti dan mengocok penis Mas dengan mulut saya&#8230;. ini namanya gaya 69, Mas sayaaang&#8230; mulut Mas ketemu vegie saya dan mulut saya ketemu penis Mas Har&#8230;. Enaaaak kan, sayaaang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah! Sensasinya luar-biasa, Mbak&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau bercinta itu jangan buru-buru, Mas&#8230;. harus sabar dan tenang, sehingga emosi kita bisa terkendali. Kalau Mas mau sampai duluan dengan cara ngeloco seperti tadi, kalau sempat keluar.. kan saya harus nunggu lagi penis Mas tegang lagi&#8230; kasian dong sama saya, Mas,&#8221; suaraku kubikin seperti mau menangis&#8230;..</p>
<p>&#8220;Maafkan saya, ya Mbak Sari&#8230;. saya belum ngerti&#8230; mesti harus banyak belajar sama Mbak&#8230;..&#8221;</p>
<p>Kami lanjutkan gaya 69 kami, kutelan habis penisnya, kuhisap-hisap dan kumaju-mundurkan dalam mulutku&#8230;. sementara Mas Har meluruskan lidahnya dan menjilati itil-ku, kemudian memasukkan lidahnya yang kaku ke dalam liang vegieku&#8230; ini berlangsung cukup lama&#8230;</p>
<p>Pada menit kelimabelas, serrr&#8230; serrrr&#8230; serrrr&#8230;. cairan hangat vegieku meluap, sekarang Mas Har malah menelannya&#8230;. aooowwww!</p>
<p>Dan pada menit keduapuluhlima, serrr&#8230; serrrr&#8230; serrrr&#8230;. lagi, kali ini lebih enaaaak lagi, kukejangkan seluruh tubuhku&#8230;. sambil mulutku tetap terus mengocok penisnya yang kerasnya minta-ampuuuuun&#8230;. pada waktu itu juga, penisnya memuncratkan air-peju dengan sangat derasnya, langsung kutelan seluruhnya, sampai hampir keselek&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Enaaaakkkk&#8230;..&#8221; Mas Har berteriak keenakan&#8230;..</p>
<p>Kami berguling, sekarang saya yang di atas, dengan tetap memagut penisnya yang masih cukup keras, kuhisap terus penisnya, sampai tubuh Mas Har berkedut-kedut memuncratkan tembakan-tembakan terakhirnya&#8230;.. kujilati penis Mas Har sampai bersiiiiih sekali dan segera aku berputar, sehingga kepala kami berhadap-hadapan dengan posisi aku masih tetap di atas&#8230;</p>
<p>&#8220;Gimana, Mas Har sayaaang&#8230;. Enak enggak..?&#8221; godaku&#8230;</p>
<p>&#8220;Uu-enaaaaaaakkkkk tenaaaan&#8230;.&#8221;, kata Mas Har menirukan gaya pelawak Timbul dalam sebuah iklan jamu&#8230;..</p>
<p>Kami berciuman lagi dan berguling-guling lagi&#8230;. mulut kami tetap berpagutan dengan sangat kuaaaatnya&#8230;.. Kucari penisnya dan kupegang&#8230; wah sudah keras lagi rupanya&#8230;.. luar biasa kuatnya Mas Har kali ini, lebih kuat dari ronde tadi pagi&#8230;..</p>
<p>&#8220;Mas Har&#8230; saya ajari gaya kuda-kudaan&#8230; mau nggak?&#8221;,</p>
<p>&#8220;Mau dong, sayaaaang&#8230;. Gimana?&#8221;, tanyanya penasaran&#8230;.</p>
<p>&#8220;Mas Har duduk menyender dulu&#8230;..&#8221;</p>
<p>Dia segera mengikuti perintahku, duduk menyender landai pada sebuah bantal yang kutegakkan di punggung ranjang, akupun segera mengambil posisi jongkok membelakanginya. Kugenggam penisnya dan kutancapkan ke vegieku dari belakang&#8230;. BLESSS!!!, tangan Mas Har mendekap kedua tetekku dari belakang&#8230;.</p>
<p>Sekarang giliranku yang harus menaik-turunkan pantatku seperti orang naik kuda&#8230;. semuanya berlangsung dengan sangat halus&#8230;. sehingga tidak sampai menimbulkan lecet pada penis Mas Har maupun vegieku&#8230;..</p>
<p>&#8220;Gimana Mas?&#8221;, tanyaku untuk mengalihkan konsentrasi, supaya air-pejunya tidak segera muncrat&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Benar-benar Mbak Sari pantas menjadi dosen percintaan saya&#8230;..&#8221;, katanya sambil mendesah-desah dan mendesis-mendesis keenakan&#8230;</p>
<p>Itilku kembali bertumbukan nikmat dengan tulang selangkang Mas Har&#8230; Nikmatnya sudah sampai mneggeletarkan segenap perasaanku, membuat perasaanku semakin menyatu dan terikat kuat dengan perasaan Mas Har&#8230;.. inilah arti sesungguhnya persetubuhan&#8230;.</p>
<p>Kuatur kecepatan pacuan kuda-kudaan ini, sehingga kenikmatannya bisa kukendalikan, sementara Mas Har terlentang dengan tenang, makin didekapnya kedua buah dadaku, diremas-remasnya, dipilin-pilinnya, diremas-remas lagi&#8230; membuatku kembali ingin mencapai puncak kenikmatan&#8230;. kukejangkan seluruh anggota tubuhku&#8230;. Mas Har sudah mulai mengerti bahwa aku akan mencapai puncak&#8230;..</p>
<p>&#8220;Keluar lagi ya, Mbak?&#8221; tanyanya&#8230;..</p>
<p>“Ya..!! &#8230;sssssshhhhh&#8230;” desahku kencang.</p>
<p>&#8230;..serrr&#8230; serrrr&#8230; serrrrr&#8230;. kembali cairan hangat vegieku tertumpah lagi&#8230;. kelelahan aku rasanya&#8230;&#8230; lelah tapi enaaak&#8230;.</p>
<p>Aku melepaskan penisnya dari lubang vegieku, kekeringkan vegieku dengan dasterku supaya peret lagi&#8230; Mas Har melihat pemandangan ini dengan wajah lugu, kuberi dia senyum manis&#8230;.</p>
<p>&#8220;Saya sudah capek, Mas&#8230;. Gantian dong&#8230; Mas Har sekarang yang goyang, ya?&#8221;</p>
<p>Sekarang aku mengambil posisi menungging di pinggir ranjang&#8230;.. Mas Har kuminta berdiri dan menembakkan rudalnya yang super-keras dari belakang,</p>
<p>&#8220;Yang ini gaya anjing-anjingan, Mas&#8230;.. tapi jangan salah masuk ke lubang pantat ya&#8230; pas yang di bawahnya yang merah merekah itu, lho ya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau di lubang pantat katanya lebih enak, Mbak Sari?&#8221; tanyanya lucuuuu&#8230;.</p>
<p>&#8220;memang lebih enak untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan&#8230;.. itu kan namanya tidak adil, Mas&#8230;. Lagipula lubang pantat itu kan saluran untuk tai, kotoran yang kita buang, itu tidak sehat namanya, bisa kena penyakit aids, Mas&#8230;. Aids itu mematikan dan tidak ada obatnya lho, hiiii&#8230;. seremmmm&#8230;.&#8221;</p>
<p>Mas Har memasukkan penisnya pelan-pelan ke lubang vegieku dari belakang sambil berdiri di pinggir ranjang, pelan-pelan sekaliiiiii&#8230;.. seolah-olah dia takut kalau sampai merusakkan lubang nikmat ini&#8230;.. aku tahu sekarang&#8230;. Mas Har sangat sayang padaku, sehingga tingkah-laku persenggamaannya pun melukiskan betapa besar perasaan cintanya pada diriku&#8230;.</p>
<p>&#8220;Aaaaahhhhhh&#8230;.&#8221;, aku mendesah sambil merasakan hujaman penisnya yang kembali menembus vegieku, demikian juga dengan Mas Har&#8230; dilingkarkannya tangan kirinya di perutku, sedang tangan kanannya meremas tetekku&#8230;&#8230; Dia mulai menggoyangkan penisnya maju mundur&#8230;. blep-blep-blep&#8230;&#8230;aduuuuhhh&#8230;.. mantapnyaaaa&#8230;&#8230; tenaganya sangat kuat dan berirama tetap&#8230;&#8230; membuat aliran-darahku menggelepar di sekujur tubuhku&#8230;&#8230;.</p>
<p>&#8220;Enaaaak, Maaaaasssss&#8230;&#8230;.&#8221;, lagi-lagi kukejangkan seluruh anggota tubuhku sambil kukeluarkan lagi cairan hangat vegieku kesekian kalinya&#8230;&#8230; puaaaasssss sekali tiada taranya&#8230;&#8230;.</p>
<p>&#8220;aaaaaahhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221; , lenguhku&#8230;&#8230;..</p>
<p>&#8220;Lap dulu dong, Mbak Sariiii&#8230;.. becek sekali nih&#8230;.&#8221; pintanya&#8230;..</p>
<p>Kuambil dasterku dan kuserahkan padanya&#8230;&#8230; segera dia mengeringkan vegieku dan juga penisnya yang basaaaah tersiram cairan hangatku&#8230;..</p>
<p>&#8220;Mbak, aku sudah hampiiiirrr keluaaaarrr&#8230;..&#8221; desahnya membuatku semakin terangsang&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Tembakkan saja, Massss&#8230;&#8230;..&#8221;</p>
<p>Tembakannya masih sekencang yang sebelumnya&#8230;&#8230; sampai vegieku penuh dengan air-pejunya yang ekstra-kental itu&#8230;&#8230;.</p>
<p>&#8220;Aaaaahhhhhhhh&#8230;&#8230;.&#8221; Mas Har berteriak keenakan&#8230;&#8230; demikian juga dengan aku, kukejangkan tubuhku dan kusiram lagi penisnya dengan cairan hangat kenikmatan vegieku&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Aaaaaaahhhhhhh, Massss Harrrrr&#8230;&#8230;.. Mbak Sari cintaaaaa banget sama Mas Har&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga Mbak&#8230;.. selain Mbak Sari, tidak ada perempuan lain yang aku cintai di dunia ini &#8230;..&#8221;, aku tahu kata-kata ini sangat jujur&#8230;. membuatku semakin menggelinjang kenikmatan&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Terima kasih Mas Harrrrrr&#8230;.. untuk cinta Mas Har yang begitu besar kepada saya&#8230;..&#8221; Dengan tanpa melepaskan penisnya, Mas Har dengan hati-hati dan penuh perasaan menengkurapkan tubuhnya di atas tubuh telanjangku&#8230;. dan aku kemudian meluruskan kakiku dan tubuhku mengambil posisi tengkurap&#8230;.. dengan Mas Har tengkurap di belakangku&#8230;..</p>
<p>Mulutnya didekatkan pada telingaku&#8230;. nafasnya menghembusi tengkukku&#8230;. membuatku terangsang lagi&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Enaaaak dan puassss sekali, Mbak Sari&#8230;.. Apa Mbak Sari juga puas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu, Mas Har&#8230;.. dari pagi tadi sudah sembilan kali vegie saya memuntahkan air hangatnya&#8230;.. Pasti saya puasssss bangettt, Mas!&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, ya sayaaaang&#8230;&#8230; aku ingin setiap hari bercinta dengan Mbak Sari seperti ini&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh, Massss&#8230;. saya juga siap kok melayani Mas Har setiap hari&#8230;.. kecuali hari Minggu tentunya&#8230;.. Ibu dan Mbak-mbak kan ada di rumah kalau Minggu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Mas Har melepaskan penisnya dari lubang vegieku, aku segera mengambil posisi terlentang, dan Mas Har pun merebahkan dirinya di sisiku&#8230;.<br />
Jam dinding sudah menunjukkan jam 10.40&#8230;&#8230; sambil berpelukan dan berciuman erat, kutarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua&#8230; dan kami pun tertidur sampai siang&#8230;..</p>
<p>Sudah hampir jam satu ketika aku terbangun, pantes perutku rasanya lapar sekali. Mas Har masih belum melepaskan pelukannya sedari tadi, rasanya dia tidak ingin melewatkan saat-saat nikmat yang sangat langka ini, bisa seharian bersenggama dengan bebasnya. Kucium bibirnya untuk membangunkan lelaki kesayanganku ini,</p>
<p>&#8220;Mas sayaaang, bangun yook, kita makan siang. Nanti abis makan kita bercinta lagi sampai sore&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mmmm&#8230;&#8221; Mas Har menggeliat, &#8220;sudah jam berapa, istriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jam satu, suamikuuuu&#8230;..&#8221;, jawabku genit&#8230;.</p>
<p>&#8220;Makan-nya di ruang makan, yok Mas, nggak usah pakai baju nggak apa-apa, kan pintu-pintu dan korden-korden sudah Mbak Sari tutup tadi&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dengan bugil bulat, kami berdua bangun dan berjalan ke ruang tamu, sambil Mas Har menggendong/mengangkatku ke ruang tamu.</p>
<p>&#8220;Edhian tenan, koyok penganten anyar wae&#8230;..&#8221; kataku dalam hati&#8230;. (&#8220;gila benar, seperti pengantin baru saja&#8221;)&#8230;.</p>
<p>Selesai makan siang, Mas Har kembali menggendongku ke kamar, sambil kuelus-elus penis Mas Har yang sudah mengeras seperti batang kayu lagi&#8230;..</p>
<p>Direbahkannya diriku dengan hati-hati di atas ranjang cinta kami. Aku segera mengambil posisi memiringkan tubuh ke kanan, supaya Mas Har juga mengambil posisi miring ke kiri, sehingga kami berhadap-hadapan&#8230;.</p>
<p>&#8220;Mas sayaaang, kita senggama dengan posisi miring seperti ini, ya&#8230;.., lebih terasa lho gesekan penis Mas Har di dalam vegie Mbak Sari nanti,&#8221; ajakku untuk membangkitkan rangsangan pada Mas Har&#8230;.</p>
<p>Kami tetap berposisi miring berhadap-hadapan sambil berciuman kuat dan mesra. Kali ini Mas Har lebih aktif mencium seluruh wajah, tengkuk, belakang telinga, leher, terus turun ke bawah, payudara-kiriku kuisap-isapnya, sementara yang kanan dipilin-pilinnya lembut&#8230;..</p>
<p>Rangsangan ini segera membangkitkan birahiku. Mulutnya bergerak lagi ke bawah, ke arah pusar, dijilatinya dan ditiupnya lembut, kembali aku mendesah-mendesis nikmat, sambil jari tangannya mengobok-obok lembut lubang vegieku, mengenai itilku, menimbulkan kenikmatan yang hebaaaat&#8230;, kukejangkan seluruh tubuhku, sampai pingganggku tertekuk ke atas, serrrrrr&#8230;. kubasahi tangannya yang lembut dengan semburan cairan hangat yang cukup deras dari vegieku&#8230;</p>
<p>&#8220;Mas, masukkan sekarang, Masssss&#8230;.. Mbak Sari udah nggak tahaaaannnn&#8230;&#8230;&#8221;, pintaku manja&#8230;..</p>
<p>Tetap dengan posisi miring-berhadapan, kubuka selangkanganku tinggi-tinggi, kugenggam penisnya dan kusorongkan lembut ke lubang kenikmatan&#8230;..</p>
<p>&#8220;aaaaahhhhhh&#8230;&#8230;.&#8221; lenguhan kami kembali terdengar lebih seru&#8230;. Penis Mas Har baru masuk setengahnya dalam vegieku, dimajukannya lagi penisnya, dan kumajukan pula vegieku menyambut sodokannya yang mantap-perkasa&#8230;..</p>
<p>&#8220;Mas sayaaaang&#8230; maju-mundurnya barengan, ya&#8230;..&#8221;, ajakku sambil mengajari teknik senggama yang baru, kunamakan gaya ini &#8220;Gaya Miring&#8221;, dengan gaya ini kami berdua bisa sama-sama goyang, tidak sepihak saja&#8230;..</p>
<p>Kami maju dan mundur bersamaan tanpa perlu diberi aba-aba&#8230;. rasanya lebih enak dibandingkan pria di atas wanita di bawah&#8230;. Kulihat Mas Har merem-melek, demikian juga dengan diriku, penis Mas Har dengan irama teratur terus menghujam-mantap berirama di dalam liang kenikmatanku&#8230;.. vegieku mulai tersedut-sedut lagi, tanda akan mengeluarkan semburan hangatnya&#8230;..</p>
<p>&#8220;Aduuuuhhhh, Maaaaassssss, enaaaaakkkkkkk&#8230;&#8230;..&#8221;, aku agak berteriak sambil mendesis&#8230;&#8230;.</p>
<p>Air mani Mas Har belum juga muncrat, luarbiasa kuatnya kekasihku ini&#8230;..</p>
<p>&#8220;Ganti gaya, Maaaasssss&#8230;. cabut dulu sebentar&#8230;..&#8221; ajakku lagi, sambil kuputar tubuhku, tetap pada posisi miring membelakanginya, Mas Har memelukku kuat dari belakang, sambil meremas lembut kedua tetekku, kuangkat kakiku sebelah, dan kuhantar lagi penisnya memasuki vegieku&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;aaaaaaaaahhhhhhhhhhh&#8230;. enak, Mbak Sariiiiii&#8230;&#8230;., gesekannya lebih terasa dari yang tadiiiiii&#8230;..&#8221; Mas Har mendesah nikmat&#8230;..</p>
<p>Kali ini aku hanya diam, sedang Mas Har yang lebih aktif memaju-mundurkan penisnya yang belum muncrat-muncrat juga air-maninya&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8230;&#8230;Sudah jam setengah-tiga, hampir satu jam dengan dua gaya yang baru ini&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Mbak Sari, siap-siap yaaa&#8230;. rudalku hampir nembak&#8230;.&#8221;</p>
<p>Kupeluk erat guling, dan Mas Har semakin mempercepat irama maju-mundurnya&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Aaah, aaah, aaahh&#8230;.&#8221; Mas Har mendesah sambil mengeluarkan air maninya dengan tembakan yang kuat-tajam-kental bagai melabrak seluruh dinding-dinding rahimku&#8230;.. setrumnya kembali menyengat seluruh kujur tubuhku&#8230;..</p>
<p>&#8220;Aaaaaaaa&#8230;&#8230;&#8230;&#8221; aku berteriak panjang sambil kusemburkan juga air vegieku&#8230;&#8230;</p>
<p>Tenaga kami benar-benar seperti terkuras, getaran cinta kami masih terus terasa&#8230;.. tanpa melepaskan pelukan dan juga penisnya, masih dengan posisi miring, kami tertidur lagi beberapa menit&#8230; sampai semua getaran mereda&#8230;&#8230;<br />
Jam tiga sudah lewat&#8230;. berarti masih bisa satu ronde lagi sebelum Ibu Sum dan kakak-kakak Mas Har pulang dari kerja&#8230;..</p>
<p>&#8220;Mas, bangun, Mas&#8230;. sudah jam tiga lewat&#8230;.. saya kan mesti membereskan kamar ini, mandi dan berpakaian sopan seperti biasanya bila ada Ibu&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Mandi bareng, yok&#8230;.. di sini aja di kamar mandiku, ada air hangatnya kan?&#8221; ajaknya&#8230;.</p>
<p>Dicabutnya penisnya dari lobang vegieku yang sudah kering, aduuuhhhh enaknya&#8230;&#8230; Aku pun segera bangun dan menarik tangannya, Mas Har bangkit dan memelukku, menciumku, menggelitiki tetek dan vegieku, kembali birahiku naik&#8230;.. Sampai di bawah kran pancuran air hangat, kami berdua berpelukan, berciuman, merangkul kuat&#8230;. Dengan posisi berdiri kembali penis Mas Har mengeras bagai batu, segera kurenggut dan kugenggam dan kumasukkan lagi ke vegieku. Dengan tubuh basah disiram air hangat dari pancuran, dan tetap dengan berdiri, kami bersenggama lagi&#8230;&#8230; bagai geregetan, Mas Har kembali menggerakkan penisnya maju-mundur, sementara aku bagai menggelepar memeluk erat tubuhnya yang perkasa&#8230;..</p>
<p>&#8220;Mas, sabunan dulu, ya sayaaaanggg&#8230;.&#8221;, tanpa melepaskan kedua alat kelamin kami, kami saling menyabuni tubuh kami, khususnya di bagian-bagian yang peka-rangsangan&#8230;.</p>
<p>&#8220;Lepas dulu, ya sayaaanggg&#8230;. kuambilkan handuk baru untuk kekasihku&#8230;..&#8221;, Mas Har melepaskan tusukannya, menuju lemari pakaian, dan diambilnya dua handuk baru, satu untukku satu untuknya&#8230; Selesai handukan, aku bermaksud mengambil dasterku untuk berpakaian, karena kupikir persenggamaan hari ini sudah selesai&#8230;..</p>
<p>&#8220;Eiittt, tunggu dulu, istriku&#8230;.. Rudalku masih keras nih, kudu dibenamkan lagi di liang hangat cinta kita&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8230;&#8230;Edhiaaan, mau berapa kali aku orgasme hari ini&#8230;.. kuhitung-hitung sudah 12 kali aku menyemburkan air vegie sedari pagi tadi&#8230;&#8230;</p>
<p>Aku mengambil posisi sederhana, terlentang menantang&#8230; biar Mas Har menindihku dari atas&#8230;..</p>
<p>Kami bersenggama lagi sebagai hidangan penutup&#8230;.. dengan &#8220;Gaya Sederhana&#8221; pria diatas wanita dibawah, melambangkan kekuatan pria yang melindungi kepasrahan wanita&#8230;. Mas Har terus menggoyang penisnya maju-mundur&#8230;..</p>
<p>Kembali aku akan mencapai puncak lagi, sedang Mas Har masih terus dengan mantapnya maju-mundur begitu kuat&#8230;..</p>
<p>&#8220;Mas Har, Mbak Sari sudah mau keluar lagiiiiii&#8230;&#8230;&#8221;, kukejangkan kedua kakiku dan sekujur tubuhku&#8230;..</p>
<p>&#8220;Mbak, aku juga mau keluar sekarang&#8230;&#8230;&#8221;, dalam waktu bersamaan kami saling menyemprotkan dan memuncratkan cairan kenikmatan kami masing-masing&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Enaaaaaaaaaaakkkkkkk, Mas Haaaaaarrrrrr&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Puaaaaassssss, Mbak Sariiiiii&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Mas Har langsung ambruk di atas tubuh telanjanganku, waktu sudah hampir jam empat&#8230;.. semua sendi-sendiku masih bergetar semuanya rasanya&#8230;..</p>
<p>&#8220;Mas, sebentar lagi Ibu pulang, Mbak Sari mau siap-siap dulu ya, sayaang&#8230;&#8221;</p>
<p>Mas Har segera bangkit sekaligus mencabut penisnya&#8230;. &#8220;Hari ini adalah hari yang paling luar-biasa dalam hidupku, Mbak Sariii&#8230; Bagaimana aku akan sanggup melupakannya?&#8221;</p>
<p>Kupakai dasterku, kukecup lagi kedua pipi dan bibir Mas Har&#8230;. segera aku lari menuju kamarku, membersihkan air mani Mas Har yang masih menetes dari lubang vegieku yang agak bonyok&#8230;..</p>
<p>Kukenakan celana dalam, rok dalam, beha, rok panjang, dan blus berlengan panjang, rambut kusisir rapi, kusanggul rapi ke atas&#8230;. semua ini untuk &#8220;mengelabui&#8221; Ibu Sumiati dan kedua kakak Mas Harianto, untuk menutupi sisi lain kehidupanku sebagai seorang Ratu Senggama.</p>
<p>Demikianlah&#8230; selanjutnya hari-hariku selalu ku isi dengan persenggamaan yang kian hari kian liar, kian panas, dan kian bervariasi dengan Mas Har, pangeran cintaku yang tampan dan perkasa. Pertempuran kami berlangsung di banyak tempat di seluruh penjuru rumah&#8230; bahkan tak jarang Mas Har sengaja mencegatku di saat-saat aku berbelanja keperluan bulanan di Pasar Kota. Hotel dan Losmen yang ada di kota selalu menjadi tempat persinggahan kami untuk menuntaskan dendam birahi kami&#8230;<br />
Hanya saat Mas Har harus kuliah dan saat dia mengantar hasil job-job sampingannya saja yang dapat menunda pertempuran kami&#8230;<br />
Mas Har memang ngotot mengambil job sampingan yang bisa tetap dikerjakan di rumah, karena dia ngotot ingin menabung supaya bisa membeli rumah sendiri dan membiayai kehidupannya kelak dengan calon istri tercintanya&#8230;&#8230;.</p>
<p>Mungkinkah aku? Janjinya sih seperti itu. Tapi bagaimanapun aku bahagia bisa bercinta dengan Mas Har. Dan tentunya bisa menyalurkan kelainan <strong>haus seks</strong>ku</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/pembantu-janda-haus-seks.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemani Kesepian Tante Stella</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/menemani-kesepian-tante-stella.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/menemani-kesepian-tante-stella.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 17:27:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[memek tante]]></category>
		<category><![CDATA[memek tante binal]]></category>
		<category><![CDATA[ml tante kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante binal kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[tante telanjang ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[vagina tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Bercinta dengan wanita paruh bahaya memang memiliki fantasi tersendiri bagi saya. Begitulah yang saya rasakan ketika masa-masa kuliah dulu. Menikmati tubuh wanita yang lebih dewasa dari kita merupakan pengalaman yang tak terlupakan dalam perjalanan seks saya. Berikut saya ceritakan pengalaman itu dalam sebuah cerita dewasa, bagi anda yang merasa belum dewasa, minggir dulu ya&#8230;.
Kisah ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bercinta dengan wanita paruh bahaya memang memiliki fantasi tersendiri bagi saya. Begitulah yang saya rasakan ketika masa-masa kuliah dulu. Menikmati tubuh wanita yang lebih dewasa dari kita merupakan pengalaman yang tak terlupakan dalam perjalanan seks saya. Berikut saya ceritakan pengalaman itu dalam sebuah cerita dewasa, bagi anda yang merasa belum dewasa, minggir dulu ya&#8230;.</p>
<p>Kisah ini berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Rudy.<br />
<span id="more-121"></span><br />
Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.</p>
<p>Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.</p>
<p>Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.</p>
<p>Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stella semakin akrab.</p>
<p>Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Stella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.</p>
<p>Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam &#8220;BL&#8221; seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36B.</p>
<p>Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.<br />
&#8220;Rud, kamu lugu sekali yah..?&#8221; tanya Tante Stella.<br />
&#8220;Agh.. Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?&#8221; jawab saya.<br />
&#8220;Yah.. lebih dewasa Dong..!&#8221; tegasnya.<br />
Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.</p>
<p>&#8220;Rud.. mau kan tolongin Tante..?&#8221; tanya si Tante dengan manja.<br />
&#8220;Loh.. tolongin apalagi nih Tante..?&#8221; jawab saya.<br />
&#8220;Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!&#8221; jawab si Tante.<br />
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk &#8220;bercinta&#8221; dengan Tante Stella ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.<br />
&#8220;Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?&#8221; tanya saya sambil bercanda.<br />
&#8220;Yah.. kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?&#8221; jawabnya.</p>
<p>Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Stella juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.</p>
<p>Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi&#8217;s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.</p>
<p>&#8220;Wah.. Rud, gede juga nih punya kamu..&#8221; kata si Tante sambil bercanda.<br />
&#8220;Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!&#8221; jawab saya.<br />
Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.</p>
<p>Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.<br />
&#8220;Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Rud..!&#8221; desahnya.<br />
&#8220;Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?&#8221; kata saya.</p>
<p>Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.<br />
&#8220;Ogh.. Rud, pintar sekali yah kamu merangsang Tante..&#8221; dengan suara yang mendesah.<br />
Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.</p>
<p>Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.<br />
&#8220;Rud.. ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!&#8221; pinta si Tante.<br />
&#8220;Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!&#8221; sambil berusaha meyakinkan saya.</p>
<p>Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.<br />
&#8220;Ahh.. dorong terus Dong Rud..!&#8221; pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.<br />
Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stella mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.</p>
<p>Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.<br />
&#8220;Oh.. oh.. nikmat sekali Rudy..!&#8221; teriak si Tante.<br />
&#8220;Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..!&#8221; kata saya.<br />
&#8220;Sabar yah Rud.. tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!&#8221; jawab si Tante.</p>
<p>Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.<br />
&#8220;Arghh..!&#8221; teriak Tante Stella.<br />
Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.</p>
<p>Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stella dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.</p>
<p>&#8220;Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?&#8221; kataya sambil tertawa kecil.<br />
&#8220;Agh.. Tante bisa aja deh..!&#8221; jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.<br />
Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.</p>
<p>&#8220;Um.. dorong lebih keras lagi dong Rud..!&#8221; desahnya.<br />
Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.<br />
&#8220;Rud.. mandi yuk..!&#8221; pintanya.<br />
&#8220;Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?&#8221; jawab saya.</p>
<p>Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Stella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.<br />
&#8220;Hm.. nikmat sekali jilatanmu Rud.. agghh..!&#8221; desahnya.<br />
&#8220;Rud.. kamu sering-sering ke sini Rud..!&#8221; katanya dengan nafas memburu.<br />
Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya &#8220;KO&#8221; kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.</p>
<p>Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Indah teman sekampus saya, apalagi Noni murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.</p>
<p>Selepas pengalaman itu, saya menjadi lebih berani pada wanita, dan menikmati persetubuhan dengan beberapa wanita setengah baya yang kesepian dan butuh pertolongan tanpa dibayar. <!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/menemani-kesepian-tante-stella.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janda Cantik Di Bis Kota</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-cantik-di-bis-kota.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-cantik-di-bis-kota.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 14:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[janda binal]]></category>
		<category><![CDATA[janda muda ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[janda nakal]]></category>
		<category><![CDATA[memek janda muda]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot janda cantik]]></category>
		<category><![CDATA[pepek janda]]></category>
		<category><![CDATA[seks janda muda]]></category>
		<category><![CDATA[toket janda muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Ketemu janda cantik di bis jurusan jakarta membuka pengalaman seksku. Aku akan ceritain satu persatu cerita seks yang pernah ak alami, salah satunya berikut ini.
Maaf… bisa geser mbak?sapaku membangunkan cewek yang tertidur di bis dewi sri jurusan jakart.
emang dah penuh ya?jawabnya agak bermalas2an.
akhirnya saya duduk di sampingnya,bispun mulai melaju menuju tujuan.
pada mulanya kami saling diem,aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketemu janda cantik di bis jurusan jakarta membuka pengalaman seksku. Aku akan ceritain satu persatu cerita seks yang pernah ak alami, salah satunya berikut ini.</p>
<p>Maaf… bisa geser mbak?sapaku membangunkan cewek yang tertidur di bis dewi sri jurusan jakart.<br />
emang dah penuh ya?jawabnya agak bermalas2an.<br />
akhirnya saya duduk di sampingnya,bispun mulai melaju menuju tujuan.<br />
pada mulanya kami saling diem,aku memulai membuka percakapan.<br />
mau ke mana mbak…<br />
ke jakarta…jawabnya..<br />
lama-lama kami mulai akrab karena aku sedikit mengorek ttg dirinya dan bercerita juga tentang masalaluku berpacaran.dari situ aku mulai memberanikan diri memegang tangannya.ternyata walau agak menolak genit tapi dia tetap diam ketika kuremas dan kuelus tangannya.<br />
aku mulai mengeluarkan jurusku,kupijit-pijit tanganya dan dia menikmati.<span id="more-107"></span><br />
wah pinter juga yah lo mijit,mau dong pijitin…guraunya.<br />
langsung saja ku teruskan memijit mulai pungggung dan merambat ke daerah di sekitar dadanya.dia diam saja dan mulai mendengus kenikmatan.karena bis melaju kencang dan lampu dimatikan,maka aku bisa lebih leluasa melakuakan aksiku.sesekali orang yang duduk di belakangku bangun dan melihat apa yang kami perbuat.<br />
ah…sebodoh amat,yang penting gw seneng dan cewek disamping gw juga menikmati…begitu gumamku dalam hati.<br />
hampir semalam suntuk aku kerjain dia,yang tadinya hanya memijit lama kelamaan gw remas toketnya.ternyata dia juga mnikmati,maka kuteruskan aksiku.kususupkan tanganku melalui kaos bagian bawahnya dan yanng satu lagi aku buat memainkan memeknya.dia menggelinjang kenikmatan.<br />
ihhhhhhhh mas sksd deh sindirnya..<br />
emang apa sksd ?tanyaku<br />
sok tahu sok dekat…<br />
owwwwwww….<br />
lo juga suka kan?<br />
dia hanya tersenyum.lalu kuteruskan pekerjaanku sampe dia klimaks.tak terasa sudah sampai pulo gadung dan dia mau cepat-cepat berangkat kerja.makanya dia langsung ngacir naik ojek karena takut kesiangan.untungnya saat di bisa kita saling tuker hp dan janjian mau ketemuan sabtu sorenya.<br />
singkat cerita…<br />
sore itu ku tunggu dia di terminal tanjung priok,karena kemacetan yanng di sebabkan naiknya harga BBM (waktu itu pas hari pertama naik) maka dia agak terlambat,waktu aku telp dia kubilang,udah naik ojek aja ntar gw yang bayarin.<br />
mau kemana kita sri….<br />
kemana aja deh mas katanya….<br />
ya udah ke ancol aja yuk..<br />
aku dah sangat bernafsu begitu dia sambut ajakanku.yanng ada dalam benakku hanya bagaimana aku bisa ngentot sama dia.<br />
sesampainya di ancol kupilih tempat yang agak sepi agar bisa bebas bermesraan.tapi saat aku minta dia untuk saling merangsang dia malah gak mau,malu katanya.<br />
ya udah kita jalan-jalan aja yuk.akhirnya kita jalan sampe jam 10 malam.<br />
sri kalo malam gini dah gak ada angkutan neh,gemana kalo kita cari tempat nginap aja?<br />
nggak akh takut…katanya.<br />
takut kenapa?aku janji gak ku apa-apain deh,swear…<br />
walau agak lama kurayu namun akhirnya membuahkan hasil juga.lalu kami naik mobil jurusan kota dan naik lagi sampe pasar baru.langsung saja aku ajak dia masuk ke hotel ***.karena dia belom pernah masuk hotel,kelihatan sekali dia sangat canggung.<br />
sesampainya didalam aku dah gak sabar lagi,tapi dia menolak waktu kuajak ML,ya udah kita cerita-cerita dulu.sambil cerita kurangsang dia,kuremas susunya dan kusedot-sedot putingnya.ternyata di situlah titik lemahnya,dia nggak tahan lagi.ku lucuti semua pakaian yang ada tanpa dia sadari,mungkin saking nikmatnya hingga dia gak memperhatikan apa yang kulakukan.mulai kususuri semua kulitnya,ku jilati telinga belakangnya.dia semakin menggelinjang.massssssss….ohhh h..enakkkkkkkkkk..trss masasssssss..ceracaunya.kuturu nkan jilatanku sampai ke kedua payudarannya.kusedot-sedot dan ku remas-remas keduannya bergantian.dia semakin melayang terbang ke awan.jilatanku trs merembet sampai akhirnya kujilat dan kumainkan memeknya.ternyata sudah basah…enak ya say?…<br />
ssssssss iya mas…trs mas…….ohhhhh.ssssssshh…terus ku mainkan memeknya sampe bener-bener siap..aku tidak mau membuang kesempatan sia-sia,kupasangkan kontolku tepat di depan pintu memeknya.selagi dia menikmati rangsangankku di kedua payudara dan mulut serta kupingnya,ku masukkan saja kontolku.aku langsung tancap sampe bener-bener mentok.walaupun sudah janda tapi ternyata masih seret banget.(dari cerita-cerita kami, ku tahu bahwa dia sudah bukan gadis lagi,dia janda di tinggal suaminya,makanya dia sangat hot ketika dirangsang sedikit)tanpa ba-bi-bu terus ku genjot tubuhnya sampai ranjang hotel berderit.dia merem melek menikmati apa yang ku lakukan.masssssss sssshh nikmat masssss…lama aku entot dia sampe akhirnya ku gak kuat dan keluarlah spermaku di dalam memeknya.dia kaget dan tersadar bahwa aku sudah menjerumuskan dia ke lubang kenikmatan.dia menatapku sambil bertanya.mas tadi mas masukin yah kontolnya?…<br />
iya ..emang kamu gak terasa?<br />
iya sih enak banget,tapi kok dimasukkin sih?kan dah janji..<br />
iya deh sory-sory..aku gak tahan soalnya.<br />
akhirnya dia nangis di dadaku,terasa damai hatiku ada cewek nangis di dadaku.<br />
setelah beristirahat dan cerita-cerita ttg kehidupannya,aku mulai merangsang dia lagi.sekarang dia sudah tidak menolak sama sekali.dia menikmati semua yang ada.mungkin sudah terlanjur pikirnya.ku kulum bibirnya,kumainkan lidahku didalam mulutnya.dia mulai berreaksi menyambut kenikmatan yang kuberikan.kuremas-remas susunya.dia semakin menggelinjang tidak karruan.lalu kucium dan ku sedot kedua putingnya bergantian sambil kuremas-remas mesra.dia semakin tidak tahan.ku elus-elus vaginanya.kujilati lagi dan kumainkan klitorisnya,dia mengerang dahsyat.ssssssssshhhhhhhh…mass sss..ouuuuuhhhhhhgggggf..trs mas..enakkkk…iiya say jawabku.<br />
sekarang masukin yah say?<br />
dia hanya diam sambil menatapku sayu.<br />
lalu ku atur posisi,ku letakkan pantatnya di pingir ranjang,aku berdiri,sementara kontolku sudah tepat di depan liang surganya.kumasukkan pelan-pelan.dia merintih keenakan.ayo mas..lakukan..puaskan dahagaku..aku dah gak kuat….<br />
ku tekan pelan2 kontolku,clep..blesssss..masuk semuanya walau masih sulit.kudiamkan sebentar sambil memberi dia kesempatan menerima kontolku yang cukup besar.<br />
mulai ku goyanng dan ku genjot maju mundur pelan…pelan dan akhirnya lebih cepat kugenjot dia.sssssssshhhhhh yeahhhhh..ayo mas terus mas…enak banget mas…<br />
setelah agak lama kuminta ganti posisi.say..sekarang ganti gaya yah..lo nungging..yah..<br />
lalu kuangkat pantanya sampe nunging.aku naik keranjang dan memasang kontolku pas di luang vaginanya.ku elus seluruh kulit punggungnya.ku cium dan ku jilat-jilat telinga belakangnya….ayo mas..masukin..dah gak tahan nih….<br />
iya say…kutekan kontolku merangsek ke dalam lubang nikmatnya.blesss..masuk juga kontolku di telan memeknya.terasa lebih sempit.ku genjot lagi dan lagi.sampai dia gak tahan dan mengerang panjang…kontolku terasa di sedot masuk kedalam,di pijat enak sekali…….ohhhhhhh masssssssss aku keluaaaaarrrrrr….<br />
ku biarkan kontolku di dalam memeknya,sambil memberi kesempatan dia istirahat,lalu ku ganti posisinya terlentang.<br />
kuangkat kedua kakinya ke pundakku,dan kumasukkan lagi kontolku,dia masih diam.ku genjot terus memeknya,gw dah gak sabar mau ngentot dia sampe lemes…<br />
akhirnya dia berreaksi,dia goyangkan pantanya dan sesekali ikut naik turun.<br />
sssssssseehhhhhhhh..ogffffffff ff nikmat mas,trs …<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-cantik-di-bis-kota.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kutiduri Ibu Guru Itu</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/kutiduri-ibu-guru-itu.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/kutiduri-ibu-guru-itu.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 07:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[ibu guru bugil]]></category>
		<category><![CDATA[ibu guru ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ibu guru telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[memek ibu guru]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ibu guru cantik]]></category>
		<category><![CDATA[puting susu ibu guru]]></category>
		<category><![CDATA[skandal seks ibu guru]]></category>
		<category><![CDATA[vagina ibu guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Diana semakin bergairah setelah kujilati liang kewanitaannya. Tidak Kalah agresif, Diana pun ikut membalas dengan mengisap-isap penisku. Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kuhisapi puting susunya yang berwarna
Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diana semakin bergairah setelah kujilati liang kewanitaannya. Tidak Kalah agresif, Diana pun ikut membalas dengan mengisap-isap penisku. Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kuhisapi puting susunya yang berwarna</p>
<p>Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki SD kelas 1. Setelah istriku meninggal dunia karena terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya yang mesti mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur, kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum istriku meninggal. Sekarang semuanya kulakukan sendiri seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang yang berdomisili di Jakarta.<span id="more-102"></span></p>
<p>Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan untunglah Jerry, anakku satu-satunya tidak pernah mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua hasil masakanku tidak bisa dimakan karena kadang-kadang terlalu asin dan kadang-kadang gosong. Suatu hari Jerry memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya karena gurunya ingin bertemu denganku.</p>
<p>Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah anakku untuk bertemu Ibu Diana dan sewaktu aku bertemu dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca kegugupanku itu. Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil dia dengan sebutan Ibu Diana. Didalam percakapan itu, dia menceritakan mengenai pelajaran Jerry yang agak tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru ketahuan dari pengakuan Jerry, bahwa walaupun dia rajin mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagi.</p>
<p>Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Diana akan memberikan anakku les privat dan setelah kami sama -sama sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah, aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku itu.</p>
<p>Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa 1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku juga harus bersiap -siap untuk menyambutnya. Setelah guru Jerry datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Aku mulai membaca koran Kompas hari itu dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku yang sedang mengajari Jerry. Kulihat bahwa Ibu Diana ini cukup pengertian dalam mengajari anakku yang kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang dipelajarinya.</p>
<p>Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa jam privat les sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar rumahku. Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW kesayanganku dan setelah aku bersiap siap, aku menyuruh Jerry untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku akan mengantarkan gurunya pulang. Jerry menuruti ucapan ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali bukunya dan mengulang materi yang baru saja dipelajarinya.</p>
<p>Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Diana untuk masuk dan kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak mempunyai pembantu rumah tangga saat itu. Di tengah perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan mengenai perubahan yang dialami Jerry setelah ibunya meninggal dunia. Nampaknya Ibu Diana serius sekali mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah ditinggal oleh istriku.</p>
<p>Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem mendadak itu, karena Ibu Diana lupa tidak memakai &#8220;Seatbelt&#8221;, dia langsung jatuh kedalam pelukanku. Dia nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh. Aku melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke motel terdekat untuk menyelesaikan &#8216; bisnis&#8217;nya.</p>
<p>Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi. Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang sementara Ibu Diana dengan kecepatan yang luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku dikagetkan oleh Ibu Diana yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak.</p>
<p>&#8220;Bu.. ada apa?&#8221; aku mendadak gugup bercampur kepingin melihat tubuh Ibu Diana yang sangat indah itu. Tapi tiba-tiba Diana menarikku dan langsung mencium bibirku. Sepertinya aku mau meledak! Ibu Diana yang tingginya 172 cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat, keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali. Diana menuntun tanganku ke dadanya. Disuruhnya aku meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan senyumnya yang menggoda sekali. Aku hanya diam terpaku melihat caranya melepas pakaian dengan pelan -pelan dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang pinggulnya.</p>
<p>Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya tersembunyi. Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari biasanya. Lalu Diana kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya dan berbisik kepadaku, &#8220;Kamu akan merasakan seperti di surga.&#8221; Tapi aku masih berusaha menghindar walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu. &#8220;Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?&#8221; &#8220;Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di sini dan jangan diganggu.&#8221; Gile sudah direncanaka!</p>
<p>Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku biasa memakai kemeja lengan pendek) Diana menjilati perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan. Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku. &#8220;Wah, ini akan hebat sekali. Begitu besar, keras. Belum pernah aku melihat seperti ini di film porno.&#8221;</p>
<p>Diana mulai mengisap -isap batang kemaluanku (baru-baru ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku tidak pernah melakukannya). &#8220;Aaarghh.. argh..&#8221; aku baru sekali senikmat itu. &#8220;Kamu mulai bergairah kan, Sayang?&#8221; Baru kali itu dia memanggilku sayang. Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang sudah basah itu. &#8220;Nnngghhh.. ngghhh.. aaahh&#8230; ahhh&#8221; Diana mulai mengerang-ngerang. Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi puting susunya yang berwarna pink. &#8220;Aahhh.. yeahh.. Tak kusangka kamu agresif sekali.&#8221; Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat. Diana hanya bisa mengerang, mendesah-desah. &#8220;Ricky, cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Diana udah nggak tahan.. ahhh.. Tapi pelan-pelan, Diana masih perawan.&#8221;</p>
<p>Waktu itu aku tidak memikirkan dia perawan atau tidak. Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan pelan -pelan, sempit sekali. Benar-benar masih perawan, kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit batang kejantananku. Sampai akhirnya batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas semua. &#8220;Aaakkhhh&#8230;&#8221; lagi -lagi teriakannya membuatku bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya.</p>
<p>&#8220;Ngghhh.. Rickkk.. gede banget.. aanggghh.. indah sekali rasanya.&#8221;<br />
Kemudian kami mengganti posisi nungging. &#8220;Plok.. plok.. plok..&#8221; suara waktu aku sedang menggenjotnya dari belakang. Dadanya berayun-ayun. Diana kadang meremasnya sendiri.<br />
&#8220;Aahhh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahhh.. Diana udah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!&#8221; Tidak lama kemudian akupun keluar juga.</p>
<p>Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Diana yang lemas tak berdaya. Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas masih memburu terengah-engah, Diana memakai pakaiannya kembali. &#8220;Kamu hebat sekali Rick. Diana puas sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan pertama.&#8221; Kemudian sebelum keluar kamar Diana kembali mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium dia sambil kupegang payudaranya.</p>
<p>Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan untuk beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa lama. Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku. Setelah itu aku kemudian berkata kepadanya, &#8220;Diana, aku ingin kamu menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Jerry..&#8221; Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Diana langsung menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja terjadi.</p>
<p>Setelah kami berciuman untuk beberapa menit, Diana langsung berkata kepadaku, &#8220;Ricky, aku juga ingin memiliki kekasih dan ternyata aku sekarang menemukannya dan aku ingin menikah denganmu dan kita bisa bersama-sama mendidik Jerry.&#8221; Setelah kejadian itu, Diana sering pergi keluar bersamaku dan Jerry.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/kutiduri-ibu-guru-itu.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merengkuh Kenikmatan Bersama Ima Iparku</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/merengkuh-kenikmatan-bersama-ima-iparku.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/merengkuh-kenikmatan-bersama-ima-iparku.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 19:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[bersetubuh dengan ipar]]></category>
		<category><![CDATA[memek ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot adik ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot kakak ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot saudara ipar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia dalam arti-an kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam hidup berumahtangga, terutama rahasia terhadap istriku. Bermula pada saat beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia dalam arti-an kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam hidup berumahtangga, terutama rahasia terhadap istriku. Bermula pada saat beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan istriku. Aku diperkenalkan kepada seluruh keluarga kandung dan keluarga besarnya. Dan dari sekian banyak keluarganya, ada satu yang menggelitik perasaan kelaki-lakianku; yaitu kakak perempuannya yang bernama Ima (sebut saja begitu). Ima dan aku seusia, dia lebih tua beberapa bulan saja, dia sudah menikah dengan suami yang super sibuk dan sudah dikaruniai 1 orang anak yang sudah duduk di sekolah dasar. Dengan tinggi badan 160 cm, berat badan kurang lebih 46 kg, berkulit putih bersih, memiliki rambut indah tebal dan hitam sebahu, matanya bening, dan memiliki suara agak cempreng tapi menurutku seksi, sangat menggodaku. Pada awalnya kami biasa-biasa saja, seperti misalnya pada saat aku menemani pacarku kerumahnya atau dia menemani pacarku kerumahku, kami hanya ngobrol seperlunya saja, tidak ada yang istimewa sampai setelah aku menikah 2 tahun kemudian dia menghadiahi kami (aku dan pacarku) dengan sebuah kamar di hotel berbintang dengan dia bersama anak tunggalnya ikut menginap di kamar sebelah kamarku.</p>
<p>Setelah menikah, frekuensi pertemuan aku dengan Ima jadi lebih sering, dan kami berdua lebih berani untuk ngobrol sambil diselingi canda-canda konyol. Pada suatu hari, aku dan istri beserta mertuaku berdatangan kerumahnya untuk weekend dirumahnya yang memang enak untuk ditinggali. Dengan bangunan megah berlantai dua, pekarangannya yang cukup luas dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman hias, serta beberapa pohon rindang membuat mata segar bila memandang kehijauan di pagi hari. Letak rumahnya juga agak jauh dari tetangga membuat suasana bisa lebih private. Sesampainya disana, setelah istirahat sebentar rupanya istriku dan mertuaku mengajak untuk berbelanja keperluan bulanan. Tetapi aku agak mengantuk, sehingga aku meminta ijin untuk tidak ikut dan untungnya Ima memiliki supir yang dapat dikaryakan untuk sementara. Jadilah aku tidur di kamar tidur tamu di lantai bawah. Kira-kira setengah jam aku mencoba untuk tidur, anehnya mataku tidak juga terpejam, sehingga aku putus asa dan kuputuskan untuk melihat acara TV dahulu. Aku bangkit dan keluar kamar, tetapi aku agak kaget ternyata Ima tidak ikut berbelanja. Ima menggunakan kaus gombrong berwarna putih, lengan model you can see dan dengan panjang kausnya sampai 15cm diatas lutut kakinya yang putih mulus. &#8220;Lho..kok nggak ikut ?&#8221; tanyaku sambil semilir kuhirup wangi parfum yang dipakainya, harum dan menggairahkan, &#8220;Tauk nih..lagi males aja gue..&#8221; sahutnya tersenyum dan melirikku sambil membuat sirup orange dingin dimeja makan, &#8220;Anto kemana..?&#8221; tanyaku lagi tentang suaminya, &#8220;Lagi keluar negeri, biasa..urusan kantornya..&#8221; sahutnya lagi. Lalu aku menuju kedepan sofa tempat menonton TV kemudian aku asik menonton film di TV. Sementara Ima berlalu menuju tingkat atas (mungkin ke kamarnya).</p>
<p>Sedang asik-asiknya aku nonton, tiba-tiba kudengar Ima memanggilku dari lantai atas; &#8220;Di..Adi..&#8221;, &#8220;Yaa..&#8221; sahutku, &#8220;Kesini sebentar deh Di..&#8221;, dengan tidak terburu-buru aku naik dan mendapatinya sedang duduk disofa besar untuk 3 orang sambil meminum sirup orangenya dan menghidupkan TV. Dilantai atas juga terdapat ruang keluarga mini yang lumayan tersusun apik dengan lantainya dilapisi karpet tebal dan empuk, dan hanya ada 1 buah sofa besar yang sedang diduduki oleh Ima. &#8220;Ada apa neng..?&#8221; kataku bercanda setelah aku sampai diatas dan langsung duduk di sofa bersamanya, aku diujung kiri dekat tangga dan Ima diujung kanan. &#8220;Rese luh..sini temenin gue ngobrol ama curhat&#8221; katanya, &#8220;Curhat apaan?&#8221;, &#8220;Apa! ajalah, yang penting gue ada temen ngobrol&#8221; katanya lagi. Maka, selama sejam lebih aku ngobrol tentang apa saja dan mendengarkan curhat tentang suaminya. Baru aku tahu, bahwa Ima sebenarnya &#8220;bete&#8221; berat dengan suaminya, karena sejak menikah sering ditinggal pergi lama oleh suaminya, sering lebih dari sebulan ditinggal. &#8220;Kebayangkan gue kayak gimana ? Kamu mau nggak temenin aku sekarang ini ?&#8221; tanyanya sambil menggeser duduknya mendekatiku setelah gelasnya diletakan dimeja sampingnya. Aku bisa menebak apa yang ada dipikiran dan yang diinginkannya saat ini. &#8220;Kan gue sekarang lagi nemenin..&#8221; jawabku lagi sambil membenahi posisi dudukku agar lebih nyaman dan agak serong menghadap Ima. Ima makin mendekat ke posisi dudukku. Setelah tidak ada jarak duduk denganku lagi, Ima mulai membelai rambutku dengan tangan kirinya sambil bertanya &#8220;Mau..?&#8221;, aku diam saja sambil tersenyum dan memandang matanya yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak. &#8220;Bagaimana dengan orang-orang rumah lainnya (pembantu-pembantunya) dan gimana kalau mendadak istriku dan nyokap pulang ?&#8221; tanyaku, &#8220;Mereka tidak akan datang kalau aku nggak panggil dan maknyak bisa berjam-jam kalau belanja.&#8221; jawabnya semakin dekat ke wajahku.</p>
<p>Sedetik kemudian tangan kirinya telah dilingkarkan dileherku dan tangan kanannya telah membelai pipi kiriku dengan wajah yang begitu dekat di wajahku diiringi nafas harumnya yang sudah mendengus pelan tetapi tidak beraturan menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang lagi, tangan kananku kuselipkan diantara lehernya yang jenjang dan rambutnya yang hitam sebahu, kutarik kepalanya dan kucium bibir merah mudanya yang mungil. Tangan kiriku yang tadinya diam saja mulai bergerak secara halus membelai-belai dipinggang kanannya.&#8221;Mmhh..mmhh..&#8221; nafas Ima mulai memburu dan mendengus-dengus, kami mulai saling melumat bibir dan mulai melakukan French kiss, bibir kami saling menghisap dan menyedot lidah kami yang agak basah, very hot French kiss ini berlangsung dengan dengusan nafas kami yang terus memburu, aku mulai menciumi dagunya, pipinya, kujilati telinganya sebentar, menuju belakang telinganya, kemudian bibir dan lidahku turun menuju lehernya, kuciumi dan kujilati lehernya, &#8220;hhnngg.. Ahhdhii.. oohh.. honeey.. enngghh&#8221; desahnya sambil memejamkan matanya menikmati permainan bibir dan lidahku di leher jenjangnya yang putih dan kedua tangannya merengkuh kepalaku, sementara kepala Ima bergerak kekiri dan kekanan menikmati kecupan-kecupan serta jilatan di lehernya.</p>
<p>Tangan kiriku yang awalnya hanya membelai pinggangnya, kemudian turun membelai dan mengusap-usap beberapa saat dipaha kanannya yang putih, mulus dan halus untuk kemudian mulai menyelusup kedalam kaus gombrongnya menuju buah dadanya. Aku agak terkejut merasakan buah dadanya yang agak besar, bulat dan masih kencang, padahal setahuku Ima memberikan ASI ke anak tunggalnya selama setahun lebih. Tanganku bergerak nakal membelai dan meremas-remas lembut dengan sedikit meremas pinggiran bawah buah dada kanannya. &#8220;Buah dadamu masih kencang dan kenyal neng.&#8221; kataku sambil kulepas permainan dilehernya dan memandang wajahnya yang manis dan agak bersemu merah tanpa kusudahi remasan tanganku di buah dada kanannya. &#8220;Kamu suka yaa..&#8221; sahutnya sambil tersenyum dan aku mengangguk. &#8220;Terusin dong..&#8221; pintanya manja sambil kembali kami berciuman dengan bergairah. &#8220;Mmhh.. mmhh.. ssrrp.. ssrrp..&#8221; ciuman maut kami beradu kembali. Tangan kiriku tetap menjalankan tugasnya, dengan lembut membelai, meremas, dan memuntir putingnya yang mengeras kenyal.</p>
<p>Tangan kanan Ima yang tadinya berada dikepalaku, sudah turun membelai tonjolan selangkanganku yang masih terbungkus celana katun. Ima menggosok-gosokkan tangan kanannya secara berirama sehingga membuat aku makin terangsang dan penisku makin mengeras dibuatnya. Nafas kami terus memburu diselingi desahan-desahan kecil Ima yang menikmati foreplay ini. Masih dengan posisi miring, tangan kiriku menghentikan pekerjaan meremas buah dadanya untuk turun gunung menuju keselangkangannya. Ima mulai menggeser kaki kanannya untuk meloloskan tangan nakalku menuju sasarannya. Aku mulai meraba-raba CD yang menutup vaginanya yang kurasakan sudah lembab dan basah. Perlahan kugesek-gesekkan jari jemariku sementara Ima pasrah merintih-rintih dan mendesah-desah menikmati permainan jemariku dan pagutan-pagutan kecil bibirku serta jilatan-jilatan lidahku dilehernya yang jenjang dan halus diiringi desehan dan rintihannya berulang-ulang. Pinggulnya diangkat-angkat seperti memohon jemariku untuk masuk kedalam CD-nya meningkatkan finger play ku. Tanpa menunggu, jariku bergerak membuka ikatan kanan CD-nya dan mulai membelai rambut kemaluannya yang lembut dan agak jarang. Jari tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di labia mayoranya, sementara ! jari telunjuk dan jari manisku yang bekerja menggesek-gesekkan dan agak kujepit-jepit pinggiran bibir vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan.</p>
<p>Sementara Ima memejamkan matanya dan dari bibir mungilnya mengeluarkan rintihan-rintihan juga desahan-desahan berkali-kali. Kemudian jari tengahku mulai turun dan kugesek-gesekkan untuk membelah bibir kemaluannya yang kurasa sudah basah. Berkali-kali kugesek-gesek dengan sisi dalam jari tengahku, kemudian mulai kutekuk dan kugaruk-garuk jari tengahku agak dalam di bibir vaginanya yang kenyal, lembut dan bersih. Sementara Ima makin merintih-rintih dan mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan gerakan naik turun kekiri dan kekanan &#8220;Ouuhh.. hemmhh.. sshh.. aahh.. Dhii.. eehhnakh.. honey.. oohh&#8230; ..sshh..&#8221; rintih dan desahannya berkali-kali. Finger play ini kusertai dengan ciuman-ciuman di leher dan bibirnya serta sambil kami saling menyedot lidah. Setelah puas dengan posisi miring, kemudian aku agak mendorong tubuhnya untuk duduk dengan posisi selonjor santai, sementara aku berdiri dikarpet dengan dengkulku menghadapnya, Ima agak terdiam dengan nafasnya memburu, perlahan kubuka kaus gombrongnya, saat itulah aku dapat melihat tubuhnya separuh telanjang, lebih putih dan indah dibandingkan istriku yang berkulit agak kecoklatan, dua bukit kembarnya terlihat bulat membusung padat, sangat indah dengan ukuran 36B, putih, dengan puting merah muda dan sudah mengeras menahan nafsu birahi yang bergejolak.</p>
<p>Sambil tangan kiriku bertopang pada tepian sofa, mulutku mulai menciumi buah dada kanannya dan tangan kananku mulai membelai, menekan, dan meremas-remas buah dada kirinya dengan lembut. &#8220;Aahh.. hhnghh.. honeey.. enaak.. bangeet.. terruss.. aahh.. mmnghh.. hihihi.. auhh..adhi..&#8221; Ima bergumam tak karuan menikmati permainanku, kedua tangannya meremas dan menarik-narik rambutku. Ima mendesah-desah dan merintih-rintih hebat ketika putingnya kuhisap-hisap dan agak kugigit-gigit kecil sambil tangan kananku meremas buah dada kirinya dan memelintir-pilintir putingnya. Ima sangat menikmati permainanku didadanya bergantian yang kanan dan kiri, hingga dia tak sadar berucap &#8220;Adhii.. oohh.. bhuat ahkhuu puas kayak adhikku di hotel dulu.. hhnghh.. mmhh..&#8221;, ups..aku agak kaget, tanpa berhenti bermain aku berpikir rupanya Ima menguping &#8220;malam pertamaku&#8221; dulu bersama istriku, memang pada malam itu dan pada ML-ML sebelumnya aku selalu membuat istriku berteriak-teriak menikmati permainan sex-ku. Rupanya..Oke deeh kakak, sekaranglah saat yang sebenarnya juga sudah aku tunggu-tunggu dari dulu. &#8220;Adhii.. sekarang dong.. aahh.. akhu sudah nggak tahann.. oohh..&#8221; ujarnya, tapi aku masih ingin berlama-lama menikmati kemulusan dan kehalusan kulit tubuh Ima.</p>
<p>Setelah aku bermain dikedua buah dadanya, menjilat, menghisap, menggigit, meremas dan memelintir, aku jilati seluruh badannya, jalur tengah buah dadanya, perutnya yang ramping, putih dan halus, kugelitik pusarnya yang bersih dengan ujung lidahku, kujilati pinggangnya, &#8220;Aduuh.. geli dong sayang.. uuhh..&#8221;, kemudian aku menuju ke kedua pahanya yang putih mulus, kujilati dan kuciumi sepuasnya &#8220;Aahh.. ayo dong sayang.. kamu kok nakal sihh.. aahh..&#8221;, sampailah aku di selangkangannya, Ima memakai CD transparan berwarna merah muda yang terbuat dari sutra lembut, dan kulihat sudah sangat basah oleh pelumas vaginanya. &#8220;Sayang.. kamu mau ngapain?&#8221; tanyanya sambil melongokkan kepalanya kebawah kearahku. Aku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku kearahnya nakal. Dengan mudah CD-nya kubuka ikatan sebelah kirinya setelah ikatan kanan telah terbuka, sekarang tubuh Ima sudah polos tanpa sehelai benangpun menghalangi, kemudian aku buka kedua kakinya dan kulihat pemandangan surga dunia yang sangat indah.</p>
<p>Bibir vaginanya sangat bersih dan berwarna agak merah muda dengan belahan berwarna merah dan sangat bagus (mungkin jarang digunakan oleh suaminya) meskipun sudah melahirkan satu orang anak, dan diatasnya dihiasi bulu-bulu halus dan rapi yang tidak begitu lebat. &#8220;Oohh.. Ima.. bersih dan merah banget..&#8221; ujarku memuji, &#8220;hihihi.. suka ya..?&#8221; tanyanya, tanpa kujawab lidahku langsung bermain dengan vaginanya, kujilati seluruh bibir vaginanya berkali-kali up and down, tubuh Ima mengejang-ngejang &#8220;Aahh..aahh..dhhii..oohh..eena k adhii..aahh..Anto nggak pernah mau begini..mmhh..&#8221; lidahku mulai menjilati bibir vaginanya turun naik dan menjilati labia mayoranya dengan ujung! lidahku. Ima menggeliat-geliat, mendesah-desah, dan melenguh-lenguh, aku menjilati vaginanya sambil kedua tanganku meremas-remas kedua buah dadanya &#8220;Hhnghh.. nngghh.. aahh.. dhii.. honey..&#8221; gumamnya sangat menikmati permainan lidah dan bibirku yang menghisap-hisap dan menjilat-jilat klitorisnya berulang-ulang, menghisap-hisap seluruh sudut vaginanya serta lidahku mendesak-desak kedalam liang vaginanya berkali-kali tanpa ampun &#8220;Oohhnghh.. dhii.. more.. honey.. more.. ahh..&#8221;, tangan kananku kemudian turun untuk bergabung dengan bibir dan lidahku di vaginanya, sedikit-sedikit dengan gerakan maju mundur jari tengahku kumasuk-masukkan kedalam lubang vaginanya yang sudah becek, makin lama makin dalam kumasukkan jari tengahku sambil tetap bergerak maju mundur.</p>
<p>Setelah masuk seluruhnya, jari tengahku mulai beraksi menggaruk-garuk seluruh bagian dinding dalam liang surga Ima sambil sesekali kugerakkan ujungnya berputar-putar dan kusentuh-sentuh daerah G-spotnya, Ima meradang dan menggelinjang hebat ketika kusentuh G-spot miliknya. Lidahku tidak berhenti menjilati sambil kuhisap-hisap klitorisnya. Ima berusaha mengimbangi finger playku dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, kekiri dan kekanan dan bibirnya tidak berhenti merintih dan mendesah &#8220;Sshh..enghh..uuhh..Adhii..ouu hh..aahh..sshh..enghh..&#8221; tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya selain suara rintihan, erangan, lenguhan dan desahan kenikmatan. Sekitar 20 menit kemudian liang vaginanya berkedut-kedut dan menghisap &#8220;Oohhnghh.. ahh.. dhii.. akhu.. sham.. oohh.. henghh.. sham.. phaii.. aahh.. honey.. hengnghh ..aa..aa..&#8221; Ima berteriak-teriak mencapai klimaksnya sambil menyemburkan cairan kental dari dalam vaginanya yang berdenyut-denyut berkali-kali &#8220;serrtt.. serrtt.. serrtt..&#8221; kucabut jariku dan aku langsung menghisap cairan yang keluar dari lubang vaginanya sampai habis tak bersisa, tubuhnya mengejang dan menggelinjang hebat disertai rintihan kepuasan, kedua kakinya dirapatkan menjepit kepalaku, dan kedua tangannya menekan kepalaku lebih dalam kearah vaginanya. Kemudian tubuhnya mulai lemas setelah menikmati klimaksnya yang dahsyat &#8220;Aahh.. adhii.. eenghh.. huuhh..&#8221; vaginanya seperti menghisap-hisap bibirku yang masih menempel dalam dan erat di vaginanya. &#8220;Oh.. adi.. kamu gila.. enak banget.. oohh.. lidah dan hisapanmu waow.. tob banget dah.. oohh..&#8221; katanya sambil tersenyum puas sekali melihat kearah wajahku yang masih berada diatas vaginanya sambil kujilati klitorisnya disamping itu tanganku tidak berhenti bekerja di buah dada kanannya, &#8220;Anto nggak pernah mau oral-in aku..oohh..&#8221; dengan selingan suara dan desahannya yang menurutku sangat seksi.</p>
<p>Sambil beranjak duduk, Ima mengangkat kepalaku, dan melumat bibirku &#8220;Sekarang gantian aku, kamu sekarang berdiri biar aku yang bekerja, oke ?!?&#8221; ujarnya, &#8220;Oke honey, jangan kaget ya..&#8221; sahutku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku lagi sambil berdiri, sekilas wajahnya agak keheranan tapi Ima langsung bekerja membuka gesperku, kancing dan retsleting celanaku. Ima agak terkejut melihat tonjolah ditengah CD-ku, &#8220;Wow..berapa ukurannya Di ?&#8221; tanyanya, &#8220;Kira-kira aja sendiri..&#8221; jawabku sekenanya, tanpa ba bi bu Ima langsung meloloskan CD-ku dan dia agak terbelalak dengan kemegahan Patung Liberty-ku dengan helm yang membuntal, &#8220;Aww.. gila.. muat nggak nih..?&#8221;, sebelum aku menjawab lidahnya yang mungil dan agak tajam telah memulai serangannya dengan menjilati seluruh bagian penisku, dari ujung sampai pangkal hingga kedua kantung bijiku dihisap-hisapnya rakus &#8220;Sshh.. aahh.. Ima.. sshh..&#8221; aku dibuatnya merem melek menikmati jilatannya. &#8220;Abis dicukur ya ?&#8221; tanyanya sambil terus menjilat, aku hanya tersenyum sambil membelai kepalanya.</p>
<p>Kemudian Ima mulai membuka bibir mungilnya dan mencoba mengulum penisku, &#8220;Mm..&#8221; gumamnya, penisku mulai masuk seperempat kemulutnya kemudian Ima berhenti dan lidahnya mulai beraksi dibagian bawah penisku sambil menghisap-hisap penisku &#8220;Serrp.. serrp.. serrp..&#8221;, tangan kirinya memegang pantat kananku dan tangan kanannya memilin-milin batang penisku, nikmat sekali rasanya &#8220;Aahh.. sshh&#8230;&#8221; aku menikmati permainannya, lalu mulut mungilnya mulai menelan batang penisku yang tersisa secara perlahan-lahan, kurasa kenikmatan yang amat sangat dan kehangatan rongga mulutnya yang tidak ada taranya saat penisku terbenam seluruhnya didalam mulutnya. Agak nyeri sedikit diujung helmku, tapi itu dikalahkan nikmatnya kuluman bibir iparku ini. Ima mulai memaju mundurkan gerakan kepalanya sambil terus mengulum penisku, &#8220;Sshh.. aahh.. enak.. Ima..a hh.. terus .. sayang.. uuhh..&#8221; gumamku, lidahnya tidak berhenti bermain pula sehingga aku merasakan goyangan-goyangan kenikmatan dipenisku dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun, nikmat sekali, aku mengikuti irama gerakan maju mundur kepalanya dengan memaju mundurkan pinggulku, kedua tanganku ku benamkan dirambut kepalanya yang kuacak-acak, Ahh nikmat sekali rasanya &#8220;Clop.. clop.. clop..&#8221;. Setelah itu dengan agak membungkukkan posisi tubuhku, tangan kananku mulai mengelus-elus punggungnya sedangkan tangan kiriku mulai meremas-remas buah dada kanannya, kuremas, kuperas, kupijit dan kupuntir puting susunya, desahannya mulai terdengar mengiringi desahan dan rintihanku sambil tetap mengulum, mengocok dan menghisap penisku, &#8220;Ima.. mmhh..&#8221; rintihku. Mendengar rintihanku, Ima makin mempercepat tempo permainannya, gerakan maju mundur dan jilatan-jilatan lidahnya yang basah makin menggila sambil dihisap dan disedot penisku, dipuntir-puntirnya penisku dengan bibir mungilnya dengan gerakan kepala yang berputar-putar membuat seluruh persendian tubuhku berdesir-desir dan aku merintih tak karuan. &#8220;Aahh.. Ima.. oohh.. mmnghh.. gila benerr.. oohh..&#8221; Kuluman dan hisapannya tidak berhenti hingga 20 menit, &#8220;Gila luh.. 20 menit gue oral kamu nggak klimaks.. sampai pegel mulut gue.&#8221; katanya sambil berdiri dan melingkarkan kedua tangannya dileherku untuk kemudian kami berciuman sangat panas, Ima sambil berdiri berjinjit karena tinggiku 172 cm, sedangkan dia 160 cm. 5 menit kami menikmati ciuman membara.</p>
<p>Kedua tanganku meremas-remas kedua bongkahan pinggulnya yang bulat dan padat, namun kenyal dan halus kulitnya, lalu aku membopongnya menuju kekamarnya sambil terus berciuman. Sambil merebahkan tubuh mungilnya, kami berdua terus berciuman panas dan tubuh kami rebah dikasur empuknya sambil terus berpelukan. Nafas kami saling memburu deras menikmati tubuh yang sudah bersimbah keringat, berguling kekanan dan kekiri &#8220;Mmhh.. mmhh.. serrp.. serrp..&#8221;, tangan kananku kembali meluncur ke buah dada kirinya, meremas dan memuntir-puntir putingnya, Ima memejamkan mata dan mengernyitkan dahinya menikmati permainan ini sambil bibirnya dan bibirku saling mengulum deras, berpagutan, menghisap lidah, dan dengan nafas saling memburu. Kuciumi kembali lehernya, kiri kanan, Ima mendesah-desah sambil kakinya dilingkarkan dipinggangku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Penisku terjepit diantara perutnya dan perutku, dan karena Ima menggoyang-goyangkan pinggulnya, kurasakan gesekan-gesekan nikmat pada penisku, &#8220;Aahh..ahh..adi..cumbui aku honey..ahh..puasi aku sayang..ehmm..&#8221; Ima mengerang-erang. Aku kembali meluncur ke kedua buah dadanya yang indah dan mulai menjilati, menghisap, menggigit-gigit kecil, meremas, dan memilin puting susunya yang sudah mengeras &#8220;Ahh.. terus honey.. oohh.. sshh..&#8221;, setelah puas bermain dengan kedua buah dada indahnya, aku menuruni tubuhnya untuk melumat vaginanya, kujilati semua sudutnya, up and down, kuhisap-hisap klitorisnya dan kujilat-jilat, kuhisap-hisap lubang vagina dan klitorisnya sepuas-puasnya &#8220;Oohh.. oohh.. sshh.. aahh.. honey.. kham.. muu.. nakhal.. oohh.. nakhaal.. banget sihh.. henghh.. oohh.. emmhh..&#8221; desahan demi desahan diiringi tubuhnya yang menggelinjang dan berkelojotan, vaginanya terasa makin basah dan lembab, &#8220;Aaahh..dhhii..oohh..&#8221; vaginanya mulai mengempot-empot sebagai tanda hampir mencapai klimaks, sementara penisku sudah mengeras menunggu giliran untuk menyerang.</p>
<p>Aku melepas jilatan dan hisapanku di vaginanya untuk kemudian bergerak keatas kearah wajahnya yang manis, kulihat Ima mengigit bibir bawahnya dengan dahinya yang mengerenyit serta nafasnya yang memburu ketika ujung penisku bermain di bibir vaginanya up and down &#8220;Mmhh.. adi.. ayo dong.. aku udah nggak tahan nihh.. oohh.. jangan nakal gitu dong.. aahh..&#8221; Ima menikmati sentuhan binal ujung penisku dibibir vaginanya &#8220;Okhe.. honey.. siap-siap yaa..&#8221; kataku juga menahan birahi yang sudah memuncak. Perlahan kuturunkan penisku menghunjam ke vaginanya &#8220;Enghh.. aahh.. adi.. oohh.. do it honey.. oohh..&#8221; desahnya, Vaginanya agak sempit dan kurasakan agak kempot kedalam menahan hunjaman penisku. &#8220;Slepp..&#8221; baru kepala penisku yang masuk, Ima berteriak &#8220;Enghh.. aahh.. enak sayang.. sshh.. oohh..&#8221; sambil mencengkeram bahuku seperti ingin membenamkan kuku-kuku jarinya kekulitku &#8220;Ayo adi.. aahh.. terusss honey.. aahh.. aahh..&#8221; vaginanya kembali mengempot-empot dan menghisap-hisap penisku tanda awal menuju klimaks &#8220;Ahh.. Ima.. enak banget..itu mu.. ahh..&#8221; aku menikmati hisapan vaginanya yang menghisap-hisap kepala penisku. Tidak berapa lama kemudian Ima kembali berteriak &#8220;Aadii.. aahh.. khuu.. aahh.. aahh.. oohh..&#8221; Ima kembali berteriak dan merintih mencapai klimaksnya dimana baru kepala penisku saja yang masuk. Aku geregetan, sudah dua kali Ima mencapai klimaks sedangkan aku belum sama sekali, begitu Ima sedang menikmati klimaksnya, aku langsung menghunjamkan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya &#8220;Sloop..sloop..sloopp..&#8221; dengan gerakan turun naik yang berirama &#8220;Aahh.. aahh.. hemnghh.. oohh.. aahh.. dhii.. aahh.. aahh.. ehh.. nhak ..sha..yang.. enghh..oohh..&#8221; Ima mendesah-desah dan berteriak-teriak merasakan nikmatnya rojokan penisku di liang vaginanya yang sempit dan agak peret.</p>
<p>Aku terus menaik turunkan penisku dan menghunjam-hunjamkan keliang vaginanya, sementara Ima makin melenguh, mendesah dan merintih-rintih merasakan gesekan-gesekan batang penisku dan garukan-garukan kepala penisku didalam liang vaginanya yang basah dan kurasakan sangat nikmat, seperti menghisap dan memilin-milin penisku. Suara rintihan dan desahan Ima semakin keras kudengar memenuhi ruang kamarnya sementara deru nafas kami semakin! memburu, dan akhirnya &#8220;Aahh.. dhii..ahh.. khuu.. sam..phai.. lhaa..ghii.. aahh..aahh.. aahh..&#8221; jeritnya terputus-putus mencapai kenikmatan ketiganya, aku masih belum puas, kutarik kedua tangannya dan aku menjatuhkan diri kebelakang sehingga posisinya sekarang Ima berada diatasku. Setelah kami beradu pandang dan berciuman mesra sesaat, Ima mulai memaju mundurkan dan memutar pinggulnya, memelintir penisku didalam liang vaginanya, gerakan-gerakannya berirama dan semakin cepat diiringi suara rintihan dan desahan kami berdua, &#8220;Aahh.. Ima.. oohh.. enak banget..aahh..&#8221; aku menikmati gerakan binalnya, sementara kedua tanganku kembali meremas kedua buah dadanya dan jemariku memilin puting-putingnya &#8220;Aahh.. hemhh.. oohh.. nghh.. &#8221; teriakannya kembali menggema keseluruh ruangan kamar, &#8220;Tahan.. dhulu.. aahh.. tahan..&#8221; sahutku terbata menikmati gesekan vaginanya di penisku, &#8220;Enghh.. akhu.. nggak khuat.. oohh.. honey.. aahh..&#8221; balasnya sambil mengelinjang-gelinjang hebat dengan vaginanya yang sudah mengempot-empot &#8220;Seerrt.. seerrt.. seerrt..&#8221; Ima mengeluarkan banyak cairan dari dalam vaginanya dan aku merasakan hangatnya cairan tersebut diseluruh batang penisku, tubuhnya mengigil disertai vaginanya berdenyut-denyut hebat dan kemudian Ima ambruk dipelukanku kelelahan &#8220;Oohh.. adhi.. hhhh.. mmhh.. hahh..enak banget sayang.. oohh.. mmhh..&#8221; bibirnya kembali melumat bibirku sambil menikmati klimaksnya yang keempat, sementara penisku masih bersarang berdenyut-denyut perkasa didalam vaginanya yang sangat basah oleh cairan kenikmatan dari vagina miliknya yang masih berdenyut-denyut dan menghisap-hisap penisku.</p>
<p>Kami terdiam sesaat, kemudian &#8220;Aku haus banget sayang, aku minum dulu yaa..boleh ?&#8221; pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku, &#8220;Boleh, tapi jangan lama-lama ya, aku belum apa-apa nih..&#8221; ujarku jahil sambil tersenyum. Sambil mencubit pinggangku Ima melepas pelukannya, melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya &#8220;Plop..&#8221; sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar mengambil sirup orange dimeja samping sofa. Kemudian Ima berjalan kembali memasuki kamar sambil minum dan menawarkannya padaku. Aku meneguknya sedikit sambil mengawasi Ima berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Ima masuk kekamar mandi, sejenak kuikuti dia, kulihat Ima sedang membasuh tubuh indahnya yang berkeringat dengan handuk &#8220;Kenapa ? Udah nggak sabar ya ?&#8221; tanyanya sambil melirikku dan tersenyum menggoda.</p>
<p>Tanpa basa-basi kuhampiri Ima, kupeluk dari belakang dan kuciumi tengkuknya, pundaknya dan lehernya. Sementara kedua tanganku bergerilya membelai kulit tubuhnya yang halus. &#8220;Aahh..beneran nggak sabar..hihihi..&#8221; ucapnya &#8220;Emang..abis upacaranya banyak amat.&#8221;. Sambil tetap membelakanginya, tangan kananku mulai menuju kebuah dada kanan dan kirinya, dengan posisi tangan kananku yang melingkar di dadanya dua bukit bulat nan indah miliknya kugapai, sementara tangan kiriku mulai menuju ke vaginanya. &#8220;Hemhh..sshh..aahh..enghh. .&#8221; desahannya mulai terdengar lagi setelah jari tengah tangan kiriku bermain di klitorisnya, sesekali kumasukkan dan kukeluarkan jari tengahku kedalam liang vaginanya yang mulai basah! dan lembab serta tak ketinggalan tangan kananku meremas-remas buah dada kanan dan kirinya. Kedua kakinya agak diregangkan sehingga memudahkan jemari tangan kiriku bergerak bebas meng-eksplorasi vaginanya dan bibir serta lidahku tidak berhenti mencium juga menjilat seluruh tengkuk, leher dan pundaknya kiri dan kanan, sementara tangan kanannya menggapai dan membelai-belai rambutku serta tangan kirinya membelai-belai tangan kiriku. &#8220;Ahh.. adhhii.. sshh.. mmhh..enak sayang..enghh..enaakhh..&#8221;, kurasakan vagina mulai berdenyut-denyut, lalu agak kudorong punggungnya kedepan, kedua tangannya menjejak washtaffel didepannya, kemudian pinggulnya agak kutarik kebelakang serta pinggangnya agak kutekan sedikit kebawah. Setelah itu kudorong penisku membelah kedua vaginanya dari belakang &#8220;Srreepp..&#8221; aku tidak mau tanggung-tanggung kali ini, kujebloskan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya &#8220;Oouhh.. aahh.. adhhii.. oohh..&#8221; teriaknya berkali-kali seiring dengan hunjaman-hunjaman penisku, tangan kiriku mencengkeram pinggang kirinya sedangkan tangan kananku meremas-remas buah dada kanannya yang sudah sangat keras dan kenyal &#8220;Aahh.. adhii.. aahh.. harder.. aahh.. harder honey..aahh..&#8221; pintanya sehingga gerakan maju mundurku makin beringas &#8220;Pook.. pook.. pook..&#8221; bunyi benturan tubuhku dibokongnya. Beberapa lama! kemudian liang vaginanya mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap kembali dan aku tak kuasa menahan rintihan-rintihan bersamaan dengan rintihannya &#8220;Ima.. aahh.. enak shay.. hemnghh..&#8221; &#8220;Aahh.. akhuu.. aahh.. sham.. phai.. aahh..&#8221;, &#8220;Tahan.. dulu.. sha.. yang..hhuuh..&#8221; ujarku sambil terus menghunjam-hunjamkam penisku beringas karena aku juga mulai merasakan hal yang sama, &#8220;Aahh.. akhuu.. nggak.. kuat.. aahh.. AAHH..&#8221; &#8220;Seerrt..seerrt..seerrt..&#8221; kembali Ima mencapai klimaks dan menyemburkan cairan kental tubuhnya, berkali-kali, aku nggak peduli dan tetap ku genjot maju mundur penisku ke dalam vaginanya yang sudah sangat becek.</p>
<p>Kurasakan penisku seperti disedot-sedot dan dipuntir-puntir di dalam vaginanya yang sudah bereaksi terhadap orgasmenya. Akhirnya mengalirlah lava panas dari dalam tubuhku melewati batang penisku kemudian ke ujungnya lantas memuncratkan sperma hangatku ke dalam vaginanya yang hangat &#8220;Aahh&#8230;&#8221; kami mendesah lega setelah sedari tadi! berpacu mencapai kenikmatan yang amat sangat. Tubuh Ima mengigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan menghisap-hisap, aku diam dan kubiarkan Ima menikmati sensasi kenikmatan klimaksnya. &#8220;Ahh.. punyamu enak ya Ima.. bisa ngempot-ngempot gini..&#8221;ujarku memuji, &#8220;Enak mana sama punya adikku ?&#8221; tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan tersenyum &#8220;Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh..&#8221; kucium mesra bibirnya dan Ima memejamkan matanya. Kemudian kucabut penisku &#8220;Ploop..&#8221; &#8220;Aahh..&#8221; Ima agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur. Setelah Ima merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, aku berada diatasnya sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya &#8220;Mmhh..mmhh..&#8221; tangan kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah 2 jam bertempur &#8220;Kamu hebat Di, udah 2 jam masih keras aja.. dan kamu bener-bener bikin aku puas.&#8221; puji Ima, &#8220;Sekali lagi yaa, yang ini gong nya, aku bikin kamu puas dan nggak akan ngelupain aku selamanya, oke ?!&#8221; balasku, sambil berkata aku mulai menggeser tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu. &#8220;Sleepp..&#8221; &#8220;Auuwhh..&#8221; Ima agak menjerit. Perlahan tapi mantap kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis iparku ini, Ima merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat didinding-dinding vaginanya yang becek &#8220;Hehhnghh.. engghh.. aahh..&#8221; gerangnya.</p>
<p>Aku mulai memaju mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin lama makin cepat, makin cepat, dan makin cepat, sementara Ima yang berada dibawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya kepinggangku dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga tubuhku, Ima mengerang-erang, mendesah-desah dan melenguh-lenguh &#8220;Aahh&#8230;. oohh.. sshh.. teruss.. honey.. oohh..&#8221;, sementara akupun terbawa suasana dengusan nafas kami berdua yang memburu dengan menyertainya mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya &#8220;Enghh.. Imaa.. oohh.. ennakh.. sayang..?&#8221; tanyaku &#8220;He-eh.. enghh.. aahh.. enghh.. enakhh.. banghethh.. dhii&#8230; aahh..&#8221; lenguhannya kadang meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya &#8220;Oohh.. adhii.. oohh.. enghh..&#8221; tubuhnya mulai bergelinjangan dan berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai mengetat dipinggangku, kami terus memacu irama persetubuhan kami, aku yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang penisku kedalam liang vaginanya diimbangi gerakan memutar-mutar pinggul Ima yang menimbulkan sensasi memilin-milin di batang penisku, nikmat sekali.</p>
<p>Kulepas pelukanku untuk kemudian aku merubah posisiku yang tadinya menidurinya ke posisi duduk, kuangkat kedua kaki Ima yang indah dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa batang penisku kedalam liang vaginanya yang makin basah dan makin menghisap-hisap &#8220;Enghh.. Adhii.. oohh.. shaa.. yang.. aahh..&#8221; kedua tangan Ima meremas erat bantal dibawah kepalanya yang menengadah keatas disertai rintihan, teriakan, desahan dan lenguhan dari bibir mungilnya yang tidak berhenti. Kepalanya terangguk-angguk dan badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin beringas. Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah. Ima tidak berhenti merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin nikmat dan membawa kami melayang jauh. &#8220;Oohh.. Ahh.. Dhii.. enghh.. ehn.. nnakhh..&#8221; desahan dan rintihan Ima menikmati gesekan-gesekan batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling memburu.</p>
<p>Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju penisku, aku merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Sambil aku merapatkan tubuhku diatas tubuh Ima, kedua kaki Ima mulai menjepit pinggangku lagi untuk memudahkan kami melakukan very deep penetration, rintihan dan desahan nafasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami sambil berciuman Mmnghh.. mmhh.. oohh.. ahh.. Dhii.. mmhh.. enghh.. aahh..&#8221; &#8220;Oohh.. Imaa.. enghh.. khalau.. mau sampai.. oohh.. bhilang.. ya.. sha.. yang..enghh..aahh..&#8221; ujarku meracau &#8220;Iyaa.. honey..oohh..aahh..&#8221; tubuh kami berdua makin berkeringat, dan rambut kami juga tambah acak-acakan, sesekali kami saling melumat bibir dengan permainan lidah yang panas disertai gerakan maju mundur pinggulku yang diimbangi gerakan memutar, kekanan dan kekiri pinggul Ima. &#8220;Oohh.. dhii.. oohh.. uu.. dhahh.. belomm.. engghh.. akhu.. udahh.. nggak khuat..niihh,,&#8221; erangan-erangan kenikmatan Ima disertai tubuhnya yang makin menggelinjang hebat dan liang vaginanya yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai klimaksnya &#8220;Dhikit.. laghi.. sayang.. oohh..&#8221; sambutku karena penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut &#8220;Aahh.. aa.. dhii.. noww..oohh.. enghh..aahh&#8221; jeritnya &#8220;Yeeaa.. aahh..&#8221; jeritanku mengiringi jeritan Ima, akhirnya kami mencapai klimaks bersamaan, &#8220;Srreett.. crreett.. srreett.. crreett..&#8221; kami secara bersamaan dan bergantian memuntahkan cairan kenikmatan berkali-kali sambil mengerang-erang dan mendesah desah, kami berpelukan sangat erat, aku menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang vag! ina Ima, sementara Ima membelit pinggangku dengan kedua kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan lagi sambil kuciumi lehernya dan bibir kami juga saling berciuman.</p>
<p>Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat, vagina Ima masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping kanannya.</p>
<p>Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan kiriku membelai rambut dan pundaknya. &#8220;Adi.. kamu hebat banget, gue sampai puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh..&#8221; Ima berkata sambil menghela nafas panjang &#8220;Ma kasih ya sayang.. thank you banget..&#8221; ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin diakhiri. Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari 4 jam lamanya dan hari sudah menjelang sore. Setelah puas berciuman dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya pulang dari kegiatan masing-masing. Sambil menunggu kami masih saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku &#8220;Adi..kalo gue telpon, kamu mau dateng untuk temenin gue ya sayang..&#8221; &#8220;Pasti !&#8221; jawabku, lalu kami kembali berciuman. Sejak kejadian itu, tiap kali Anto (suaminya) tidak di Jakarta, paling tidak seminggu 2 kali aku pasti datang kerumah Ima iparku itu untuk mereguk kenikmatan berdua hingga larut malam dengan alasan pada istriku lembur atau ada rapat dikantor, dan sebulan sekali aku pasti menghabiskan weekendku merengkuh kenikmatan langit ketujuh berdua Ima</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/merengkuh-kenikmatan-bersama-ima-iparku.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Dosenku, Kenikmatanku</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/ibu-dosenku-kenikmatanku.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/ibu-dosenku-kenikmatanku.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 19:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[ibu dosen bugil]]></category>
		<category><![CDATA[ibu dosen cantik telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[memek ibu dosen]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot dosen]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ibu dosen]]></category>
		<category><![CDATA[skandal ibu dosen]]></category>
		<category><![CDATA[toket ibu dosen]]></category>
		<category><![CDATA[vagina dosen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya aku punya inisiatif juga untuk menceritakan pengalaman seksku sewaktu masih kuliah. Cerita seksku ini bukanlah rekayasa, ini murni pengalaman pribadi.
Cerita ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester V di salah satu PTN di Bandung (tepatnya Kampus yang di Sumedang). Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya aku punya inisiatif juga untuk menceritakan pengalaman seksku sewaktu masih kuliah. <a href="http://ceritadewasa.situsbokep.info/">Cerita seks</a>ku ini bukanlah rekayasa, ini murni pengalaman pribadi.</p>
<p>Cerita ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester V di salah satu PTN di Bandung (tepatnya Kampus yang di Sumedang). Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, “Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku.<br />
<span id="more-90"></span><br />
Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain di sekitar kampusku, Ibu Yuli namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Yuli bertanya, “Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa hayo? Jangan-jangan ngelamunin yang itu..”<br />
“Itu apanya Bu?” tanyaku.<br />
Memang dalam kesehari-harianku, Ibu Yuli tahu karena aku sering juga curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita,<br />
“Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama pacarku”, kataku.<br />
“Oh.. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri”, kata Ibu Yuli.</p>
<p>Begitu dekatnya aku sama Ibu Yuli sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Yuli. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah. Siang itu tepat jam 11:00 siang saat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.<br />
“Eh Ibu Yuli, nggak ngajar Bu?” tanyaku.<br />
“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.<br />
“Habis sakit Bu”, kataku.<br />
“Sakit apa sakit?” goda Ibu Yuli.<br />
“Ah.. Ibu Yuli bisa aja”, kataku.<br />
“Sudah makan belum?” tanyanya.<br />
“Belum Bu”, kataku.<br />
“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya”, katanya.</p>
<p>Dengan cekatan Ibu Yuli memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks. Kukira Ibu Yuli nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.<br />
“Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.<br />
“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.<br />
“Oh kalau gitu Ibu Yuli masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis”, kataku.<br />
“So pasti dong”, katanya.<br />
“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin”, dengan enaknya aku nyeletuk.<br />
“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya. Ibu Yuli agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Yuli kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya.<br />
“Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Yuli”, kataku.<br />
“Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.<br />
Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Yuli terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan, “Aku sayang kamu, Ibu Yuli”, tapi dia tidak menjawab sedikitpun.</p>
<p>Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup.. dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh.. tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, “Aah.. cup.. cup.. cup..” dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.</p>
<p>“Aah.. jangan panggil Ibu, panggil Yuli aja ya!<br />
Kubisikkan Ibu Yuli, “Yuli kita ke kamarku aja yuk!”.<br />
Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak.. indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya. “Ah.. ssh.. terus Ji”, Ibu Yuli tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, “Aah.. ssh..” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, “Aah.. aku juga sudah mulai terangsang.</p>
<p>Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu.. cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu, “Aah.. uh.. ssh.. Biji kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi”, sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Yuli juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. “Oh.. besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku, “Uuh.. uh.. shh..” dengan cermat aku berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, “Aah.. uh.. ssh.. terus Biji”, Yuli mengerang. “Aku juga enak Yuli”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut, “Assh.. oh.. ah.. Yuli terus sayang”, dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk.. uh.. ssh..” sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali memanggut bibirnya.</p>
<p>Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku, “Aakh.. sshh.. pelan-pelan ya Biji, aku masih perawan”, katanya. “Haa..” aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci. Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blesst, “Aahk..” teriak Yuli, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Yuli.. “Aakh.. ushh.. ussh.. ahhkk.. aku mau keluar Biji”, katanya. “Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh..” kataku. Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan.. “Crot.. crot.. cret..” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya. “Aakh..” aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya. Dengan lembut dia cium bibirku, “Kamu menyesal Biji?” tanyanya. “Ah nggak, kitakan sama-sama mau.” Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Yuli hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Yuli menjadi pacar gelapku.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/ibu-dosenku-kenikmatanku.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pijit Payudara Tante</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/pijit-payudara-tante.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/pijit-payudara-tante.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 18:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[entot]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[payudara]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[tante binal]]></category>
		<category><![CDATA[tante nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[toket tante]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat saya berumur 15 tahun, sebuah cerita seks bersama seorang tante cantik menjadi pengalaman pribadiku. Bukan skenario, hanya sebuah ketidaksengajaan bisa bercinta dengan tante-tante. Waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada saat saya berumur 15 tahun, sebuah cerita seks bersama seorang tante cantik menjadi pengalaman pribadiku. Bukan skenario, hanya sebuah ketidaksengajaan bisa bercinta dengan tante-tante. Waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina Seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina. Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah telihat nampak membungsung.<span id="more-71"></span></p>
<p>&#8220;Van, Mau tolongin Tante&#8221;, Katanya.<br />
&#8220;Apa yang bisa saya bantu Tante&#8221;.<br />
&#8220;Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa&#8221;.<br />
&#8220;Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian&#8221;.<br />
&#8220;Tante Minta tolong dipijitin&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala&#8221;.<br />
&#8220;Tante minta kamu memijit ini tante&#8221;, katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.<br />
&#8220;Van, kok diem mau nggak?&#8221;, tanya Tante Rina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali.<br />
&#8220;Mau nggak?&#8221;, katanya sekali lagi.<br />
Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus.</p>
<p>Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.<br />
&#8220;Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih&#8221;, katanya.<br />
Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.</p>
<p>Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, &#8220;Ahh&#8230;, ahh&#8221;. Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, &#8220;aahh, Van tolong remas lebih keras&#8221;. Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.<br />
&#8220;Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante&#8221;, katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.<br />
&#8220;Van, hisap yang kuat sayang&#8230;, aah&#8221;, desah Tante Rina.<br />
Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, &#8220;Lebih kuat lagi hisapanya&#8221;.</p>
<p>Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.</p>
<p>Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.<br />
&#8220;Tadi nikmat sekali&#8221;, katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan. Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng, &#8220;Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar&#8230;&#8221;</p>
<p>next pembantunya gw entot  <img src='http://ceritadewasa.situsbokep.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> <!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/pijit-payudara-tante.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janda Seksi Itu Bernama Mbak Gita</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-seksi-itu-bernama-mbak-gita.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-seksi-itu-bernama-mbak-gita.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 19:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[janda bugil]]></category>
		<category><![CDATA[janda genit]]></category>
		<category><![CDATA[janda muda]]></category>
		<category><![CDATA[memek janda]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot janda]]></category>
		<category><![CDATA[toket janda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Nikmatnya beretubuh saya alami dengan wanita yang lebih ta dari saya. Tentunya cerita seks ini merupakan kisah saya yang tak terlupakan.
Kisah ini berawal ketika saya pulang liburan akhir semester lalu dari Jakarta. Hampir 2 minggu saya habiskan disana dengan ‘reuni’ bareng temen-temen saya waktu SMA dulu yang kebetulan kuliah disana. Saya sendiri kuliah di kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nikmatnya beretubuh saya alami dengan wanita yang lebih ta dari saya. Tentunya cerita seks ini merupakan kisah saya yang tak terlupakan.</p>
<p>Kisah ini berawal ketika saya pulang liburan akhir semester lalu dari Jakarta. Hampir 2 minggu saya habiskan disana dengan ‘reuni’ bareng temen-temen saya waktu SMA dulu yang kebetulan kuliah disana. Saya sendiri kuliah di kota budaya, Jogjakarta.<span id="more-60"></span></p>
<p>Waktu itu saya tiba di terminal bis di Kampung Rambutan Jakarta pukul 2 siang, meskipun bis Jakarta – Jogja yang saya tumpangi baru berangkat 2 jam kemudian. Saat sedang asyik membolak-balik Taboid Olahraga kesukaan saya, tiba-tiba orang anak kecil berusia 4 tahunan terjatuh di depan saya, sontak tangan ku menarik si gadis kecil itu. &#8220;Makasih Dik, maklum anak kecil kerjanya lari-lari mulu&#8221; ungkap seorang wanita seraya mengumbar senyum manisnya. Namun walau hampir kepala tiga (27th, saat itu), Mbak Gita, demikian dia memperkenalkan dirinya pada saya, masih keliatan seperti gadis muda yang lagi ranum-ranum nya&#8230;. dada gede (34B), pantat bahenol dibarengi pinggul seksi membuat ku terpaku sejenak memandanginya. &#8220;Maaf, boleh saya duduk disini&#8221; suara Mbak Gita memecah &#8216;keheningan&#8217; saya &#8220;Ssii&#8230; silakan Mbak,&#8221; balas ku sambil menggeser pantatku di bangku ruang tunggu bis antar kota. &#8220;Mau kemana mbak” saya coba membuka pembicaraan. &#8220;Anu&#8230; saya mau ke jogja. Biasa beli barang-barang buat dagang. Adik mau kemana?&#8221; &#8220;Sama, jogja juga. Mbak sendiri?&#8221; pandangan ku melirik payudaranya yang belahannya jelas dari kaos lumayan ketat yang dipakainya.<br />
&#8220;Ya, tapi ada Rafi kok&#8221; katanya sambil menunjuk si kecil yang asik dengan mainannya.<br />
&#8220;Saya Andi Mbak&#8221; ucapku sambil mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan ramah.<br />
&#8220;Kalo gitu saya manggilnya mas aja ya, lebih enak kedengarannya&#8221; ungkap si mbak dengan kembali mengumbar senyum manisnya. Mungkin karena ketepatan jurusan kami sama, saya dan Mbak Gita cepat akrab, apalagi apa karna kebetulan ato gimana, kami pun duduk sebangku di bis yang memang pake formasi seat 2-2 itu.<br />
Dari ceritanya ku ketahui kalo Mbak Gita janda muda yang ditinggal cerai suami sejak 2 thn lalu. Untuk menyambung hidup dia berjualan pakaian dan perhiasan yang semua dibeli dari jogja. Katanya harganya murah. Rencananya di Jogja 2-3 hari.<br />
Pukul 4.30 sore, bis meninggalkan terminal tersebut, sementara di dalam bis kamu bertiga asyik bercengkarama, layaknya Bapak-Ibu-Anak, dan cepat akrab saya sengaja memangku si kecil Rafi, sehingga Mbak Gita makin respek pada saya. Tak terasa, waktu terus berjaan, suasana bis begitu hening, ketika waktu menunjukkan pukul 11 malam. Si kecil Rafi dan para penumpang lain pun sudah terlelap dalam tidur. Sedangkan saya dan Mbak Gita masih asyik dalam obrolan kami, yang sekali-kali berbau hal-hal ‘jorok’, apalagi dengan tawa genitnya Mbak Gita sesekali mencubit mesra pinggang saya. Suasana makin mendukung karna kami duduk dibangku urutan 4 dari depan dan kebetulan lagi bangku didepan,belakang dan samping kami kosong semua.<br />
&#8220;Ehmm..mbak, boleh tanya ga nih, gimana dong seandainya pengen gituan kan dah 2 taon cerainya.&#8221; tanya ku sekenanya.<br />
&#8220;Iiihh, si mas pikiran nya..ya gimana lagi, palingan usaha sendiri&#8230; kalo ga, ya&#8230; ini, si Rafi yang jadi sasaran marah saya, apalagi kalo dah sampe di ubun-ubun.&#8221; jawabnya sambil tersipu malu.<br />
&#8220;Masa&#8230; Ga mungkin ga ada pria yang ga mau sama mbak, mbak seksi, kayak masih gadis&#8221; aku coba mengeluarkan jurus awal.<br />
Tiba-tiba si Rafi yang tidur pulas dipangkuan Mbak Gita, nyaris terjatuh.. sontak tangan ku menahannya dan tanpa sengaja tangan kami bertemu. Kami terdiam sambil berpandangan, sejenak kemudian tangan nya kuremas kecil dan Mbak Gita merespon sambil tersenyum. Tak lama kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu ku, tapi aku mencoba untuk tenang, karena ‘diantara’ kami masih ada si kecil Rafi yang lagi asik mimpi..ya memang ruang gerak kami terbatas malam itu. Cukup lama kami berpandangan, dan dibawah sorot lampu bis yang redup, ku beranikan mencium lembut bibir seksi janda cantik itu.<br />
&#8220;Ssshhh&#8230; ahhh&#8230; mas&#8221; erangnya, saat lidah ku memasuki rongga mulutnya, sementara tangan ku, walau agak sulit, karna Rafi tidur dipangkuan kami berdua, tapi aku coba meremas lembut payudara seksi nan gede itu.<br />
&#8220;Terus mas&#8230; enak&#8230;.. ouhhhh&#8221; tangan nya dimasukin aja mas, gak keliatan kok’&#8221; rengeknya manja. Adegan pagut dan remas antara kami berlangsung 20 menitan dan terhenti saat Rafi terbangun&#8230;<br />
&#8220;Mama&#8230;, ngapain sama Om Andi&#8221; suara Rafi membuat kami segera menyudahi ‘fore play’ ini dan terpaksa semuanya serba nanggung karna setelah itu Rafi malah ga tidur lagi.<br />
&#8220;Oya, ntar di Jogja tinggal dimana Mbak&#8221; tanya ku.<br />
&#8220;Hotel Mas&#8230; Napa? Mas mau nemenin kami&#8230;???&#8221;<br />
&#8220;Bisa, ntar sekalian saya temenin belanjanya, biar gampang, ntar cari hotelnya di sekitar malioboro aja.&#8221;<br />
Pukul 7 pagi akhirnya kami tiba di terminal Giwangan, Jogja&#8230; dari terminal kami bertiga yang mirip Bapak-Ibu dan anak ini, nyambung bis kota dan nyampai dikawasan malioboro setengah jam kemudian.. setelah muter-muter, akhirnya kami mendapatkan hotel kamar standart dengan doble bed dikawasan wisata jogja itu. Setelah semua beres, si room boy yang mengantar kami pamit.<br />
&#8220;Rafi, mau mandi atau langsung bobo chayank?&#8221;<br />
&#8220;Mandi aja, Ma&#8230; Oya, Om Andi nginep bareng kita ya..?&#8221; si Rafi kecil menanyaiku<br />
&#8220;Ya, biar mama ada temen ngobrolnya.&#8221; jawab Mbak Gita sambil ngajak Rafi ke kamar mandi yang ada dalam kamar. Di dalam ternyata si mbak telah melepas pakaiannya dan hanya melilitkan handuk di tubuh seksinya.<br />
Dengan posisi agak nungging, dengan telaten Mbak Rafi menyabuni si Rafi, dan karena pintu kamar mandi yang terbuka, nampak jelas cd item yang membalut pantat seksi itu. Seperti Mbak Gita sengaja memancing naluriku, karena walau tau aku bisa ‘menikmati’ pemandangan tersebut, pintu kamar mandi tidak ditutup barang sedikitpun.<br />
Tak lama kemudian, Rafi yang telah selesai mandi, berlari masuk ke dalam kamar..&#8221;Gimana, Rafi udah seger belom?&#8221; godaku sambil mengedipkan mata ke arah Mbak Gita<br />
&#8220;Seger Om&#8230;. Om mau mandi??&#8221; Belum sempat ku jawab&#8230;..<br />
&#8220;Ya ntar Om Mandi mandinya bareng mama, sekarang Rafi bobo ya&#8230;&#8221; celetuk Mbak Gita sambil tersenyum genit kearah ku.<br />
Selagi Mbak Gita menidurkan anaknya, aku yang sudah masuk ke kamar mandi melepas seluruh pakaianku dan ‘mengurut-urut’ penis ku yang sudah tegang dari tadi. Lagi asiknya swalayan sambil berfantasi, Mbak Gita ngeloyor masuk kamar mandi.<br />
Aku kanget bukan kepalang..<br />
&#8220;Udah gak sabar ya…&#8230;&#8221; godanya sambil memandagi torpedoku yang sudah ‘on fire’<br />
&#8220;Haa&#8230; aaa&#8230; Mbak&#8230;&#8221; suaraku agak terbata-bata melihat Mbak Gita langsung melepas lilitan handuknya hingga terpampang payudaranya yang montok yang ternyata sudah ga dibungkus BH lagi, tapi penutup bawahnya masih utuh.<br />
Tanpa mempedulikan kebengongan ku, Mbak Gita langsung memelukku.<br />
&#8220;Jangan panggil Mbak dong. Gita aja&#8221; rengeknya manja sambil melumat bibirku dan tangan kirinya dengan lembut mengelus-elus kemaluan ku yang semakin ‘on fire’.<br />
Aku sudah dirasuki nafsu biarahi langsung membalas pagutan Gita dengan tatkala ganasnya. Perlahan jilatan erotis Mbak Heny turun ke leher, perut&#8230; hingga sampe dibatang kemaluanku.<br />
&#8220;Berpengalaman sekali dia ini&#8230;&#8221; pikirku. Jilatan yang diselingi sedotan, kuluman dibatang kemaluan hingga buah pelir ku itu membuatku serasa terbang melayang-layang&#8230;.<br />
&#8220;Ohhhh&#8230; Gita&#8230; nikkk&#8230; mat&#8230; teruss&#8230; isepppp&#8221; desahku menahan nikmatnya permainan oral janda seksi ini sambil mengelus-elus rambutnya. 15 menit lamanya permainan dahsyat itu berlangsung hingga akhirnya aku merasa sesuatu yang ingin keluar dari penis ku.<br />
&#8220;Akhh&#8230; hh&#8230; aku keulu..aaarrr&#8230;&#8221; erangku diikuti semprotan sperma ku dimulut Gita yang langsung melahap semua sperma ku persis seperti anak kecil yang melahap es paddle pop sambil tersenyum ke arahku..<br />
Setelah suasana agak tenang, aku menarik tangan Gita untuk berdiri, dan dalam posisi sejajar sambil memeluk erat tubuh sintal janda seksi ini, mulutku langsung melumat mulut Gita sambil meremas-remas pantatnya yang padat. Gita membalasnya dengan pagutan yang tatkala ganas sambil tangan nya mengenggam penisku yang masih layu dan mengurut-urutnya. Dan dengan buasnya aku mengecup dan menyedot dari leher terus merambat hingga ke payudara nya yang padat berisi.<br />
&#8220;Oohhh.. Ndi&#8230;. ahhkkhh.&#8221; erangnya tatkala mulutku mulai bermain di ujung putingnya yang tegang dan berwarna coklat kemerahan. Tanpa melepas lumatan pada mulut Gita, perlahan aku mulai mengangkat tubuh sintal tersebut dan mendudukannya diatas bak mandi serta membuka lebar-lebar pahanya yang putih mulus. Tanpa dikomando aku langsung berlutut, mendekatkan wajahku kebagian perut Gita dan menjilati yang membuat Gita menggelinjang bak cacing kepanasan.<br />
Jilatin ku terus merambat ke bibir vagina nya yang licin tanpa sehelai bulu pun. Sesaat kemudian lidahku menjilati sambil menusuk-nusuk lubang vagina Gita, yang membuatnya mengerang histeris.<br />
&#8220;Ndi&#8230; sudah&#8230;. Ndi&#8230; masukinn punyamu&#8230;. aku sudah ga tahan&#8230;. ayo sayang&#8230;&#8221; pinta nya dengan nafas memburu.<br />
Tak lama kemudian aku berdiri dan mulai menggesek-gesekkan penisku yang sudah tegang dan mengeras dibibir vagina Gita yang seseksi si empunya.<br />
&#8220;Sudah&#8230;. say&#8230;. aku ga ta.. hann&#8230; nnn&#8230; masukin..&#8221; rengek Gita dengan wajah sayu menahan geora nafsunya.<br />
Perlahan namun pasti penisku yang berukuran 17 cm, ku masukkan menerobos vagina Gita yang masih sempit walau sudah berstatus janda itu.<br />
&#8220;Pelann&#8230; dong say.. sudah 2 tahun aku gak maen..&#8221; pintanya seraya memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri saat penisku mulai menerobos lorong nikmat itu.<br />
Ku biarkan penis ku tertanam di vagina Gita dan membiarkan nya menikmati sensasi yang telah dua tahun tak dia rasakan.<br />
Perlahan namun pasti aku mulai mengocok vagina janda muda ini dengan penis ku yang perkasa. Untuk memberikan sensasi yang luar biasa, aku memompa vagina Gita dengan formasi 10:1, yaitu 10 gerakan menusuk setengah vagina Gita yang diukuti dengan 1 gerakan full menusuk hingga menyentuh dinding rahimnya. Gerakan ini ku selingi dengan menggerakkan pantatku dengan memuter sehingga membuat Gita merasa vagina nya diubek, sungguh nikmat yang tiada tara terlihat dari desisan-desisan yang diselingi kata-kata kotor keluar dari mulutnya..<br />
&#8220;Ouggghh&#8230;. kontolmu enak say&#8230; entot Gita terus say&#8230; nikmat&#8221; rintihnya sambil mengimbangi gerakanku dengan memaju-mundurkan pantatnya.<br />
Tiga puluh menit berlalu, Gita sepertinya akan mencapai orgasmenya yang pertama. Tangan nya dengan kuat mencengkram punggung ku seolah meminta sodokan yang lebih dalam di vaginanya. Gita menganggkat pinggulnya tinggi-tinggi dan menggelinjang hebat, sementara aku semakin cepat menghujam kan penisku di vagina Gita&#8230;<br />
&#8220;Ooouhhh&#8230;. aaahhhh&#8230;. hhh&#8230;&#8221; erang Gita saat puncak kenikmatan itu dia dapatkan.. Sejenak Mbak Gita kubiarkan menikmati multi orgasme yang baru saja dia dapatkan. Tak lama kemudian tubuh sintal Mbak Gita ku bopong berdiri dan kusandarkan membelakangi ku ke dinding kamar mandi. Sambil menciumi tengkuk bagian belakang nya, perlahan tangan ku membelai dan mengelus paha mulus Mbak Gita hingga tangan ku menyentuh dan meremas kemaluan nya dari belakang, membuat nafsu birahinya bangkit kembali. Rangsangan ini ku lakukan hingga aku persis berjongkok dibelakang Gita. Apalagi setelah jilatan merambat naik ke vagina Mbak Gita dan mengobok-obok vagina yang semakin menyemburkan aroma khas. Tak cukup sampai disitu, wajahku ku dekatkan kebelahan pantat montok itu dan mulai mengecup dan menjilati belahan itu hingga akhirnya Mbak Gita seakan tersentak kaget kala aku menjulurkan dan menjilati lubang anus nya, sepertinya baru kali ini bokong seksi dan anusnya dijilati.<br />
&#8220;Ouhh&#8230;. aakhh&#8230; ssstt&#8230;. jorok say&#8230;. apa kamu lakukan&#8230;jilat memek Gita aja..&#8221; celotehnya .<br />
Sepuluh menit berlalu, aku kemudian berdiri dan menarik pantat montok nan seksi itu kebelakang dan penisku yang semakin tegang itu ku gosok-gosokan disekitar anus Gita…<br />
&#8220;Ouh&#8230; ca&#8230; kittt&#8230; say&#8230; jangan disitu, Gita lom pernah say&#8230;&#8221; rengeknya sambil menahan saat perlahan penisku menerobos masuk anusnya. Setelah sepenuhnya penisku tertelan anus Gita, ku diamkan beberapa saat untuk beradaptasi seraya tangan ku meremas-remas kedua payudaranya yang menggantung indah dan menciumi tengkuk hingga leher belakang dan sampai ke daun telinga nya.<br />
&#8220;Nikk&#8230; matt&#8230; say..&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut seksi Gita.<br />
Merasa cukup, aku mulai memaju mundurkan penis ku secara perlahan mengingat baru kali ini anusnya dimasuki penis laki-laki. Setelah beberapa gerakan kelihatan rasa sakit dan perih yang dirasakannya tadi sudah berganti dengan rasa nikmat tiada tara.<br />
Perlahan Mbak Gita mulai mengimbangi gerakan ku dengan goyangan saat penis ku semakin memompa anusnya, sambil tangan kananku mengobok-obok vagina nya yang nganggur.<br />
&#8220;Aahhh&#8230; ooohhh&#8230; laur biasa say&#8230; nikmat&#8230;&#8221; Desah Gita menahan nikmatnya permainan duniawi ini. 30 menit berlalu dan aku merasa puas mempermainkan anus Mbak Gita, perlahan ku tarik penisku dan mengarahkan nya secara perlahan ke vagina, dan memulai mengobok-obok vagina itu lagi. 20 menit kemudian aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku, hingga aku semakin mempercepat gerakan sodokan ku yang semakin diimbangi Gita yang sepertinya juga akan mendapatkan orgamasme keduanya.<br />
Diiringi lolongan panjang kami yang hampir bersamaan, secara bersamaan pula cairan hangat dan kental dari penisku dan vagina Gita bertemu di lorong nikmat Gita.. Nikmatnya tiada tara, sensasi yang tiada duanya..<br />
Tak lama berselang, aku menarik penisku dan mendekatkan nya ke mulut Mbak Tiitn yang langsung dijilatinya hingga sisa-sisa sperma yang masih ada dipenisku dijalatinya dengan rakus.<br />
&#8220;Tak kusangka mas sehebat ini.. baru kali ini aku merasa sepuas ini. Badan kecil tapi tenaganya luar biasa. Aku mau mas&#8230; aku mau kamu mas&#8230;&#8221; puji Mbak Gita padaku dengan pancaran wajah penuh kepuasan tiada tara&#8230;<br />
Sesaat kemudian kami saling membersihkan diri satu dengan lainnya, sambil tentunya sambil saling remas. Saat keluar mandi terihat Rafi masih terdidur pulas, sepuas mama nya yang baru saja ku ‘embat’.<br />
Setelah Rafi bangun, kami bertiga jalan-jalan disekitar malioboro hingga malam. Pukul 9 malam kami tiba di hotel, namun kali ini sambil memandikan Rafi, Mbak Gita tampaknya sekalian mandi.. Saat keluar kamar mandi tanpa sungkan wanita sunda ini melepas handuknya untuk selanjutnya mengenakan daster tipis yang tadi baru kami beli dari salah satu toko di kawasan malioboro.<br />
&#8220;Mas.. mandi dulu gih..&#8221; ungkapnya saat aku mendekatkan diri dan mengecup lembut bibirnya yang langsung disambutnya.<br />
&#8220;Iihh.. mama dan om Andi, ngapain..?&#8221; protes si kecil Rafi saat kami sesaat berpagutan didepan meja hias yang tersedia di kamar hotel itu. Setelah aku selesai mandi, ku lihat Gita lagi ngeloni Rafi, dan tampaknya kedua ibu-anak ini kecapean setalah jalan-jalan disekitar malioboro.<br />
Akhirnya ku biarkan Gita tidur dan aku gak ngantuk sama sekali mencoba mengisi waktu dengan menyaksikan live liga Inggris yang waktu itu ketepatan menyajikan big match .. Jam 12 malam lebih saat tayangan bola rampung, perlahan aku mendekati Gita dan mulai membelai-belai betis indah janda muda itu dari balik daster tipisnya hingga nyampe pangkal pahanya. Ketika tanganku mulai mengusap-usap vagina, Gita terbangun. Ku ajak dia pindah ke bed satunya, sambil ku lucuti daster tipis yang didalamnya tanpa beha tersebut. Dengan hanya menggunakan CD tipis berwarna krem, tubuh bahenol itu ku bopong dan ku lentang kan di ranjang satunya, agar kami lebih leluasa dan si Rafi kecil bisa tidur tenang. Sambil menindihnya, ku remas dan kecup puting payudara putih dan montok itu.<br />
&#8220;Aahhh&#8230;. mas&#8230;&#8221; erangnya manja.<br />
Jilatan ku terus merambah menikmati inci per inci tubuh seksi itu hingga sampe di gundukan nikmat tanpa sehelai rambut pun..<br />
Hampir 20 menit lidah ku bermain dibagian sensitive itu, hingga akhirnya..<br />
&#8220;Ayo dong mas&#8230; cepeten masukin&#8230; dah ga tahan nih&#8230;&#8221;<br />
Perlahan kusapukan penis ku di vagina mungil itu. kelihatan sekali Gita menahan napas sambil memejamkan mata nya dengan sayu dan menggigit bibir bawahnya. Akhirnya burung ku masuk ‘sarang’. Ku pertahankan posisi itu beberapa saat, dan setelah agak tenang aku mulai menyodok perlahan vagina yang semakin basah itu.<br />
Erangan dan desahan nikmat yang keluar dari mulut seksi janda sintal ini, menandakan dia sangat menikmati permainan duniawi ini.. Tanpa malu dia mendesah, mengerang bahkan diselingi kata-kata kotor yang membangkitkan gairah.. Sementara di bed sebelahnya si kecil Rafi masih tertidur pulas..<br />
Gita, si Janda seksi yang lagi, ku garap seakan tidak memperdulikan keberadaan putrinya si kecil, Rafi.. 25 menit-an kami ‘bertempur’ dalam posisi konvensional itu, perlahan ku angkat tubuh Mbak Gita hingga kini dia posisinya diatas. Posisi yang nikmat, karna selain menikmati memeknya aku juga bisa dengan leluasa meremas, mencium dan sesekali mengulum payudara montok yang ber-ayun dengan indah itu.. baru 15 menit,tiba-tiba tubuh Gita mengejang diikuti lenguhan panjang..<br />
&#8220;Aaaacchh&#8230;. aauugghh&#8230; Ann.. ddii.. aakku.. kkeelluaa.. aa.. rr&#8230;&#8221;<br />
Tak lama Gita menghempaskan tubuhnya di dada ku, seraya mulut kami berpagutan mesra. 5 menit lama nya ku biarkan dia menikmati orgasme nya. Beberapa saat, karna aku belum apa-apa, aku minta Gita menungging karna aku pengen menikmati nya dengan posisi dogstyle.. Dalam posisi nungging keliatan jelas pantat indah janda kota kembang ini.. Perlahan ku kecup dan jilati belahan pantat seksi itu. Secara perlahan jilatan ku sampe ke vagina mungilnya, Gita menggelinjang dan menggelengkan-gelengkan kepalanya menahan nikmat.. disaat itu, tanpa kami sadari.. si kecil Rafi bangun dan menghampiri kami.<br />
&#8220;Om Andi.. ngapain cium pantat mama..&#8221; selidiknya sambil terus mendekat memperhatikan memek mama nya yang ku lahap habis..<br />
&#8220;Adek tenang aja ya.. jangan ganggu Om Andi&#8230; Mama lagi maen dokter-dokteran dengan Om Andi. Ntar mam mau di cuntik .. Rafi diem aja ya&#8230;&#8221; Gita coba menenangkan gadis kecil itu..<br />
&#8220;Ehmm.,.. hayo Om&#8230; cuntik Mama Rafi cekaaa.. lang Om.. dah ga tahan neh..&#8221; rengek Gita.. sedangkan si Rafi terlihat duduk manis dipinggiran bed satunya, siap menyaksikan adegan yang semestinya belum pantas dia saksikan..<br />
Perlahan penis ku yang sudah on fire ku gosok-gosokkan dari lubang memek Gita hingga menyentuh anusnya, dari arah memek hingga lubang anusnya. Dan karena tak tega menyaksikan Gita semakin meracau dan merengek minta segera di ’suntik’, secara perlahan ku arahkan penis ku ke liang senggama nya yang licin oleh cairan vagina nya..<br />
&#8220;Om, kok Mama Rafi dicuntik pake burung Om..&#8221; protes si kecil yang belum ngerti apa-apa itu.<br />
&#8220;Aauhh&#8230; ahh&#8230;.. lebih dalam Mass.. sss.. Ann.. dddi..&#8221; pinta Gita dalam erangan dan desahan nikmat nya tanpa mempedulikan keberadaan Rafi yang terlihat bingung melihat mama nya, antara kesakitan atau menahan nikmat.<br />
30 menit berlalu, aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari ujung penis ku. Agar lebih nikmat, ku putar tubuh sintal janda kembang ini tanpa mencabut penis ku hingga kami kembali pada posisi konvesional.<br />
&#8220;Ti&#8230; tiiinn.. aku mau keluar&#8221; erang ku mencoba menahan muntahan lahar nikmat yang semakin mendesak ini…<br />
&#8220;Ntar.. Masss.. ss.. tahann&#8230; kita bareng&#8230;&#8221; Erangnya dengan mata terpejam seraya menggigit kedua bibirnya menahan genjotanku yang semakin kencang di vaginanya..<br />
Kedua tangan nya mencengkram punggung ku, dan dadanya diangkat membusung, seluruh badannya tegang mengencang, diikuti dengan lenguhan panjang kami berdua.<br />
&#8220;Aaaccchhh&#8230;. aaauuggghh&#8230;&#8221; Maniku dan maninya akhirnya bertemu di lorong kenikmatan itu sementara bibir kami berpagut mesra dan tangan kanan ku meremas payudara nya yang mengencang saat kami orgasme bareng tadi. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan itu, kami masih berciuman mesra sambil berpelukan mesra, sementara penisku masih ‘tertanam’ di memeknya. Sadar dari tadi Rafi terus memperhatikan kami, Gita dengan wajahnya yang penuh kepuasan sejati, mengedipkan matanya seraya melihat ke arah Rafi sambil tersenyum manis.. dan aku pun menghempaskan tubuh ku disampingnya, dan saat penis ku akan ku cabut..<br />
&#8220;Nggak usah Mas.. biarin aja dulu di dalem..&#8221; rengeknya manja dan segera ku hadiahi ciuman mesra di keningnya.. Tak lama kemudian Rafi mendekati kami yang baru saja permainan ranjang yang begitu dahsyat..<br />
Hari berikutnya selama Ibu dan anak ini di Jogja, kami terus melakukan hubungan seks ini, dengan berbagai variasi dan teknik yang lebih mesra.. bahkan kadang kami melakukan nya di kamar mandi saat mandi.. Malahan kami tak peduli lagi dengan keberadaan Rafi. Gita juga tak segan mengoral penis ku dihadapan Rafi..<br />
Liburan tahun baru lalu aku mendatanginya di Jakarta dan menginap selama seminggu lebih di rumah Janda seksi itu.. kepada tetangga sekitar dia mengenalkan aku sebagai keponakan jauhnya.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/janda-seksi-itu-bernama-mbak-gita.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
