<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa </title>
	<atom:link href="http://ceritadewasa.situsbokep.info/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info</link>
	<description>Koleksi Cerita Dewasa, Cerita Panas, Cerita Seks, Cerita Porno 17 tahun Keatas</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Mar 2010 03:40:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mbak Manda Si Penghuni Kos Seksi</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/mbak-manda-si-penghuni-kos-seksi.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/mbak-manda-si-penghuni-kos-seksi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 03:40:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[anak kos mesum]]></category>
		<category><![CDATA[anak kos ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek anak kos]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot penghuni kos seksi]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni kos seksi]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Perkenalkan namaku Malevi dan waktu itu aku masih berumur 14 tahun. Di umur yang masih bocah aku belum begitu mengenal lebih tentang seks.
Papa ku adalaha seorang pengusaha kayu ternama yang mempunyai lebih dari 10 tempat kos-kosan , salah satunya ada di sebelah rumahku ,yang menarik adalah penghuni kostnya salah satunya adalah mbak manda ,dari semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkenalkan namaku Malevi dan waktu itu aku masih berumur 14 tahun. Di umur yang masih bocah aku belum begitu mengenal lebih tentang seks.</p>
<p>Papa ku adalaha seorang pengusaha kayu ternama yang mempunyai lebih dari 10 tempat kos-kosan , salah satunya ada di sebelah rumahku ,yang menarik adalah penghuni kostnya salah satunya adalah mbak manda ,dari semua penghuni kost disana dialah yang paling cantik plus baik umurnya kira-kira 22 tahun. sering kali aku diundang masuk ke kamarnya hanya sekedar menemani dia menghabiskan jatah jajan yang dia bawa. jujur aku sudah suka padanya. bentuk tubuhnya mirip model-model bikini dari majalah ayahku (dari kecil aku memang sudah suka membacanya) yang pasti montok lah, tinggi 170 berat badanya pun aku tafsir sekitar 50 an dan dadanya berukuran 34B (hanya mengira-ngira bentuk dan besarnya mirip sekali dengan model majalah itu).<span id="more-100"></span></p>
<p>dia suka sekali meluk-meluk aku, nggak tau kenapa mungkin karena aku cubby dan polos. jadi semakin aku pasrah di dalam pelukan gemasnya padahal aku juga merasakan betapa kenyal dadanya yang menghimpit erat tubuhku. enak sekali rasanya. pernah sekali aku karena napsunya, aku yang memeluknya dan menghujamkan kepalaku di dada montoknya sembari kugeleng2kan kepala. dia hanya tertawa.</p>
<p>obrolan pun berlanjut, &#8220;mba udah punya pacar?&#8221;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;hihihi hihi..belum lev, kenapa kok tanya-tanya?&#8221;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;enggak biasanya kan kalo udah gede punya pacar&#8221;&#8230;&#8230;.dia hanya membalas dengan tawa. hari ini memang sangat special, mba manda hanya menggunakan kaos t-shirt longgar dan panjang tanpa menggunakan celana, dibiarkannya pahanya yang putih mulus membuatku menelan ludah, memang hari ini dia libur kuliah dan berencana beres-beres kamar, ketika dia meletakan sesuatu di atas lemari. shiutttttt T-shirtnya naik ke atas sehingga aku bisa celana dalamnya yang berwarna putih polos ditambah melihat bongkahan pantatnya yang padat dan montok sekali. sudah nggak tahan aku aku ingin melihatnya telanjang bulat.</p>
<p>aku di kagetkan dengan suara handphone mbak manda, seperti biasa dia tak pernah mengangkat telepon di depanku, pasti dia keluar kamar. pertama-tama aku memang gak curiga. tetapi gerangan siapa yang mengganggu masa puber ku. membuatku sebal dan curiga. akhirnya mbak manda masuk kamar lagi &#8220;lev&#8230;maaf yha mbak mau pergi dulu nieh, lupa tadi mbak ada janji&#8221;&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;siapa sih mbak yang telpon, penting yha mbak &#8221; aku berusaha untuk menahan dia pergi&#8230;..&#8221;Hmm..mau tau aja kamu lev, yang jelas dia penting buat mbak..kalo enggak penting, mana bisa mbak tidur di kost mewah kayak gini&#8221; dia tertawa kecil. aku nggak tau maksudnya apa.<br />
pertemuan hari ini cukup sekian, aku diusir secara halus oleh mbak manda. aku menunggu dia di depan rumah kost. sekedar ingin tau dewi cantikku ini menggunakan baju apa. perlahan dia melangkah keluar kost, dengan senyuman lembut, rambut panjangnya yang berwarna coklat dikuncir, celana panjang jeans berwarna biru ketat memperlihatkan pahanya yang berisi, bokongnya yang padat,.. dia menggunakan kaus putih, berdada rendah memperlihatkan payudaranya yang membusung, BH yang dikenakannya adalah Bra yang mengait dileher, hingga aku dapat dengan jelas melihat warna Bra-nya talinya berwarna merah jambu. seksi sekali. &#8220;dadah lev&#8230;..mba jalan dulu&#8221; dia meninggalkanku.\par<br />
semakin aku nafsu saja. aku tau pasti kebiasaan mba manda, dia orangnya pelupa. jadi dia selalu menyimpan kunci di bawah pot sebelah kamar. aha&#8230;.segera aku masuk menggunakan kunci tadi. di dalam kamarnya aku hanya bisa tersengal-sengal, jantung rasanya udah gak karu-karuan takut sekali. aku juga bingung, bagaimana aku bila ketauan nanti kalau aku berada di kamar, bakal ditanyain macem-macem nih. tapi itu tak berlangsung lama. karena kudapati celana dalam yang mba manda tadi pakai. tiba-tiba saja aku langsung menyaut celana dalam tadi. aku endus-endus pas bagian vaginanya. memang agak berbau amis semi-semi pesing. kain di sekitar selangkanganya agak basah mungkin keringat. wah aku semakin gila dan semakin nggak nahan. segera aku masuk ke dalam lemari kuciummi celana dalamnya sembari aku kocok penisku&#8230;hingga tanpa sadar aku pun tertidur lemas di sana.\par<br />
&#8220;kreekkkk&#8230;..&#8221; suara pintu terbuka, hal itu juga yang membangunkanku,&#8230;..&#8221;loh kok nggak kekunci, tadi perasaan manda udah ngunci deh&#8221;&#8230;sayub-sayub suara mba manda terdengar. aku semakin gelagepan, bingung sekali&#8230;.tiba-tiba&#8230;&#8221;dasar kamu say, cantik-cantik kok pelupa&#8221;&#8230;ada suara seorang laki-laki, aku akrab sekali dengan suara ini. yha ini mirip suara papa. perasaan takutku berubah seketika. aku curiga apa yang dilakukan papa ku di kamar mba manda.<br />
&#8220;ih iyha kuncinya masih di dalam..om&#8230;..agh&#8230;.om&#8230;slur p&#8230;slurrrrp&#8221; aku mendengar suara mba manda mendesah. &#8220;agh&#8230;.owww&#8230;..om&#8230;&#8230;. !!!, &#8220;&#8230;&#8230;&#8230;Manda sayang&#8230;slurrrp..slurrp&#8221; aku semakin penasaran saja. aku berusaha mencari celah untuk melihat kejadian di luar. aku buka resleting lemari yang terbuat dari kain itu sehingga bisa leluasa melihat keluar. \par<br />
alamak aku melihat mba manda sedang di cumbu oleh papaku. papaku dengan ganasnya menciumi bibir mba manda. mba manda hanya bisa pasrah saja. tangan besar papa meremas-remas payudara mba manda. &#8220;manda&#8230;kamu wangi sekali&#8230;.&#8221;erangan papaku saat dia menghisap-hisap leher mba manda&#8230;&#8221;Om..agh&#8230;..&#8221; aku melihat mba manda tampak menikmati setiap kecupan papa, jujur aku sangat marah bagaimana mungkin, papaku orang yang selalu aku hormati melakukan perbuatan tak senonoh seperti itu. aku sempat hampir kalap ingin segera kulabrak mereka, tetapi niat itu ku urungkan. karena aku juga ternyata mulai menikmati Live performance ini&#8221;\par<br />
dengan kasarnya papa menyingkap kaos t-shirt mbak manda, sehingga sekarang yang tampak adalah BH mba manda yang membungkus payudara indahnya, papa mulai melepaskan kemeja nya begitu jari lentik mba manda melepaskan benik-benikya, sembari terus menyambar dan menghisap bibir papa mba manda mengelus-ngelus dada penuh bulu milik papa. aku semakin penasaran saja. kejadian erotis apa yang akan terjadi. ciuman itu membuat mereka saling berpagutan hampir 5 menit lebih. tiba-tiba mbak manda mendorong papaku hingga tersungkur di kasur. &#8220;Om&#8230;liat manda yah..&#8221; sembari mbak menyalakan cd dengan remot. dia mulai meliuk-liukan tubuhnya. &#8220;wow..ternyata mba manda mau menyuguhkan tarian erotis nya&#8221; aku semakin tak sabar saja.\par<br />
dengan liukan tubuhnya yang sintal, mba manda mulai membuka celana jeans nya. hingga dia hanya menggunakan BH yang mengait di leher dan celana dalam berwarna hitam transparan. walaupun suasananya agak redup, tetapi aku bisa melihat dengan jelas betapa seksinyanya mba manda, dengan gemulainya mba manda mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangan nya sendiri. dari sedikit-dikit dia remas payudaranya sendiri dengan lembut tapi pasti, dihimpitkan kedua belah payudaranya, membuat tubuhku juga tubuh papa semakin memompa adrenalinnya, wajahnya yang cantik dan putih agak semu kemerahan mungkin akibat pengaruh alkohol dengan lihainya menunjukan mimik sensual sekali. kadang kadang mba manda menjilat bibirnya yang sudah terpoles lip-gloss sehingga tampak basah dan ingin segera di hisap.\par<br />
mba manda kini membelakangi papa. dan dengan erotis nya dia mulai membuka BH nya dan membungkuk sehingga pantatnya dengan leluasa memperlihatkan vaginanya yang tampak mengembul dan kenyal.montok sekali vaginanya. kembali dia menghadap papa dan memang luar biasa, payudara yang selama ini aku sangat ingi dekap terlihat dengan sintalnya. bentuknya membulat penuh dan kenyal sekali, pentilnya tampak bundar imut dengan warna merah muda. aku juga melihat jejak-jejak kecupan papa dan remasanya di seluruh tubuh mba manda sehingga meronakan merah tubuh sintalnya.<br />
&#8220;manda&#8230;.Om udah nggak tahan sayang sini..&#8221; papa menarik tangan mba manda dengan cepat. mba manda sempat kaget dan terjatuh. memang dasar papa. dia segera menangkap tubuh mba manda. dan mengarahkan arah jatuhnya sehingga payudaranya yang kenyal itu menghujam terlebih dulu ke mukanya. di hisap nya pentil mba manda dengan ganas. tangan kanan papa mulai menuju pantat mba manda diremas-remas nya pantat kencang tersebut, aku melihat muka mba manda yang semakin tampak terangsang. papa lalu melorotkan celana dalam hitam mba manda sehingga kini mba manda sudah bugil tanpa sehelai kain pun. papa pun kembali bergerilya mulut dan tangannya tak terus menghisap seluruh jengkal tubuh sintal mba manda &#8220;manda&#8230;..kamu&#8230;.enak banget&#8230;.&#8221; papa terus meracau sembari terus menikmati setiap jengkal tubuhnya. tangan mba manda dengan sigap membuka celana papa. aku sempat terkejut dengan barang milik papa. hitam dan besar mengacung-ngacung di perut mba manda. dengan sayangnya mba manda memegang dan mengocok batang kejantanan papa.<br />
ditariknya pantat mba manda. dari posisi mba manda berada di atas papa. kini pantat mba manda tepat diatas kepala papa. kulihat mba manda dengan lihainya mengocok-ngocok penis papa dan di masukan kedalam mulut. mba manda tampak menikmatinya ketika dia gosok-gosakan bibir manisnya di penis hitam papa. papa pun tampak luar biasa girangnya. dihapannya kini ada sebuah vagina yang sangat-sangat indah. aku bisa leluasa melihat karena memang posisi lemari tepat persis di belakang kasur. vaginanya berwarna merah merekah, bentuknya gemuk dan mengembul keluar papa langsung menghisap-hisap lubang kebahagiaan milik mba manda, sembari dia geleng-gelengkan kepala. mereka bener-bener sangat terangsang sehingga suasana semakin hot saja.<br />
kini mba manda sudah di bawah. papa lalu membalikkan badan dan lagi-lagi mulai menghisap bibir mba manda, tangan papa yang tadinya bergerilya kemana-mana akhirnya menghentikan pencariaanya di vagina mba manda, di benggangnya paha mba manda lebar-lebarnya. sehingga vagina mba manda semakin terlihat merekah merah. papa lalu menunggangi mba manda. tampak tangan mba manda memegang penis gagah papa dan menggerakaanya menuju masuk liang surga. aku melihat memang beberapa kali penis papa tergelincir keluar tapi lagi-lagi tangan mba manda membenarkan posisinya. blesss&#8230;&#8230;akhirnya masuk juga penis papa, dan gilanya, aku bisa melihat bagaimana vagina montok mba manda mencengkeram erat penis papa. penis itu masuk dengan gagahnya.<br />
papa mulai mendesah &#8220;man&#8230;da&#8230;..man&#8230;..enak banget memek kamu&#8230;man&#8230;..peret&#8230;..&#8221;, sembari dengan pelan-pelan pantat papa memompa pantat mba manda sehingga penisnya bisa masuk dan keluar dengan nikmat. &#8220;om&#8230;.ampun&#8230;.om&#8230;.buru ng om kok&#8230;.perkasa gini&#8230;.agh&#8230;.manda&#8230;..gak tahan&#8230;&#8221; entah kenapa ketika mba manda mendesah mba manda tampak semakin erat memeluk tubuh papa dan tampat tubuhnya bergetar-getar seperti kita saat menahan pipis. pompaan papa pun semakin di percepat dan diperganas. aku melihat penis papa di penuhi buih-buih putih yang mungkin keluar dari vagina montok mba manda. vagina mba manda pun memerah dan semakin membuatnya indah.<br />
kini papa melepaskan pelukannya dari mba manda. dan dengan masih menancapnya penis di vagina mba manda. dianggkatnya tubuh sintal itu dan dihimpitkan di tubuh tersebut di tembok. papa semakin perkasa saja mengoyang-goyang pantatnya maju mundur- sedangkan mba manda hanya mendesah dan kadang-kadang menatap sayu papa. &#8220;manda&#8230;.om mau keluar neh&#8230;&#8230;.aku mau keluarin di dalem aja yah&#8230;&#8221;, sebelum mba manda menjawap, papa semakin memasukan penisnya ke vagina mba manda dengan frekwensi yang sangat cepat, suara gesekan antara keduanya yang tadi terdengar berirama kini mulai tak karuan. &#8220;ja&#8230;ja&#8230;.ja&#8230;..ngan om&#8230;.nanti manda&#8230;.&#8221; suara desahan mba manda belum berakhir tapi papa sudah menghentikan pompaannya di titik terdalam penisnya mampu menjangkau vagina mba manda, &#8220;terlambat sayang&#8230;hehe&#8230;..om puas banget neh&#8221; dilepaskan pelukan papa dan mba manda lalu langsung terhuyung lemas di kasur. segera papa membereskan dirinya, diambil tisu basah yang dia sudah persiapkan dan dibersihkan penisnya lalu papa kembali mengenakan pakaian, sedangkan mba manda hanya bisa pasrah di sudut kasur, dia menatap kosong. napasnya pun tersengal-sengal, aku melihat vagina mba manda mengeluarkan cairan putih, mungkin itu sperma papa yang dengan sadisnya disemprotkan kesana. &#8220;manda sayang&#8230;makasih yah&#8230;jangan kuatir&#8230;kayak gini cukuplah buat lo tinggal semester depan&#8221; mba manda hanya menatap kosong. masih dengan telanajang dia merebahkan tubuhnya diatas kasur. papa pun sudah selesai berpakaian dan kini dia berpamitan dengan mba manda.<br />
sekarang aku mulai sadar, bagaimana aku&#8230;.apa yang harus aku lakukan nggak mungkin aku terus bersembunyi di dalam lemari mba manda. lambat lautpun mba manda pasti akan membuka lemari ini&#8230;&#8230;..</p>
<p>Mau tau kelanjutannya&#8230;&#8230;.respon donk<br />
makasih udah membaca dan maap kalo jelek&#8230;.Thx all&#8230; <!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/mbak-manda-si-penghuni-kos-seksi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Yang Binal</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/tukar-pasangan/istriku-yang-binal.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/tukar-pasangan/istriku-yang-binal.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 19:44:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tukar Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[istri binal main seks]]></category>
		<category><![CDATA[istri binal selingkuh ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[memek istri binal]]></category>
		<category><![CDATA[memek istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot memek istri temen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Cerita seks yang sangat menantang akan aku ceritakan pada kesempatan ini mumpung lagi mood.
Tugas dinasku di Australia akhirnya usai sudah. Aku pun pulang dengan membawa laporan hasil kerja yang akan kuserahkan kepada big boss. Beruntung tadi malam aku masih sempat jalan jalan di pusat kota Perth dan tak lupa mengunjungi sex shop terbesar disana seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita seks yang sangat menantang akan aku ceritakan pada kesempatan ini mumpung lagi mood.</p>
<p>Tugas dinasku di Australia akhirnya usai sudah. Aku pun pulang dengan membawa laporan hasil kerja yang akan kuserahkan kepada big boss. Beruntung tadi malam aku masih sempat jalan jalan di pusat kota Perth dan tak lupa mengunjungi sex shop terbesar disana seperti yang dipromosikan teman teman. Kubeli beberapa sextoys dan puluhan dvd bokep sebagai cenderama- ta buat istri tercinta dan beberapa kolega. Harganya relative lebih murah dibanding beli di dalam negeri</p>
<p><span id="more-98"></span><br />
Pukul enam pagi waktu setempat aku terbang kembali ke negeri tercinta. Setelah transit dibeberapa bandara akhirnya jam empat sore aku mendarat dibandara A Yani. Setelah kudapatkan semua barang bawaanku, aku selekasnya beranjak keluar. Kulihat istriku berdiri di ujung koridor. Mengenakan kaus ketat tanpa lengan yang dipadu blouse mini setengah paha membuat ia terlihat sangat cantik dan meng gairahkan. Ada sebatang rokok tergamit di jarinya. Kami berpelukan sejenak melepas setumpuk kerinduan. Lalu kukecup bibirnya. Setelah itu aku bermaksud mengajaknya pulang.<br />
“ Kenalin dulu, Ko! ini Edo….” Ujar istriku menunjuk pada seorang pria muda yang berdiri tepat disisinya, sembari menghisap dalam dalam rokok A mild mentholnya.<br />
“ Jay…” kataku sambil mengulurkan tangan.<br />
“ Edo” balasnya.<br />
“ Jemput siapa nih, Do?”<br />
“ Justru gue lagi nunggu jemputan, Bro…. Sejak tadi gue kontak kantor cabang tapi engga nyambung terus. Linenya lagi rusak kali “<br />
“ Dimana sih tujuan elu?”<br />
Dia menyebut sebuah kantor di jalan Gajah Mada.<br />
“ Kebetulan itu searah dengan kami…. Mau ikut?” aku menawarkan diri.<br />
Edo setuju lalu kami berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan selama yang memakan waktu kurang lebih duapuluhan menit kami saling ngobrol saling mengakrabkan diri. Ia ternyata dari Indonesia Timur. Seorang manager pada sebuah perusahaan pembiayaan yang berpusat dikotaku ini. Meski warna kulitnya hitam keling namun terlihat wajahnya sangat ramah dan bersahabat. Ia tidak ganteng tapi cukup menarik. Edo bilang kalau dua tiga tahun sekali ia harus terbang kekantor pusat untuk memberi laporan hasil pekerjaannya dikantor cabang di NTT sana. Kuturunkan dirinya tepat didepan gedung yang ditujunya. Dan sebelum berpisah kami sempat bertukar nomor hape. Kemudian aku meneruskan perjalanan kerumah.<br />
“ Kayaknya sekarang kamu banyak berubah deh Say….” Ujarku.<br />
“ Maksud Koko?” tanyanya sembari mengerinyitkan dahi.<br />
Lalu aku sampaikan padanya kalau dulunya istriku tidak suka mengenakan pakaian yang sexy ditempat umum kecuali di acara pesta. Dulu ia juga bukan pecandu rokok. Dan dulu ia kurang welcome dengan orang asing tapi tadi kayaknya ia begitu cepat akrab dengan Edo seperti sudah kenal bertahun tahun saja.<br />
“ ahh…Koko terlalu sensi saja…. Tapi bolehkan kalau aku sedikit merubah gaya?” tanyanya sembari menghembuskan asap rokoknya yang segera terhisap keluar lewat celah jendela mobil yang sedikit dibuka.<br />
“ Iya engga apa apa toh, Say! Aku malah tambah suka koq! Kamu jadi terlihat semakin sexy dan menggemaskan aja sekarang! Oh ya…. Ayo cerita dong petualanganmu selama kutinggal!”<br />
Kemudian dengan polos Nana menceritakan semuanya. Bagaimana ia dikerjai disebuah ruang karaoke, lalu pengalaman bercinta dengan Mark, lalu pengalaman ber three some bersama Mark dan istrinya. Dan beberapa petualangan lain. Saat menyimak pengalaman istriku bukannya aku menjadi jealous malahan aku menjadi begitu horny. Sudah tidak waraskah diriku???.<br />
Begitu sampai dirumah, aku selekasnya menarik masuk Nana kedalam kamar. Saat itu aku benar benar sedang kasmaran. Kudekap dirinya. Menciumi bibirnya lehernya dan sepanjang lekuk tubuhnya. Satu persatu kupereteli pembalut ditubunya hingga ia telanjang bulat. Kubalikkan tubuhnya. Kulingkarkan tangan pada pinggangnya lalu kuciumi punggungnya. Ia meraih tanganku untuk mengajakku berbaring diranjang. Kuusap usap pipinya , dagunya lalu kuraba lekuk payudaranya yang sangat montok dan kencang.<br />
Nana meraih bajuku kemudian melepasinya. Ia mulai menciumi dadaku yang sedikit ditumbuhi bulu. Kami bergulingan diatas ranjang….. saling menyentuh, menjilati, dan menghisap. Aku berguling diatas tubuhnya lalu menyurukkan muka tepat diselakngannya. Kuamati vaginanya telah basah memerah dan menganga lebar penuh hasrat birahi. Kujulurkan lidah kedalam, menggerakannya berkeliling, dan menggetarkan dinding dinding vaginanya. Saat kugelitikkan lidahku Nana melengkungkan punggung penuh rasa nikmat dan kulakukan terus menerus sampai lendir birahinya membanjir keluar.<br />
Kutindih tubuhnya sambil melesakkan batang kemaluan yang sudah sangat tegang itu kedalam liang syurgawinya. Kugerakkan pinggul naik turun dengan sangat cepat seperti sedang kesetanan saking ka ngennya diriku padanya. Aku terus memompa seperti gerakan sebuah piston main lama makin cepat…. Nana mencapai puncaknya sambil mengangkat pinggulnya keatas. Ia dekap erat erat diriku seolah olah sangat takut kehilangan.<br />
Selanjutnya ia dekatkan mulutnya ke batang kemaluanku. Ia keluar masukkan dengan sangat gemas. Ia juga menghisapinya dengan rakus. Sebelum aku mencapai klimaks, kutarik tubuhnya dan menempat kannya diatasku. Ia mengggoyangkan pantatnya maju mundur seperti sedang menggilas pakaian. Saat itu ia tanpa sadar merendahkan tubuhnya kedepan sehingga aku dapat membenamkan mukaku kedalam belahan payudaranya dan dengan bebas dapat menghisap putingnya. Istriku terus bergerak. Aku juga mengehentak hentakkan pinggul dari bawah. Sangat liarrrrr……………….. sampai tubuh kami berge-tar dan bersama sama memancarkan cairan orgasme.<br />
Kami beristirahat sebentar saling ngobrol sambil merokok. Kuminta istriku bercerita lagi tentang petua langan asmaranya dengan pria pria lain. Ada setidaknya enam orang lelaki yang pernah berkencan dengannya. Wuih! Ternyata istriku menjadi pecandu seks juga sekarang. Hanya dalam waktu empat bulan saja. Dan kembali aku menjadi sangat terangsang saat mendengarkannya. Penisku yang semula loyo berangsur mulai menengang dan mengeras.<br />
Kami saling merapatkan bibir, berpagutan, saling meraba dengan tingkat perangsangan lembut. Kugelitik payudaranya dan menghisapi putingnya. Aku terus meremas dan merangsang buahdadanya sampai putingnya berdiri mengeras. Lalu beralih pada selakngannya. Kulumat dan kucumbu bagian tubuhnya yang sangat kurindukan siang malam selama empat bulan. Bulu bulu kemaluannya yang tumbuh lebat masih terawat dengan baik. Aroma khas vaginanya juga masih menjadi bau yang menya lakan nafsu birahiku. Liangnya sudah merekah bagai kelopak bunga tampak becek dan sangat licin karena lendir cintanya yang deras mengalir keluar. Kukitari bibir liang itu beberapa saat sebelum ku gelitiki klitorisnya dengan ujung lidah.<br />
“ Ooooh! Ayolah, Koooo! “ ujarnya penuh tuntutan.<br />
Kutarik tubuhnya membuatnya merangkak membelakangiku. Kubenamkan penisku dari belakang. Zakarku menepuk nepuk pantatnya setiap kali aku memompa vaginanya. Kunikmati denyutan denyut an dinding vaginanya yang membuat tusukanku bertambah nikmat ribuan kali. Nana terus mendesah. Setiap kali ia mendesah lebih keras aku mendorong penisku lebih dalam. Aku mengakhiri perjalanan birahinya dengan sebuah desakan kuat dan sedalam dalamnya.<br />
“ Aaaaaagggggggccc……………!” Nana memekik penuh kepuasan.<br />
Kutarik tubuhnya ketepi ranjang. Menelentangkan disana. Lalu kunaikkan kakinya keatas bahuku. Dalam posisi berdiri kumauki vaginanya kembali. Nana menggoyangkan pinggulnya secara mendatar setiap kali aku mendorong batang kemaluanku. Semakin lama goyangannya semakin menghentak hen-tak. Liang senggamanya memang luarbiasa nikmatnya sehingga aku ingin menikmatinya semalaman. Namun karena sudah sangat terangsang akhirnya kami sama sama menjerit penuh ketegangan disertai memancarnya lendir orgasme kami dalam waktu yang hampir bersamaan.<br />
Dua hari kemudian…..<br />
Siang itu Nana menelpon saat aku sedang menyelesaikan laporan di kantor. Tidak seperti biasanya. Pasti ada hal yang special pikirku. Ternyata memang benar adanya.<br />
“ Ko….. tadi Edo kontak ke hapeku. Ia bilang kalau pesawatnya dicancel sampai besok sore… Dia juga bilang lagi kesulitan mencari hotel untuk sekedar transit……… Kalau…………”<br />
“ kita suruh ia nginap dirumah aja bagaimana, itu khan maksud elu?” potongku.<br />
“ Iya…ya Ko….… kasihan khan kalau ia bener bener ga dapat hotel?” jawab istriku yang tiba tiba menjadi sangat perhatian.<br />
“ Kasihan dia apa kasihan kamu, Na? Apa kamu pingin nyoba pisang hitam panjang nih?”<br />
“ Engga…engga! Masa Koko berpikir begitu sih?&#8230;&#8230;Gimana Ko, boleh engga Edo kita suruh nginap dirumah?” kata istriku terus membujuk.<br />
Akhirnya aku menyerah juga.<br />
“ Ya bolehlah kalau kamu emang menyukainya”<br />
“ Kamu memang suami yang luarbiasa Kooo……! Trim’s ya….. I love you! Cup! Cup!Cup!”<br />
Lalu telephone diputus. Saat itu jam satu lewat duapuluh menitan. Akupun sibuk meneruskan pekerja anku. Sekitar jam empat mendadak aku pingin nelpon ponsel istriku sekedar menyapanya. Tapi sedang tidak diaktifkan. Kucoba beberapa kali namun tetap tidak bisa. Lalu kucoba menghubungi kantornya . Kebetulan aku sudah mengenal operator yang bertugas saat itu.<br />
“ Hallo Shanti! Nana ada?”<br />
“ Engga tuh Mas Jay. Hari ini doi cuman dating lalu berpamitan mau jenguk famili yang sakit”<br />
Hah? Family sakit? Apa pula ini??? Aneh…….!<br />
“ apa engga jalan bareng toh Masss?” Tanya Shanti sedikit ragu.<br />
“ Engga sih Shan… gue lagi sibuk dikantor…..okey gitu dulu, Shan……….. thank’s yaaaa”<br />
Lalu kuputuskan kontak.<br />
Sialan! Bener bener istriku jadi binal! Pasti ia telah bersama Edo seharian ini. Atau mungkin sejak kemarin.<br />
“ Dasarrrr wanita gatel!” Omelku dalam hati.<br />
Membayangkan keduanya lagi bercinta membuat aku terangsnag sendiri sehingga kucoba mempercepat pekerjaanku yang masih setumpuk. Namun baru jam setengah tujuh malam aku bisa merampung kannya.. Secepat kilat kupacu mobilku menuju rumah. Dibenakku hanya ada keiginan untuk melaku-kan three some dengan istriku dan Edo Hari sudah mulai gelap saat aku sampai. Teras rumahku sudah terang benderang oleh temaramnya lampu yang dinyalakan. Nana keluar menyambutku. Ia menyapaku dengan senyuman yang sangat manis dan manja. Kami berciuman sejenak sebelum kutarik masuk tubuhnya. Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur model kimono dari bahan satin yang dihiasi renda renda dibagian dadanya. Putingsusunya tampak menyembul dan tercetak jelas pada gaun itu sehingga dengan mudah kutebak kalau ia tidak mengenakan pakaian dalam. Masih tersisa peluh didahinya seba-gaimana seseorang yang habis berolah raga atau bekerja keras.<br />
“ Habis kerjaaa keras nih!” sindirku.<br />
“ AH! Koko bisa aja” sahutnya dengan pipi yang tersipu.<br />
“ Edo dimana, Na?”<br />
“ Kayaknya lagi mandi….”<br />
Kutarik tangannya menuju sofa yang ada diruangan tengah. Mengajaknya berciuman sebentar sebelum kulanjutkan bertanya, “ lelaki itu hebat, Na?”.<br />
Ia tidak menjawab hanya membeliakkan mata kearahku.<br />
“ Berapa kali kamu dapat klimaks? Enam delapan?” sambungku yang juga tidak dijawabnya.<br />
Kembali kulumat bibirnya dan mulai menggerayangi bagian dadanya. Nana menolak dengan halus karena ia ingin aku mandi terlebih dahulu sementara ia akan menyiapkan makan malam. Aku setuju.<br />
Selesai mandi aku keluar menuju ruang tengah dengan mengenakan kimono mandi dan celana dalam saja. Edo dan istriku sudah ada dimeja makan menungguku. Kemudian kami bersantap malam sambil berbincang bincang mengenai banyak topic. Setlah selesai Nana memunguti piring piring kotor untuk dibawanya kedapur sementara aku dan Edo melangkah ke ruang tengah. Aku duduk di sofa panjang sedang ia duduk disofa single diseberangku.<br />
“ Bagaimana istriku, Do?” tanyaku dengan nada sengaja kupelankan agar tidak terdengar oleh Nana yang masih sibuk mencuci piring.<br />
“ Luar biasa, Jay! Elu bener bener suami yang sangat beruntung punya bini secantik dia…. “<br />
“ Berapa kali kalian melakukannya?”<br />
“ Mungkin lima atau enam kali aku engga ingat… soalnya “V” bini elu sungguh sangat nikmat kenyal dan pulennnn…. Belum lagi servicenya yang benar benar luarbiasaaa…. Aku jadi ketagihan be-rat padanya!”<br />
“ Sialan kalian! Lagi ngomongin gue yaaa!” omel Nana yang mendadak telah beridiri di sisiku. Ia lalu kutarik duduk disebelahku.<br />
“ Edo bilang aku suami yang beruntung punya bini sesempurna dirimu, Say….” Ujarku.<br />
“ Biasa lelaki kalau ada maunya pasti ngumbar rayuan mauttt”<br />
“ Bukan gitu Na…. tapi emang kamu istri yang sangat sempurna…..” lanjutku seraya menempel kan bibir kebibirnya.<br />
Istriku kembali menolakku dengan halus karena ia mengusulkan untuk lebih dulu menonton dvd porno yang kubeli di Perth tempo hari. Aku kembali setuju. Dan dengan santai kami nikmati adegan adegan penggugah nafsu itu bertiga. Belum sampai selesai film yang kami tonton ketika kulihat Nana mulai tidak tenang duduknya. Berkali kali ia geser geser dan ubah ubah posisi kakinya sepertinya ada sesuatu yang aneh dipangkal pahanya.<br />
Kuciumi lehernya sambil merabakan tangan pada tonjolan buahdadanya yang masih terbalut kimono satinnya. Kali ini istriku tidak menolak. Bahkan ia sangat menikmati ciuman dan remasanku. Putingnya menjadi semakin mengeras dan semakin menyembul. Dengan sangat gampang kutarik lepas tali pengi-kat kimononya kemudian menyibakkan ujung ujungnya kekanan kekiri. Kutatap dengan penuh kekagu man kedua payudaranya yang montok dan ranum sebelum kujilat jilat serta kuhisapi. Ketika kuselipkan tangan pada pangkal pahanya kutemukan sebuah celah yang sudah sangat becek penuh lendir birahi.<br />
“ Uuuhhhhfsss……….” Desahnya perlahan namun terdengar sangat nikmat.<br />
Nana meraih kepalaku lalu mengiringnya kearah selakangannya. Akupun menurut. Sembari bergerak kuciumi setiap bagian tubuhnya yang kulewati. Perutnya. Pusarnya. Bulu bulu kemaluannya yang lebat. Dan bongkahan vaginanya yang membulat sempurna bak cangkang penyu. Kutelusuri bibir liang yang telah terkuak lebar itu kemudian kujulurkan lidah menggelitik kelentitnya yang telah sangat menonjol.<br />
Istriku menggerinjal serta melenguh sangat nikmat setiap aku melakukannya.<br />
Edo bangkit mendekati kami dengan tubuh yang sudah bertelanjang bulat. Batang kemaluannya yang hitam panjang dan kekar itu terlihat sudah sangat tegang. Mendongak minta jatah. Ia mengajak istriku berciuman. Tanganya mulai meremas remas buahdada istriku sementara tangan istriku telah menggeng gam batang kemaluannya.<br />
Kujulurkan lidah dan kubenamkan berulangkali pada liang yang tanpa ujung itu. Kutusuk tusukkan sambil menikmati setiap aliran lendir asmaranya. Desah mulut Nana menjadi semakin keras terdengar.<br />
Edo bangkit menyodorkan kemaluannya kemulut Nana. Batang sepanjang duapuluhan centi itu disam- but istriku dengan lidah yang terjulur. Lalu dengan sangat lahap istriku mulai mengulumnya.<br />
Kusibakkan kimono mandiku dan memelorotkan celana dalamku. Kugenggam dan kuurur urut otot sepanjang limabelas centi yang meyembul diantara pahaku sambil menyaksikan istriku sedang melu-mat penis hitam Edo yang panjang itu penuh nafsu. Aku menjadi semakin terangsang dan ingin segera menyetubuhi istriku. Kuangkat kedua kakinya kemudian kudorong batang kemaluanku kedepan mem-benamkannya dengan penuh perasaan kedalam liang syahwatnya.Sambil menikmati setiap gesekan lem but dengan dinding dinding dalam vaginanya. Inci demi inci. Sekonyong konyong aku disergap berjuta juta gelombang kenikmatan selama proses pemasukan itu. Bermula dari ujung penisku lalu menjalar kebatangnya….. lalu menyebar keseluruh bagian tubuhku. Selanjutnya kucoba mengeksplorasi kenik-matan yang lebih besar dengan tak henti hentinya menggali….. menggali….. dan menggali liang itu lebih dalam lagi. Sementara itu istriku masih asyik mengulum black banana yang ada dalam genggam- an tangannya. Nana terus menerus mengerang nikmat saat tubuhnya bergoyang maju mundur diom-bang ambingkan gelombang birahi yang kuciptakan. Kemudian ia mengejan. Seluruh otot ditubuhnya berkontraksi hebat saat dirinya dilanda puncak ketegangan. Ia menjerit panjangggg pada saat badai orgasme tiba tiba meledak dan menyambar dirinya!. Cairan kenikmatannya memancar dan melumasi seluruh batang ke-maluanku yang masih terbenam disana.<br />
Kami berganti posisi. Aku duduk disofa sedangkan Nana menyurukkan mukanya keselakanganku, ia menghisapi dengan lahap batang kemaluanku yang masih basah kuyub oleh lendir orgasmenya. Edo giliran yang menyetubuhi istriku dari belakang. Benda sepanjang sembilan inci itu digerakkan masuk keluar dengan sangat cepat. Terdengar suara “ plok!plok! plok!” setiap kali zakar Edo menepuk nepuk pantat istriku.<br />
“ Oooghttt….oooghffff….” desah istriku tanpa melepaskan batang kemaluanku dari mulutnya. Dan setiap kali istriku mendesah lebih keras Edo melesakkan batang kemaluannya lebih dalam lagi. Edo tidak membiarkan dirinya segera mencapai puncak. Ia menarik diri lalu menelentangkan tubuh is-triku diatas sofa. Ia buka kedua kaki istriku lalu menaikkannya keatas bahunya sambil membenamkan kembali batang kemaluannya. Keduanya bergerak dalam irama yang selaras melaju dengan pasti menu-ju ke puncak tertinggi. Istriku tampak begitu menikmati setiap hujaman kemaluan Edo. Ia menyambut dengan goyangan pinggulnya yang menghentak hentak. Denyutan nikmat yang diciptakan Nana mem-buat Edo tambah bersemangat. Ia percepat gerakan keluar masuknya seperti sedang memacu seekor ku-da balap. Terdengar napas keduanya terengah engah saling mengerang dan melenguh penuh nikmat.<br />
Beberapa menit kemudian istriku kembali memekik penuh kepuasan sambil mendekap erat erat tubuh Edo. Sementara itu Edo masih memompa dengan sangat cepat berusaha secepatnya mencapai klimaks. Beberapa detik sebelum terjadinya pancaran klimaks, Edo mencabut penisnya kemudian menghampiri wajah istriku. Ia merancap dengan sangat cepat sampai terdengar lenguhannya yang keras ketika ujung batang kemaluannya menyemburkan cairan kental berwarna putih pekat yang sengaja diarahkan kebibir Nana. Setelah mereda, istriku kembali menjilati ujung kemaluan Edo sampai bersih.<br />
Aku sejak tadi hanya bisa berdiri menyaksikan pergulatan keduanya sambil mengurut urut batang kema luanku sendiri. Melihat celah vagina Nana yang menganga dan mengkilap karena lendir birahinya mem buat aku sangat terangsang dan ingin memasukinya. Selanjutnya ku tancapkan dengan sangat bernafsu. Meskipun liang senggama itu kini terasa sedikit longgar namun tetap saja mampu memberi rasa nikmat yang luar biasa. Kulumat liang itu dengan sangat bergairah.<br />
Nana kembali menggoyang pinggulnya membuat liang vaginanya bertambah nikmat ribuan kali. Aku semakin kesetanan saat menyetubuhinya. Apa yang kulakukan rupanya menyebabkan menyalanya kem bali gairah istriku. Sehingga kini kami berdua saling menuntut kepuasan puncak dengan saling mengge sek dan meraba. Sekian menit kemudian kupercepat gerakan pinggulku saat terasa desakan sangat kuat diujung penisku. Istriku memekik dengan keras ketika ia lebih dahulu sampai di puncak. Nyaris berbare ngan kurasakan ujung penisku bergetar hebat. Sehingga kucoba menekan pinggul lebih dalam lagi. Akhirnya batang kemaluanku menggelepar gelepar sembari memuntahkan cairan kenikmatan dalam ju mlah yang sangat banyak diantara himpitan liang vagina Nana. Saking banyaknya hingga meluber kelu ar dan meleleh diatas sofa.<br />
Setelah membersihkan diri, kami melanjutkan permainan didalam kamar. Secara bergantian aku dan Edo menggarap vagina Nana. Malam itu belasan kali istriku mencapai klimaks disertai jeritan panjang penuh kepuasan.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/tukar-pasangan/istriku-yang-binal.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah Seks Untuk Aksi Heroik</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/pesta-seks/hadiah-seks-untuk-aksi-heroik.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/pesta-seks/hadiah-seks-untuk-aksi-heroik.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 10:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pesta Seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot dua memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot memek senior di kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Saya berasal dari Tasikmalaya dan sudah 2 tahun menempuh kuliah di Jakarta. Di sini aku tinggal di sebuah rumah kost yang dihuni banyak mahasiswa perantauan sepertiku. Kisah ini bermula ketika aku sedang berbelanja ke sebuah mall di Jakarta. Aku tidak sendirian, tapi bersama 2 gadis teman kostku, mereka adalah Diana dan Sinta. Keduanya cantik dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya berasal dari Tasikmalaya dan sudah 2 tahun menempuh kuliah di Jakarta. Di sini aku tinggal di sebuah rumah kost yang dihuni banyak mahasiswa perantauan sepertiku. Kisah ini bermula ketika aku sedang berbelanja ke sebuah mall di Jakarta. Aku tidak sendirian, tapi bersama 2 gadis teman kostku, mereka adalah Diana dan Sinta. Keduanya cantik dan sama-sama warga keturunan sepertiku. Diana adalah seniorku semester akhir, sama-sama jurusan manajemen denganku, sifatnya pendiam, banyak yang mengatakan dia judes karena jarang tersenyum, karena sifat tertutupnya inilah temannya cuma sedikit, tapi kalau sudah akrab ternyata orangnya baik dan menyenangkan. Dia sering membantuku dalam tugas-tugas kuliah. Hubungan kami seperti kakak adik, orangnya putih cantik, tinggi, rambut panjang, wajah oval dan bodinya ideal, kalau dilihat-lihat mirip dengan Vivian Hsu, sedangkan Sinta seangkatan denganku tapi dari fakultas psikologi, pacarnya adalah salah satu temanku yang sedang belajar di luar negeri, sifatnya periang dan humoris, kadang-kadang suka bercanda kelewatan, tingginya skitar 160 cm, bodinya langsing, berambut lurus sebahu, wajahnya putih licin dengan hidung mancung, dia dan aku termasuk beberapa dari segelintir orang yang dekat dengan Diana.<span id="more-96"></span></p>
<p>Malam itu langit sudah gelap kira-kira jam 19:00, kami sudah selesai berbelanja dan sedang menuju tempat parkir bertingkat. Tempat itu sudah sepi dan gelap karena aku kebetulan parkir di tingkat agak atas jadi jarang ada kendaraan. Suasana di sana cukup menyeramkan hanya diterangi lampu remang-remang. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh 2 orang preman berpenampilan sangar yang menghadang jalan kami.</p>
<p>&#8220;Hei babi, tunggu dulu kalo mau lewat serahin dulu duit yang kalian punya, ayo!&#8221; kata yang kurus gondrong itu.<br />
&#8220;Wah gile bawa cewek juga nih dia, cakep-cakep lagi, eh cewek mau main sama kita nggak!&#8221; timpal temannya yang berambut cepak. Aku segera bergerak menepis tangan si cepak ketika hendak mengelus pipi Diana yang tampak ketakutan.<br />
&#8220;Hei, hei.. kalau mau duit gua ada tapi jangan macam-macan sama temanku!&#8221; bentakku padanya.<br />
Rupanya mereka tidak terima dan si gondrong mengeluarkan pisau lipatnya dan menyerang ke arahku, aku menghindar dan menangkap pergelangan tangannya, kupuntir dengan jurus aikido yang kupelajari sejak SMA, &#8220;Ci Diana, Sinta, cepat masuk ke mobil dan lari, jangan tunggu gua!&#8221; seruku pada mereka seraya memberi kunci mobil pada Diana, mereka segera masuk ke mobil dan kudengar mesin sudah dinyalakan tapi bukannya lari malah menungguku.</p>
<p>&#8220;Heh bangsat, mau jadi jagoan loe, ayo kita hajar dia dulu Wan baru kita kerjain cewek-ceweknya,&#8221; kata yang gondrong pada temannya. Si cepak menerjang ke arahku tapi kutendang perutnya sampai terhuyung-huyung ke belakang.<br />
&#8220;Ayo masih berani maju?&#8221; tantangku dengan memasang kuda-kuda. Yang cepak itu masih belum kapok, dia mengeluarkan pisaunya dan mencoba menusukku, kami sempat terlibat pertarungan seperti dalam film-film action. Tanganku sempat tersabet pisau dan membuat luka gores sepanjang kira-kira 10 cm, namun aku berhasil merebut pisau si gondrong dan kupatahkan pergelangan tangannya, sementara yang cepak terkena tinjuku pada mulutnya sehingga terlihat darah pada bibirnya.</p>
<p>Sebenarnya aku mulai kewalahan tapi aku mencoba tetap tenang dengan menggertak mereka dengan pisau yang kurebut sambil berdoa dalam hati, kami terdiam sesaat lalu mereka perlahan-lahan mundur, membalikkan badan dan kabur entah kemana, akhirnya berguna juga ilmu bela diri yang kupelajari selama ini. Aku segera masuk mobil, kusuruh Diana segera tancap gas, dengan wajah masih tampak tegang dia segera menjalankan mobil dan keluar dari situ.</p>
<p>Sinta berkata padaku, &#8220;Ihh tangan kamu berdarah tuh, kamu nggak apa-apa?&#8221;. Sinta membantu mengobati lukaku dengan peralatan P3K di mobilku.<br />
&#8220;Leo, kamu nggak apa-apa, kita ke rumah sakit ya,&#8221; sambung Diana.<br />
&#8220;Ah nggak usah kok cuma luka gores aja, nggak sampai kena tulang lagi, tinggal diobatin dan diperban sendiri aja, kalian tenang sajalah, harusnya gua yang terima kasih pada kalian, kalian sudah gua suruh kabur dulu tapi malahan nungguin, kalau gua kalah tadi gimana coba!&#8221;<br />
&#8220;Leo, kamu masih anggap Cici ini temanmu nggak sih, kamu pikir kita tega ninggalin kamu sendirian kayak gitu!&#8221; kata Diana dengan ketus dan menatap tajam ke arahku.<br />
&#8220;Udah Ci, lagi nyetir jangan marah-marah, Leo kan tadi kuatir keselamatan kita juga, uuhh.. kamu sih asal omong!&#8221; Sinta mencoba menenangkan sambil menyikut dadaku, aku diam saja daripada ribut sama cewek, bukannya takut tapi bikin pusing apalagi mendengar omelan Sinta kalau lagi bawel.</p>
<p>Sesampainya di kost, aku menyuruh mereka istirahat saja supaya tenang, aku sendiri segera masuk kamar. Kira-kira jam 9 malam, aku sedang membaca tabloid Bola, pintuku diketuk, ternyata yang datang Diana dan Sinta yang sudah memakai pakaian tidur.<br />
&#8220;Loh, ngapain kalian berdua ke sini malam-malam begini?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Kita cuma mau berterima kasih barusan itu, kamu tadi hebat banget deh Le, mirip Jet Lee aja aksinya,&#8221; puji Sinta dengan tersenyum.<br />
&#8220;Boleh kami masuk, ngobrol-ngobrol sebentar?&#8221; tanya Diana.<br />
Akhirnya kupersilakan mereka masuk juga mumpung belum ada yang lihat.</p>
<p>&#8220;Gimana lukamu Le, sori banget ya demi kita kamu jadi gini, kalo nggak ada kamu nggak tau deh gimana nasib kami,&#8221; kata Sinta sambil memegangi lenganku yang sudah diperban.<br />
&#8220;Ah luka kecil, nggak lama juga sembuh kok, kalian tenang deh.&#8221;<br />
&#8220;Le, kamu hebat deh tadi, makannya kita ke sini rencananya mau membalas budi nih, kami ada hadiah kecil buat kamu,&#8221; sahut Diana.<br />
&#8220;Oh, nggak usah Ci, kita kan temen kok pake hadiah-hadiahan segala.&#8221;<br />
&#8220;Eee, harus diterima lho kalo nggak gua nggak mau omong sama kamu lagi nih!&#8221; sambung Sinta setengah memaksa.<br />
&#8220;Ya, iya deh, aku terima aja biar kalian puas, makasih loh.&#8221;<br />
&#8220;Tapi loe tutup mata yah, soalnya ini surprise loh,&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Wah, apa sih pake rahasia segala, ya udah deh, gua merem nih,&#8221; kataku.<br />
Aku bersandar di ranjang sambil memejamkan mata, kudengar suara tirai ditutup dan Diana berkata, &#8220;Awas jangan ngintip ya, ntar batal loh hadiahnya!&#8221; disambung dengan suara Sinta ketawa cekikikan.</p>
<p>Akhirnya aku merasakan salah seorang duduk di sampingku dan meraih tanganku.<br />
&#8220;Sudah siap?&#8221; ternyata suara Diana.<br />
&#8220;Sudah, boleh buka mata belum Ci?&#8221;<br />
&#8220;Tunggu bentar lagi.&#8221; jawabnya.<br />
Tanganku disentuh &amp; diusapkan pada suatu benda kenyal olehnya. Betapa kagetnya aku ketika meraba benda itu ternyata adalah payudara wanita. Segera kubuka mata dan benar saja, Diana duduk di samping kiriku tanpa sehelai benangpun dan menumpangkan tanganku di payudaranya, sementara Sinta yang juga sudah polos mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu meja sehingga suasana menjadi remang-remang.</p>
<p>&#8220;Nah kalo gini kan jadi romantis suasananya.&#8221; katanya.<br />
Benar-benar kaget bercampur terangsang aku saat itu, aku baru pertama kalinya melihat mereka polos. Tubuh Diana ternyata benar-benar aduhai, perut rata, paha jenjang yang mulus, bulu kemaluan yang rapi dan lebat, dan payudaranya lumayan besar dan kencang, benar-benar mirip dengan Vivian Hsu yang sering kulihat gambar-gambar bugilnya. Tubuh Sinta tidak kalah menarik walaupun payudaranya tidak sebesar Diana, mungkin hanya 34 dengan puting merah muda dengan bulu kemaluan yang lebat pula.</p>
<p>&#8220;Loh, kok.. kok begini sih, terima kasihnya kelewatan deh kayaknya,&#8221; kataku sedikit gagap dan jantungku berdebar kencang karena aku belum pernah main dengan perempuan lain selain pacarku sendiri.<br />
&#8220;Tidak Le, kamu memang pantas menerimanya, jadi hutang budi ini impas,&#8221; jawab Diana lalu dia membuka ikat rambutnya sehingga rambut panjangnya tergerai bebas sedada.<br />
&#8220;Wah, Ci liat, mukanya merah tuh, dia malu sama kita kali,&#8221; kata Sinta sambil tertawa.<br />
&#8220;Nggak usah malu Le, kita kan temen dekat bukan orang lain,&#8221; kata Diana seraya membelai pipiku dan mencium bibirku. Imanku langsung runtuh karena perlakuan mereka, begitu bibirnya menempel di bibirku segera kusambut dengan tarian lidahku di mulutnya, lidah kami saling beradu dengan penuh nafsu, tanganku sudah mulai memijat-mijat buah dadanya dan mulai turun meraba-raba paha mulusnya naik lagi ke kemaluannya dan kuberikan sentuhan halus pada klistorisnya.</p>
<p>Diana yang biasanya pendiam dan lemah lembut itu, malam itu begitu liar &amp; penuh nafsu jauh dari yang sehari-hari. Sinta tidak tinggal diam, dia memelorotkan celana trainingku dan CD-ku sehingga barangku yang sudah tegang menyembul keluar. &#8220;Wah besar juga nih, pantes si Vivi betah sama lu Le,&#8221; godanya. Dijilatinya senjataku dengan penuh nafsu, lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut seperti seperti permen lolipop. Sementara ciumanku pada Diana sudah mulai turun ke dagunya, lalu ke leher. Kusibakkan rambut panjangnya ke samping kiri lalu kujilat-jilat leher kanannya, kugigit pelan sambil menyapunya dengan lidahku. Nafas Diana sudah mulai kacau matanya terpejam sambil mendesah dan meremas-remas rambutku, aku sendiri merasakan sensasi hebat pada batanganku yang sedang dikulum Sinta, baru pertama kalinya kurasakan kenikmatan bercinta dengan dua wanita.</p>
<p>Tanganku mulai naik dari kemaluannya menuju dadanya dan lidahku turun menuju sasaran yang sama, akhirnya kutangkap dada kanannya dengan tanganku dan dada kirinya dengan mulutku, disaat yang sama juga tangan kiriku mengelus-elus pantatnya yang indah itu. Puting yang ranum itu kusedot dan kutarik-tarik dengan mulutku dan dada kanannya kuremas-remas sambil memencet putingnya.</p>
<p>Setelah beberapa saat kurasakan barangku mau meledak karena kuluman Sinta.<br />
&#8220;Sin, Sin udah stop dulu.. gua udah nggak tahan nih!&#8221; kataku terbata-bata.<br />
Akhirnya dia menghentikan kegiatannya dan berkata, &#8220;Lu gitu ah, masa mainnya sama Ci Diana terus, kamu nggak suka Sinta ya, ntar gua bilangin loh ke Ko Hendy (pacar Diana) biar digebuk hehehe..&#8221;<br />
&#8220;Sori dong Sin, abis kan tadi Ci Diana yang mulai dulu, jadi dia yang duluan dapet.&#8221;<br />
&#8220;Ya udah, biar adil kita undi saja siapa yang lebih dulu melayani Leo, gimana Sin?&#8221; Diana memberi usul. Mereka berdua suit dan yang menang adalah Diana.</p>
<p>&#8220;Yah, Sinta kalah, ya udah Cici duluan deh, jahat ah!&#8221; kata Sinta mencibir pada Diana.<br />
&#8220;Tenang Sin kamu juga ntar kebagian kok, Leo kan kuat, ya nggak,&#8221; kata Diana sambil melirik padaku. Kini Diana berbaring terlentang di ranjang dan Sinta duduk di tepi ranjang menunggu. Kuciumi sekujur tubuhnya mulai dari bibir dan sesampainya di kemaluan, kuangkat kedua kakinya ke bahuku sampai tubuhnya setengah terangkat lalu kudekatkan wajahku ke pangkal pahanya. Bulu-bulu lebat itu kusibakkan dengan jariku dan kujilati belahan di tengahnya. Lidahku bermain-main dengan ganas di daerah itu membuat tubuh Diana mengelinjang-gelinjang disertai suara-suara rintihannya. Tidak kuhiraukan lagi bahwa gadis ini sebenarnya adalah seniorku dan kuanggap kakak angkatku yang harusnya kuhormati, yang terpikir saat itu hanyalah nafsu dan nafsu yang makin membara.</p>
<p>Mendadak kurasakan sebuah tangan dengan jari-jarinya yang lembut menggenggam batang kemaluanku yang nganggur. Pemilik tangan lembut itu adalah Sinta yang tidak tahan hanya menjadi penonton. Dikocoknya batang kejantananku lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut, sementara lidahku terus bekerja di liang kewanitaan Diana, tanganku membuka bibir kemaluan yang rapat itu sampai kulihat tonjolan kecil di tengahnya, dan kumasukkan lidahku lebih dalam lagi agar bisa menjilat benda itu. Rintihan Diana makin menjadi-jadi sambil meremas-remas sprei dan Sinta berpindah menciumi payudara Diana.</p>
<p>Sesaat kemudian kedua paha Diana mulai menjepit kepalaku, badannya tertekuk ke atas. &#8220;Oh, Leo.. akhhh.. ah!&#8221; Erangan itu diiringi menyemburnya cairan hangat berwarna bening membasahi mulutku, setelah itu kuturunkan badannya dan Sinta membantuku menjilati cairan yang masih tersisa di kemaluan Diana sampai bersih, tubuh Diana mulai melemas kembali.</p>
<p>&#8220;Leo, kamu waktu main sama Vivi juga seperti ini ya, permainanmu bagus sekali,&#8221; puji Diana padaku.<br />
&#8220;Ah biasa aja kok Ci,&#8221; sahutku sambil memiringkan tubuhnya dan kuarahkan batangku ke lubang yang sudah basah itu. Sedikit demi sedikit batang itu mulai tertancap di lubang itu diikuti desisan Diana sampai akhirnya dengan susah payah akhirnya mentok juga batangku di kemaluannya yang sempit itu. Setelah itu aku mulai memacu badanku maju mundur sambil meremas-remas payudaraya dan Sinta menjulurkan lidahnya untuk beradu dengan lidahku. Sungguh nikmat sekali rasanya menikmati pijatan-pijatan dinding liang kewanitaan Diana sambil memijat payudaranya dan bermain lidah dengan Sinta, sekali-sekali Sinta juga menjilati leher dan telingaku. Benar-benar aku merasakan diriku bagaikan seorang kaisar yang sedang dilayani selir-selirku saat itu.</p>
<p>Beberapa saat kemudian aku merasa mau keluar dan berkata, &#8220;Ci, mau keluar sebentar lagi nih.&#8221;<br />
&#8220;Siram di mulut.. ohh.. ahhh.. di mulut Cici!&#8221; katanya lirih.<br />
Akhirnya kami klimaks bersama dan kusuruh dia membuka mulut untuk menyemprot spermaku. Cairan putih kental membanjiri mulutnya sampai menetes di sekitar bibirnya, Sinta pun ikut menjilati spermaku yang masih berlepotan di batangku. Diana sekarang tergolek lemas dengan sisa-sisa sperma masih membekas di bibir, dagu, dan lehernya, sesudah mengatur nafas dia tersenyum padaku dan berkata, &#8220;Bisa-bisa besok pagi Cici nggak bisa kuliah gara-gara kecapean nih,&#8221; jarang-jarang dia tersenyum begitu, padahal wajahnya semakin manis kalau lagi senyum. &#8220;Sama Ci, saya juga gitu mungkin, sekarang Cici istirahat aja dulu deh, Sinta udah nggak sabar nih,&#8221; jawabku sambil merengkuh tubuh Sinta dalam pelukanku.</p>
<p>&#8220;Sin, biarin Cici istirahat di ranjang dulu ya, kita mainnya di tempat lain dulu, oke..&#8221;<br />
&#8220;Ya terserah kamu deh, asal jangan di luar kamar, kan malu,&#8221; katanya sambil memencet hidungku dengan nakal.<br />
&#8220;Ya, iyalah masa di luar sih, dasar cewek sableng,&#8221; kataku sambil membantunya berdiri.</p>
<p>Kami berdiri berhadapan saling peluk tanpa mengenakan selembar benangpun, kutatap wajah dan matanya dalam-dalam, semakin dilihat semakin cantik. Kurapatkan dia ke tembok, kukecup keningnya merambat ke telinganya dimana aku berbisik, &#8220;Sin, kamu pernah melakukan ini pada siapa saja?&#8221;<br />
&#8220;Baru loe, Andry, dan bekas pacar gua di SMA, loe sendiri gimana Le, gua ini cewek keberapa yang luperlakukan begini?&#8221;<br />
Aku terdiam sesaat lalu kujawab, &#8220;Selain Vivi dan Ci Diana mungkin kamu yang ketiga dan terakhir bagiku Sin.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa loe bilang aku yang terakhir Le?&#8221;<br />
&#8220;Ya, karena aku sudah berdosa pada Vivi, aku tidak mau menambahnya lagi.&#8221;<br />
&#8220;Hihihi, ternyata masih ada juga pria lugu seperti kamu Le.&#8221;<br />
Lalu dia berkata di dekat telingaku, &#8220;Jadi loe belum bisa membedakan antara seks dan cinta,&#8221; habis menyelesaikan kata-kata dia langsung mengulum telingaku dan kubalas dengan meraba punggung mulus dan pantatnya.</p>
<p>Kami saling raba bagian-bagian sensitif selama beberapa saat dan kini kuangkat kaki kanannya masih dalam posisi berdiri dengan bersandar di tembok. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke liang yang sudah becek itu, benar-benar sempit milik Sinta ini, lebih sempit dari Diana sehingga dia meringis kesakitan sambil mempererat cengkramannya di pundakku saat kumasukkan batangku.<br />
&#8220;Aduhh.. ahhh.. pelan-pelan Le, sakit.. ahh..!&#8221; Sedikit demi sedikit batangku sudah masuk setengahnya.<br />
Kuhentikan gerakanku sejenak sambil berkata, &#8220;Sin, kamu siap?&#8221;<br />
&#8220;Siap apaan sih.. aawww…sakittt!&#8221; jeritnya. Sebab saat dia bilang &#8217;sih&#8217; kuhujamkan sekuat tenaga sisa batangku yang belum masuk sampai mentok dan kurasakan kepala batang kejantananku menghantam dasar kemaluannya dengan kuat sehingga tubuhnya tersentak dan matanya membelakak kaget, telapak tanganku sudah kusiapkan di belakang kepalanya agar ketika terkejut kepalanya tidak membentur tembok.</p>
<p>&#8220;Jahat loe, bikin kaget gua aja,&#8221; tanpa banyak bicara lagi kugerakkan pantatku maju mundur membuatnya mengerang-erang setiap kusentakkan tubuhku ke depan. Dadaku saling bergesekan dengan dadanya. Sambil terus menggenjot kuciumi terus bibirnya sehingga erangannya tertahan, yang terdengar hanya suara, &#8220;Emmhhh.. emmhh.. emhmm..&#8221;</p>
<p>Beberapa saat kemudian tubuhnya kurasakan seperti menggigil dan dia mempererat pelukannya, demikian juga aku makin erat memeluknya sampai kurasakan hangat pada batang kejantananku disusul keluarnya cairan bening dari liang senggama Sinta, cairan itu mengalir deras dari sumbernya terus turun ke pahanya dan sampai ke ujung kakinya. Perlahan-lahan gerakanku melemah dan akhirnya berhenti, kuturunkan kakinya dan kulepaskan batangku yang masih menancap di kemaluannya. Tubuh Sinta yang sudah basah kuyup oleh keringat melemas kembali dan merosot sampai terduduk di lantai, keringat di punggungnya membasahi tembok di belakangnya. Kuambil tisu lalu kubersihkan cairan kenikmatan yang mengalir membasahi tungkainya.</p>
<p>Kami berdua terdiam sesaat memulihkan tenaga kami yang terkuras. Setelah kurasa segar kembali kuperhatikan dia yang masih terduduk lemas di lantai dengan kaki kiri ditekuk, mataku terpaku mengagumi keindahan tubuhnya membuat gairahku bangkit kembali. &#8220;Ngapain sih loe, serem amat melototin gua kaya gitu,&#8221; katanya sambil menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya. Tanpa menjawabnya kutarik lengannya lalu kubuat posisinya berdiri membelakangiku dengan kedua tangannya bertumpu di pinggir meja belajarku. &#8220;Aduh.. tunggu dulu Le, gua masih capek, loe jahat ih!&#8221;</p>
<p>Dengan segera kubasahi batang kejantananku dengan ludah lalu kumasukkan ke lubang pantatnya dengan paksa dan kuhentakkan biasa saja tapi dia malah menjerit histeris, &#8220;Awww.. sakit, toloongg!&#8221; Jeritannya ini sempat membuatku kaget juga karena kencang sekali, aku takut sampai mengundang perhatian tetangga sebelahku, untungnya lokasi kamarku ini agak di ujung namun jeritannya tadi cukup luar biasa. Aku melepaskan sebentar tusukanku dan mengintip dari jendela apakah ada yang datang ke sini, lega aku melihat koridor masih sepi tanpa suara dan kamar sebelahku juga sudah gelap, kurasa dia sudah terlelap.</p>
<p>Kudekati Sinta masih tetap dalam posisinya. &#8220;Aduh Sin, itu suara tolong dikecilin dong volumenya, gawat nih kalo ada yang tau, pake tolong segala lagi, bisa-bisa dikira ada pembunuhan.&#8221;<br />
Dasar cewek bandel, dia malah sambil tertawa berkata, &#8220;Lucu tampang kamu lagi panik Le, masa kamu lupa si Ferry tetangga sebelah loe kan lagi pulang makanya gua kagetin loe, ini balasan waktu tadi ngagetin gua (ketika posisi berdiri), jadi kita seri hihihi!&#8221;<br />
&#8220;Ooo jadi loe sengaja ya, awas loe ayo sini tunggu ya balasan gua ntar!&#8221; kataku menghampirinya. Dia malah berkelit sambil berlari kecil.<br />
&#8220;Wek, sini tangkep kalo bisa,&#8221; ejeknya dengan menjulurkan lidah.<br />
&#8220;Cewek bandel, awas kalo kena ya!&#8221;<br />
&#8220;Lho kalian lagi ngapain, kok kayak anak kecil aja sih, dari tadi ribut terus,&#8221; kata Diana yang sudah bangun.<br />
&#8220;Ini Ci, gua lagi kasih pelajaran buat si bandel nih.&#8221;</p>
<p>Akhirnya kutangkap setelah dia terdesak di lemari pakaianku di sudut ruangan, kupeluk dia dari belakang, &#8220;Nah ketangkep loe sekarang, mau ke mana lagi.&#8221;<br />
&#8220;Hihihi Leo ampun ah, jangan kasar-kasar!&#8221; dia masih tertawa-tawa ketika itu, lalu aku membuat posisinya seperti tadi lagi, kini kedua tangannya yang bertumpu pada lemari.<br />
&#8220;Sekarang tau rasa nih balesan gua!&#8221; kataku dengan senyum penuh kemenangan.<br />
Kutuntun batang kejantananku memasuki lubang pantatnya yang sempit, sedikit demi sedikit akhirnya amblas seluruhnya. Waktu kumasukkan suara tawanya perlahan-lahan berubah menjadi suara rintihan, senyumnya sirna berganti menjadi ekspresi kesakitan, &#8220;Hi.. hi.. hi.. Leo udah ah, lepasin ah.. ahhhh.. jangan.. ahhh.. sakit..!&#8221; Mendengar rintihan tak karuan itu nafsuku semakin bangkit, pinggulku segera bergerak maju mundur dengan ganas. Dasar sifatnya bawel, waktu bertempurpun dia masih sempat berceloteh sambil merintih, &#8220;Akhh.. kamu.. sadis.. ah.. ntar gua mau.. ohhh.. lapor.. aakhh.. sama.. sama Vivi.. ahhh!&#8221;</p>
<p>Pinggulnya ikut berpacu menyelaraskan dengan gerakanku, yang paling enak adalah saat sentakan kita saling berlawanan arah sehingga menambah tenaga tusukanku agar menancap lebih dalam, bila sudah begitu selalu histeris tapi tidak sehisteris waktu mengagetkanku tadi. Payudaranya juga ikut berayun-ayun kesana kemari, kedua putingnya kutangkap dengan jariku, kupuntir, kutarik, dan kupencet tanpa menyentuh dadanya, aku sengaja berbuat begitu agar dia penasaran dan memohon padaku. Benar saja perkiraanku setelah beberapa lama kumainkan putingnya tanpa menyentuh dadanya dia mulai memohon.<br />
&#8220;Le.. ahh.. kamu kok.. ooohh.. cuma mainin.. aahhh putingnya.. remas dadaku Le.. please!&#8221;<br />
&#8220;Hehehe.. gua kan udah janji mau ngebales loe tadi, tunggu aja sampai saatnya nanti Sin, hehehe,&#8221; jawabku sambil tetap menggenjot lalu tangan kiriku menjambak rambutnya hingga kepalanya menengadah ke atas.<br />
&#8220;Aaawww.. kamu.. kamu.. ahhh.. jahat.. kasar.. awas ya nanti!&#8221; Puas hatiku menyiksa si bandel ini hingga tak berkutik memohon-mohon padaku. Menurutku bercinta dengannya lebih enak daripada Diana yang agak pasif, Sinta cukup pintar mengimbangi gerakan-gerakanku, staminanya pun lebih baik sedangkan Diana belum apa-apa sudah takluk, maklum Sinta ini orangnya rajin fitness.</p>
<p>&#8220;Uaah.. mau keluar Sin!&#8221; jeritku ketika mau mencapai puncak.<br />
&#8220;Gua juga.. aaahh.. ayo perdalam lagi.. ouchhh!&#8221;<br />
&#8220;Uahhh&#8230;&#8221; begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Sinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya.<br />
&#8220;Aaakkhhh sakiitt.. eeenakk..!&#8221; Tanpa melepas batang kejantananku ,kepalaku menyelinap ke balik ketiak kirinya, sasaranku adalah puting susu yang ranum itu. Mulutku menangkap benda itu lalu kusedot dengan gemas sementara tanganku masih meremas buah dadanya. Kubalikkan tubuhnya hingga kami saling berdiri berhadapan. &#8220;Sin, kamu nggak menyesal melakukannya padaku?&#8221; tanyaku, dia hanya menggeleng dengan nafas yang masih memburu, tubuhnya licin mengkilap karena berkeringat. &#8220;Le gua capek berdiri terus, bantu gua ke ranjang dong,&#8221; pintanya. Maka kugendong dia ke ranjang dengan kedua tanganku sambil bercumbu mesra, kubaringkan dia di sebelah Diana yang sudah bangun, lalu aku duduk di tepi ranjang karena ranjangku tidak cukup berbaring 3 orang.</p>
<p>&#8220;Wuiiih main sama Sinta ribut banget, sori ya ngebangunin Cici nih,&#8221; kataku pada Diana.<br />
&#8220;Eee.. loe yang sadis kok masih nyalahin gua, awas ya!&#8221; kata Sinta sambil menangkap kemaluanku dan menggenggamnya erat.<br />
&#8220;Idiih.. idihh.. gitu ya, lepasin Sin malu tuh diliatin Ci Diana!&#8221;<br />
&#8220;Minta ampun dulu, kalo nggak kagak bakalan gua lepas nih!&#8221;<br />
&#8220;Iya, sori.. sori deh yang mulia putri, sekarang lepas dong!&#8221; gila bukannya dilepas malahan dijilatinya batang kejantananku yang masih ada sisa-sisa sperma dan cairannya itu.<br />
&#8220;Kalian kok berantem melulu sih, lucu ah!&#8221; kata Diana lalu dia mendekati kami dan ikut menjilati batang kejantananku. Aku jadi merem melek keenakan menikmati permainan mulut mereka sambil mengelus-elus rambut indah Diana. Aku lalu menyandarkan badanku di ujung ranjang agar lebih nyaman, kedua gadis cantik ini kini berada di depanku sedang mempermainkan kemaluanku. Jilatan demi jilatan, emutan demi emutan membuatku menyemburkan kembali maniku namun kali ini sudah tidak banyak lagi yang keluar akibat terkuras pada ronde-ronde sebelumnya. Dengan rakusnya mereka berebutan melahap cairan putih itu sampai habis bersih, pada bibir-bibir mungil itu masih terlihat percikan spermaku.</p>
<p>Mereka lalu menyuruhku telentang di ranjang, aku tidak tahu mereka mau apa lagi tapi kuturuti saja. Diana lalu naik ke atas kemaluanku dan memasukkan batang itu hingga terbenam dalam kemaluannya, kemudian dia mulai bergoyang-goyang naik turun seperti naik kuda. Sinta naik ke atas wajahku berhadapan dengan Diana dan menyuruhku agar menjilati kemaluannya. Sambil kuelus-elus pantat yang mulus itu, lidahku menjelajahi liang kemaluannya, gerakan lidahku bervariasi dari berputar-putar membuat lingkaran, mempermainkan klitorisnya, menggigit lembut klistorisnya, menusukkan jari tengahku sampai mendorong-dorongkan lidahku ke liang itu.</p>
<p>Tanganku bargantian memijati kedua payudara Sinta dan mengelus paha serta pantatnya, suatu ketika kuraba payudaranya, tanganku juga bertemu tangan Diana di situ, jadi masing-masing payudara Sinta dipijati 2 tangan. Suara desahan mereka berdua memenuhi kamarku, terkadang suara itu berubah menjadi, &#8220;Emhhh.. emhhh.. emhh!&#8221; sepertinya itu suara mereka berdua sedang berciuman sehingga desahannya terhambat, aku tidak tahu persis karena waktu itu pandanganku tertutup tubuh Sinta.</p>
<p>Goyangan pinggul Sinta bertambah dahsyat ditambah lagi jepitan pahanya terkadang mengencang membuatku agak kewalahan mengatasinya, sementara Diana yang tidak kalah gilanya makin mempercepat gerakannya sehingga terasa sedikit sakit pada buah pelirku akibat tindihannya. Aku pun tak mau kalah, kubalas dengan menggerakkan pinggulku, kurasakan batang kejantananku sudah terasa licin dan hangat oleh cairan yang keluar dari liang kewanitaannya, bersamaan dengan itu terdengarlah jeritan histeris Diana yang tidak lama sesudahnya disusul erangan Sinta dan tetesan cairan kenikmatannya ke wajahku. Tubuh keduanya mengejang di atas tubuhku selama beberapa saat, kurasakan goyangan Diana mulai melemah sampai akhirnya berhenti, Sinta turun dari wajahku dan langsung menjatuhkan diri di sampingku. Kulihat tampang Diana sudah kusut, rambut panjangnya berantakan sampai menutupi sebagian wajahnya dan tubuhnya sudah bermandikan keringat, dia jatuh telungkup di atasku, payudaranya menindih dadaku, empuk dan nikmat sekali rasanya, lebih enak dari ditindih bantal bulu angsa sekalipun.</p>
<p>Begitu w bahkan Diana, gadis bagaikan gunung es itu sudah tidak perawan lagi, tapi aku tidak peduli soal itu yang penting kenikmatan yang kudapat waktu itu sangat hebat, lagipula liang kemaluan mereka masih sempit karena menurut pengakuan mereka jarang melakukannya karena pacar mereka tinggal terpisah jadi jarang bertemu. Gara-gara permainan liar malam itu besok paginya aku tidak ikut kuliah jam 7 karena tubuhku pegal-pegal terutama bagian pinggang seperti mau copot rasanya, kumatikan wekerku dan meneruskan tidur sampai jam 10.00 ketika si bandel Sinta menggedor pintuku, &#8220;Wei.. wei.. bangun pemalas, semalam ngapain aja loe!&#8221;<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/pesta-seks/hadiah-seks-untuk-aksi-heroik.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merengkuh Kenikmatan Bersama Ima Iparku</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/merengkuh-kenikmatan-bersama-ima-iparku.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/merengkuh-kenikmatan-bersama-ima-iparku.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 19:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[bersetubuh dengan ipar]]></category>
		<category><![CDATA[memek ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot adik ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot kakak ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot saudara ipar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia dalam arti-an kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam hidup berumahtangga, terutama rahasia terhadap istriku. Bermula pada saat beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia dalam arti-an kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam hidup berumahtangga, terutama rahasia terhadap istriku. Bermula pada saat beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan istriku. Aku diperkenalkan kepada seluruh keluarga kandung dan keluarga besarnya. Dan dari sekian banyak keluarganya, ada satu yang menggelitik perasaan kelaki-lakianku; yaitu kakak perempuannya yang bernama Ima (sebut saja begitu). Ima dan aku seusia, dia lebih tua beberapa bulan saja, dia sudah menikah dengan suami yang super sibuk dan sudah dikaruniai 1 orang anak yang sudah duduk di sekolah dasar. Dengan tinggi badan 160 cm, berat badan kurang lebih 46 kg, berkulit putih bersih, memiliki rambut indah tebal dan hitam sebahu, matanya bening, dan memiliki suara agak cempreng tapi menurutku seksi, sangat menggodaku. Pada awalnya kami biasa-biasa saja, seperti misalnya pada saat aku menemani pacarku kerumahnya atau dia menemani pacarku kerumahku, kami hanya ngobrol seperlunya saja, tidak ada yang istimewa sampai setelah aku menikah 2 tahun kemudian dia menghadiahi kami (aku dan pacarku) dengan sebuah kamar di hotel berbintang dengan dia bersama anak tunggalnya ikut menginap di kamar sebelah kamarku.</p>
<p>Setelah menikah, frekuensi pertemuan aku dengan Ima jadi lebih sering, dan kami berdua lebih berani untuk ngobrol sambil diselingi canda-canda konyol. Pada suatu hari, aku dan istri beserta mertuaku berdatangan kerumahnya untuk weekend dirumahnya yang memang enak untuk ditinggali. Dengan bangunan megah berlantai dua, pekarangannya yang cukup luas dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman hias, serta beberapa pohon rindang membuat mata segar bila memandang kehijauan di pagi hari. Letak rumahnya juga agak jauh dari tetangga membuat suasana bisa lebih private. Sesampainya disana, setelah istirahat sebentar rupanya istriku dan mertuaku mengajak untuk berbelanja keperluan bulanan. Tetapi aku agak mengantuk, sehingga aku meminta ijin untuk tidak ikut dan untungnya Ima memiliki supir yang dapat dikaryakan untuk sementara. Jadilah aku tidur di kamar tidur tamu di lantai bawah. Kira-kira setengah jam aku mencoba untuk tidur, anehnya mataku tidak juga terpejam, sehingga aku putus asa dan kuputuskan untuk melihat acara TV dahulu. Aku bangkit dan keluar kamar, tetapi aku agak kaget ternyata Ima tidak ikut berbelanja. Ima menggunakan kaus gombrong berwarna putih, lengan model you can see dan dengan panjang kausnya sampai 15cm diatas lutut kakinya yang putih mulus. &#8220;Lho..kok nggak ikut ?&#8221; tanyaku sambil semilir kuhirup wangi parfum yang dipakainya, harum dan menggairahkan, &#8220;Tauk nih..lagi males aja gue..&#8221; sahutnya tersenyum dan melirikku sambil membuat sirup orange dingin dimeja makan, &#8220;Anto kemana..?&#8221; tanyaku lagi tentang suaminya, &#8220;Lagi keluar negeri, biasa..urusan kantornya..&#8221; sahutnya lagi. Lalu aku menuju kedepan sofa tempat menonton TV kemudian aku asik menonton film di TV. Sementara Ima berlalu menuju tingkat atas (mungkin ke kamarnya).</p>
<p>Sedang asik-asiknya aku nonton, tiba-tiba kudengar Ima memanggilku dari lantai atas; &#8220;Di..Adi..&#8221;, &#8220;Yaa..&#8221; sahutku, &#8220;Kesini sebentar deh Di..&#8221;, dengan tidak terburu-buru aku naik dan mendapatinya sedang duduk disofa besar untuk 3 orang sambil meminum sirup orangenya dan menghidupkan TV. Dilantai atas juga terdapat ruang keluarga mini yang lumayan tersusun apik dengan lantainya dilapisi karpet tebal dan empuk, dan hanya ada 1 buah sofa besar yang sedang diduduki oleh Ima. &#8220;Ada apa neng..?&#8221; kataku bercanda setelah aku sampai diatas dan langsung duduk di sofa bersamanya, aku diujung kiri dekat tangga dan Ima diujung kanan. &#8220;Rese luh..sini temenin gue ngobrol ama curhat&#8221; katanya, &#8220;Curhat apaan?&#8221;, &#8220;Apa! ajalah, yang penting gue ada temen ngobrol&#8221; katanya lagi. Maka, selama sejam lebih aku ngobrol tentang apa saja dan mendengarkan curhat tentang suaminya. Baru aku tahu, bahwa Ima sebenarnya &#8220;bete&#8221; berat dengan suaminya, karena sejak menikah sering ditinggal pergi lama oleh suaminya, sering lebih dari sebulan ditinggal. &#8220;Kebayangkan gue kayak gimana ? Kamu mau nggak temenin aku sekarang ini ?&#8221; tanyanya sambil menggeser duduknya mendekatiku setelah gelasnya diletakan dimeja sampingnya. Aku bisa menebak apa yang ada dipikiran dan yang diinginkannya saat ini. &#8220;Kan gue sekarang lagi nemenin..&#8221; jawabku lagi sambil membenahi posisi dudukku agar lebih nyaman dan agak serong menghadap Ima. Ima makin mendekat ke posisi dudukku. Setelah tidak ada jarak duduk denganku lagi, Ima mulai membelai rambutku dengan tangan kirinya sambil bertanya &#8220;Mau..?&#8221;, aku diam saja sambil tersenyum dan memandang matanya yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak. &#8220;Bagaimana dengan orang-orang rumah lainnya (pembantu-pembantunya) dan gimana kalau mendadak istriku dan nyokap pulang ?&#8221; tanyaku, &#8220;Mereka tidak akan datang kalau aku nggak panggil dan maknyak bisa berjam-jam kalau belanja.&#8221; jawabnya semakin dekat ke wajahku.</p>
<p>Sedetik kemudian tangan kirinya telah dilingkarkan dileherku dan tangan kanannya telah membelai pipi kiriku dengan wajah yang begitu dekat di wajahku diiringi nafas harumnya yang sudah mendengus pelan tetapi tidak beraturan menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang lagi, tangan kananku kuselipkan diantara lehernya yang jenjang dan rambutnya yang hitam sebahu, kutarik kepalanya dan kucium bibir merah mudanya yang mungil. Tangan kiriku yang tadinya diam saja mulai bergerak secara halus membelai-belai dipinggang kanannya.&#8221;Mmhh..mmhh..&#8221; nafas Ima mulai memburu dan mendengus-dengus, kami mulai saling melumat bibir dan mulai melakukan French kiss, bibir kami saling menghisap dan menyedot lidah kami yang agak basah, very hot French kiss ini berlangsung dengan dengusan nafas kami yang terus memburu, aku mulai menciumi dagunya, pipinya, kujilati telinganya sebentar, menuju belakang telinganya, kemudian bibir dan lidahku turun menuju lehernya, kuciumi dan kujilati lehernya, &#8220;hhnngg.. Ahhdhii.. oohh.. honeey.. enngghh&#8221; desahnya sambil memejamkan matanya menikmati permainan bibir dan lidahku di leher jenjangnya yang putih dan kedua tangannya merengkuh kepalaku, sementara kepala Ima bergerak kekiri dan kekanan menikmati kecupan-kecupan serta jilatan di lehernya.</p>
<p>Tangan kiriku yang awalnya hanya membelai pinggangnya, kemudian turun membelai dan mengusap-usap beberapa saat dipaha kanannya yang putih, mulus dan halus untuk kemudian mulai menyelusup kedalam kaus gombrongnya menuju buah dadanya. Aku agak terkejut merasakan buah dadanya yang agak besar, bulat dan masih kencang, padahal setahuku Ima memberikan ASI ke anak tunggalnya selama setahun lebih. Tanganku bergerak nakal membelai dan meremas-remas lembut dengan sedikit meremas pinggiran bawah buah dada kanannya. &#8220;Buah dadamu masih kencang dan kenyal neng.&#8221; kataku sambil kulepas permainan dilehernya dan memandang wajahnya yang manis dan agak bersemu merah tanpa kusudahi remasan tanganku di buah dada kanannya. &#8220;Kamu suka yaa..&#8221; sahutnya sambil tersenyum dan aku mengangguk. &#8220;Terusin dong..&#8221; pintanya manja sambil kembali kami berciuman dengan bergairah. &#8220;Mmhh.. mmhh.. ssrrp.. ssrrp..&#8221; ciuman maut kami beradu kembali. Tangan kiriku tetap menjalankan tugasnya, dengan lembut membelai, meremas, dan memuntir putingnya yang mengeras kenyal.</p>
<p>Tangan kanan Ima yang tadinya berada dikepalaku, sudah turun membelai tonjolan selangkanganku yang masih terbungkus celana katun. Ima menggosok-gosokkan tangan kanannya secara berirama sehingga membuat aku makin terangsang dan penisku makin mengeras dibuatnya. Nafas kami terus memburu diselingi desahan-desahan kecil Ima yang menikmati foreplay ini. Masih dengan posisi miring, tangan kiriku menghentikan pekerjaan meremas buah dadanya untuk turun gunung menuju keselangkangannya. Ima mulai menggeser kaki kanannya untuk meloloskan tangan nakalku menuju sasarannya. Aku mulai meraba-raba CD yang menutup vaginanya yang kurasakan sudah lembab dan basah. Perlahan kugesek-gesekkan jari jemariku sementara Ima pasrah merintih-rintih dan mendesah-desah menikmati permainan jemariku dan pagutan-pagutan kecil bibirku serta jilatan-jilatan lidahku dilehernya yang jenjang dan halus diiringi desehan dan rintihannya berulang-ulang. Pinggulnya diangkat-angkat seperti memohon jemariku untuk masuk kedalam CD-nya meningkatkan finger play ku. Tanpa menunggu, jariku bergerak membuka ikatan kanan CD-nya dan mulai membelai rambut kemaluannya yang lembut dan agak jarang. Jari tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di labia mayoranya, sementara ! jari telunjuk dan jari manisku yang bekerja menggesek-gesekkan dan agak kujepit-jepit pinggiran bibir vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan.</p>
<p>Sementara Ima memejamkan matanya dan dari bibir mungilnya mengeluarkan rintihan-rintihan juga desahan-desahan berkali-kali. Kemudian jari tengahku mulai turun dan kugesek-gesekkan untuk membelah bibir kemaluannya yang kurasa sudah basah. Berkali-kali kugesek-gesek dengan sisi dalam jari tengahku, kemudian mulai kutekuk dan kugaruk-garuk jari tengahku agak dalam di bibir vaginanya yang kenyal, lembut dan bersih. Sementara Ima makin merintih-rintih dan mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan gerakan naik turun kekiri dan kekanan &#8220;Ouuhh.. hemmhh.. sshh.. aahh.. Dhii.. eehhnakh.. honey.. oohh&#8230; ..sshh..&#8221; rintih dan desahannya berkali-kali. Finger play ini kusertai dengan ciuman-ciuman di leher dan bibirnya serta sambil kami saling menyedot lidah. Setelah puas dengan posisi miring, kemudian aku agak mendorong tubuhnya untuk duduk dengan posisi selonjor santai, sementara aku berdiri dikarpet dengan dengkulku menghadapnya, Ima agak terdiam dengan nafasnya memburu, perlahan kubuka kaus gombrongnya, saat itulah aku dapat melihat tubuhnya separuh telanjang, lebih putih dan indah dibandingkan istriku yang berkulit agak kecoklatan, dua bukit kembarnya terlihat bulat membusung padat, sangat indah dengan ukuran 36B, putih, dengan puting merah muda dan sudah mengeras menahan nafsu birahi yang bergejolak.</p>
<p>Sambil tangan kiriku bertopang pada tepian sofa, mulutku mulai menciumi buah dada kanannya dan tangan kananku mulai membelai, menekan, dan meremas-remas buah dada kirinya dengan lembut. &#8220;Aahh.. hhnghh.. honeey.. enaak.. bangeet.. terruss.. aahh.. mmnghh.. hihihi.. auhh..adhi..&#8221; Ima bergumam tak karuan menikmati permainanku, kedua tangannya meremas dan menarik-narik rambutku. Ima mendesah-desah dan merintih-rintih hebat ketika putingnya kuhisap-hisap dan agak kugigit-gigit kecil sambil tangan kananku meremas buah dada kirinya dan memelintir-pilintir putingnya. Ima sangat menikmati permainanku didadanya bergantian yang kanan dan kiri, hingga dia tak sadar berucap &#8220;Adhii.. oohh.. bhuat ahkhuu puas kayak adhikku di hotel dulu.. hhnghh.. mmhh..&#8221;, ups..aku agak kaget, tanpa berhenti bermain aku berpikir rupanya Ima menguping &#8220;malam pertamaku&#8221; dulu bersama istriku, memang pada malam itu dan pada ML-ML sebelumnya aku selalu membuat istriku berteriak-teriak menikmati permainan sex-ku. Rupanya..Oke deeh kakak, sekaranglah saat yang sebenarnya juga sudah aku tunggu-tunggu dari dulu. &#8220;Adhii.. sekarang dong.. aahh.. akhu sudah nggak tahann.. oohh..&#8221; ujarnya, tapi aku masih ingin berlama-lama menikmati kemulusan dan kehalusan kulit tubuh Ima.</p>
<p>Setelah aku bermain dikedua buah dadanya, menjilat, menghisap, menggigit, meremas dan memelintir, aku jilati seluruh badannya, jalur tengah buah dadanya, perutnya yang ramping, putih dan halus, kugelitik pusarnya yang bersih dengan ujung lidahku, kujilati pinggangnya, &#8220;Aduuh.. geli dong sayang.. uuhh..&#8221;, kemudian aku menuju ke kedua pahanya yang putih mulus, kujilati dan kuciumi sepuasnya &#8220;Aahh.. ayo dong sayang.. kamu kok nakal sihh.. aahh..&#8221;, sampailah aku di selangkangannya, Ima memakai CD transparan berwarna merah muda yang terbuat dari sutra lembut, dan kulihat sudah sangat basah oleh pelumas vaginanya. &#8220;Sayang.. kamu mau ngapain?&#8221; tanyanya sambil melongokkan kepalanya kebawah kearahku. Aku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku kearahnya nakal. Dengan mudah CD-nya kubuka ikatan sebelah kirinya setelah ikatan kanan telah terbuka, sekarang tubuh Ima sudah polos tanpa sehelai benangpun menghalangi, kemudian aku buka kedua kakinya dan kulihat pemandangan surga dunia yang sangat indah.</p>
<p>Bibir vaginanya sangat bersih dan berwarna agak merah muda dengan belahan berwarna merah dan sangat bagus (mungkin jarang digunakan oleh suaminya) meskipun sudah melahirkan satu orang anak, dan diatasnya dihiasi bulu-bulu halus dan rapi yang tidak begitu lebat. &#8220;Oohh.. Ima.. bersih dan merah banget..&#8221; ujarku memuji, &#8220;hihihi.. suka ya..?&#8221; tanyanya, tanpa kujawab lidahku langsung bermain dengan vaginanya, kujilati seluruh bibir vaginanya berkali-kali up and down, tubuh Ima mengejang-ngejang &#8220;Aahh..aahh..dhhii..oohh..eena k adhii..aahh..Anto nggak pernah mau begini..mmhh..&#8221; lidahku mulai menjilati bibir vaginanya turun naik dan menjilati labia mayoranya dengan ujung! lidahku. Ima menggeliat-geliat, mendesah-desah, dan melenguh-lenguh, aku menjilati vaginanya sambil kedua tanganku meremas-remas kedua buah dadanya &#8220;Hhnghh.. nngghh.. aahh.. dhii.. honey..&#8221; gumamnya sangat menikmati permainan lidah dan bibirku yang menghisap-hisap dan menjilat-jilat klitorisnya berulang-ulang, menghisap-hisap seluruh sudut vaginanya serta lidahku mendesak-desak kedalam liang vaginanya berkali-kali tanpa ampun &#8220;Oohhnghh.. dhii.. more.. honey.. more.. ahh..&#8221;, tangan kananku kemudian turun untuk bergabung dengan bibir dan lidahku di vaginanya, sedikit-sedikit dengan gerakan maju mundur jari tengahku kumasuk-masukkan kedalam lubang vaginanya yang sudah becek, makin lama makin dalam kumasukkan jari tengahku sambil tetap bergerak maju mundur.</p>
<p>Setelah masuk seluruhnya, jari tengahku mulai beraksi menggaruk-garuk seluruh bagian dinding dalam liang surga Ima sambil sesekali kugerakkan ujungnya berputar-putar dan kusentuh-sentuh daerah G-spotnya, Ima meradang dan menggelinjang hebat ketika kusentuh G-spot miliknya. Lidahku tidak berhenti menjilati sambil kuhisap-hisap klitorisnya. Ima berusaha mengimbangi finger playku dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, kekiri dan kekanan dan bibirnya tidak berhenti merintih dan mendesah &#8220;Sshh..enghh..uuhh..Adhii..ouu hh..aahh..sshh..enghh..&#8221; tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya selain suara rintihan, erangan, lenguhan dan desahan kenikmatan. Sekitar 20 menit kemudian liang vaginanya berkedut-kedut dan menghisap &#8220;Oohhnghh.. ahh.. dhii.. akhu.. sham.. oohh.. henghh.. sham.. phaii.. aahh.. honey.. hengnghh ..aa..aa..&#8221; Ima berteriak-teriak mencapai klimaksnya sambil menyemburkan cairan kental dari dalam vaginanya yang berdenyut-denyut berkali-kali &#8220;serrtt.. serrtt.. serrtt..&#8221; kucabut jariku dan aku langsung menghisap cairan yang keluar dari lubang vaginanya sampai habis tak bersisa, tubuhnya mengejang dan menggelinjang hebat disertai rintihan kepuasan, kedua kakinya dirapatkan menjepit kepalaku, dan kedua tangannya menekan kepalaku lebih dalam kearah vaginanya. Kemudian tubuhnya mulai lemas setelah menikmati klimaksnya yang dahsyat &#8220;Aahh.. adhii.. eenghh.. huuhh..&#8221; vaginanya seperti menghisap-hisap bibirku yang masih menempel dalam dan erat di vaginanya. &#8220;Oh.. adi.. kamu gila.. enak banget.. oohh.. lidah dan hisapanmu waow.. tob banget dah.. oohh..&#8221; katanya sambil tersenyum puas sekali melihat kearah wajahku yang masih berada diatas vaginanya sambil kujilati klitorisnya disamping itu tanganku tidak berhenti bekerja di buah dada kanannya, &#8220;Anto nggak pernah mau oral-in aku..oohh..&#8221; dengan selingan suara dan desahannya yang menurutku sangat seksi.</p>
<p>Sambil beranjak duduk, Ima mengangkat kepalaku, dan melumat bibirku &#8220;Sekarang gantian aku, kamu sekarang berdiri biar aku yang bekerja, oke ?!?&#8221; ujarnya, &#8220;Oke honey, jangan kaget ya..&#8221; sahutku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku lagi sambil berdiri, sekilas wajahnya agak keheranan tapi Ima langsung bekerja membuka gesperku, kancing dan retsleting celanaku. Ima agak terkejut melihat tonjolah ditengah CD-ku, &#8220;Wow..berapa ukurannya Di ?&#8221; tanyanya, &#8220;Kira-kira aja sendiri..&#8221; jawabku sekenanya, tanpa ba bi bu Ima langsung meloloskan CD-ku dan dia agak terbelalak dengan kemegahan Patung Liberty-ku dengan helm yang membuntal, &#8220;Aww.. gila.. muat nggak nih..?&#8221;, sebelum aku menjawab lidahnya yang mungil dan agak tajam telah memulai serangannya dengan menjilati seluruh bagian penisku, dari ujung sampai pangkal hingga kedua kantung bijiku dihisap-hisapnya rakus &#8220;Sshh.. aahh.. Ima.. sshh..&#8221; aku dibuatnya merem melek menikmati jilatannya. &#8220;Abis dicukur ya ?&#8221; tanyanya sambil terus menjilat, aku hanya tersenyum sambil membelai kepalanya.</p>
<p>Kemudian Ima mulai membuka bibir mungilnya dan mencoba mengulum penisku, &#8220;Mm..&#8221; gumamnya, penisku mulai masuk seperempat kemulutnya kemudian Ima berhenti dan lidahnya mulai beraksi dibagian bawah penisku sambil menghisap-hisap penisku &#8220;Serrp.. serrp.. serrp..&#8221;, tangan kirinya memegang pantat kananku dan tangan kanannya memilin-milin batang penisku, nikmat sekali rasanya &#8220;Aahh.. sshh&#8230;&#8221; aku menikmati permainannya, lalu mulut mungilnya mulai menelan batang penisku yang tersisa secara perlahan-lahan, kurasa kenikmatan yang amat sangat dan kehangatan rongga mulutnya yang tidak ada taranya saat penisku terbenam seluruhnya didalam mulutnya. Agak nyeri sedikit diujung helmku, tapi itu dikalahkan nikmatnya kuluman bibir iparku ini. Ima mulai memaju mundurkan gerakan kepalanya sambil terus mengulum penisku, &#8220;Sshh.. aahh.. enak.. Ima..a hh.. terus .. sayang.. uuhh..&#8221; gumamku, lidahnya tidak berhenti bermain pula sehingga aku merasakan goyangan-goyangan kenikmatan dipenisku dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun, nikmat sekali, aku mengikuti irama gerakan maju mundur kepalanya dengan memaju mundurkan pinggulku, kedua tanganku ku benamkan dirambut kepalanya yang kuacak-acak, Ahh nikmat sekali rasanya &#8220;Clop.. clop.. clop..&#8221;. Setelah itu dengan agak membungkukkan posisi tubuhku, tangan kananku mulai mengelus-elus punggungnya sedangkan tangan kiriku mulai meremas-remas buah dada kanannya, kuremas, kuperas, kupijit dan kupuntir puting susunya, desahannya mulai terdengar mengiringi desahan dan rintihanku sambil tetap mengulum, mengocok dan menghisap penisku, &#8220;Ima.. mmhh..&#8221; rintihku. Mendengar rintihanku, Ima makin mempercepat tempo permainannya, gerakan maju mundur dan jilatan-jilatan lidahnya yang basah makin menggila sambil dihisap dan disedot penisku, dipuntir-puntirnya penisku dengan bibir mungilnya dengan gerakan kepala yang berputar-putar membuat seluruh persendian tubuhku berdesir-desir dan aku merintih tak karuan. &#8220;Aahh.. Ima.. oohh.. mmnghh.. gila benerr.. oohh..&#8221; Kuluman dan hisapannya tidak berhenti hingga 20 menit, &#8220;Gila luh.. 20 menit gue oral kamu nggak klimaks.. sampai pegel mulut gue.&#8221; katanya sambil berdiri dan melingkarkan kedua tangannya dileherku untuk kemudian kami berciuman sangat panas, Ima sambil berdiri berjinjit karena tinggiku 172 cm, sedangkan dia 160 cm. 5 menit kami menikmati ciuman membara.</p>
<p>Kedua tanganku meremas-remas kedua bongkahan pinggulnya yang bulat dan padat, namun kenyal dan halus kulitnya, lalu aku membopongnya menuju kekamarnya sambil terus berciuman. Sambil merebahkan tubuh mungilnya, kami berdua terus berciuman panas dan tubuh kami rebah dikasur empuknya sambil terus berpelukan. Nafas kami saling memburu deras menikmati tubuh yang sudah bersimbah keringat, berguling kekanan dan kekiri &#8220;Mmhh.. mmhh.. serrp.. serrp..&#8221;, tangan kananku kembali meluncur ke buah dada kirinya, meremas dan memuntir-puntir putingnya, Ima memejamkan mata dan mengernyitkan dahinya menikmati permainan ini sambil bibirnya dan bibirku saling mengulum deras, berpagutan, menghisap lidah, dan dengan nafas saling memburu. Kuciumi kembali lehernya, kiri kanan, Ima mendesah-desah sambil kakinya dilingkarkan dipinggangku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Penisku terjepit diantara perutnya dan perutku, dan karena Ima menggoyang-goyangkan pinggulnya, kurasakan gesekan-gesekan nikmat pada penisku, &#8220;Aahh..ahh..adi..cumbui aku honey..ahh..puasi aku sayang..ehmm..&#8221; Ima mengerang-erang. Aku kembali meluncur ke kedua buah dadanya yang indah dan mulai menjilati, menghisap, menggigit-gigit kecil, meremas, dan memilin puting susunya yang sudah mengeras &#8220;Ahh.. terus honey.. oohh.. sshh..&#8221;, setelah puas bermain dengan kedua buah dada indahnya, aku menuruni tubuhnya untuk melumat vaginanya, kujilati semua sudutnya, up and down, kuhisap-hisap klitorisnya dan kujilat-jilat, kuhisap-hisap lubang vagina dan klitorisnya sepuas-puasnya &#8220;Oohh.. oohh.. sshh.. aahh.. honey.. kham.. muu.. nakhal.. oohh.. nakhaal.. banget sihh.. henghh.. oohh.. emmhh..&#8221; desahan demi desahan diiringi tubuhnya yang menggelinjang dan berkelojotan, vaginanya terasa makin basah dan lembab, &#8220;Aaahh..dhhii..oohh..&#8221; vaginanya mulai mengempot-empot sebagai tanda hampir mencapai klimaks, sementara penisku sudah mengeras menunggu giliran untuk menyerang.</p>
<p>Aku melepas jilatan dan hisapanku di vaginanya untuk kemudian bergerak keatas kearah wajahnya yang manis, kulihat Ima mengigit bibir bawahnya dengan dahinya yang mengerenyit serta nafasnya yang memburu ketika ujung penisku bermain di bibir vaginanya up and down &#8220;Mmhh.. adi.. ayo dong.. aku udah nggak tahan nihh.. oohh.. jangan nakal gitu dong.. aahh..&#8221; Ima menikmati sentuhan binal ujung penisku dibibir vaginanya &#8220;Okhe.. honey.. siap-siap yaa..&#8221; kataku juga menahan birahi yang sudah memuncak. Perlahan kuturunkan penisku menghunjam ke vaginanya &#8220;Enghh.. aahh.. adi.. oohh.. do it honey.. oohh..&#8221; desahnya, Vaginanya agak sempit dan kurasakan agak kempot kedalam menahan hunjaman penisku. &#8220;Slepp..&#8221; baru kepala penisku yang masuk, Ima berteriak &#8220;Enghh.. aahh.. enak sayang.. sshh.. oohh..&#8221; sambil mencengkeram bahuku seperti ingin membenamkan kuku-kuku jarinya kekulitku &#8220;Ayo adi.. aahh.. terusss honey.. aahh.. aahh..&#8221; vaginanya kembali mengempot-empot dan menghisap-hisap penisku tanda awal menuju klimaks &#8220;Ahh.. Ima.. enak banget..itu mu.. ahh..&#8221; aku menikmati hisapan vaginanya yang menghisap-hisap kepala penisku. Tidak berapa lama kemudian Ima kembali berteriak &#8220;Aadii.. aahh.. khuu.. aahh.. aahh.. oohh..&#8221; Ima kembali berteriak dan merintih mencapai klimaksnya dimana baru kepala penisku saja yang masuk. Aku geregetan, sudah dua kali Ima mencapai klimaks sedangkan aku belum sama sekali, begitu Ima sedang menikmati klimaksnya, aku langsung menghunjamkan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya &#8220;Sloop..sloop..sloopp..&#8221; dengan gerakan turun naik yang berirama &#8220;Aahh.. aahh.. hemnghh.. oohh.. aahh.. dhii.. aahh.. aahh.. ehh.. nhak ..sha..yang.. enghh..oohh..&#8221; Ima mendesah-desah dan berteriak-teriak merasakan nikmatnya rojokan penisku di liang vaginanya yang sempit dan agak peret.</p>
<p>Aku terus menaik turunkan penisku dan menghunjam-hunjamkan keliang vaginanya, sementara Ima makin melenguh, mendesah dan merintih-rintih merasakan gesekan-gesekan batang penisku dan garukan-garukan kepala penisku didalam liang vaginanya yang basah dan kurasakan sangat nikmat, seperti menghisap dan memilin-milin penisku. Suara rintihan dan desahan Ima semakin keras kudengar memenuhi ruang kamarnya sementara deru nafas kami semakin! memburu, dan akhirnya &#8220;Aahh.. dhii..ahh.. khuu.. sam..phai.. lhaa..ghii.. aahh..aahh.. aahh..&#8221; jeritnya terputus-putus mencapai kenikmatan ketiganya, aku masih belum puas, kutarik kedua tangannya dan aku menjatuhkan diri kebelakang sehingga posisinya sekarang Ima berada diatasku. Setelah kami beradu pandang dan berciuman mesra sesaat, Ima mulai memaju mundurkan dan memutar pinggulnya, memelintir penisku didalam liang vaginanya, gerakan-gerakannya berirama dan semakin cepat diiringi suara rintihan dan desahan kami berdua, &#8220;Aahh.. Ima.. oohh.. enak banget..aahh..&#8221; aku menikmati gerakan binalnya, sementara kedua tanganku kembali meremas kedua buah dadanya dan jemariku memilin puting-putingnya &#8220;Aahh.. hemhh.. oohh.. nghh.. &#8221; teriakannya kembali menggema keseluruh ruangan kamar, &#8220;Tahan.. dhulu.. aahh.. tahan..&#8221; sahutku terbata menikmati gesekan vaginanya di penisku, &#8220;Enghh.. akhu.. nggak khuat.. oohh.. honey.. aahh..&#8221; balasnya sambil mengelinjang-gelinjang hebat dengan vaginanya yang sudah mengempot-empot &#8220;Seerrt.. seerrt.. seerrt..&#8221; Ima mengeluarkan banyak cairan dari dalam vaginanya dan aku merasakan hangatnya cairan tersebut diseluruh batang penisku, tubuhnya mengigil disertai vaginanya berdenyut-denyut hebat dan kemudian Ima ambruk dipelukanku kelelahan &#8220;Oohh.. adhi.. hhhh.. mmhh.. hahh..enak banget sayang.. oohh.. mmhh..&#8221; bibirnya kembali melumat bibirku sambil menikmati klimaksnya yang keempat, sementara penisku masih bersarang berdenyut-denyut perkasa didalam vaginanya yang sangat basah oleh cairan kenikmatan dari vagina miliknya yang masih berdenyut-denyut dan menghisap-hisap penisku.</p>
<p>Kami terdiam sesaat, kemudian &#8220;Aku haus banget sayang, aku minum dulu yaa..boleh ?&#8221; pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku, &#8220;Boleh, tapi jangan lama-lama ya, aku belum apa-apa nih..&#8221; ujarku jahil sambil tersenyum. Sambil mencubit pinggangku Ima melepas pelukannya, melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya &#8220;Plop..&#8221; sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar mengambil sirup orange dimeja samping sofa. Kemudian Ima berjalan kembali memasuki kamar sambil minum dan menawarkannya padaku. Aku meneguknya sedikit sambil mengawasi Ima berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Ima masuk kekamar mandi, sejenak kuikuti dia, kulihat Ima sedang membasuh tubuh indahnya yang berkeringat dengan handuk &#8220;Kenapa ? Udah nggak sabar ya ?&#8221; tanyanya sambil melirikku dan tersenyum menggoda.</p>
<p>Tanpa basa-basi kuhampiri Ima, kupeluk dari belakang dan kuciumi tengkuknya, pundaknya dan lehernya. Sementara kedua tanganku bergerilya membelai kulit tubuhnya yang halus. &#8220;Aahh..beneran nggak sabar..hihihi..&#8221; ucapnya &#8220;Emang..abis upacaranya banyak amat.&#8221;. Sambil tetap membelakanginya, tangan kananku mulai menuju kebuah dada kanan dan kirinya, dengan posisi tangan kananku yang melingkar di dadanya dua bukit bulat nan indah miliknya kugapai, sementara tangan kiriku mulai menuju ke vaginanya. &#8220;Hemhh..sshh..aahh..enghh. .&#8221; desahannya mulai terdengar lagi setelah jari tengah tangan kiriku bermain di klitorisnya, sesekali kumasukkan dan kukeluarkan jari tengahku kedalam liang vaginanya yang mulai basah! dan lembab serta tak ketinggalan tangan kananku meremas-remas buah dada kanan dan kirinya. Kedua kakinya agak diregangkan sehingga memudahkan jemari tangan kiriku bergerak bebas meng-eksplorasi vaginanya dan bibir serta lidahku tidak berhenti mencium juga menjilat seluruh tengkuk, leher dan pundaknya kiri dan kanan, sementara tangan kanannya menggapai dan membelai-belai rambutku serta tangan kirinya membelai-belai tangan kiriku. &#8220;Ahh.. adhhii.. sshh.. mmhh..enak sayang..enghh..enaakhh..&#8221;, kurasakan vagina mulai berdenyut-denyut, lalu agak kudorong punggungnya kedepan, kedua tangannya menjejak washtaffel didepannya, kemudian pinggulnya agak kutarik kebelakang serta pinggangnya agak kutekan sedikit kebawah. Setelah itu kudorong penisku membelah kedua vaginanya dari belakang &#8220;Srreepp..&#8221; aku tidak mau tanggung-tanggung kali ini, kujebloskan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya &#8220;Oouhh.. aahh.. adhhii.. oohh..&#8221; teriaknya berkali-kali seiring dengan hunjaman-hunjaman penisku, tangan kiriku mencengkeram pinggang kirinya sedangkan tangan kananku meremas-remas buah dada kanannya yang sudah sangat keras dan kenyal &#8220;Aahh.. adhii.. aahh.. harder.. aahh.. harder honey..aahh..&#8221; pintanya sehingga gerakan maju mundurku makin beringas &#8220;Pook.. pook.. pook..&#8221; bunyi benturan tubuhku dibokongnya. Beberapa lama! kemudian liang vaginanya mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap kembali dan aku tak kuasa menahan rintihan-rintihan bersamaan dengan rintihannya &#8220;Ima.. aahh.. enak shay.. hemnghh..&#8221; &#8220;Aahh.. akhuu.. aahh.. sham.. phai.. aahh..&#8221;, &#8220;Tahan.. dulu.. sha.. yang..hhuuh..&#8221; ujarku sambil terus menghunjam-hunjamkam penisku beringas karena aku juga mulai merasakan hal yang sama, &#8220;Aahh.. akhuu.. nggak.. kuat.. aahh.. AAHH..&#8221; &#8220;Seerrt..seerrt..seerrt..&#8221; kembali Ima mencapai klimaks dan menyemburkan cairan kental tubuhnya, berkali-kali, aku nggak peduli dan tetap ku genjot maju mundur penisku ke dalam vaginanya yang sudah sangat becek.</p>
<p>Kurasakan penisku seperti disedot-sedot dan dipuntir-puntir di dalam vaginanya yang sudah bereaksi terhadap orgasmenya. Akhirnya mengalirlah lava panas dari dalam tubuhku melewati batang penisku kemudian ke ujungnya lantas memuncratkan sperma hangatku ke dalam vaginanya yang hangat &#8220;Aahh&#8230;&#8221; kami mendesah lega setelah sedari tadi! berpacu mencapai kenikmatan yang amat sangat. Tubuh Ima mengigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan menghisap-hisap, aku diam dan kubiarkan Ima menikmati sensasi kenikmatan klimaksnya. &#8220;Ahh.. punyamu enak ya Ima.. bisa ngempot-ngempot gini..&#8221;ujarku memuji, &#8220;Enak mana sama punya adikku ?&#8221; tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan tersenyum &#8220;Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh..&#8221; kucium mesra bibirnya dan Ima memejamkan matanya. Kemudian kucabut penisku &#8220;Ploop..&#8221; &#8220;Aahh..&#8221; Ima agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur. Setelah Ima merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, aku berada diatasnya sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya &#8220;Mmhh..mmhh..&#8221; tangan kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah 2 jam bertempur &#8220;Kamu hebat Di, udah 2 jam masih keras aja.. dan kamu bener-bener bikin aku puas.&#8221; puji Ima, &#8220;Sekali lagi yaa, yang ini gong nya, aku bikin kamu puas dan nggak akan ngelupain aku selamanya, oke ?!&#8221; balasku, sambil berkata aku mulai menggeser tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu. &#8220;Sleepp..&#8221; &#8220;Auuwhh..&#8221; Ima agak menjerit. Perlahan tapi mantap kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis iparku ini, Ima merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat didinding-dinding vaginanya yang becek &#8220;Hehhnghh.. engghh.. aahh..&#8221; gerangnya.</p>
<p>Aku mulai memaju mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin lama makin cepat, makin cepat, dan makin cepat, sementara Ima yang berada dibawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya kepinggangku dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga tubuhku, Ima mengerang-erang, mendesah-desah dan melenguh-lenguh &#8220;Aahh&#8230;. oohh.. sshh.. teruss.. honey.. oohh..&#8221;, sementara akupun terbawa suasana dengusan nafas kami berdua yang memburu dengan menyertainya mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya &#8220;Enghh.. Imaa.. oohh.. ennakh.. sayang..?&#8221; tanyaku &#8220;He-eh.. enghh.. aahh.. enghh.. enakhh.. banghethh.. dhii&#8230; aahh..&#8221; lenguhannya kadang meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya &#8220;Oohh.. adhii.. oohh.. enghh..&#8221; tubuhnya mulai bergelinjangan dan berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai mengetat dipinggangku, kami terus memacu irama persetubuhan kami, aku yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang penisku kedalam liang vaginanya diimbangi gerakan memutar-mutar pinggul Ima yang menimbulkan sensasi memilin-milin di batang penisku, nikmat sekali.</p>
<p>Kulepas pelukanku untuk kemudian aku merubah posisiku yang tadinya menidurinya ke posisi duduk, kuangkat kedua kaki Ima yang indah dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa batang penisku kedalam liang vaginanya yang makin basah dan makin menghisap-hisap &#8220;Enghh.. Adhii.. oohh.. shaa.. yang.. aahh..&#8221; kedua tangan Ima meremas erat bantal dibawah kepalanya yang menengadah keatas disertai rintihan, teriakan, desahan dan lenguhan dari bibir mungilnya yang tidak berhenti. Kepalanya terangguk-angguk dan badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin beringas. Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah. Ima tidak berhenti merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin nikmat dan membawa kami melayang jauh. &#8220;Oohh.. Ahh.. Dhii.. enghh.. ehn.. nnakhh..&#8221; desahan dan rintihan Ima menikmati gesekan-gesekan batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling memburu.</p>
<p>Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju penisku, aku merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Sambil aku merapatkan tubuhku diatas tubuh Ima, kedua kaki Ima mulai menjepit pinggangku lagi untuk memudahkan kami melakukan very deep penetration, rintihan dan desahan nafasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami sambil berciuman Mmnghh.. mmhh.. oohh.. ahh.. Dhii.. mmhh.. enghh.. aahh..&#8221; &#8220;Oohh.. Imaa.. enghh.. khalau.. mau sampai.. oohh.. bhilang.. ya.. sha.. yang..enghh..aahh..&#8221; ujarku meracau &#8220;Iyaa.. honey..oohh..aahh..&#8221; tubuh kami berdua makin berkeringat, dan rambut kami juga tambah acak-acakan, sesekali kami saling melumat bibir dengan permainan lidah yang panas disertai gerakan maju mundur pinggulku yang diimbangi gerakan memutar, kekanan dan kekiri pinggul Ima. &#8220;Oohh.. dhii.. oohh.. uu.. dhahh.. belomm.. engghh.. akhu.. udahh.. nggak khuat..niihh,,&#8221; erangan-erangan kenikmatan Ima disertai tubuhnya yang makin menggelinjang hebat dan liang vaginanya yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai klimaksnya &#8220;Dhikit.. laghi.. sayang.. oohh..&#8221; sambutku karena penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut &#8220;Aahh.. aa.. dhii.. noww..oohh.. enghh..aahh&#8221; jeritnya &#8220;Yeeaa.. aahh..&#8221; jeritanku mengiringi jeritan Ima, akhirnya kami mencapai klimaks bersamaan, &#8220;Srreett.. crreett.. srreett.. crreett..&#8221; kami secara bersamaan dan bergantian memuntahkan cairan kenikmatan berkali-kali sambil mengerang-erang dan mendesah desah, kami berpelukan sangat erat, aku menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang vag! ina Ima, sementara Ima membelit pinggangku dengan kedua kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan lagi sambil kuciumi lehernya dan bibir kami juga saling berciuman.</p>
<p>Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat, vagina Ima masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping kanannya.</p>
<p>Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan kiriku membelai rambut dan pundaknya. &#8220;Adi.. kamu hebat banget, gue sampai puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh..&#8221; Ima berkata sambil menghela nafas panjang &#8220;Ma kasih ya sayang.. thank you banget..&#8221; ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin diakhiri. Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari 4 jam lamanya dan hari sudah menjelang sore. Setelah puas berciuman dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya pulang dari kegiatan masing-masing. Sambil menunggu kami masih saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku &#8220;Adi..kalo gue telpon, kamu mau dateng untuk temenin gue ya sayang..&#8221; &#8220;Pasti !&#8221; jawabku, lalu kami kembali berciuman. Sejak kejadian itu, tiap kali Anto (suaminya) tidak di Jakarta, paling tidak seminggu 2 kali aku pasti datang kerumah Ima iparku itu untuk mereguk kenikmatan berdua hingga larut malam dengan alasan pada istriku lembur atau ada rapat dikantor, dan sebulan sekali aku pasti menghabiskan weekendku merengkuh kenikmatan langit ketujuh berdua Ima</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/merengkuh-kenikmatan-bersama-ima-iparku.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Endah Anak Ibu Kost</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/endah-anak-ibu-kost.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/endah-anak-ibu-kost.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 19:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[anak kost nakal]]></category>
		<category><![CDATA[memek ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot anak ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[toket anak tuan rumah kost]]></category>
		<category><![CDATA[vagina abg anak ibu kost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Tepatnya seh Endah itu anak mantan ibu kost, secara sekarang aku sudah tidak kost disana lagi. Nah disanalah cerita seks dimulai. Saat itu aku baru saja mendapatkan kerjaku di kota Surabaya sehingga untuk mendapatkan rumah dalam waktu dekat tidak mungkin aku lakukan karena terus terang saja, aku belum mendapatkan tabungan yang cukup untuk membeli rumah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tepatnya seh Endah itu anak mantan ibu kost, secara sekarang aku sudah tidak kost disana lagi. Nah disanalah cerita seks dimulai. Saat itu aku baru saja mendapatkan kerjaku di kota Surabaya sehingga untuk mendapatkan rumah dalam waktu dekat tidak mungkin aku lakukan karena terus terang saja, aku belum mendapatkan tabungan yang cukup untuk membeli rumah. Akhirnya aku putuskan untuk kost didaerah dekat kantor.</p>
<p>Akhirnya aku dapatkan tempat kost yang aku inginkan, perlu pembaca ketahui, nenek kostku mempunyai cucu perempuan yang saat itu masih berada dibawah bangku SMP, sebut saja namanya Endah. Endah adalah sosok yang mengasyikkan jika dilihat, walaupun dia masih dibangku SMP, Endah mempunyai bentuk tubuh yang montok dan setelah aku banding-bandingkan, Endah mirip dengan seorang selebitris di Indonesia yang masih single sampai sekarang. Oya, sebelumnya namaku Dandy, 30 tahun seorang karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya.<span id="more-92"></span></p>
<p>Singkat cerita, tanpa terasa 2 tahun sudah aku menjalani masa kostku dan karena aku termasuk orang yang supel, aku cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan karakter aku itu membuat Endah yang semakin hari semakin ranum dan sexy, tergila-gila dengan aku. Sampai suatu hari aku beranikan diri untuk mencium bibirnya, diluar dugaanku Endah membalas dengan buasnya. Sampai akhirnya aktivitas itu menjadi kegiatan rutin antara aku dengan Endah, sepulang kantor atau memanfaatkan waktu-waktu sepi di kost-kostan. Setiap melakukan hal itu, tanganku yang bandel juga tidak lupa menyelinap di balik CD nya dan sedikit menggesek-gesekan jari telunjukku di ujung clitorisnya. Dan walaupun aku hanya menggesekkan adik kecilku tetapi setiap aktivitas itu, aku selalu mencapai klimaks. 4 tahun ternyata waktu yang sedikit untuk menikmati hal itu. Sampai akhirnya aku harus keluar dari kost-kostan dan Endah harus kuliah di kota dingin Malang.</p>
<p>Setelah sekian tahun lamanya aku tidak mendengar kabar tentang Endah, di tahun 2001 aku iseng-iseng call Endah di rumahnya dan walhasil dari obrolan pertama di telepon tersebut, aku dapatkan nomor phone dia di Malang dan juga dia memberikan nomor HP. Akhirnya kita berdua sering kontak via telephone, walaupun aku sudah berstatus nggak bujang lagi, tetapi dia tetap saja bilang kalau masih sayang sama aku. Sampai akhirnya kita janjian untuk ketemu saat dia week end, karena setiap hari itu Endah selalu rajin pulang ke Surabaya.</p>
<p>Pucuk ditunggu ulam pun tiba, dengan perasaan deg-degan akhirnya aku bertemu dengan sosok Endah yang dulu masih lugu dan centil, sekarang tumbuh menjadi gadis yang sexy, sintal dengan ukuran bra 34. Waw, semakin aku menelan ludah setiap melihat tubuhnya yang sexy.<br />
&#8220;Mas Dandy, gimana khabarnya,&#8221; tanya Endah merusak pikiranku yang jorok.<br />
&#8220;Ee.. baik, bagaimana dengan kamu?&#8221; jawabku gugup.<br />
Kita berdua bercerita panjang lebar setelah sekaian lama nggak ketemu, Sampai akhirnya aku harus antar dia balik ke rumahnya di sUrabaya.<br />
&#8220;En, kamu sudah punya pacar..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Lagi blank nih Mas.. &#8221; jawab Endha tangkas<br />
&#8220;O yah, kamu masih inget nggak saat aku ajarin kamu berciuman dulu?&#8221; godaku.<br />
&#8220;Ihh, Mas Dandy emang bandel kok,&#8221; sambil mencubit lenganku.<br />
&#8220;Aow..,&#8221; aku meringis kesakitan.<br />
&#8220;Kamu mau nggak kalau aku terusin pelajarannya,&#8221; tanyaku sekali lagi.<br />
&#8220;Mau aja asal Mas yang ajarin,&#8221; jawaban Endah membuat aku merinding.</p>
<p>Setelah kita bercanda dan bercerita panjang lebar, akhirnya aku menawarkan diri untuk ketemu minggu depannya lagi.<br />
&#8220;Endah, minggu depan ketemu lagi yuk,&#8221; ajakku.<br />
&#8220;Boleh deh Mas..,&#8221; jawab Endah dengan ceria.<br />
&#8220;Tapi nginep ya di hotel?&#8221; godaku.<br />
&#8220;Lho ngapain?&#8221; Endah balas bertanya.<br />
&#8220;Katanya mau lanjutin pelajarannya..&#8221; aku mencoba memancing .<br />
&#8220;Nakaall Mas Dandy.. nih.&#8221;</p>
<p>Tanpa terasa akhirnya Endah harus turun di dekat rumahnya.<br />
&#8220;Ma kasih ya Mas, sampai ketemu minggu depan,&#8221; sambil pamit Endah mengecup pipiku. Alamak, darah mudaku bergejolak menerima sentuhan bibirnya yang mungil. Aku perhatikan lenggak-lenggok pinggulnya meninggalkan mobil starletku, sembari aku membayangkan seandainya aku bisa menikmati tubuh kamu Endah, duh betapa bahagainya diriku.</p>
<p>Satu minggu tanpa terasa aku lewatin, sampailah aku ketemu dengan Endah. Kali ini aku sudah booking hotel berbintang di pinggiran kota untuk satu malam. Tepat pukul 16.30, sepulang kantor aku bergegas mengemasi pekerjaan aku dan meluncur di tempat yang sudah kita sepakati bersama.<br />
Bulu kudukku merinding saat dia memasuki mobilku, parfumnya yang harum sontak menggugah saraf kelaki-lakianku.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, aku segera meluncur menuju hotel yang sudah aku booking sehari sebelumnya. Jujur saja, buat Endah ini adalah hal yang pertama masuk di hotel, sehingga dia sedikit kaku untuk lingkungan yang ada. Setelah chek ni, aku bergegas menuju lift untuk langsung ke kamar.<br />
&#8220;Mas, aku mau mandi dulu ya..?&#8221; pinta Endah.<br />
&#8220;Oke silahkan, apa mau aku mandiin,&#8221; godaku.<br />
&#8220;Nggak ah, nakal Mas Dandy nih..&#8221; sambil menjawab seperti itu, Endah bergegas menuju kamar mandi, dengan dibalut sehelai handuk, Endah berjalan gontai menuju kamar mandi. Mataku benar-benar tidak bisa berkedip melihat pemandangan tubuh Endah yang benar-benar menggairahkan. Pikiranku melayang saat membayangkan kemolekan tubuhnya.</p>
<p>20 menit berikutnya Endah keluar kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, hingga membuat darah sex aku naik ke ubun-ubun. Akan tetapi aku berusaha mengendalikan gejolak nafsuku di depan Endah karena memang di depan dia, aku adalah figur seorang kakak yang baik.<br />
&#8220;O ya Endah, kamu mau makan apa sekalian pesannya,&#8221; tanyaku untuk menutupi gejolak bathinku.<br />
&#8220;Terserah Mas deh,&#8221; jawabnya.</p>
<p>Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 menit dan tanpa terasa kami sudah bercerita panjang lebar, untuk sekedar melepas kangen. Kita berdua bercengkrama, bercanda cerita tentang apapun, sampai akhirnya..<br />
&#8220;En, kamu serius mau lanjutin pelajarannya,&#8221; tanyaku serius.<br />
&#8220;He eh Mas Dandy,&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Endah..&#8221; aku tidak meneruskan pertanyaanku karena dengan cepat aku langsung menyerbu bibir Endah yang mungil.<br />
&#8220;Mas..&#8221; Endah mendesah sambil memeluk badanku erat, tangannya yang bandel mulai meraba daerah sensitifku, sesekali memainkan rambutku. Endah mengelus kudukku sehingga membuat aku terangsang hebat.<br />
Lidah Endah yang nakal, sesekali mengimbangi lidahku yag menjelajah seluruh bibirnya. Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Endah. Pengait BH nya terlepas,<br />
&#8220;Mas.. kamu memang guru yang baik,&#8221; sambil aku benamkan dalam-dalam wajahku dalam belahan payudaranya yang montok.</p>
<p>Sekitar 15 aku bercumbu dengan Endah, aku semakin penasaran dengan apa yang ada dibalik CD nya. Dengan perlahan aku mulai berusaha membuka CD yang dikenakan oleh Endah dan kegiatan aku semakin mudah karena Endah berusaha mengangkat pantatnya sehingga memudahkan aku untuk mempreteli CD nya. Alamak! bulu yang tumbuh masih halus sekali dan baunya wow.. ranum sekali segar, tanpa berpikir panjang aku segera membuka kedua pahanya dan mengunci dengan lenganku sehingga vagina Endah yang masih merah terpampang jelas didepan mataku. Dengan usapan halus, lidahku yang bandel mulai menjelajahi setiap mm permukaan vagina Endah.</p>
<p>&#8220;Oh.. Mas Dandy.. asyik sekali Mas.. ughh,&#8221; rintih Endah saat lidahku mulai nakal menguak lubang surganya. Tubuh Endah seperti cacing kepanasan menerima setiapa jilatan lidahku, hisapan lidahku dan sesekali mengangkat pantatnya saat lidahku masuk dalam-dalam lubang vaginanya. Sesekali tangannya meremas rambutku yang sedikit gondrong, dan hal itu membuat gairahku semakin naik.<br />
&#8220;Mas Dandy.. enak sekali Mas.. oh.. kenapa nggak dulu-dulu Mas,&#8221; rengek Endah sambil melihat lidahku sedang mengerjai vaginanya. Clitorisnya yang semakin membesar memudahkanku untuk membuat Endah melayang. Ternyata Endah type orang yang mudah orgasme terbukti 15 menit pertama dia mengerang sambil menaik turunkan pantatnya.<br />
&#8220;Mas.. Mas Dandy, Endah kebelet pipis Mas.. aduh,&#8221; rintih Enda.<br />
&#8220;Pipis aja sayang di mulut Mas..&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Mas.. aduh.. Endah nggak kuat..&#8221; Endah menjerit lirih sambil menggapitkan kedua pahanya di kepalaku. Dengan cekatan aku langsung membuka lebar mulutku dan cairan yang keluar begitu banyak sehingga aku merasakan minum air putih.<br />
&#8220;Aduh Mas Dandy.. sudah sayang.. uh.. nikmat sekali Mas, kamu memang pandai dalam bercinta aakhh..&#8221; kata Endah. Aku tidak mendengar kan rintihannya, karena aku berkonsentrasi untuk ronde berikutnya karena aku ingin Endah merasakan nikmatnya bercinta dengan aku.</p>
<p>Setelah cairan yang keluar aku berihkan dengan cara aku jilatin, Endah kembali terangsang saat clitorisnya aku gesek dengan batang kemaluanku.<br />
&#8220;Wow.. panjang sekali Mas Dandy.. aku suka banget.&#8221;<br />
Endah mulai menjilati dan mengulum batang kemaluanku, sepertinya dia sangat pandai mengoral cowok.<br />
&#8220;Aakhh.. Endah.. kamu pinter tuh,&#8221; erangku.<br />
Endah tidak menjawab pujianku, dia semakin lahap menelan dan mengulum serta meghisap penisku, aku merem melek setiap penisku masuk dalam mulutnya.</p>
<p>Dasar aku, dengan kecepatan yang tidak diduga, aku langsung meraih selangkangan Endah sehingga posisi kamu menjadi 69. Kita berdua saling membuat rangsangan pada daerah-daerah yang sensitif.<br />
Tidak selang berapa lama,<br />
&#8220;Mmm, Mas Dandy.. aku.. pipis lagi.. oh..&#8221; Endah menggelepar kedua kalinya menerima serangan lidahku dan aku tidak tinggal diam, segera aku membalikan tubuh Endah dihadapanku dan,<br />
&#8220;Endah kamu masih virgin?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Mungkin sudah tidak Mas,?&#8221; jawab Endah.<br />
Aku sedikit kaget sembari bertanya, &#8220;Siapa yang lakukan pertama?&#8221;<br />
&#8220;Aku pernah jatuh Mas, terus ngeluarin darah.&#8221;<br />
Sambil membisikna kata mesra, aku berusaha mencari lubang untuk adik kecilku yang sudah mulai menegang 7 kali lipat dari biasanya. Dengan bantuan sisa cairan yang masih ada di sekitar vagina Endah, penisku mulai mencari lubangnya dan bless.<br />
&#8220;Mas Dandy.. enak sekali sayang.&#8221;<br />
Endah membantu mempermudah aku untuk memasukan penisku, sambil mendekap tubuhku, dia mulai memutar pinggulnya, sehingga penisku terasa ada yang memijit.<br />
&#8220;Ooh.. Mas Dandy, kenapa tidak dari dulu kau berikan kenikmatan ini padaku..&#8221; Endah berkelenjotan menerima sodokan penisku.<br />
&#8220;Crek crekk crek&#8221; penisku keluar masuk dalam lubang vaginanya yang sudah mulai becek dan basah kuyup.<br />
&#8220;Mas.. Endah, pipis lagi.. ahh..&#8221; Endah menjerit panjang saat orgasme yang ketiga diraihnya.</p>
<p>Aku sudah tidak mempedulikan keadaan dia yang masih lemas setelah 3 kali orgasme, aku langsung membalik tubuh Endah sehingga posisi Endah sekarang seperti doggi style. Dengan leluasa aku bisa mengentot Endah dari belakang dengan keringat bercucuran.<br />
&#8220;Mas.. kamu memang jago.. ooh.. uughh..&#8221; Endah merintih saat penisku masuk semua sampai pangkal batang kemaluanku. Tangannya yang halus hanya bisa mencengkeran seprei hotel saat menahan kenikmatan yang aku berikan. Pikiranku hanya satu, aku harus bisa memberikan kepuasan yang abadi untuk Endah, sehingga kalau dia butuh lagi pasti mencariku.</p>
<p>45 menit sudah pergumulan ini terjadi, entah berapa kali sudah Endah orgasme. Sampai akhirnya aku sendiri sudah merasakan klimaks sudah di ubun-ubun.<br />
&#8220;Endah.. Mas mau keluar nih..,&#8221; rintihku.<br />
&#8220;Iya Mas, jangan dikeluarin didalam ya Mas..,&#8221; pinta Endah.<br />
&#8220;Iyaa.. sayang.. duh, tubuh kamu benar-benar montok sayang.. uughh.&#8221;<br />
Aku merintih saat dia mulai meggoyang untuk ke sekian kalinya, gila gadis muda yang dulu aku kenal masih lugu, sekarang sudah menjadi pasanganku untuk bercinta.<br />
&#8220;Endah.. ohh Mas keluar..,&#8221; secepat kilat aku mencabut penisku dan mengarahkan ke mulut Endah.<br />
&#8220;Aowww..&#8221; spermaku muncrat diwajah Endah. Endah menjilati penisku dengn lahap sampai tidak tesisa sedikitpun spermaku yang keluar.<br />
&#8220;Mas, kamu memang guru jempolan.. aku sudah 9 kali orgasme, Mas Dandy baru sekali.. kamu hebat Mas,&#8221; cerita Endah.<br />
&#8220;Kamu suka sayang,&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Suka banget, kamu maukan selalu berikan kenikmatan itu untukku?&#8221; balas Endah bertanya.<br />
&#8220;Iya sayang, aku janji memberikan kenikmatan itu.&#8221;</p>
<p>Endah memelukku dan membimbing aku untuk ke kamar mandi, dan dalam kamar mandipun aku juga melakukan lagi sampai pukul 3 dini hari. Sangat romantis bercinta dengan mantan anak ibu kost, karena dia juga baru pertama ini mengalami orgasme yang luar biasa dan sampai sekarang aku masih kontak-kontak sama dia, tepatnya saat dia butuh, aku segera atur jadwalku.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/endah-anak-ibu-kost.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Dosenku, Kenikmatanku</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/ibu-dosenku-kenikmatanku.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/ibu-dosenku-kenikmatanku.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 19:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[ibu dosen bugil]]></category>
		<category><![CDATA[ibu dosen cantik telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[memek ibu dosen]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot dosen]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ibu dosen]]></category>
		<category><![CDATA[skandal ibu dosen]]></category>
		<category><![CDATA[toket ibu dosen]]></category>
		<category><![CDATA[vagina dosen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya aku punya inisiatif juga untuk menceritakan pengalaman seksku sewaktu masih kuliah. Cerita seksku ini bukanlah rekayasa, ini murni pengalaman pribadi.
Cerita ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester V di salah satu PTN di Bandung (tepatnya Kampus yang di Sumedang). Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya aku punya inisiatif juga untuk menceritakan pengalaman seksku sewaktu masih kuliah. <a href="http://ceritadewasa.situsbokep.info/">Cerita seks</a>ku ini bukanlah rekayasa, ini murni pengalaman pribadi.</p>
<p>Cerita ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester V di salah satu PTN di Bandung (tepatnya Kampus yang di Sumedang). Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, “Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku.<br />
<span id="more-90"></span><br />
Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain di sekitar kampusku, Ibu Yuli namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Yuli bertanya, “Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa hayo? Jangan-jangan ngelamunin yang itu..”<br />
“Itu apanya Bu?” tanyaku.<br />
Memang dalam kesehari-harianku, Ibu Yuli tahu karena aku sering juga curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita,<br />
“Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama pacarku”, kataku.<br />
“Oh.. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri”, kata Ibu Yuli.</p>
<p>Begitu dekatnya aku sama Ibu Yuli sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Yuli. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah. Siang itu tepat jam 11:00 siang saat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.<br />
“Eh Ibu Yuli, nggak ngajar Bu?” tanyaku.<br />
“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.<br />
“Habis sakit Bu”, kataku.<br />
“Sakit apa sakit?” goda Ibu Yuli.<br />
“Ah.. Ibu Yuli bisa aja”, kataku.<br />
“Sudah makan belum?” tanyanya.<br />
“Belum Bu”, kataku.<br />
“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya”, katanya.</p>
<p>Dengan cekatan Ibu Yuli memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks. Kukira Ibu Yuli nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.<br />
“Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.<br />
“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.<br />
“Oh kalau gitu Ibu Yuli masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis”, kataku.<br />
“So pasti dong”, katanya.<br />
“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin”, dengan enaknya aku nyeletuk.<br />
“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya. Ibu Yuli agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Yuli kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya.<br />
“Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Yuli”, kataku.<br />
“Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.<br />
Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Yuli terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan, “Aku sayang kamu, Ibu Yuli”, tapi dia tidak menjawab sedikitpun.</p>
<p>Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup.. dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh.. tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, “Aah.. cup.. cup.. cup..” dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.</p>
<p>“Aah.. jangan panggil Ibu, panggil Yuli aja ya!<br />
Kubisikkan Ibu Yuli, “Yuli kita ke kamarku aja yuk!”.<br />
Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak.. indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya. “Ah.. ssh.. terus Ji”, Ibu Yuli tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, “Aah.. ssh..” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, “Aah.. aku juga sudah mulai terangsang.</p>
<p>Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu.. cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu, “Aah.. uh.. ssh.. Biji kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi”, sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Yuli juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. “Oh.. besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku, “Uuh.. uh.. shh..” dengan cermat aku berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, “Aah.. uh.. ssh.. terus Biji”, Yuli mengerang. “Aku juga enak Yuli”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut, “Assh.. oh.. ah.. Yuli terus sayang”, dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk.. uh.. ssh..” sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali memanggut bibirnya.</p>
<p>Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku, “Aakh.. sshh.. pelan-pelan ya Biji, aku masih perawan”, katanya. “Haa..” aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci. Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blesst, “Aahk..” teriak Yuli, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Yuli.. “Aakh.. ushh.. ussh.. ahhkk.. aku mau keluar Biji”, katanya. “Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh..” kataku. Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan.. “Crot.. crot.. cret..” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya. “Aakh..” aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya. Dengan lembut dia cium bibirku, “Kamu menyesal Biji?” tanyanya. “Ah nggak, kitakan sama-sama mau.” Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Yuli hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Yuli menjadi pacar gelapku.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/setengah-baya/ibu-dosenku-kenikmatanku.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berawal Dari Ngintip Hingga Dapet Perawan</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/berawal-dari-ngintip-hingga-dapet-perawan.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/berawal-dari-ngintip-hingga-dapet-perawan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 19:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[bokep smu]]></category>
		<category><![CDATA[cewek ml]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot cewek smp]]></category>
		<category><![CDATA[ngintip cewek smu ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngintip ml]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[smp bugil]]></category>
		<category><![CDATA[smu ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[smu perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Aku hany asekedar ngin berbagi pengalaman seks yang pernah aku alami. Bukan rekayasa, cuman nama tempat dan domisili aku samarkan agar tidak menyinggung perasaan orang. Untuk masalah nama, semuanya asli. Sebelumnya aku minta maaf bukan tujuannya mencemarkan nama baik meraka tapi hanya ingin sekedar berbagi pengalaman aja sebagai kenangan yang indah yang pernah aku alami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku hany asekedar ngin berbagi pengalaman seks yang pernah aku alami. Bukan rekayasa, cuman nama tempat dan domisili aku samarkan agar tidak menyinggung perasaan orang. Untuk masalah nama, semuanya asli. Sebelumnya aku minta maaf bukan tujuannya mencemarkan nama baik meraka tapi hanya ingin sekedar berbagi pengalaman aja sebagai kenangan yang indah yang pernah aku alami pada 4 tahun yang lalu.</p>
<p>Pada mulanya kejadiaan ini berawal karena masalah sepele aja, ketika itu kondisi kerjaan aku d kantor bener bener sadang mengalami masalah.ak bekerja mengelola usaha lembaga keuangan milik sendiri yang saat itu sedang mengalami banyak kemacetan kredit. <span id="more-87"></span>sehingga mengganggu arus peredaran atau sirkulasi kas.waktu itu ak sedang breafing karyawan lapangan untuk mencari solusi terhadap masalah kemacetan itu.di saat lg tegang tegangnya ngomelin mereka tiba tiba hp aku berbunyi, berhubung lg gak kepengen terganggu ak pencet nada sibuk tapi gak berapa lama kemudian bunyi lg dan kulihat masih no yang sama dan no tersebut gak ada d daftar kontak alias no asing ak pencet lg nada sibuk, dasar bandel emang tuh orang tetep ngebel terus, akhirnya hp ak mati kan.<br />
singkat cerita setelah selesai breafing ak masuk ke ruangan ak dan hp ak hidupkan lg. baru aja nyala ada sms masuk dari no yang tadi call kubuka dan kubaca sms tersebut yang bunyinya &#8220;banci loe gak berani ngangkat, berarti itu membuktikan klu kamu emang merasa bersalah udah ngata-ngatain ak yg gak-gak ama temen2 aku&#8230;klu emang kamu laki-laki temuin ak entar jam dua d cafe xxx, tapi klu loe emang banci pasti gak berani datang. loe emang beraninya ama cewek doank&#8230;B..A..N..C..I..&#8221;. bangsattt&#8230;berani bener nih orang ngatain ak banci, seketika emosi ak meledak ledak sumpah serapah maki-maki ak lontarkan, gak tahu situasi banget nih orang, gak tau pa kalau ak lg panas ngurusin kerjaan yang lg bermasalah, malah ini orang nambah masalah. oke ak pikir gak ada mundurnya kubalas smsnya &#8221; gak pakai nanti sekarang ak tunggu di cafe xxx&#8230;&#8221;. segera ak sambar kunci mobil kupanggil sekretarisku aku bilang mau keluar ada urusan. tahu ak lg emosi dianya gak berani liat muka aku cuman bilang&#8221;iya pak&#8221;.<br />
dengan emosi yang meledak ledak kutancap mobil ke cafe xxx yang berjarak sekitar 45 menit kearah luar kota dari kantorku dan kebetulan ak kenal baik ama pemilik cafe itu karena pernah pinjam modal dari kantor ak dan juga ak udah menjadi langganan karena ak sering ngajak relasi2 untuk makan makan d tempet itu dan sebagian besar karyawan cafe itu sudah tau siapa aku jadi ak pikir pikir klu terjadi keributan banyak yang bantu ak.<br />
sekitar jam 11.30 ak udah sampai di cafe xxx dan langsung parkir d dekat kantor pemilik cafe tersebut, tahu ak datang segera pemilik cafe tersebut nemuin ak dengan senyumnya yang ramah dia menyambut ak dan bertanya<br />
&#8220;siang pak ifan &#8230;tumben sendirian aja biasanya ama temen-temen &#8230;&#8221; sapa dia dengan senyum ramahnya.<br />
&#8221; iya nih mas&#8230;.lg pengen sendirian aja&#8230;.gimana perkembangan nya ? makin rame aja kayaknya mas..?&#8230;&#8221;jawabku.<br />
&#8220;syukur alhamdulillah pak&#8230;..sekarang udah lebih baik berkat pinjaman modal dari pak ifan&#8230;&#8221;pujinya..<br />
&#8220;ohh..iya pak&#8230;silahkan masuk&#8230;.mau pesen apa pak.?&#8221;katanya.<br />
&#8220;menu biasa ak pesan aja mas..tapi ak mau makan di gazebo yang paling ujung aja yang deket kolam biar adem&#8230;&#8221;pintaku<br />
&#8221; oohhh..silahkan aja kebetulan kosong&#8230;tuh pak&#8230;.nanti biar saya antar pesanannya kesana aja pak..&#8221;katanya<br />
&#8220;ya udah mas ak tak kesana dulu..oh iya&#8230; neza ada mas..? kalau gak ganggu biar dia aja yang antar pesanan nya mas&#8230;&#8221;pintaku<br />
&#8221; ohh.. neza ada pak&#8230;ya nanti biar ak suruh dia nemenin pak ivan makan biar ada yang nemenin pak ifan&#8230;&#8221;ujarnya penuh dengan arti..<br />
&#8221; ya udah makasih mas..&#8221; jawabku sambil berjalan ke arah gazebo yang paling ujung kenapa aku pilih yang paling ujung kali aja nanti orang yang ngomel2 ke aku datang bisa ak damprat sekalian biar gak ganggu orang yang sedang makan d kafetaria sehingga gak bikin heboh cafe tersebut pikir ku.<br />
sambil nunggu pesanan datang ak sms lg ama orang yang tadi bilang kalau ak dah sampai d cafe xxx. kulihat gazebo kanan kiri sepi juga hari ini hanya ada beberapa orang, itu juga di gazebo bagian depan sementara yang deket dengan tempat ku gak ada orang.disini jarak antara gazebo2 sekitar 5 meter itu juga di batasi oleh kolam ikan dan masing2 gazebo d kasih kerai dari anyaman rotan dengan meja lesahan untuk makan nya. gazebo disini berdiri diatas kolam ikan mas yang luas, makanya tempat ini begitu asri dan udaranya segar karena jauh dari kotaku malah lebih deket ke kota sebelah ku yang udaranya lebih sejuk.<br />
gak berapa lama kulihat dari kejauhan ada pelayan yg sedang menuju ke arah gazebo dengan membawa pesanaku. kulihat dari postur tubuhnya dapt ku pastikan itu neza.<br />
&#8221; siang pak ifan&#8230;.tumben sendirian aja &#8230;biasanya bawa pasukan &#8230;hehehe..&#8221;sapa dia dengan ramah.<br />
&#8220;iya nih ..lg gak ada temen &#8230;.malah ak lg nunggu orang karena janjian d sini&#8230;&#8221;jawabku.<br />
&#8220;makanya tadi ak minta ijin ama bos kamu ..agar nemenin ak dulu sebelum orang itu datang&#8230;biar ada yang nemenin ngobrol&#8230;&#8221;kataku.<br />
&#8221; ohh gak papa pak &#8230;.dengan senang hati&#8230;pak.. tadi bos juga udah bilang&#8230;&#8221;jawabnya dengan senyum ramahnya.<br />
&#8220;gak ganggu kamu kan nes..?&#8221;tanyaku.<br />
&#8220;ahhh&#8230;pak ifan&#8230;ini&#8230;ya tentu..aja gak ganggulah..malah dengan senang hati pak..itu aja kalau pak ifan berkenan&#8230;&#8221;katanya sambil menyiapkan pesanan aku di atas meja.kemudian setelah itu dia duduk di depan aku.sedikit aku ceritakan tentang neza, dia baru lulus SMU setahun yang lalu dan gak ngelanjutin kuliah karena ortunya gak mampu akhirnya dia kerja d cafe ini. orangnya baik supel ramah dan nyambung kalau di ajak ngobrol ak kenal juga d cafe ini. jujur menurut penilaian aku dia itu cakep dengan kulit yang putih dengan tinggi sekitar 165cm body langsing proposional rambut panjang lurus sebahu dengan potongan model poni, umur 18 tahun.aku sering godain dia tapi ya hanya sebatas itu sebab aku datang kesini jarang sendirian jadi belum pernah ngobrol berduaan ama dia, baru kali ini aja.andai aja aku belum punya tunangan mau juga aku pacarin dia.<br />
&#8220;ya udah ayo sekalian temenin aku makan nes..males makan sendiri gak asyik&#8230;..&#8221;ajak ku.<br />
&#8220;oohh&#8230;makasih pak ..barusan aku makan di dalam pak&#8230;.silahkan aja pak&#8230;&#8221;jawabnya.<br />
&#8220;lahh&#8230;.gimana sihh&#8230;..kamu nes&#8230;.kan tadi ak bilang supaya kamu nemenin ak makan bukan ngeliatain ak makan&#8230;.ayo&#8230;donk..nes&#8230;jad i gak selera nih kalau makan sendiri aja&#8230;&#8221;pintaku..<br />
&#8220;wah&#8230;pak ifan ini&#8230;.ak jadi gak enak ati nih&#8230;.minder rasanya&#8230;makan satu meja bareng pak ifan..&#8221;jawabnya sambil tersipu dan kulihat wajahnya merona merah.<br />
&#8220;kq kamu gitu sihh&#8230;.minder kenapa&#8230;?&#8230;udahlah ..kalau kamu gak mau nemenin, ak juga gak jadi makan aja deh&#8230;.&#8221; ancam ku.<br />
&#8220;ihhh..pak ifan kq ngambek gitu sihh&#8230;ya udah&#8230;.tapi sedikit aja ya pak takut gemuk&#8230;hehehe&#8230;entar gak laku..hehehe..&#8221;jawabnya.<br />
&#8220;naahhhh&#8230;.gitu donk&#8230;.ayo ..kita libass..aja&#8230;mumpung masih hangat&#8230;jangan malu-malu nes&#8230;&#8221;ajak ku.<br />
&#8220;baik pak&#8230;.silahkan bapak ambil dulu&#8230;.&#8221;pintanya.<br />
kemudian ak ambil piring dan ambil nasi dan beberapa lauk,sambal dan lalapan kulihat neza masih belum juga ambil, maka segera ak ambil iring dia dan ak ambilin nasi dan lauknya.<br />
&#8221; eehh..ehh&#8230;.pak biar ak ambil sendiri aja&#8230;.&#8221;cegahnya sambil merebut piring dari tangan aku.<br />
&#8221; udaahhh&#8230;biar ak aja yang ambilin&#8230;habis kamu dari tadi gak ambil2&#8230;.&#8221;jawabku sambil menyodorkan piring yang udah penuh nasi dan lauk&#8230;<br />
&#8220;ahhh..pak ifan&#8230;ak jadi segan nih masa bapak yang ngambilin&#8230;kan seharusnya ak tadi yang ngelayanin bapak&#8230;&#8221;jawabnya dengan gugup dan merona wajahnya.<br />
&#8220;udah gak papa&#8230;untuk anak secakep kamu ak rela dan dengan senang hati&#8230;.hehehe&#8230;.&#8221;godaku..<br />
&#8220;ahhh&#8230;pak ifan bisa aja&#8230;.&#8221;jawabnya tambah tersipu malu dan tambah merona wajahnya..duhh&#8230;cakep bener nih anak kalau lg jeuleus gitu.baru ak sadari kalau di liat lama lama emang cakep banget nih anak.<br />
&#8220;udah ahh..ayo makan dulu&#8230;udah lapar nich&#8230;..&#8221;ajak ku.dan kami pun mulai makan dengan di selingi obrolan dan candaan.<br />
di saat kami udah mau selasai makan kulihat ada sepasang anak smu yang sedang berjalan menuju gazebo persis di sebelah kanan depan kami dan kulihat mereka tidak melihat dan menyadari kami ada di situ.karena gazebo kami merupakan gazebo yang paling ujung sendiri dan kebetulan karena jarang yg makan d situ kerainya jarang d buka sementara gazebo2 yang lain dibuka setengahnya saja untuk menghindari terik matahari dari arah barat.beberapa lama kemudian belum juga ada pelayan yang datang kesitu untuk membawakan daftar menu.akhirnya neza minta ijin sebentar ke aku untuk melayani anak2 itu berhubung itu sudah menjadi tanggungjawabnya maka aku persilahkan.kemudian neza menghampiri anak itu dan kuliat tengah bercakap2 sambil menulis pesanan anak itu.kemudian neza berjalan menujuk ke arah dapur yang lumayan jauh untuk menyiapkan pesanan mereka.akhirnya ak tinggal sendiri d gazebo itu kulihat jam baru menunjukan pukul 12.30 dan smsku belum d bales ama orang tadi.ku ambil hp ak sms lg ama orang itu&#8221;hai dah lama ak tunggu kq gak nongol juga..? jangan2 kamu yang banci&#8230;.&#8221;lalu ak kirim.gak berapa lama ada balasan masuk&#8221;punya nyali juga toh kamu&#8230;udah tunggu aja jam 2 ak pasti datang jangan kabur ya&#8230;banci..&#8221;sommpreeetttt&#8230;. .ganas juga nih anak, ak sms balik&#8221;ak tunggu di gazebo yang paling ujung&#8230;..awas kalau gak datang &#8230;.B.A.N.C.I&#8230;.&#8221;lalu ku kirim lagi.tapi gak di balas bales&#8230;<br />
kulihat nesa tengah membawa pesanan anak2 tadi dan lagi menata pesanan di atas meja. gak berapa lama dia menuju ke gazebo ak sambil senyum senyum.<br />
&#8220;maaf pak ya&#8230;? tadi nyiapin pesanan anak2 itu dulu&#8230;&#8221;katanya gak enak ati.<br />
&#8220;gak papa nes&#8230;kalau emang kamu lagi sibuk&#8230;. ak juga gak enak nanti aku di marahin ama bos kamu&#8230;.&#8221;jawabku<br />
&#8220;ahh pak ifan &#8230;bisa aja&#8230;.mana berani bos marahin pak ivan sih&#8230;.&#8221;ujar neza.<br />
&#8220;aku aja yg gak enak ama temen2 di kira gak bantu kerjaan pak&#8230;.&#8221;bantahnya.<br />
&#8220;ya udah nyantai aja kalau lg banyak kerjaan..gak papa kq ak d sini sendirian lagian orang yang ak tunggu udah mau datang&#8230;&#8221;jawabku memberi keyakinan pada neza.<br />
&#8220;ya udah pak permisi dulu mau bantu temen-temen di depan lg banyak tamu&#8230;&#8221;pintanya.<br />
&#8220;ya silahkan nes&#8230;&#8221;jawabku.<br />
kemudian nesa berkemas piring2 kotor yang tadi abis buat makan kita berdua. biar rapi katanya.lalu dia membawanya ke tempat penyucian dekat dapur sana.bingung juga nih mau ngapain gak ada lagi yg di ajak ngobrol.tengak tengok gak sengaja mata tertuju sama anak2 smu tadi.astagaaaa&#8230;.apa gak salah liat nich&#8230;..meraka tengah asik berciuman dengan mesranya sambil berangkulan&#8230;.dan mulai ada raba-rabaan&#8230;.anjriiiitttttt&#8230;nek ad bener nih anak &#8230;apa gak tau ada orang di sebelah, pikir aku&#8230;mungkin juga begitu karena tirai ak tertutup sementara tarai mereka terbuka pada sisi yang menghadap ke arah ak dan juga suara dari pancuran air yang ke masuk kolam dekat dengan sisi meraka menyamarkan pembicaraan orang sekitar mereka.sementara ak dangan sangat jelas dapat melihat dia dari celah celah tirai yang jarak antar sekatnya sekitar 2cm terhadap apa yang mereka perbuat saat ini. sungguh tontonan yang mengasyikan, dari pada bengong sendiri lumayan buat hiburan ak pikir. sementara memang suasana di cafe itu jam segini mulai sepi apalagi yang d gazebo bagian belakang sama sekali gak ada orang kecuali aku.dan kulihat ritme permainan mereka udah mulai kearah yang lebih hot, sicowok tengah meremas-remas tetek ceweknya sambil tetap berciuman dengan nafsunya&#8230;.<br />
sementara ak mulai terbawa suasana permainan mereka, jujur baru kali ini ak mengintip orang lg bermesraan ternyata sungguh2 menciptakan sensasi yang berbeda..dan tanpa sadar kejantanan ku dah bangun dengan sekeras kerasnya&#8230;..duuhhhh&#8230;jadi nafsu nih&#8230;.kemana cari pelampiasannya nih&#8230;..pacar lagi jauh&#8230;bangsat juga nih anak ..belum masalah ama orang yg tadi selesai ini malah nambah masalah lagi dengan libido ku ampuuuunnnn&#8230;..dahhh&#8230;<br />
dan gilanya tangan sicowok udah gerilya sekitar selangkangan cewek itu walaupun masih dari luar roknya&#8230;.bukan nya menolak malah si cewek memberi respon lebih dengan ngangkangin pahanya&#8230;turus sicewek mulai grepe grepe penis cowoknya &#8230;duuhhhh&#8230;bakalan seru nih&#8230;.dan libidoku dah naik tinggi banget&#8230;.rasa pengen coli&#8230;kalau gk lagi di tempat umum&#8230;akhirnya ak tahan nafas aja sambil tetep menikmati sensasi yang baru pertama kali aku rasakan mengintip orang yang tanpa ak sengaja.<br />
kuamati cewek itu memang cakep juga dengan kulit putih bersih tinggi 160cm dada membusung dan pantat yang bahenol menambah naik gairahku aja.<br />
sekarang kulihat sicowok lg buka kancing atas baju si cewek dan sedang menggapai sesuatu dalam isi bh cewek itu dan mulai melumat lumatnya, dilihat dari raut muka si cewek dia tengah menikmati lumatan cowok nya d bagian putingnya sambil mendesis desis kenikmatan&#8230;.<br />
tengah tegang-tagangnya menikmati tontonan gratis tiba-tiba hp ku bunyi, secepat kilat ak angkat tanpa melihat siapa yang tlp ak.takut kedengeran anak sma yg tengah bermesraan<br />
&#8220;hallo&#8230;&#8221;jawabku dengan lirih..<br />
&#8220;ternyata berani juga loe terima tlp ak..ya&#8230;? he chandra dengerin ya ak ada urusan ama kamu&#8230;loe jangan kabur dulu tau..!!! tunggu aja di situ ak baru selesai pelajaran&#8230;&#8221;ketusnya.<br />
&#8221; hei kamu bicara ati-ati ya&#8230;.siapa chandra&#8230;ak bukan chandra&#8230;emang siapa kamu..&#8221;kujawab dengan lirih<br />
&#8220;bukan nya ini no chandra&#8230;.tap&#8230;tapi..i.i.iya a..juga kq suaranya lain ya&#8230;? &#8220;jawabnya gugup.<br />
&#8220;loe salah no kali&#8230;enak aja ngatain orang banci&#8230;aku dah d cafe xxx dari jam 11.30 gara-gara nungguin kamu&#8230;&#8221; ketusku.<br />
&#8220;duhh&#8230;ampun mas &#8230;.saya mohon maaf yg sebesar-besar nya ini no mas ya.? ak di kasih temen chandra&#8230; katanya ini no nya&#8230;duhh&#8230;maafin ya mas&#8230;hiks&#8230;&#8221;rengeknya sambil gugup gak karuan.<br />
&#8220;ya udah mas ak tak kesitu aja sekalian lyna minta maaf&#8230;&#8221;jawab nya dengan mengiba.<br />
&#8220;terserah kamu &#8230;.&#8221;jawabku sekena nya .ak juga gak ngarepin dia datang mungkin andai aja ak gak lagi nonton bokep live udah ku maki habis habisan tuh cewek&#8230;<br />
datang gak datang udah gak peduli lagi ama tuh cewek yang namanya lyna, yang penting sekarang gimana nerusin tontonan gratis lagi pikir ku.ak konsentrasi lg ama anak yg diseberang sana ternyata&#8230;&#8230;sicewek lg handjob dan sicowok tetep lg netek plus ngelus-elus memek si cewek dari luar cd nya yang berwarna pink&#8230; tiba-tiba<br />
&#8220;pak ifan&#8230;.&#8221; kaget setengah mati aku di buatnya&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
&#8220;ma&#8217;af pak nunggu kelamaan ya&#8230;.? abis di depan tadi banyak tamu&#8230;&#8221;katanya, sementara ak belum sepenuhnya bisa mengendalikan diri karena kemunculan neza yang tiba-tiba karena melihat adegan meraka. suer ak mupeng berat di buatnya&#8230;..dan kayaknya dia baru menyadari keadan ku<br />
&#8220;pak ivan kenapa..? kq keringatan gitu pak&#8230;?&#8221;tanya nya.<br />
&#8221; ohhh..ga..gak&#8230;pap..papa&#8221;jawa bku terbata bata.gue bingung mau jawab apa dan kulirik kayaknya mereka tidak menyadari kedatangan neza karena pintu masuk gazebo yg ak tempati kebetulan dari arah kiri meraka dan pembicaraan neza gk kedengeran karena tersamar oleh pancuran kolam deket gazebo mereka. buktinya mereka gak berhenti dalam aktifitasnya ngeseks tersebut.lalu neza duduk d sebelah ak.dan kulihat neza belum tahu apa yang tengah terjadi d gazebo sebelah.<br />
&#8220;belum datang juga yang di tunggu pak..?&#8217; tanya dia<br />
&#8220;belum nich &#8230;mungkin sebentar lg&#8230;.biasa jam pulang sekolah, biasanya cari angkot rada susah kali..&#8221; kataku.ak sedikit melirik kearah anak SMA yang sedang petting tersebut dan sedikit kulihat mereka masih melakukan aktifitas yang tadi cowoknya masih ngisep teteknya sementara si cewek sibuk handjob..sambil melek merem kenikmatan.<br />
&#8221; betul juga pak&#8230;.emang susah nyari angkot jam2 segini penuh semua ama anak sekolah&#8230;&#8221;jawabnya<br />
.iseng2 ak tanya ama neza.<br />
&#8220;nes disini biasa buat pacaran anak2 muda ya..?&#8221;kataku<br />
&#8220;disini udah biasa buat pacaran pak&#8230;emang kenapa pak.?&#8221;tanya dia.<br />
&#8221; gak papa&#8230;. nes iseng aja&#8230;&#8221; pancingku sambil menengok ke gasebo sebelah yang di ikuti oleh pandanga neza.<br />
&#8221; astaga&#8230;..ya ampun&#8230;..ihhhh&#8230;..&#8221;kata neza sambil membuang muka dan menutup matanya dengan tangan.dan kulihat ekspresi neza yg begitu terkejutnya melihat adegan d sebelah tersebut..<br />
&#8221; dasar anak gak tahu malu &#8230;.mesum di siang hari bolong kayak gini&#8230; &#8221; sambungnya sambil tetap buang muka.<br />
&#8220;bentar pak biar ak panggil satpam aja pak&#8230;biar tau rasa mereka..&#8221;kata neza sambil mau berdiri. tapi buru buru ak cegah.&#8221;udah biarin aja&#8230;.mereka juga pelanggan disini juga&#8230;&#8221;kilah ku<br />
&#8220;lagian ganggu keasyikan orang juga gak baik &#8230;.nikmati aja nes&#8230;ada tontonan gratis juga kq..&#8221;kataku<br />
&#8220;emang kamu belum pernah pacaran kayak gitu&#8230;?&#8221; tanyaku.kulihat rona merah diwajahnya dan dengan malu malu dia menjawab<br />
&#8220;ehh&#8230;.anu&#8230;bukanya begitu pak &#8230;tapi ini kan tempat umum&#8230;&#8221;kilahnya<br />
&#8220;ya tapi kalau orang lg kasmaran apa akan sadar seperti itu&#8230;&#8221;kataku lalu ak lihat ke seberang<br />
&#8220;lihat nes&#8230;wuuiiihhh&#8230;.tambah ganas aja&#8230;&#8221;pancing ku dan seketika neza juga ikut nengok.<br />
&#8220;ihhh&#8230;.&#8221;desahnya.<br />
memang kulihat permainan udah mulai berlanjut,sicowok udah mulai gosok2 selangkangan si cewek dan masih tetep ngisep tetek ceweknya walau pun belum buka rok tapi kaki si cewek udah ngangkang dan keliatan cd nya yang berwarna pink yang terus d gosok2 ama cowok nya.kulihat neza sesekali ngelirik sesekali buang muka&#8230;<br />
&#8220;udah gak usah malu nes lihat aja nikmati&#8230;yg seharusnya malu tuh mereka bukan kita&#8230;&#8221; kataku<br />
&#8220;..ehh&#8230;tapi khan&#8230; anu&#8230;&#8221;jawabnya gugup..<br />
&#8220;kamu udah punya cowok nes&#8230;?&#8221; tanyaku<br />
&#8220;..ehh..dulu&#8230;anu.. pernah&#8230; pak..&#8221;jawabnya.<br />
&#8220;berarti pernah juga donk ..kayak apa yg meraka lakukan sekarang&#8230;?&#8221;serang ku<br />
&#8221; ihh..pak ivan ini&#8230;.buat ak malu aja&#8230;tapi khan gak d tempat umum kayak ini..&#8221;jawabnya.berarti pancinganku kena nich&#8230;ak pikir kesempatan nih mumpung lg konak berat nih.akan ku coba rayu dia dengan adegan mereka.gue udah gak berpikir jernih lg saking nafsunya melihat mereka kebetulan ada cewek di samping aku.dan pandangan kami berdua tidak lepas dari pertunjukan tersebut.<br />
&#8220;emang udah di apain aja kamu ama cowok mu dulu..?&#8221; tanyaku hati hati&#8230;<br />
&#8220;ihh&#8230;pak ivan ini&#8230;ak khan jadi malu&#8230;&#8221;kilahnya<br />
&#8220;gak &#8230;papa nes..malu ma sapa..orang disini kita cuma berdua&#8230;.jawab dong..&#8221; paksa ku<br />
&#8220;ya kalau yang kayak sedang d lakukan di sebelah sih sudah pak&#8230;hehehe..&#8221;jawabnya sambil tersipu malu.<br />
&#8221; ya udah kenapa kamu malu&#8230;pernah juga kq kayak gitu&#8230;hehehe&#8221;jawabku.<br />
&#8220;lihat&#8230; nes&#8230;.&#8221;ku ajak neza untuk melihat ke sebelah&#8230;dan&#8230;..anjriiiiittt tt&#8230;&#8230;<br />
sicewek lg dalam posisi blowjob&#8230;.sedangkan cowoknya meremas-remas susu ceweknya&#8230;duuuhhh..anjriittt. ..perasaan gue udah gak terkendali nich dan kurasakan libido ku dah naik ke ubun2.kulirik neza kurasakan nafasnya rada sedikit berbeda.lebih cepat dari biasanya dan kulihat wajah putihnya dah berubah semu merah, tandanya dia juga sudah terbawa suasana.aku pikir2 cari akal agar bisa memulai menjamah tubuh nya.nesa masih melihat kearah mereka dan dengan pura-pura mau menggaruk tubuh tanpa sengaja ku sentuh teteknya dengan ujung sikut ku.karena kami duduk berdampingan dan badannya rada condong ke arah ku makanya ujung lenganku tepat mengenai ujung cup bhnya.dan dengan kaget terjungkit&#8221; ihhh&#8230;.&#8221;keluar desahannya.<br />
&#8220;sory nes gak sengaja&#8230;ini mo garuk2 ..gatal nih lengan&#8230;&#8221;kilahku.dan dia diam aja malah sedikit tersenyum.ak pikir berarti di gak marah dan gak nolak..kesempatan nih pikir ku&#8230;<br />
karena tempat kami duduk model lesehan dengan meja kecil di depan kami dan posisi duduk neza dengan kaki d tukuk ke belakang,neza memakai rok span diatas lutut maka otomatis pahanya sedikit terbuka<br />
pelan pelan kuturunkan tangan kiri ku ke atas pahanya..dia melirik ketangan ak dan kemudian memandang wajahku tapi saat itu arah pandangan ku tertuju k seberang seolah olah gak sadar aja&#8230;ternyata dia gak komentar..lampu hijau nih&#8230;pelan ku usap2 dengan lembut pahanya. ak dah gak punya pikiran jernih apalagi ingat pacar bagiku saat itu yg penting ada pelampiasan libido ku&#8230;<br />
nekad aku geser posisi tangan ku lebih ke tengah diantara kedua belah pahanya sambil terus aku usap2..dan tangan kanan ku mencoba untuk memegang tangannya yang d atas meja&#8230;..kugenggam dan sedikit kuremas&#8230;.dan kurasakan gemetaran tanganya&#8230;pelan pelan ku bimbing tangan kanan nya turun dari meja dan aku taruh di atas pangkal pahaku&#8230;dengan sedikit kaget dia tersipu mungkin tangan nya kaget menyentuh rudal ku yang udah mengeras dari tadi kejepit celana..tapi aku tidak melihat perlawanan dan penolakan dari dia&#8230;..<br />
&#8220;nes ..boleh ak cium kamu sayang&#8230;&#8221;rayuku.kulihat ekspresinya dan dari sorot matanya gak ada penolakan dan dia diam aja&#8221;boleh gak sayang&#8230;.? pls..&#8221;pintaku<br />
&#8220;ahhh..aku malu..pak&#8230;&#8221;jawabnya..ahh peduli setann udah konak banget&#8230;..kudekatkan bibir ku dan pelan2 kulumat bibir tipis nya.kurasakan deru nafas nya&#8230;.dan gak ada penolakan..kulumat terus bibirnya dan tangan kiri ku terus mengelus elus pahanya sementara tangan kanan ku meremas remas buah dadanya sambil tetap melihat kearah seberang ..dan ternyata kulihat cowok nya tengah menjilati memek pacarnya&#8230;..dan cewek terus sibuk dengan blowjobnya dengan gaya 69 posisi miring.melihat itu ak makin nafsu aja perlahan tangan kiri ku ak sorong lebih masuk kedalam roknya neza dan dia sedikit membuka pahanya memberi kemudahan tangan ak untuk masuk lebih dalam&#8230;dan tangan kanan ak pelan2 menyelusup masuk kedalam kaosnya dan lansung mengarah kedalam isi bhnya.kuremas buah dadanya dengan lembut kucari putingnya dan ak pilin2 lembut.kurasakan dia mulai lebih berani karena kurasakan tangan nya yang ada di atas pangkal paha ku mulai meremas penis ku dengan lembut.ak yakin dia udah naik juga nafsunya.ternya bener dugaan ku ketika tangan kiri ku sampi di pangkal paha nya kerasakan kebasahan d cd nya.sesekali ak melirik kearah anak2 sma itu&#8230;.dan mereka tengah berganti posisi sicewek tengah menduduki si cowok dengan saling berhadapan, sementara sicowok duduk bersandar pada pagar gazebo kemudian kulihat si cewek tengah berusaha memasukan penis pacarnya kedalam memeknya..dan pelan2 menurunkan pantatnya&#8230;.dan mulai menggoyang naik turun &#8230;.anjriiittt&#8230;ngentot juga tuh anak&#8230;.sementara si cowok sibut menjilat dan meremas remas punting ceweknya&#8230;<br />
ak dah gk peduli dengan urusan meraka yang penting sekarang gimana cari akal agar ak bisa ngentot juga ama neza&#8230;<br />
kunaikan frekuensi pettingnya ..ku elus2 pangkal pahanya dan perlahan kuturunkan ciumanku ke arah telinga&#8230;terus keleher&#8230;ku angkat kaos neza sampai sebatas leher dan kutarik bhnya keatas&#8230;.ajjeeeebbb&#8230;ternyat a susu nya begitu putih ,kencang ranum dan mengacung dengan indahnya tapi gak terlalu besar kira2 ukuran 34 tapi yang bikin ak tambah nafsu putingnya itu masih kecil dan pink warnanya tandanya belum terlalu sering di isep ama pacarnya.tampa buang waktu mulutku ku arahkan ke putingnya dan dengan lembut aku jilat dan isap2..terdengar desahan2 kecil dari mulut nya&#8230;<br />
ssshh&#8230;uhhh.. dan kurasakan kocokan di penisku makin kenceng.<br />
pelan2 ak angkat dia untuk duduk d pangkuanku&#8230;dan dia paham kemudian kubuka resleting celana dan kekeluarkan penis ku dari celana yg dari tadi menjepitnya.. &#8221; ma&#8217;af pak neza belum pernah ngelakuin yang begitu&#8230;&#8221;katanya&#8230;<br />
&#8220;emang kamu masih perawan ya..?&#8221;tanyaku<br />
&#8220;i..i.iya&#8230;pap..pak&#8230;dul u ama pacar cuma pegang2 aja gak..sampai di masukin segala pak&#8230;&#8221;katanya &#8230;ahhh&#8230;.pikirku&#8230;beruntung betul ak , dapet perawan neza nich&#8230;.<br />
&#8221; gak papa nes&#8230;ak tanggungjawab kalau ada apa apanya&#8230;&#8221;ku yakinkan dia&#8230;.<br />
&#8220;tap..ta..tapi pak&#8230;ak&#8230;akk..takut..&#8221;memela s dia. tapi ak pikir dah kepala tanggung nih &#8230;masa gak tuntas gini ..<br />
&#8220;tenang aja nes &#8230;masa kamu gak percaya ama ak sih&#8230;&#8221;kurayu dia..<br />
&#8220;mau ya nes?&#8230;pls..ak udah gk tahan lg nih&#8230;pls&#8230;&#8221; kataku..<br />
&#8220;demi pak ivan&#8230;aku rela.. ..&#8221; katanya&#8230;wauuuhhhh jadi nih&#8230;<br />
&#8221; makasih nes&#8221;kataku. ku bimbing dia untuk berdiri sebentar sambil aku cium bibir pelan aku porotin celana dalam nya tanpa ak lepas roknya&#8230;karena situasinya gak memungkinkan untuk bugilin dia&#8230;<br />
lalu aku dudukan lagi di pangkuanku sambil saling berhadapan.pelan ku gosok2 penis ak ke selangkangan nya agar sedikit licin&#8230;sshhh uuuhh&#8230;.dia mulai mendesis desis&#8230;kucari lobang memeknya dan ketika udah pas posisi penisku di vagina nya ..perlahan kuturunkan badannya&#8230;<br />
terasa kepala penis ku udah masuk sebatas kepala&#8230;.dan terasa ada sesuatu yg menghambatnya &#8230;.uhhhh memang betul ..dia masih perawan&#8230;<br />
&#8220;uhhh..sssshhhhh&#8230;.sakkkitttt ttttttttt&#8230;.paakkk&#8230;pelaaann n pelaann pak&#8230;ssshhh&#8230;<br />
sedikit demi sedikit aku naik turunkan badannya biar ada tekanan &#8230;perlahan penis ku sedikit demi sedikit masuk&#8221;&#8230;.uuhhh,&#8230;.shhhsss&#8230; sssaaakkiiitt pakk&#8230;&#8221;rintihnya&#8230;<br />
&#8220;sebentar lg juga ilang sakitnya&#8230;.&#8221; kataku&#8230;..ku percepat ritme goyangannya dan&#8230;..blesssssssssssssssss.. .<br />
akhirnya masuk sudah semua penis ku&#8230;.<br />
&#8220;argghhhhh&#8230;.sshhhhh&#8230;.saaak kkiitttt&#8230;.&#8221;jeritnya&#8230;sambil rintihnya&#8230;..<br />
takut kedengeran orang ku sumpal mulut nya dengan ciuman&#8230;.kudiamkan sejenak agar otot otot memeknya bisa menerima penis ak yg telah masuk&#8230;.dan tak terbayangkan nikmatnya ketika jepitan memeknya meremas penis ku&#8230;.terasa berdenyut denyut menghisap penisku&#8230;uuuhhhh&#8230;ssshhh sungguh nikmat rasanya&#8230;dia memeluk ku dengan erat seolah-olah enggan untuk melepaskan&#8230;sedikit demi sedikit ak angkat pinggulnya naik turun secara perlahan..<br />
&#8220;masih sakit sayang..? &#8221; tanyaku.<br />
&#8220;perih&#8230;se..sedi&#8230;kit&#8230;.pak ..&#8221;jawabnya terbata-bata<br />
&#8220;tapi enak khan&#8230;?&#8221; tanya ku kemudian.<br />
&#8220;sssshhhh&#8230;..uuuuhhhh&#8230;he&#8217;eh &#8230;pak&#8230;.sshhh ahhh&#8230;.&#8221; jawabnya sambil merintih kenikmatan.kupercepat goyang pinggulnya naik turun dan kucium dengan mesra bibirnya yang ramun&#8230;.dan permainan lidahku pada rongga mulutnya menambah dia semakin agresif dan tak malu malu lagi berinisiatif untuk goayng naik turun sendiri, jadi ak mempunyai kesempatan untuk meremas-remas teteknya yang ranum itu dengan lembut dan sesekali ku pilin pilin putingnya yang mengeras..<br />
setelah 10 menit ak rasakan gerakan nya semakin liar aku yakin dia udah mau orgasme dan aku rasakan jepitan memek nya semakin kencang dan berdenyut denyut..karena aku juga udah konak banget dan melihat situasi yg gak memungkinkan untuk ngentot lama-lama takut ketahuan orang maka aku juga mempercepat sodokan penis ak ke memeknya &#8230;aku sudah merasakan urat syarafku mulai menegang dan dia juga sama kayaknya karena kedutan nya di sekitar memek nya tambah kencang yang membuktikan sebentar lg udah mau orgasme.<br />
sshhhh uuuhhh&#8230;ahhhh&#8230;dan pelukan nya erat banget sampe rambut aku di jambaknya dan punggung ku kena cakar kukunya maka aku segera kupacu dengan cepat&#8230;dana khirnya&#8230;.<br />
&#8221; ssshhhh aakk&#8230;akkkk&#8230;keluaaarrrr&#8230;p aakkk&#8230;.ssshhh uuhhhh ahhhh&#8230;&#8221;jeritnya<br />
&#8220;akk..aku juga&#8230;.sa&#8230;sayang&#8230;uuuhhh ssshhhh&#8221;&#8230;<br />
ssshhhhhhhhh ahhhhh,&#8230;.crot&#8230;croot&#8230;.cro otttt&#8230;ku tumpah kan mani ku di memek nya dengan kenikmatan yang tiada tara serasa melayang kelangit untuk beberapa saat dan berangsur angsur kami mulai merasa lemas dan kecapaian ak bersandar ke pagar gazebo sementara dia bersandar pada badanku &#8230;.kembali ak cium dia dengan lembut sebagai tanda terima kasih atas kenikmatan dan pengorbanan nya yang telah menyerahkan keperawanan nya pada ku.kulihat ada bulir bulir air mata menitik dari kelopak matanya..<br />
&#8220;ma&#8217;afkan ak sayang&#8230;..yang telah menodai kamu&#8230;.dan tidak bisa menahan diri&#8230;.&#8221;kataku dan kulihat dia masih menangis sambil tetap memeluk ku.<br />
&#8220;ak akan bertanggung jawab sayang&#8230;.jangan kwuatir&#8230;nez&#8230;.&#8221;kataku sambil kukecup bibir dan keningnya&#8230;.perlahan ak angkat dia untuk berdiri takut ketahuan orang dan kuseka memek nya yg belepotan cairan mani ak dan percikan darah perawan dia dengan tisu dan ak pakaikan lg celana dalamnya ak sendiri ku bersihkan penis ku dengan sisa tisu dan segera kunaikan resleuting celana ku.<br />
kemudian dia ku ajak untuk duduk lg sambil ak peluk dengan mesra.kulihat anak smu itu kayaknya juga udah selesai karena mereka sedang menikmati santapan nya sambil tersenyum penuh kebahagian.<br />
&#8220;pak &#8230;ak takut &#8230;hamil&#8230;&#8221;katanya sambil terisak<br />
&#8220;mulai sekarang kamu gak usah lg panggil ak bapak&#8230;.tapi mas aja&#8230;karena mulai sekarang kamu adalah kekasih aku dan kalau kamu hamil ak akan menikahi kamu..&#8221;jawabku meyakinkan sambil menatap matanya sebagai tanda kesungguhan ku.<br />
&#8221; ohhh&#8230;terima kasih pak..eh..mas&#8230;. &#8220;ucap nya di sertai pelukan mesra dan kecupan di pipi ku.<br />
&#8220;pak..ehh..mas ifan&#8230;.ak ijin dulu ke dapur takut ada yg curiga aku kelamaan disini&#8230;.nanti temen2 berprasangka yg gak2 ama aku pak&#8230;&#8221; pintanya rada jengah.<br />
&#8220;ya udah gak papa tapi jangan kelamaan ya sayang&#8230;&#8221;kataku mesra<br />
&#8221; iya mas&#8230;.&#8221;katanya sembari membersihkan bekas tisu yang berserakan dan merapikan meja.kemudian melangkah menuju arah dapur.kutatap setiap langkahnya disaat meninggalkan aku dan kulihat jalannya sedikit berbeda kayak merasakan sakit di sekitar selangkangan nya tapi tidak begitu kelihatan.<br />
kulihat jam udah menunjukan pukul 2.10 dan belum ada tanda2 ada orang yg datang mencari ak. sompret bener nih orang aku pikir. dia yg maksa malah telat sendiri jangan2 emang gak jadi datang pikir ku.<br />
ketika aku tengah bersiap siap untuk pulang karena aku pikir orang ini hanya ngibulin ak aja, kulihat ada dua anak smp yang tengah menuju ketempat aku dengan tengok sana sini.<br />
aku sih cuek aja kupikir mana mungkin ini orang yang ak tunggu lagian aku dah gak peduli lg.cuma masalah salah sambung aja ak pikir gak penting amat lagian emosi ak dah dapet pelampiasan nya lewat penyaluran libido ku sama neza. jadi udah gak selera untuk marah marah lg.<br />
tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkan aku dari belakang&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8221; permisi mas &#8230;.numpang tanya tadi ada orang di sekitar sini sebelum mas nempatin gazebo ini..?&#8221; tanya anak smp Itu.aku sedikit kaget tiba-tiba ada orang di samping ku.<br />
&#8220;mana ak tahu dik&#8230;perasaan ak dari tadi disini gak ada orang selain ak ama anak sma d seberang itu .. emang ada apa dik ..?&#8221;tanyaku.<br />
&#8221; anu mas&#8230;.tadi aku ada janji ama orang,..katanya dia nunggu di gazebo paling ujung katanya&#8230;.&#8221;jawabnya. astaga&#8230;&#8230;jadi ini orang yang tadi marah marah ama ak ternyata hanya anak kecil ini pikir ku seolah gak percaya&#8230;&#8230;<br />
&#8220;lah emang situ cari sapa dik..?&#8221;selidik ku.<br />
&#8220;gak tau namanya mas&#8230;&#8230;. tadi katanya dia nunggu disini.. ..mas&#8221;katanya. kaget aku di buatnya ternyata benar ini anak yang aku tunggu.untuk lebih meyakinkan aku tanya<br />
&#8220;lah situ siapa namanya dik&#8230;?&#8221;<br />
&#8221; saya lyna dan ini temen ak namanya rasti..&#8221;jawabnya. deg&#8230;.ternyata benar ini anak yg aku tunggu.seketika hilang emosi ku yang tadi nya meledak ledak ingin ak damprat tenyata hanya seorang anak smp.<br />
&#8221; ohhh jadi kamu tohhh&#8230;.yang namanya lyna&#8230;.&#8221; jawabku.<br />
&#8221; jadi mas&#8230; ini&#8230;.ohhh&#8230;.maafin aku mas&#8230;.aku betul-betul minta maaf atas kekasaran aku tadi mas&#8230;&#8221;jawabnya gugup dan kulihat sedikit akan menangis. gak tega juga akhirnya aku di buatnya.masa mau ngomelin anak anak.ya sudah lah kasihan juga dia, lagian dia udah minta maaf pikir ku.<br />
&#8220;udah gak papa&#8230;..ayo masuk dulu&#8230;.dan silahkan duduk&#8230;.masa dari tadi berdiri aja&#8230;.&#8221;ajakku sedikit kasihan ama anak2 itu.<br />
&#8221;makasih mas&#8230;.sebelum nya saya minta maaf udah ganggu kesibukan mas&#8230;.gara-gara kesalahan lyna&#8230;&#8221; pintanya sambil menjabat tangan aku dan mencium tangan aku sambil menitikan air mata mengiba. ak jadi bingung harus gimana nih&#8230;.ak gak biasa menghadapi anak kecil gini.<br />
&#8220;oh iya kenalkan nama ku ifan&#8230;&#8221;kataku sambil mengulurkan tangan yang dsambut oleh lyna dan kemudian rasti.dan kulihat meraka masih sedikit canggung mengadapi ak mungkin juga meraka sama sekali tidak menyangka bahwa akan begini kejadiannya.<br />
&#8221;udah gak papa&#8230;.udah aku maafin kq dari tadi&#8230;.tapi gimana sih ceritanya kamu sampai emosi gitu lyn..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;ohh&#8230;gini ceritanya mas ifan&#8230;.waktu hari minggu ak ama rasti jalan jalan ke tempat wisata dan kebetulan ak ketemu ama cowok satu kelas aku namanya reza kemudian ak ngobrol2 ama dia gak lama kemudian datang si chandra dan melihat kami tengah ngobrol2&#8230;mungkin karena ngiri melihat kami,dia cerita yg gak gak ama temen temen semua yang katanya aku lg mesraan ama reza temen aku tadi, padahal aku hanya ngobrol2 aja ..ini saksi nya rasti&#8230;.dan ketika tadi aku masuk sekolah aku di gosipin pacaran ama reza&#8230;.aku kan jadi malu banget mas&#8230;dan aku yakin yang nyebarin gosip itu pasti chandra karena gak ada orang lain lagi selain dia yang ketemu d tempat wisata itu &#8230;iya khan res&#8230;?&#8221;jawabanya sambil minta dukungan rasti. kulihat rasti mengangguk angguk tanda setuju.ohhh jadi hanya masalah sepele gitu aja, dasar anak anak masalah gitu aja kq kayak mau pecah perang dunia ke 3 aja pikirku.<br />
&#8221; ohhh gitu to ceritanya&#8230;.ya udah gak usah dipikir yg penting kenyataan nya kan gak sesui apa yg di gosipin ama chandra&#8230;.lagian kalau kamu ribut ribut gitu malah temen2 kamu mesti malah yakin ama ceritanya chandra &#8230;.mending cuek aja&#8230;.seolah gak ada apa-apa&#8230;..entar juga reda sendiri&#8230;..atau jangan2 chandra naksir kamu ya&#8230;lyn&#8230;? hehehe&#8230;.&#8221; seolah ak memberi saran sambil ak godain si lyna.dan kulihat rasti senyum senyum aja mendengar omongan ak tadi&#8230;.<br />
&#8220;bener emang gitu ya ras&#8230;?&#8221;tangaku ama rasti<br />
&#8220;emang gitu mas&#8230;hehehe&#8230;&#8221;jawab rasti sambil ketawa..dasar anak-anak..pikirku.<br />
sementara lyna dengan sigap mencubit paha rasti dengan keras.<br />
&#8221; aoouuwww&#8230;.&#8221;jerit rasti kesakitan sambil meringis.<br />
&#8220;rasti ini bikin malu ak aja&#8230;..&#8221;umpat lyna sambil cemberut.<br />
&#8220;hahahaha&#8230;&#8230;hahaha&#8230;.. &#8220;aku malah ketawa melihat tingkah laku lyna ama rasti.<br />
&#8221; hahaha&#8230;.udah..udah gak usah pada ribut&#8230;.hahahaa&#8230;..&#8221;aku masih ketawa<br />
&#8220;hey..kalian kan baru pulang sekolah&#8230;pasti pada belum makan&#8230;.lapar gak ?&#8230;.biar mas ifan pesenin makan dulu ya..?&#8221; kataku<br />
&#8221; gak usah mas &#8230;makasih aja &#8230;.kami gak laper kq&#8230;&#8221;jawab lyna<br />
&#8220;alaaa&#8230;udah gak usah sungkan2 ak tau kq kalian mesti udah lapar&#8230;.sebentar ya&#8230;&#8221;jawabku.kemudian aku ambil hp dan hub pemilik cafe kalau aku pesan menu untuk dua orang lg plus minumnya.<br />
&#8220;duhh&#8230;jadi gak enak nih mas&#8230;ngerepotin aja mas&#8230;.&#8221;jawab lyna basa basi.<br />
&#8220;udah nyantai aja&#8230;&#8221;jawabku.<br />
&#8221; oh iya mas kalau boleh tau &#8230;mas ifan rumah nya di mana..?&#8221; tanya lyna.<br />
&#8221; aku tinggal di perum xxx kota X&#8230;&#8221;jawabku.<br />
&#8221; ohhh&#8230;jadi kota sebelah ya mas&#8230;? &#8220;jawabnya.<br />
&#8220;aduh tambah gak enak nih mas&#8230;.udah bikin masalah ama mas ifan, jauh jauh kesini hanya ngurusin masalah yg gak penting aja..&#8221;kata lyna gak enak hati.<br />
&#8220;gak papa kq &#8230;kita ambil hikmahnya aja&#8230;..lagian aku juga seneng ketemu ama kalian berdua&#8230;buat nambah temen..&#8221;kataku.<br />
gak berapa lama pesana datang tapi kq bukan neza yg ngantarin,lalu kutanya ama pelayan itu kemana neza, katanya tadi di suruh bos pergi ke pasar untuk belanja.duhhh kasihan dia baru ak perawanin malah udah disuruh belanja ama bosnya.<br />
&#8220;ayo dimakan lyn , ras&#8230;&#8230;mumpung masih hangat&#8230;&#8221;kataku mempersilahkan.<br />
&#8220;lohhh mas ifan sendiri kq gk makan ..?&#8221; katanya<br />
&#8221; aku tadi udah makan duluan &#8230;abis nunggu kamu kelamaan&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;iya mas &#8230;makasih ya mas..udah traktir kami berdua..&#8221;katanya lyna sambil ambil makanan yang di ikuti ama rasti.<br />
&#8220;mas ifan kq mau-maunya nyempetin untuk datang kemari &#8230;&#8221;tanya lyna.<br />
lalu ak ceritakan dari awal mula ketika aku lg breafing karyawan dpt tlp dari lyna dan sms yag bilang ak banci yg bikin ak marah sampai niat ak untuk mendampratnya kalau ketemu.tapi setelah ketemu dia malah hilang sudah marah aku karena mereka masih kecil.jawabku.<br />
&#8220;duhhh bener2 lyna udah ganggu mas ifan nih sampai ninggalin kantor segala karena kesalahan lyna nih..sekarang apa yg lyna bisa perbuat untuk menebus kesalah itu mas..&#8221;katanya menyesal.<br />
&#8220;kan tadi mas ifan udah bilang kalau udah mas maafkan ..&#8221;kataku.dan kulihat meraka udah selesai makan dan sekarang udah jam 3 sore.takut orang tua mereka khawatir akhirnya aku ajak mereka untuk pulang dan meraka setuju aja.lalu kami bertiga menuju ruang kasir dan dan kubayar semua dan segera menghampiri mobil yang ak parkir deket ruang bos cafe itu.ketika dia melihat aku udah mau pulang dia segera menghampiri aku<br />
&#8221;udah mau pulang pak ifan&#8230;terimakasih atas kedatangannya pak ifan&#8230;lah adik2 ini siapa pak&#8230;?&#8221; tanya nya.<br />
ini keponakan2 aku mas&#8230;.&#8221;kilahku pada dia daripada curiga yg gak gak.<br />
&#8221; ohh iya &#8230; mas tolong pamitkan aku sama neza ya mas&#8230;bilang besok ak kesini lg..terimakasih mas.&#8221;kataku sambil pamit.<br />
&#8220;tentu pak nanti ak sampaikan&#8230;.sama neza..&#8221;katanya.<br />
lalu ak buka pintu mobil dan kusuruh lyna ama rasti untuk segera masuk.ada keraguan pada mereka.udah ayo cepat perintahku dan mereka segera masuk tapi di belakang semua. udahlah biarkan aja yg penting keluar dari cafe ini dulu pikir ku.setelah 500m dari cafe ak hentikan mobil dan kusuruh lyna untuk pindah kedepan. agar enak ngobrol kataku.begitu mau masuk pertigaan jalan utama lalu ku tanya rumah mereka berdua dan ternyata berbeda arah lyna kebarat sedangkan rasti ke utara berhubung rumah rasti lebih dekat maka aku putuskan untuk mengantar rasti lebih dulu.kurang lebih 4 km jarak rumah rasti dari pertigaan tadi dan karena mobil gak bisa masuk maka aku turunkan dekat gang rumah aja.kemudian ak segera melaju kerumah lyna yang ternyata cukup jauh juga. tapi mobil bisa masuk sampai kedepan rumah nya.sementara jarak rumah lyna dengan rumah tetangganya yg paling deket 50m jauhnya. karena posisi nya lebih deket dengan jalan raya sementara rumah2 disekelilinya lebih menjorok kedalam.<br />
begitu sampai lyna mempersilahkan aku untuk mampir dulu.ak segera turun dari mobil berniat untuk menemui orang tua lyna kalau2 lyna di tanya kenapa pulang terlambat.biar aku jelasin kapada ortunya sekalian supaya jelas.aku hampiri lyna yg lg ketuk ketuk pintu yg dari tadi belum di buka buka juga.<br />
&#8220;kenapa lyna&#8230;&#8221;tanya ku<br />
&#8220;gak tau nih mas &#8230;kq sepi keliatannya &#8230;&#8221;jawabnya.kulihat keseliling rumah, emang sepi&#8230;<br />
&#8220;jangan2 lg pada keluar lyn &#8230;&#8221;kataku.<br />
&#8220;bisa juga mas&#8230;.&#8221;jawabnya sambil tetep ketuk2 pintu.<br />
sekilas kulihat ada secarik kertas terselip d bawah pintu dan segera aku ambil dan kuserah kan sama lyna&#8230;tertulis sebuah pesan<br />
&#8220;lyn&#8230; ayah sama ibu lg ketempat pakde d daerah xxx , tadi mendadak dapat kabar kalau pakde sekeluarga mobilnya kecelakaan mungkin ayah ibu pulang malam bisa juga nginep jadi kamu kerumah bulik yanti aja kalau gak ajak temen kamu untuk nemenin kamu dulu lagian besok kan hari minggu..kunci rumah ayah taruh dibawah pot bunga &#8221; begitu pesan dari ayah nya.<br />
lalu lyna segera mengambil kunci yang di bawah pot tersebut dan membuka pintu rumahnya.dan mempersilahkan aku untuk masuk.<br />
&#8220;silahkan masuk mas&#8230;.sebentar aku buat minum dulu&#8230;.&#8221;katanya.lalu aku duduk sambil melihat lihat sekeliling ruangan.gak berapa lama lyna keluar sambil membawa segelas teh dan menaruh di depan aku.<br />
&#8220;silahkan di minum mas&#8230;&#8221;katanya.<br />
&#8221;ohh iya makasih lyn&#8230;&#8221;kataku.<br />
&#8220;lalu kamu mau gimana lyn..? apa mau nyusul ayah kamu apa mau ketempat bulik aja..&#8221;kataku.<br />
&#8221;lyna juga bingung nih mas&#8230;.mau ketempat pakde jauh banget kalau ketempat bulik tempat nya di desa dan jalan nya susah banget&#8230;.&#8221;katanya.kulihat kebingungan nya ak jadi ikut kasihan ama dia, aku juga ikut bingung mau gimana nih&#8230;<br />
&#8220;udah kamu tlp ayah aja, bilang kamu mau nginep di rumah rasti aja&#8230;&#8221;kataku memberi saran.lalu dia tlp ayahnya kudengar pembicaraan mereka dan ayahnya mengijinkanya karena mereka mau nginep dirumah sakit dan dia berpesan agar lampu rumah dihidupkan aja dan kunci dibawa aja karena ayah ada kunci serep nya.lyna lega rasanya dah dapat penyelesaian.<br />
&#8221;tapi mas&#8230;.apa mau mengantar aku ke tempatnya rasti..?&#8221; katanya.<br />
&#8221;lahh aku kan pulang nya lewat sana juga lyn&#8230;..&#8221;kata ku.<br />
&#8221;ohh iya ya&#8230;.hehehe&#8230;&#8221;jawabnya.<br />
&#8221; mau aku antar sekarang apa nanti&#8230;.&#8221;tanyaku<br />
&#8221;nanti aja mas&#8230;.ini juga aku belum ganti baju juga belum mandi&#8230;nyantai aja mas baru jam 3.30 &#8230;&#8221;jawabnya.lalu kami ngobrol apa aja dari masalah dia sampai urusan pacar segala.<br />
&#8221;emang kamu udah ngerti pacaran itu apa lyn&#8230;&#8221;tanya ku penuh selidik.<br />
&#8221; ya udah dong mas ..aku kan udah kelas 3&#8230;sebentar lg juga masuk smu&#8230;&#8221;jawabnya.<br />
&#8221;emang sekarang umur kamu berapa lyn..?&#8221;tanyaku..<br />
&#8221; udah 14 tahun mas&#8230;..&#8221;jawabnya pede.<br />
&#8221;jadi kalau pacaranya anak smp kayak apa coba&#8230;&#8221;pancingku&#8230;dasar anak masih polos belum tahu rahasia kali, lyna nyerocos aja nyeritain cara berpacaranya dia&#8230;<br />
&#8221;kamu pernah di apain aja ama pacar kamu&#8230;&#8221; tanya ku menggoda&#8230;<br />
&#8220;rahasia dong&#8230;&#8221;katanya&#8230;malu malu<br />
&#8221; alahhh gitu ya&#8230;.? masa sama mas &#8230;pakai rahasia2 segala..&#8221;pancingku.<br />
lalu dia cerita kalau pacaran sering cium cium gitu dan juga suka di grepe2 ama pacarnya tapi gak mau lebih katanya.dengar cerita dia aku rada naik juga nih &#8230;ternyata anak jaman sekarang lebih cepat dewasa atau karena pengaruh acara tv dan film2 luar kali.<br />
&#8221; emang apanya yg di cium dan di pegang2 lyn..?&#8221;tanya ku lagi.<br />
&#8221;ihh mas ifan ini kayak gak tau aja &#8230;ya..bibir lahhh&#8230;&#8221; katanya malu malu.<br />
&#8221;lalu yang di pegang2 apanya&#8230;&#8221;tanya ku penuh selidik sambil nelan ludah udah konak nih&#8230;dengar dia cerita, jadi pengen juga&#8230;<br />
&#8221;yaa&#8230;anu&#8230;gimana ya&#8230;.&#8221;jawabnya malu banget ak pojokin kaya gitu. mungkin kalau gak duduk di ruang tamu dan pintu gak kebuka udah ku &#8230;<br />
&#8221; lah kq gak d lanjutin sih,&#8230;masa sama mas ifan malu gitu&#8230;sih..&#8221;desakku.<br />
lalu dia bilang kalau sering di elus elus pahanya dan diremas remas..teteknya.. tapi dari luarnya aja, geli dan takut katanya.duuhhh&#8230;.. ini anak bikin aku nafsu juga&#8230;dari pertama aku liat dia d cafe, dia memang imut banget dengan tinggi 155 kulit putih bersih hidung mancung dan bibir tipis yang selalu basah ..membuat ak tambah nafsu aja kalau diliat ukuran dadanya belum begitu besar sih&#8230;..tapi matanya itu seksi banget&#8230;dipandang sepintas kayak artis nia ramadhani&#8230;..<br />
otak ku berpikir keras gimana nih supaya bisa ngarasain lyna..ahhh aku ada ide&#8230;<br />
&#8220;lyn kita pindah kedalam aja yuk keruang tengah ak pengen nonton acara favorit aku nih ..sekalian aku pengen membaringkan badan capek banget nih&#8230;&#8221;alasanku.<br />
&#8221; ya ayo mas&#8230;.sebentar aku tutup pintu dulu takut ada binatang masuk&#8230;&#8221;katanya&#8230;.<br />
duuuhhh sesuai rencana nih&#8230;..kayaknya bisa nih pasang perangkap&#8230;<br />
kemudian kami pindah keruang tengah dan dia menyalakan tvnya.<br />
&#8221;apa acaranya mas&#8230;.&#8221;tanya dia.<br />
&#8221; mancing mania lyn&#8230;&#8221;kataku&#8230;<br />
&#8221;ohhh&#8230;&#8230;ini ya&#8230;?&#8221; katanya setelah menemukan chanel tersebut.<br />
&#8221; mas sebentar aku ganti baju dulu ya&#8230;risih nih&#8230;bau keringat&#8230;&#8221;katanya<br />
&#8221; ya udah&#8230;sana ganti dulu&#8230;&#8221;kataku..dan kulihat dia masuk kamar persis dekat dengan tempat duduk dari sofa panjang yang deket dangan pintu tengah&#8230;.<br />
wahhh..kesempatan nihh&#8230;untuk ngintip dia ganti baju&#8230;kebetulan diatas pintu kamarnya ada celah2 lubang angin &#8230;<br />
dengan hati hati aku naik ke atas sofa untuk pijakan kaki supaya dapat melihat dengan jelas&#8230;<br />
kulihat dia tengah membuka lemari yang menghadap kearah pintu dan mengambil singlet tanpa lengan dan celana pendek, kemudian dia membungkuk untuk ambil bh dan cd yg ada di lemari bagian bawah lalu di menutup almari, ternyata ada cerminnya setinggi dia di bagian depan almari itu , perlahan dia melepas kancing baju seragam smpnya satu persatu lalu melepaskan nya kemudian dia buka ikat pinggang dan resleuting roknya yang di porotin gitu aja . duhhh&#8230;anjrittt&#8230;.ternyata body dia seksi banget, dia sekarang hanya pakai bh dan cd aja yang berwarna krem&#8230;bukan nya langsung dilepas tuh cd ma bh malah di lagi bercermin sambil megang2 teteknya kayak di angkat2 gitu&#8230;gak lama kemudian dia sedang melepas bhnya, begitu terbuka..kulihat pemandangan yg begitu menggetarkan&#8230;walaupun tetek nya belum begitu gede tapi bentuknya itu bulat kencang dan begitu putih bersih dan putingnya yg berwarna pink belum begitu menonjol paling baru seberas ujung kelingking aja&#8230;lalu perlahan dia buka cdnya &#8230;.wow..sekarang dia benar2 bugil gil tanpa penutup apapun&#8230;segera kualihkan pandangan ku kebawah pusarnya&#8230;ternyata jembut memeknya belum begitu kelihatan masih samar2..sungguh aku dibuat mabuk kepayang dengan pemandangan yg seindah ini&#8230;.dan gak aku sadari dah dari tadi kontol ku mengeras&#8230;</p>
<p>Bersambung gan &#8230;.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/berawal-dari-ngintip-hingga-dapet-perawan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Smp Diperkosa</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/anak-smp-diperkosa.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/anak-smp-diperkosa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 16:35:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[abg diperkosa]]></category>
		<category><![CDATA[abg smp]]></category>
		<category><![CDATA[memek abg]]></category>
		<category><![CDATA[smp bugil]]></category>
		<category><![CDATA[smp perawan]]></category>
		<category><![CDATA[smp telanjang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Kisah pemerkosaan yang datang dari abg smp yang dikeroyok kontol rame-rame. Bagaimana aksi ini bisa terjadi? Berikut cerita dewasa yang lebih lengkap &#8230;
Sudah dua jam lebih Upit menunggu lewatnya bus jalur 6A yang biasanya mengantarkannya pergi pulang sekolah. Ya, hanya bus rakyat itulah satu-satunya sarana transportasinya dari Godean ke SMP Negeri favorit di bilangan dekat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah pemerkosaan yang datang dari abg smp yang dikeroyok kontol rame-rame. Bagaimana aksi ini bisa terjadi? Berikut cerita dewasa yang lebih lengkap &#8230;</p>
<p>Sudah dua jam lebih Upit menunggu lewatnya bus jalur 6A yang biasanya mengantarkannya pergi pulang sekolah. Ya, hanya bus rakyat itulah satu-satunya sarana transportasinya dari Godean ke SMP Negeri favorit di bilangan dekat perguruan tinggi negeri. Tapi sejauh ini, bus itu belum nongol-nongol juga. Padahal kakinya sudah semutan terus berdiri di depan proyek bangunan berlantai tiga yang rencananya untuk restoran ayam goreng terkenal dari Amerika itu. <span id="more-84"></span>Upit yang kelas satu dan belum sebulan ini masuk sekolah barunya, melirik sekali lagi jam tangannya hadiah dari kakaknya yang kerja di Batam. Pukul lima siang lewat sepuluh menit. Inilah arloji hadiahnya jika masuk SMP favorit. Gadis 12 tahun bertubuh imut tapi tampak subur itu memang pintar dan cerdas. Tak heran jika ia mampu menembus bangku sekolah idamannya.</p>
<p>Cuaca di atas langit sana benar-benar sedang mendung. Angin bertiup kencang, sehingga membuat rambut panjang sepinggangnya yang lebat tapi agak kemerahan itu berkibar-kibar. Hembusannya yang dingin membuat gadis berkulit kuning langsat dan berwajah ayu seperti artis Paramitha Rusady itu memeluk tas barunya erat-erat untuk mengusir hawa dinginnya. Berulang kali bus-bus kota lewat, tapi jalur yang ditunggu-tunggunya tak kunjung lewat juga. Sejenak Upit menghela nafasnya sambil menebarkan pandangannya ke seluruh calon penumpang yang berjejalan senasib dengannya. Lalu menengok ke belakang, memperhatikan pagar seng bergelombang yang membatasi dengan lokasi pembangunan proyek tersebut. Tampak puluhan pekerjanya yang tengah meneruskan kegiatannya, walaupun cuaca sedang jelas hendak hujan deras. Hilir mudik kendaraan yang padat kian membuat kegelisahannya memuncak.<br />
Mendadak hujan turun dengan derasnya. Spontan saja, Upit dan tiga orang calon penumpang bus kota yang di antaranya dua pasang anak SMA dan seorang bapak-bapak secara bersamaan numpang berteduh masuk ke lokasi proyek yang pintunya memang terbuka dan di sana terdapat bangku kayu serta teduh oleh tritisan beton. Sedangkan belasan orang lainnya memilih berteduh di depan toko fotocopy yang berada di sebelah bangunan proyek itu. “Numpang berteduh ya, Pak!” pinta ijin bapak-bapak itu disahuti teriakan “iya” dari beberapa kuli bangunan yang turut pula menghentikan kerjanya lalu berteduh di dalam bangunan proyek. Tapi dalam beberapa menit saja, bapak tua itu telah berlari keluar sambil berterima kasih pada para kuli bangunan setelah melihat bus kota yang ditunggunya lewat.<br />
Tak sampai lima menit kedua anak SMA itupun mendapatkan bus mereka. Kini Upit sendirian duduk menggigil kedinginan.<br />
“Aduh..!” kaget Upit yang tersadar dari lamunannya itu tatkala sebuah bus yang ditunggunya lewat dan berlalu kencang. Tampak wajah gelisah dan menyesalnya karena melamun.<br />
“Mau pakai 6A, ya Dik?” tanya seorang kuli yang masih muda belia telah berdiri di sampingnya Upit yang tengah mondar-mandir di depan bangku.<br />
Upit sempat kaget, lalu tersenyum manis sekali.<br />
“Iya Mas. Duh, busnya malah bablas. Gimana nih?!”<br />
“Tenang saja, jalur 6A-kan sampai jam tujuh malam. Tunggu saja di sini, ya!” ujarnya sambil masuk ke dalam.<br />
Upit hanya mengangguk ramah, lalu duduk kembali di bangkunya, yang sesekali waktu dia menengok ke arah timur, kalau-kalau terlihat bus jalur 6A lewat. Setengah jam lewat. Tak ada tanda-tanda bus itu lewat. Upit melihat ke dalam gedung yang gelap itu, tampak sekitar lima puluh kuli sedang istirahat. Sebagian asyik ngobrol, lainnya merokok atau mandi di bawah siraman air hujan. Lainnya terlihat terus-menerus memperhatikan Upit. Perasaan tak enak mulai menyelimuti hatinya.<br />
Belum sempat otaknya berpikir keras untuk dapat keluar dari lokasi proyek, mendadak sepasang tangan yang kuat dan kokoh telah mendekap mulut dan memiting lehernya. Upit kaget dan berontak. Tapi tenaga kuli kasar itu sangatlah kuat, apalagi kuli lainnya mengangkat kedua kaki Upit untuk segera dibawanya masuk ke dalam bangunan proyek.<br />
“Diam anak manis! Atau kami gorok lehermu ini, hmm!” ancam kuli yang telanjang dada yang menyekapnya itu sambil menempelkan sebilah belati tajam di lehernya, sedangkan puluhan kuli lainnya tertawa-tawa senang penuh nafsu birahi memandangi kemolekan tubuh Upit yang sintal padat berisi itu. Upit hanya mengagguk-angguk diam penuh suasana takut yang mencekam. Tak berapa lama gadis cantik itu sesenggukan. Tapi apalah daya, suara hujan deras telah meredam tangis sesenggukannya. Sedangkan tawa-tawa lima puluh enam kuli usia 16 sampai yang tertua 45 tahun itu kian girang dan bergema sembari mereka menanggalkan pakaiannya masing-masing.<br />
Upit melotot melihatnya.<br />
“Jangan macam-macam kamu, ya. Hih!” ancamnya lagi sambil membanting tubuh Upit di atas hamparan tenda deklit oranye yang sengaja digelar untuk Upit. Tas sekolahnya diserobot dan dilempar ke pojok. Upit tampak menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi menyaksikan puluhan kuli itu berdiri mengelilingi dirinya membentuk formasi lingkaran yang rapat.<br />
“Tolong.. tolong ampuni saya Pak.. jangan sakiti aku.. kumohon.. toloong, ouh.. jangan sakiti aku..” pinta Upit merengek-rengek histeris sambil berlutut menyembah-nyembah mereka.<br />
Tapi puluhan kuli itu hanya tertawa ngakak sambil menuding-nuding ke arah Upit, sedangkan lainnya mulai menyocok-ngocok batang zakarnya masing-masing.<br />
“Buka semua bajumu, anak manis! Ayo buka semua dan menarilah dengan erotisnya. Ayo lakukan, cepaat!” perintah yang berbadan paling kekar dan usia sekitar 30 tahun itu yang tampaknya adalah mandornya sambil mencambuk tubuh Upit dengan ikat pinggang kulitnya.<br />
“Cter!”<br />
“Akhh.. aduh! Sakit, Pak.. akhh..!” jerit kesakitan punggungnya yang kena cambuk sabuk.<br />
Tiga kali lagi mandor itu mencabuk dada, paha dan betisnya. Sakit sungguh minta ampun. Upit menjerit-jerit sejadinya sambil meraung-raung minta ampun dan menangis keras. Tapi toh suaranya tak dapat mengalahkan suara hujan.<br />
“Cepat lakukan perintahku, anak manja! Hih!” sahut mandor sambil melecutkan sabuknya lagi ke arah dada Upit yang memang tumbuhnya belum seberapa besarnya, bisa dikatakan, buah dadanya Upit baru sebesar tutup teko poci. Upit kembali meraung-raung.<br />
“Iya.. iya Pak.. tolong, jangan dicambuki.. sakiit.. ouh.. ooh.. huk.. huuh..” ucap Upit yang telah basah wajahnya dengan air mata.<br />
Ucapannya itu disahuti oleh gelak tawa para kuli yang sudah tak sabar lagi ingin menikmati makan sore mereka.<br />
“Aduuh, udah ngaceng nih, buruan deh lepas bajunya.”<br />
“Iya, nggak tahan lagi nih, mau kumuntahkan kemananya yaa?”<br />
Perlahan Upit beranjak berdiri dengan isak tangisnya.<br />
“Sambil menari, ayo cepat.. atau kucambuk lagi?” desak mandor mengancam.<br />
Upit hanya mengangguk sambil menyadari bahwa batang-batang zakar mereka telah ereksi semua dengan kencangnya.<br />
Upit perlahan mulai menari sekenanya sambil satu persatu memreteli kancing seragam SMP-nya, sedangkan para kuli memberikan ilustrasi musik lewat mulut dan memukul-mukulkan ember atau besi. Riuh tapi berirama dangdut. Sorak-sorai mewarnai jatuhnya bajunya. Upit kian pucat. Kini gadis itu mulai melepas rok birunya. Kain itu pun jatuh ke bawah dengan sendirinya. Kini Upit tinggal hanya memakai BH dan CD serta sepatu. Sepatu dilepas. Upit lama sekali tak melepas-lepas BH dan CD-nya. Dengan galak, mandor mencabuk punggungnya.<br />
“Cter!”<br />
“Auukhh.. ouhk..!” jerit Upit melepas BH dan CD-nya dengan buru-buru.<br />
Tentu saja dia melakukannya dengan menari erotis sekenanya. Terlihat jelas bahwa Upit belum memiliki rambut kemaluan. Masih halus mulus serta rapat. Tepuk tangan riuh sekali memberikan aplaus.<br />
Sedetik kemudian, rambut Upit dijambak untuk dipaksa berlutut di depan mandor. Upit nurut saja.<br />
“Ayo dikulum, dilumat-lumat di disedoot.. kencang sekali, lakukan!” perintahnya menyodorkan batang zakarnya ke arah mulut Upit.<br />
Upit dengan sesenggukan melakukan perintahnya dengan wajah jijik.<br />
“Asyik.. terus, lebih kuat dan kencang..!” perintahnya mengajari juga untuk mengocok-ngocok batang zakar mandor.<br />
Upit dengan lahap terus menerus menyedot-nyedot batang zakarnya mandor yang sangat keasyikan. Seketika zakar itu memang kian ereksi tegangnya. Bahkan mandor menyodok-nyodokkan batang zakarnya ke dalam mulut Upit hingga gadis itu nyaris muntah-muntah karena batang zakar itu masuk sampai ke kerongkongannya.<br />
Di belakang Upit dua kuli mendekat sambil jongkok dan masing-masing meremas-remas kedua belah buah dadanya Upit sembari pula mempintir-plintir dan menarik-narik kencang puting-puting susunya itu.<br />
“Ouuhk.. hmmk.. aauuhk.. hmmk..!” menggerinjal-gerinjal mulut Upit yang masih menyedot-nyedot zakar mandor.<br />
Tak berapa lama spermanya muncrat di dalam mulut Upit.<br />
“Creeot.. cret.. croot..!”<br />
“Telan semua spermanya, bersihkan zakarku sampai tak tersisa!” perintah galak sambil menjambak rambut Upit.<br />
Gadis itu menurut pasrah. Sperma ditelannya habis sambil menjilati lepotan air mani itu di ukung zakar mandor sampai bersih.<br />
Mandor mundur. Kini Upit kembali melakukan oral seks terhadap zakar kuli kedua. Dalam sejam Upit telah menelan sperma lima puluh enam kuli! Tampak sekali Upit yang kekenyangkan sperma itu muntah-muntah sejadinya. Tapi dengan galak mandor kembali mencambuknya. Tubuh bugil Upit berguling-guling di atas deklit sambil dicambuki omandor. Kini dengan ganas, mereka mulai menusuk-nusukkan zakarnya ke dalam vagina sempit Upit. Gadis itu terlihat menjerit-jerit kesakitan saat tubuhnya digilir untuk diperkosa bergantian. Sperma-sperma berlepotan di vagina dan anusnya yang oleh sebagian mereka juga melakukan sodomi dan selebihnya membuang spermanya di sekujur tubuhnya Upit. Upit benar-benar tak tahan lagi. Tiga jam kemudian gadis itu pingsan. Dasar kuli rakus, mereka masih menggagahinya. Rata-rata memang melakukan persetubuhan itu sebanyak tiga kali. Darah mengucur deras dari vagina Upit yang malang.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/daun-muda/anak-smp-diperkosa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Hutang, Istriku Ditiduri</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/tukar-pasangan/karena-hutang-istriku-ditiduri.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/tukar-pasangan/karena-hutang-istriku-ditiduri.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 17:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tukar Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[istriku dientot]]></category>
		<category><![CDATA[istriku ditiduri orang lain]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek istriku]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Mungkin ada benarnya pepatah itu bagi orang yang tidak berdaya hidup di kota besar seperti Jakarta. Dengan skill pas-pasan aku nekat mengadu nasib ke Jakarta dengan secercah harapan bisa merubah taraf hidup menjadi lebih baik. Sejak tiga tahun terakhir aku bersama istri yang baru kunikahi meninggalkan kampungku di Sleman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Mungkin ada benarnya pepatah itu bagi orang yang tidak berdaya hidup di kota besar seperti Jakarta. Dengan skill pas-pasan aku nekat mengadu nasib ke Jakarta dengan secercah harapan bisa merubah taraf hidup menjadi lebih baik. Sejak tiga tahun terakhir aku bersama istri yang baru kunikahi meninggalkan kampungku di Sleman, Yogya.  Hingga kini kehidupan yang lebih baik itu belum juga aku memperolehnya.</p>
<p>Aku mau dan pernah melakukan pekerjaan apa saja sepanjang itu halal. Dari penjaga toko, narik ojek, tukang batu atau pekerjaan lainnya yang sesuai dengan apa yang aku bisa. Tetapi itu semua nampaknya belum menjanjikan masa depan yang lebih baik.<span id="more-80"></span></p>
<p>Kebetulan ada famili jauhku, Pakde Karto yang telah lama hidup di Jakarta dan mendapatkan kehidupan yang cukup mapan. Usahanya sebagai tengkulak tembakau untuk pabrik rokok ‘gurem’ nampaknya membuat hidupnya kecukupan. Kalau aku kesulitan uang Pakde Karto selalu menjadi tujuanku dan biasanya dia mau menolongku. Dia bilang kasihan pada istriku yang masih muda harus menderita hidup di Jakarta. Dia tidak mau mengajak aku kerja di tempatnya. Alasannya karena kurang suka mempekerjakan sanak famili. Dia bilang dirinya punya sifat gampang marah dan kasar. Khawatir sifat itu bisa menyinggung perasaan dan putus hubungan kekeluargaan. Walaupun begitu dia sangat memperhatikan kepentingan kami, khususnya kepentingan istriku. Terkadang dia belikan sesuatu, misalnya baju atau perabot dapur atau lainnya.</p>
<p>Hanya satu hal yang aku kurang sreg dengan Pakde Karto. Kalau aku minta bantuan pinjam uang dia tidak ijinkan aku ke kantornya. Dia selalu menyuruh sampaikan saja apa kebutuhanku lewat telpon, nanti dia akan datang. Dan dia memang datang. Dia berikan pinjamanku dan dia juga bawa oleh-oleh untuk Rini, istriku.</p>
<p>Selama berada di rumah kuperhatikan matanya yang selalu nampak melotot memperhatikan tubuh istriku. Beberapa kali dia bertandang ke rumahku, tak pernah sekalipun dia bawa istrinya. Aku pikir dia nggak mau kesukaan melototnya saat melihati istriku terganggu. Rasanya Pakde Karto ini bandot tua. Kadang-kadang sikapnya aku anggap keterlaluan. Seharusnya dia mengetahui dirinya sebagai panutan karena lebih tua dari aku. Tetapi dia tidak pernah menampakkan perhatiannya padaku. Kalau aku ngomong, dia menyahut ‘ya, ya, ya’ tanpa pernah lepas dari pandangan ke Rini dan sama sekali tak pernah melihat padaku. Terus terang kalau tidak terpaksa aku segan berhubungan dengan Pakde Karto ini.</p>
<p>Dari sudut fisik, Pakde Karto ini memang masih gagah. Pada umurnya yang memasuki 57 tahun, disamping wajahnya yang memang cukup ganteng, tubuhnya juga cukup terawat baik, tangannya ada sedikit berbulu. Tingginya sama dengan aku 175-an cm. Agak gendut, mungkin karena cukup makmur. Dan tampang bandotnya memang nyata banget. Aku yakin Pakde Karto suka mencicipi berbagai macam perempuan dan tidak kesulitan untuk mendapatkan ‘daun-daun muda’.</p>
<p>Akan halnya Rini, istriku, dia adalah gadis idamanku saat kami masih sama-sama satu sekolah. Aku duduk di kelas 3 dan dia kelas 1 di SMU 1. Kami langsung berpacaran sejak dia masuk ke sekolah. Aku bangga dapat dia yang hitam manis dan paling ‘macan’, begitu teman-teman menyebut ‘manis dan cantik’ untuk Riniku ini. Dengan tingginya yang 170 cm, dia termasuk gadis paling semampai di sekolah kami. Kalau ada lomba volley antar sekolah Rini selalu menjadi bintang lapangan. Bukan karena menang bertanding tetapi karena macan-nya tadi. Aku tahu banyak perjaka lain yang naksir berat padanya. Walau Rini pernah juga mendapatkan julukan ‘piala bergilir’, aku tidak merasa keberatan. Dan pada akhirnya akulah pemenangnya yang bisa menggandengnya ke pelaminan.</p>
<p>Sesudah melewati tahun pertama pernikahan, kami merasakan adanya kurang seimbang, khususnya dalam hal hubungan seksual. Secara sederhana, Rini orangnya ‘hot’ banget, sementara aku mungkin ‘cool’ banget. Aku merasa kewalahan kalau mesti menuruti kemauannya. Dia mau setiap hari berhubungan seks. Sementara aku merasa cukup 2 kali seminggu. Untuk memenuhi keinginannya Rini memberikan aku berbagai macam jamu atau obat kuat. Pertama-tama kuikuti kemauannya itu. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Bagaimanapun kapasitas normalku ya, seminggu 2 kali itu. Akhirnya solusinya adalah kompromi, aku akan selalu berusaha menaikkan kapasitasku dan dia sedikit menurunkan kapasitasnya. Hasilnya? Entahlah.</p>
<p>Walaupun belum mempunyai anak, karena kami sepakat untuk KB sampai keadaan ekonomi kami mantap, Rini tidak kekurangan kesibukkan. Dia sering menerima pesanan ‘caterring’ dari teman atau tetangga untuk hajatan-hajatan kecil di seputar rumah kami. Terkadang dia juga membuat makanan kecil untuk dititipkan ke warung-warung. Itu semua dia kerjakan dengan senang hati untuk mencari sekedar tambahan nafkah rumah tangga.</p>
<p>Dia juga suka mengeluh risih dengan sikap Pakde Karto. Tetapi dia bilang nggak mau terlampau risau dan tetap menunjukkan sikap sopan sebagai keponakan mantu.</p>
<p>Sejak beberapa bulan terakhir ini aku terseret pergaulan teman di kampung ikut main lotere buntut atau yang biasa disebut ‘togel’. Pada awalnya aku menyaksikan seorang teman menarik kemenangan sebesar 15 juta rupiah kontan. Aku langsung tergiur. Saat pertama kali aku pasang togel, Rini marah dan sangat tidak setuju. Tetapi sesudah aku berusaha menenangkannya akhirnya dia tidak lagi menentang walaupun tidak sepenuhnya menerima gagasanku. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya dari sekian nomer yang kupasang salah satunya berhasil menang. Aku berhasil menarik 1 juta rupiah. Dengan gembira uang itu kuserahkan seluruhnya kepada Rini. Ternyata istriku ini menerimanya dengan dingin. Aku tidak putus asa dengan sikapnya itu. Aku anggap itu sebagai tantanganku untuk memenangkan kesempatan berikutnya. Kini setiap hari aku selalu sibuk dengan togel. Setiap hari berusaha mencari kode-kode nomer bagus. Mungkin lewat mimpi sendiri atau mimpi tetangga, nomer mobil yang melintas atau mentafsirkan gambar-gambar kode yang kudapat dari bandar atau tanya ke dukun.Demikianlah hal tersebut berjalan beberapa waktu dan ternyata aku tak pernah lagi menarik kemenangan yang berarti.</p>
<p>Pada akhirnya aku benar-benar bangkrut. Dan tak ada jalan lain kecuali aku telpon ke Pakde Karto untuk pinjam uang. Setelah berbasa basi untuk keperluan apa uang itu dan kapan aku mengembalikannya akhirnya dia setuju untuk memberi pinjaman. Sebagaimana biasa Pakde Karto datang ke rumah. Walaupun hatiku resah karena ada satu nomer togel penting yang kuyakini akan keluar malam ini tetapi aku harus sabar sampai Pakde Karto menyerahkan uangnya ke istriku Rini. Kali ini rasanya aku nggak keberatan kalau Pakde Sastro akan melotot untuk menikmati kecantikan istriku. Silahkan, yang penting duitnya cepet turun.</p>
<p>Sesudah aku menanda tangani pernyataan hutang yang selalu telah disiapkan Pakde dan saat amplop uang diserahkan ke istriku yang untuk selanjutnya dibawa dan dia taruh di bawah bantal, aku cepat bergerilya.</p>
<p>Tanpa sempat menghitung kucomot separo dari tumpukkan uang itu. Dengan alasan akan ke warung beli rokok kutinggalkan Pakde Karto di rumah bersama Rini istriku. Aku tak sempat lagi memperhatikan wajah Pakde yang langsung hingar bingar sambil menganggukan kepalanya padaku. Yang kupikir sekarang adalah secepatnya menuju tempat bandar togel dan memasang nomer pilihan. Aku akan tunjukkan pada istriku bahwa memasang togel juga merupakan usaha yang bisa menghasilkan. Lebih dari separuh uang yang kubawa kupasangkan pada nomer pilihanku dan sebagian lainnya kupasang sebagai cadangan apabila nomer pilihan meleset. Aku yakin besok bisa mengembalikan utangku pada Pakde dan sisanya yang masih sangat besar akan kuserahkan seluruhnya pada istriku.</p>
<p>Demikianlah perputaran kehidupanku akhir-akhir ini. Nomer togel itu nggak pernah lagi kumenangkan. Rini selalu marah-marah dan semakin sinis padaku. Dan hutangku pada Pakde Karto sudah tak terhitung lagi. Pada hari-hari terakhir ini aku selalu lari menghindar kalau orang suruhannya datang mencari aku. Dan melihat wataknya Pakde Karto pasti akan terus mengejarku hingga uangnya bisa kembali.</p>
<p>Pada suatu pagi datang utusannya membawa surat. Aku tak berani menemuinya. Isteriku menerima surat itu,<br />
“Datanglah ke kantor. Jangan khawatir. Ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Saya tunggu siang ini. Pakdemu.”<br />
Ah, nampaknya kali ini Pakdeku benar-benar mau membantu keponakannya yang sudah pusing tujuh keliling. Aku berpikir dia akan suruh aku membantu pekerjaannya di kantor agar aku bisa melunasi hutangku. Sesudah aku pamit istriku tanpa ragu aku datang ke kantornya.</p>
<p>Di kantornya aku langsung diantar Satpam masuk ke ruangan Pakde. Pakde menyuruh aku duduk di sofa dan menyuruh Satpamnya yang nampak kekar berotot itu agar berdiri menunggu. Ternyata Pakde menampakkan wajahnya yang sangar. Dia melihati aku seperti seorang pemangsa melihati korbannya. Dengan pandangan matanya yang bak elang siap mencabik-cabik mangsanya Pakde berbicara dengan garang, “Begini Herman. Aku tahu kamu nggak mungkin bisa membayar hutangmu yang hingga saat ini telah mencapai lebih dari 15 juta rupiah belum termasuk hitungan bunganya. Sekarang hanya ada satu pilihan yang menyelamatkan kamu atau urusannya jadi lain,” dia mengakhiri omongannya sambil melirik ke Satpamnya.</p>
<p>Dalam keadaan yang sangat putus asa mana mungkin aku punya gagasan-gagasan untuk memecahkan masalahku. Dan tekanan Pakde Karto ini memang pantas aku terima. Aku memang sudah banyak janji tak bisa kupenuhi. Aku bangkrut dan istriku terus marah-marah. Maka secepatnya aku pasrah saja. Aku menyerahkan pada Pakde. Apapun jalan keluarnya aku akan menyetujuinya yang penting hutangku lunas. Nampak sikap Pakde melunak. Dia suruh Satpamnya meninggalkan ruangan.</p>
<p>Pakde mendekat sambil menepuk pundakku. Dia minta aku mendekatkan kupingku. Beberapa saat dia membisikkan usulnya. Sejak awal bisikkan kupingku sudah langsung panas terbakar dan aku benar-benar terpojok tanpa punya pilihan. Pakde bilang, aku bisa melunasi hutangku kalau dia boleh mengajak isterku Rini ke villanya. Kalau aku tidak setuju mesti melunasi hutangku dalam tempo 1 kali 24 jam atau urusannya jadi lain.</p>
<p>Masih ada tambahkan lagi, dia akan tidur bersama Rini selama 3 hari dan agar aku ikut juga ke villa. Pelayannya sengaja dia liburkan karena Pakde takut mereka lapor ke istrinya. Aku harus menggantikan tugas pelayan-pelayan itu untuk membersihkan kamar dan melayani kebutuhan Pakde bersama Rini istriku selama di sana.</p>
<p>Dia bilang hal itu terpaksa dia lakukan sebagai pelajaran untukku. Kini aku harus cepat pulang untuk menyampaikan hal ini kepada istriku. Besok pagi dia akan mengirim mobil untuk menjemput aku dan Rini. Kami harus berlagak sebagai suami istri yang datang dan menginap di villa itu. Pakde Karto akan datang sendirian menjelang sore hari yang akan berlagak seolah-olah sebagai tamu kami.</p>
<p>Rupanya naskah Pakde sudah dirancang secara matang. Mataku langsung berkunang-kunang mendengar bisikkan iblis itu. Aku tak ingat apa-apa lagi dan terjatuh lemas ke lantai. Saat aku sadar kulihat Satpam tadi sudah mendudukkan aku ke sofa. Aku diberinya minum. Aku masih terhenyak beberapa saat. Pakde Karto tak kulihat lagi. Dia hanya pesan pada Satpam untuk menyampaikan sebuah amplop. Saat kubuka kulihat dua puluh lembar 100 ribuan rupiah dan secarik surat, “Herman, besok mobil menjemput kamu bersama Rini, jam 7 pagi. OK?! Pakdemu.”<br />
“Bajingan..!”</p>
<p>Aku tak melihat jalan keluar. Dengan sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya, dengan susah payah aku sampaikan keinginan Pakde Karto. Istriku Rini menerima amplop Pakde Karto menengok isinya sambil mendengarkan bicaraku kata demi kata dan kemudian melihat aku dengan penuh iba. Aku tak mampu membaca perasaan dia. Dia nampak marah dan sangat kecewa padaku. Pasti sepertinya sangat dihinakan dan itu sangat menyakitkan. Aku juga langsung membayangkan Pakde akan menjamahi bagian-bagian tubuhnya yang indah dan sangat rahasia. Pakde akan melahapnya dengan kerakusan bandot tua. Dasar ibliiss..!!<br />
Selesai aku bicara Rini rubuh ke lantai. Ah, kasihan kamu Rini.. Kamu jadi korban ketidak mampuanku. Aku gagal menunjukkan tanggung jawabku selaku suamimu. Aku sebenar-benarnya adalah suami yang pengecut. Ayoo.., bangunlah. Kuraih tangannya untuk bangun dari lantai. Dengan limbung dia tertatih dan bangkit. Dia langsung lari ke kamar tidur sambil menghempaskan pintunya. Kususul tetapi ternyata pintunya terkunci. Kucoba mengetok-etoknya. Akhirnya kubiarkan. Sebaiknya kubiarkan. Biarlah dia melampiskan kemarahan dan kekecewaannya dulu. Pasti dia tidak ingin aku mendekatinya. Dan pasti, entah bagaimana, Rini saat ini sangat memandang aku dengan penuh kehinaan.</p>
<p>Aku mencoba sabar dengan menunggunya hingga sore. Sementara rasa marah, cemburu, dendam, cemburu, cemburu dan cemburu terus mengejar aku setiap aku mengingat ucapan Pakde Sastro. Tetapi aku langsung ingat masa-masa masih pacaran dulu. Aku sering memergoki Rini, yang pacarku waktu itu, nampak jalan berduaan dengan teman lelaki yang lain. Waktu itu aku selalu berpikir positip. Aku yakin dengan kesabaranku akhirnya Rini akan tetap kembali ke aku. Dan itulah yang kemudian terjadi. Dialah yang kini menjadi Rini Herman, khan?! Jadi aku sesungguhnya sudah terbiasa dengan rasa cemburu yang kali ini berkobar dalam hatiku. Aku tetap akan berpikir positip adanya Pakde Sastro bersama Rini istriku selama di villa nanti. Apalagi dengan cara ini Pakde Sastro berjanji akan menganggap lunas seluruh hutang-hutangku.</p>
<p>Dan besok, aku bersama Rini harus telah siap saat mobil Pakde datang. Dari berbagai pikiranku yang campur aduk, harapanku tetap pada Rini. Harapanku Rini bisa memahami kondisi ini. Dan Rini siap untuk melayani keinginan Pakdenya.. Ah.. aku sudah semakin pusing.<br />
Aku tak mampu lagi memikirkan tetek-bengek apa yang mungkin bisa terjadi. Lebih baik kini aku sedikt mencari hawa segar.</p>
<p>Kulihat amplop di meja. Aku ingat nomer impianku hari ini. Ah, nggak salahnya kalau aku ambil sedikit uang itu. Aku langsung bergegas ke bandar togel.</p>
<p>Cerita Rini Sang Istri</p>
<p>Masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan. Begitu lulus SMP 3 aku diterima di SMU 1 Sleman, Yogyakarta. Sebagai gadis remaja yang menginjak dewasa aku dimanjakan alamku. Alam telah bermurah memberikan aku kecantikan. Dan bak kembang yang sedang mekar, kumbang-kumbang di sekitarku setiap saat mengelilingi aku untuk siap mencicipi maduku. Dalam kelompok olah raga, dengan tinggi tubuhku yang 170 cm aku diterima sebagai anggota club volley SMU. Setiap ada kompetisi, biar kalah atau menang aku selalu menjadi bintangnya. Para jejaka antar SMU pada mengenali ‘macan’ku. Demikian mereka memberi julukan padaku yang mereka artikan sebagai manis dan cantik. Tentu saja hal itu amat membanggakan dan sekaligus membuat para siswi dan gadis-gadis cemburu dan iri. Aku bersikap ramah pada siapapun yang berusaha mendekati aku.</p>
<p>Beberapa pria memang memberikan kesenangan padaku. Aku pikir tidak salah kalau aku memberikan perhatian lebih pada mereka. Salah satunya adalah Ditto yang anak dokter itu. Dia sangat simpatik. Wajahnya yang tampan telah membuat aku kesengsem. Aku merasakan ciuman pertamaku dari Ditto ini. Duh.., rasanya selangit. Aku juga akrab dengan Usman. Dia anak yang paling cerdas di sekolahnya. Dia bercita-cita menjadi ahli pertanian dan peternakan. Kesulitan pelajaranku selalu kutanyakan kepadanya. Usmanlah yang menjadi pria pertama yang berani menjamah dan bahkan menyedoti buah dadaku. Saat itu, dia cerita tentang proses kelahiran ikan paus. Sesudah sekian bulan dalam kandungan ikan paus lahir sebagaimana binatang menyusui lainnya. Dia langsung bisa menyesuaikan lingkungannya yang di tengah samudra. Anak ikan paus langsung bisa berenang dan mencari susu induknya. Aku sangat menikmati saat dia memperagakan sebagai anak paus dan aku induknya.</p>
<p>Lain lagi dengan Pandi. Tubuhnya yang jangkung itu membuat dia menjadi banyak incaran gadis-gadis di kota kecil Sleman ini. Kuakui memang dengan jangkungnya itu dia nampak sangat menawan. Gadis-gadis suka cekikikan kalau membicarakan Pandi. Mereka berbisik mengenai penis lelaki jangkung yang dipercayai pasti panjang dan besar. Aku ingin menjadi yang pertama bisa menbuktikan bisikkan-bisikkan para gadis itu. Dan akhirnya aku percaya. Dan aku jadi blingsatan serta penasaran saat berkesempatan jalan dengan dia.</p>
<p>Saat itu dengan sepeda motornya dia mengajak aku menyaksikan Samudra Hindia dari Parangtritis yang tidak jauh dari kotaku. Sesudah menelusuri pantainya yang sangat indah kami beristirahat di tempat yang sunyi dari pengunjung kebanyakan. Sesudah melalui proses saling raba dan cium yang cukup lama, dengan tetap duduk di sepeda motornya Pandi membiarkan saat tanganku merabai tonjolan di selangkangan celananya. Aku juga tidak tahu kenapa nafas birahiku memburu. Tanganku melepasi resluiting dan menarik kebawah celananya.</p>
<p>Birahiku semakin tak tertahankan saat kulihat alur besar agak melengkung melintang dari balik celana dalamnya. Tanganku merabai, kemudian menyusup lewat tepiannya dan meraih penis itu. Woow.. gede banget. Telapak tanganku merasakan batangan sebesar pisang tanduk yang keras kenyal dan hangat. Batangan itu berdenyut-denyut menggoyahkan saraf-saraf birahiku. Kugerakkan bersama jari-jariku untuk mengelusinya. Kudengar suara yang sangat nikmat ditelingaku. Suara debur Samudra Hindia dan derai angin Parangtritis bersamaan erangan nikmat dari mulut Pandi.</p>
<p>Itulah untuk pertama kalinya aku melihat dan menyentuh dan bahkan mencicipi air mani lelaki. Saat mau muncrat kelakuan Pandi menjadi kasar. Kepalaku diraihnya untuk dipaksa mengulum penisnya. Air maninya yang kental keluar dari setiap denyutan penisnya. Karena dorongan birahiku, aku juga menjilati yang tercecer di pahanya dan juga di jok sepeda motornya. Aku nggak habis mengerti kenapa sesudah itu Pandi tak pernah lagi mengajak aku pergi.</p>
<p>Kuperhatikan teman-teman pria itu gede cemburuannya. Mereka mau monopoli aku. Aku menjadi kurang nyaman dalam kungkungan macam itu. Biasanya, kalau tidak mereka, ya aku yang meninggalkannya untuk pergi ke pria lain.</p>
<p>Akhirnya aku menikah dengan Mas Herman. Ternyata lelaki macam dialah yang bisa menerima aku dengan penuh sabar. Aku tahu Herman telah naksir berat padaku begitu aku menginjak SMU-nya. Sebagai yunior aku sering mendapatkan bantuan mengenai perpustakaan, grup olah raga atau acara antar siwa lainnya.</p>
<p>Herman memang sabar dan penuh toleransi. Bahkan saat dia melihat aku jalan berdua-an dengan anak lelaki yang lain Herman tidak merubah sikapnya padaku. Herman juga selalu jadi terminal dan tempat aku mengadu. Kekecewaanku pada pria lain kuceritakan apa adanya padanya. Dia sabar mendengarkan aku dan pada sikapku yang labil. Aku merasakan libidoku kelewat panas. Aku tidak hidup tanpa ada lelaki disampingku. Dan Hermanlah akhirnya yang selalu mengisi kekosonganku.</p>
<p>Saat kami sepakat pindah ke Jakarta aku sudah siap untuk menghadapi berbagai cobaan hidup. Aku punya bakat bertualang. Dan salah satunya sudah kubuktikan dalam hal berhubungan dengan lelaki. Aku tidak takut kesulitan di Jakarta. Aku yakin pada diriku, aku juga tidak khawatir dengan Herman yang selama ini mengetahui dan sabar menghadapi berbagai macam kesulitan.</p>
<p>Yang kurang aku setujui akhir-akhir ini adalah kesukaannya akan lotere buntut. Aku benci banget kalau lihat lelaki sibuk dengan lotere buntut atau togel itu. Di mataku mereka itu kumuh. Bayangkan saja, mandi saja rasanya tidak sempat. Mereka terjebak pada kertas-kertas kode. Sepanjang harinya hanya memikirkan ramalan-ramalan dukun atau firasat mimpi-mimpinya bahkan mereka ini sudah demikian rapuh dimana sebuah keyakinan bisa langsung buyar berkeping-keping oleh nomer plat mobil yang kebetulan melintas di depannya.</p>
<p>Itulah Herman hari ini. Dalam tempo pendek dia terlibat hutang yang besar. Pakde Karto adalah Pakde sepupunya yang kebetulan punya usaha yang cukup maju di Jakarta. Pada Pakdenya inilah Mas Herman minta pinjaman uang kalau lagi kesulitan. Pada awlnya pinjaman itu tak begitu besar dan bisa lekas dikembalikan saat ada sedikit rejekinya. Tetapi sejak bermain togel, kebutuhannya semakin tinggi dengan kemampuan pengembaliannya semakin rendah, bahkan boleh dibilang nol. Pakde sudah tidak mau memberikan pinjaman lagi. Bahkan beberapa hari terakhir ini orang suruhannya mencari-cari Mas Herman yang selalu menghindar. Terus terang aku repot banget menghadapi kenyataan ini.</p>
<p>Tadi pagi orang suruhannya kembali datang membawa surat. Aku terima dan baca. Dari nada tulisannya Pakde Karto akan memberikan jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Nggak usah kawatir, begitu katanya. Aku berpikir, mungkin Mas Herman dimintanya untuk membantu pekerjaannya agar bisa melunasi hutangnya. Aku sampaikan surat itu kepadanya. Dia minta pertimbangan aku, apa mesti menemui Pakdenya. Aku bilang itu urusan Mas Herman, terserah mau datang atau tidak. Aku memang agak ketus. Soalnya aku sudah kesal. Sejak awal aku sudah sampaikan bahwa aku tidak suka judi.</p>
<p>Akan halnya Pakde Karto, aku memahami sifatnya sebagai lelaki. Umumnya lelaki memang mata keranjang. Apalagi Pakde ini punya uang, dan tampangnya juga ‘handsome’ kata gadis-gadis jaman aku masih SMU dulu. Walaupun sudah umur, lelaki itu ibarat keladi, makin tua semakin jadi dan semakin seksi. Dan itu semua dimiliki Pakde Karto. Dan aku juga sepenuhnya menyadari bahwa Pakde nampak kesengsem padaku. Dari pandangan matanya kurasakan betapa dia pengin banget melahap tubuhku. Terus terang diam-diam aku menikmati mata keranjangnya Pakde. Tentu sikapku ini tak akan kutunjukkan pada Herman suamiku. Aku masih suka mimpi merasakan kembali bagaimana kumbang-kumbang terbang mengitari aku sebagai kembangnya. Kekaguman lelaki yang nampak matanya rakus menikmati tubuhku sungguh membuat bergetar hatiku. Mata-mata penuh nafsu yang seakan melihat aku telanjang itu benar-benar memberikan aku gairah birahi.</p>
<p>Aku memang berdarah panas. Aku selalu rindu belaian. Aku selalu merindukan sentuhan dan tusukkan erotis. Mas Herman suamiku berterus terang tidak bisa mengimbangi darah panasku. Aku sering membayangkan lelaki lain atau semacam Pakde Karto yang mampu memberikan kehangatan semacam itu. Kalau sudah begitu aku ingat kembali saat-saat bersama Ditto, Usman atau Pandi. Masih terasa banget dihidungku aroma mereka. Masih terasa banget dibibir dan lidahku di bibir, leher dan dada mereka dalam kecupan dan jilatan manisku. Masih terasa banget hangatnya cairan kental dari penis Pandi yang membasahi mulutku. Ah.., akankah hal itu akan kudapatkan lagi?</p>
<p>Memang Pakde Karto tidak lagi pantas menjadi panutan Mas Herman sebagai keponakannya. Setiap kali datang ke rumah yang semestinya urusannya sama Mas Herman, Pakde justru mengumbar matanya seakan hendak menelanku. Sering aku lihat dia hanya mengangguk-angguk saat Mas Herman menyampaikan sesuatu, sementara wajahnya melihati ke arahku.</p>
<p>Belum lama ini dia datang atas permintaan Mas Herman untuk meminjami uang, sesaat sesudah menerima uang Mas Herman yang sedang kegilaan sama togel pergi ke bandar togel untuk mengejar mimpinya dan meninggalkan aku yang hanya bersama Pakde Karto. Tentu saja Pakde langsung menggunakan kesempatan itu untuk lebih mendekati aku.</p>
<p>Dengan gaya seolah-olah orang tua yang melindungi anaknya, dia mengelusi rambutku,<br />
“Rini, kalau kamu punya masalah biar Pakde bantu ya. Kamu masih muda dan sangat ayu. Seharusnya kamu nggak perlu menderita. Kamu perlu apa? Ngomong saja nanti aku bantu ya, Cah Ayu”.<br />
Duh, gombalnyaa.. Aku merinding saat tangannya yang nampak berbulu sempat menyentuh kudukku. Kemudian dia merogoh kantongnya dan memberikan kepadaku amplop besar,<br />
“Ini buat kamu sayang. Jangan kasih Herman. Nanti buat judi lagi.”<br />
Tentu saja aku terima. Aku juga perlu uang pribadi. Aku bertemu pandang dengan Pakde,<br />
“Terima kasih,” ucapku pelan yang dia balas dengan senyuman buaya sambil tangannya menjumput daguku kemudian menariknya untuk mencium bibirku.</p>
<p>Peristiwa itu sama sekali tak kuduga dan berlangsung sangat cepat sehingga aku tak sempat menghindarinya kecuali dengan secepatnya aku menarik diri dan melepaskan dari rengkuhannya. Ah, seharusnya aku tersinggung dengan tingkahnya itu. Tetapi entahlah. Sepertinya aku tidak bisa berkutik didepan Pakde Karto ini. Pada saat seperti ini rasanya dia sangat kharismatik. Aku tunduk. Aroma parfum lelakinya semburat menerpa hidungku.<br />
Sepulang dari kantor Pakde kulihat Mas Herman sangat tegang, kasihan. Aku berjanji pada diriku, apapun aku akan bantu suamiku. Aku ingin meringankan bebannya. Dia langsung duduk bengong, linglung. Aku sodorkan segelas air putih yang langsung diminumnya habis. Dia belum juga ngomong. Diserahkannya padaku amplop yang penuh. Loh, kok dapat malahan uang, pikirku. Aku langsung membukanya. Kudapati segepok uang dan secarik kertas. Aku belum juga ngerti makna semua ini.</p>
<p>Pakde Karto akan menjemput kami besok pagi. Apa maksudnya? Mau menjemput kemana? Dengan penuh tanda tanya aku goyang-goyangkan tubuh Mas Herman. Akhirnya dengan tersendat-sendat dia bicara dan bicara. Aku mencoba menangkap kata per kata. Kemudian aku mencoba memahami rangkaian kata-kata tadi. Hingga akhirnya aku tetap tak mengerti bahwa seorang Pakde Karto akan caranya yang demikian buruk untuk bisa mendapatkan dan menikmati tubuhku. Ah, kenapa mesti begini..?!</p>
<p>Tetapi yang sesungguhnya paling menyedihkan dan langsung membuatku sangat kecewa adalah sikap Mas Herman sendiri. Dia sama sekali tidak menunjukkan kapasitasnya sebagai suami. Dia ternyata hanyalah seorang pengecut. Dia dengan begitu tega mengorbankan aku sebagai isterinya. Dengan dia menerima amplop berisi uang yang kini ditanganku berarti dia benar-benar telah menjual aku dan menjadikan aku sebagai alat untuk membayar hutang-hutangnya dengan sama sekali tidak membicarakannya padaku terlebih dahulu. Dan kini, aku harus dan harus menerima buah kepengecutan dia. Aku langsung limbung. Kulihat dinding-dinding kamar oleng dan jungkir balik. Tubuhku sangat lunglai dan aku langsung terjerembab ke lantai. Aku kini merasa sebatang kara tanpa ada seorangpun yang melindungiku. Fungsi Mas Herman sebagai suami sudah musnah karena kepengecutannya. Dia tak akan pernah mampu menyelamatkanku lagi.</p>
<p>Kurasakan tangan Mas Herman menarikku bangkit. Pelan-pelan aku bangun dari lantai dan langsung lari ke kamar tidur. Pintunya kubanting dan aku mengunci diriku. Aku rebah tergolek dan tersedu di ranjang. Ketukan pintu yang bertubi-tubi dari Mas Herman tak kudengarkan. Kini yang hadir dalam hati dan pikiranku adalah rasa marah, kecewa dan dendam. Aku marah, kecewa dan dendam kepada kehidupan ini. Kepada ketidak mampuan dan segala kelamahan yang aku alami. Kepada sikap suamiku yang bagitu mengabaikan saat aku melarangnya berjudi. Dan tetap tak habis heranku memikirkan rencana Pakde Karto itu yang jelas-jelas mengorbankan hubungannya dengan keponakannya. Ber-jam-jam aku tidak keluar dari kamar. Pikiranku terus melayang-layang memikirkan banyak hal-hal. Aku menerawang jauh ke hari depan yang begitu gelap dan mendung.</p>
<p>Aku keluar kamar menjelang malam. Tak kujumpai Mas Herman. Kulihat amplop di meja setengah terbuka. Kuambil. Ternyata isinya tinggal separuh.<br />
Edaann.., sungguh edaann.. kamu Mas.., dalam situasi begini kamu masih menyempatkan pergi untuk ke bandar togelnyaa..!! Edaann..!!<br />
Tiba-tiba aku hatiku jadi menyala berkobar.. Kalau begini jadinya, sudahlah.. terjadilah apa yang mesti terjadi. Seperti dicambuk jilatan geledek dan petir aku bangkit sebagai banteng betina yang sangat marah dan kecewa. Aku mau bebas. Aku mau merdeka. Dan, ah, aneh.., tekad itu langsung membuat marah, kecewa dan dendamku langsung pupus. Kebebasan dan kemerdekaanku membuka kesadaranku bahwa aku tak perlu tergantung siapapun. Dan yakin mampu berjalan sesuai dengan rasa bebas dan merdekaku.</p>
<p>Sikap itu langsung membatu dalam diri sanubariku. Aku akan mengambil langkahku sendiri. Kini kuyakini, akulah yang harus mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Tak ada lagi suami atau Mas Herman. Yang ada hanyalah aku yang sendirian dengan hari-hari depanku sendiri. Aku akan jalani apa yang mesti aku jalani. Aku akan jemput Pakde Sastro sesuai dengan kebebasan hatiku. Aku akan layani dan puaskan hausnya nafsu hewaniah Pakde Sastro. Aku akan mereguk kenikmatan syahwatku yang selama ini tak sepenuhnya kudapatkan. Aku akan tunjukkan pada Herman bahwa aku kini bebas se-bebas-bebasnya.</p>
<p>Cerita Pakde Karto</p>
<p>Setiap mengingat bahwa aku ini hanya jebolan SMP dari desa kecil di kecamatan Sleman, Yogyakarta, yang kalau aku turun di terminal saat pulang kampung masih memerlukan 1 jam lagi berjalan kaki dan nyeberangi kali hingga sampai ke rumahku di kaki bukit Menoreh, maka aku merasa bahwa apa yang kini aku bisa raih di Metropolitan Jakarta ini sungguh membanggakan.<br />
Dan kalau aku pulang kini, ibaratnya aku cukup dengan duduk di jok empuk sambil nginjak-injak rem serta gas mobil Panther-ku sejak start dari pintu garasi rumahku di Jakarta hingga turun di samping kandang sapi orang tuaku di desa kecil di kecamatan Sleman itu.</p>
<p>Jakarta memang memberi apa yang kuminta. Usahaku yang menyalurkan tembakau untuk pabrik-pabrik rokok kecil di Jakarta membuahkan hasil. Aku menjadi pusat omongan di desaku.<br />
Kalau kudengarkan omongan orang desa, aku kini sudah menjadi orang yang pantas menjadi contoh mereka. Nggak tahu dari mana asalnya, kalau mereka ketemu mereka memanggilku dengan ‘den Karto’. Aku nggak menampik panggilan itu. Aku anggap bahwa itu urusan mereka.</p>
<p>Yaahh.., semuanya itu karena kerja keras dan uang yang kuhasilkan. Terbukti dengan uang aku bisa meraih banyak kesenangan. Makan enak, rumah, beberapa mobil dan kesengan lainnya.<br />
Bahkan biarpun umurku sudah 57 tahun dengan uang itu aku tetap dengan gampang menggaet gadis atau janda manapun yang kumaui. Memang menurut orang-orang aku juga termasuk lelaki yang memiliki tampang dan seksualitas yang lumayan.</p>
<p>Saat ini aku lagi kesengsem sama Rini istri Herman keponakan sepupuku. Pada awalnya Herman menemuiku di kantor untuk minta bantuan keuangan padaku. Aku memberikan bantuan ala kadarnya. Aku pikir nggak baik terlalu gampang pada famili, nantinya bisa jadi repot. Saat pulangnya, karena memang masih ada hubungan famili, aku antar pulang ke rumahnya untuk melihat keadaan rumah tangganya. Saat itulah aku lihat Rini. Isteri Herman ini benar-benar cantik dan manis. Pikiranku langsung terganggu. Aku tahu, perempuan macam Rini ini akan sangat galak dan panas saat di ranjang. Dengan warna kulit yang coklat hitam manis, dengan postur jangkung dan bahunya yang bidang indah itu, aku pastikan Herman kewalahan menghadapi birahinya Rini. Lihat, betisnya itu. Betis yang ‘merit’ bak padi Cianjur yang matang dan padat sebelum dituai. Itu menandai bahwa nafsu perempuan ini tak mudah terpuaskan.</p>
<p>Aku langsung kasmaran. Dalam hatiku aku langsung bertekad. Rin, kamu pasti akan tidur bersamaku. Aku akan meraihmu, lambat atau cepat. Sejak saat itu aku selalu menunggu kesempatan. Aku tak pernah menolak permintaan pinjaman uang Herman, karena memang aku selalu gunakan kesempatan itu untuk melihat Rini.</p>
<p>Suatu saat bisnisku mendapatkan kesulitan keuangan. Tagihan-tagihanku agak tersendat karena para langgananku mengulur waktu pembayarannya. Sementara para pemasokku yang dari berbagai daerah gencar banget menagih aku. Bahkan salah satu dari mereka mengancam aku secara fisik hingga aku khawatir akan keselamatanku maupun keluargaku. Aku menghadapi krisis berat, krisisnya bisnis di tengah metropolitan yang kejam. Aku kewalahan. Aku coba tengok-tengok kembali dimana uang-uangku. Dimana tunggakan-tunggakan macet.</p>
<p>Dan kudapatkan dari sekian penunggak hutang salah satunya adalah Herman. Ternyata pinjaman Herman padaku sudah kelewat besar dan telah jauh melewati batas waktu pembayaran. Ah, ini tak boleh kubiarkan. Aku tahu bahwa tak akan gampang bagi Herman melunasi hutang-hutang ini. Tetapi aku harus menagihnya. Bukankah terakhir ini dia suka pasang lotere buntut. Siapa tahu dia dapat pukulan telak yang bisa langsung melunasi seluruh hutangnya. Dan kalau toh tak bisa juga?<br />
Bukankah ada Rini istrinya yang sangat seksi itu? Aku pikir biarlah hutang itu kuanggap lunas kalau aku bisa meniduri Rini barang 2 atau 3 hari saja. Kini kuperintah orangku untuk mendatangi Herman dan mengajukan surat tagihannya.</p>
<p>Setelah beberapa kali mencari-cari orangku tak berhasil menemui Herman aku mulai kesal. Masak bantuan dan kebaikanku padanya selama ini tidak dihargai. Setidak-tidaknya ada omongan atau janji kapan, begitu loh. Aku tersinggung dan marah. Herman ini mesti dikasih pelajaran. Dia harus tahu bagaimana aku Pakdenya menyelesaikan masalah-masalahnya. Aku harus cari siasat. Aku coba pikirkan dan analisa.</p>
<p>Kesimpulanku akhirnya, bahwa Herman tak akan mampu membayar hutangnya. Kuhitung telah lebih dari 15 juta rupiah, belum termasuk bunganya. Itu jumlah yang besar buatku kini. Aku tak mau rugi. Aku tak mau hasil jerih payahku begitu saja diambil Herman yang memang dasarnya pemalas itu. Aku harus mendapatkannya kembali uang itu. Kalau nggak bisa juga, aku harus dapatkan pengganti yang kira-kira nilainya sepadan. Rini, istrinya!</p>
<p>Kini Herman tinggal pilih, bayar hutang dengan uang atau Rini. Aku bergegas ke mejaku. Kutulis surat untuknya. Kuperintahkan orangku kembali mengantarkannya dengan pesan, kalau tak ketemu Herman, serahkan saja ke isterinya, suruh dia baca untuk disampaikan ke suaminya. Aku bersiasat dengan memberikan nada harapan pada surat itu. Aku minta datang ke kantor siang hari itu. Aku bilang jangan khawatir, ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan, tulisku.</p>
<p>Nah, akhirnya datang juga si pecundang ini. Dengan diantar Satpam dia masuk keruangan kerjaku. Aku menampakkan wajah sangarku. Kuperintah Satpamku agar menunggu dan mendengarkan bicaraku. Nampak wajah lelahnya. Aku bicara garang tentang hutangnya yang sama sekali belum dibayar. Aku berikan padanya kesempatan untuk mendengar bicaraku atau urusannya jadi lain. Nada bicaraku kubuat sangat menekan dia. Dan ternyata Herman langsung menyerah. Dia bilang terserah bagaimana aku. Yang penting dia ingin lekas terbebas dari hutang-hutangnya yang menumpuk itu.</p>
<p>Aku langsung bayangkan bahu bidangnya Rini. Juga betisnya yang bak beras Cianjur yang matang itu. Kutolehkan kepalaku ke Satpam. Kusuruh dia keluar ruangan. Kemudian aku mendekat ke Herman, kupegang bahunya dan kudekatkan bibirku ke telinganya, aku berbisik. Kuucapkan apa mauku. Aku mau mengajak Rini ke villaku selama 3 hari dan aku mau juga dia ikut untuk menggantikan tugas pelayanku yang kusuruh pulang selama aku bersama Rini di sana. Hal ini aku lakukan agar pelayanku itu tidak melihat apa yang kuperbuat dan lapor pada istriku. Kutekankan pula bahwa semua ini karena ulahnya yang tidak bertanggung jawab. Dia harus menerima pelajaran dariku.</p>
<p>Aku belum selesai bicara saat kulihat Herman nampak limbung dengan cahaya matanya yang layu. Dia rebah lemas ke lantai. Aku panggil kembali Satpamku untuk mengurusinya. Kuserahkan amplop berisi 20 lembar ratusan ribu rupiah berikut sedikit catatanku agar Rini bersama dia telah siap aku jemput besok jam 7 pagi. Aku percayakan pelaksanaan selanjutnya pada Satpamku, aku tinggalkan ruangan. Aku monitor sorenya. Tidak ada reaksi penolakkan dari Herman. Yaa.., dia nggak mungkin punya lain pilihan. Dan mengenai Rini. Aku yakin Rini tak akan menolakku. Aku masih ingat beberapa hari yang lalu saat aku mencuri ciuman dibibirnya, dia tidak menunjukkan kemarahan. Ah.. besok aku akan menikmati tubuh sensualnya. Aku menggigil menahan gelora birahiku yang langsung menyala.</p>
<p>Tiga hari di Villa Rimbun Ciawi</p>
<p>Pada suatu pagi hari, sekitar jam 7 pagi sebuah sedan Honda Civic keluaran terbaru dengan remnya yang berdernyit berhenti di depan rumah keluarga Herman. Seorang sopir yang amat sopan nampak turun, masuk kehalaman dan memberikan salam hormat kepada nyonya rumah yang rupanya sudah nampak tak sabar menunggunya. Tidak terlalu lama sang sopir menunggu, tuan dan nyonya rumah mengambil koper atau cangkingan lainnya yang telah disiapkan sebelumnya. Sesudah semua barang bawaan masuk ke begasi, Herman sang tuan dan Rini sang nyonya memasuki mobil. Ada sedikit insiden kecil. Rini mau Herman duduk di depan bersama sopir dan dia sendirian di belakang. Semula Herman menolak, dia ingat pesan Pakdenya mereka harus nampak sebagai suami istri yang akan memakai villanya.</p>
<p>Tetapi melihat kukuhnya Rini akhirnya Herman mengalah. Sepanjang hampir 1 jam perjalanan keduanya tidak banyak bicara. Hanya sesekali terdengar Herman ngomong sama sopir mengenai apa yang nampak sepanjang perjalanan. Adapun Rini kelihatannya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia yang telah memutuskan dirinya sebagai pengambil keputusan bagi dirinya sendiri kini nampak tegar dan yakin akan keputusannya sebagai orang yang bebas dan merdeka untuk menentukan apapun yang terbaik bagi dirinya.<br />
Walaupun saat ini dia masih dikuasai rasa muak dan telah kehilangan selera sama sekali untuk berbicara atau melihati tingkah suaminya itu, dia tetap berusaha untuk menghilangkan berbagai rasa kecewa dan dendam kepada siapapun teristimewa kepada Herman. Yang dia inginkan sekarang adalah menunjukkan kepada Herman bahwa dia berbuat apapun yang bisa dia perbuat sesuai keinginan hatinya.</p>
<p>Herman yang tadi malam baru pulang jam 11 malam untuk menunggu keluarnya nomer togel tidak memahami apa yang tengah berkecamuk pada diri istrinya Rini. Yang dia simpulkan hanya bahwa Rini ternyata mau menerima apa yang menjadi keputusan Pakde Karto. Dan itu artinya dia telah sukses dalam menjalankan misinya demi terbebasnya beban hutangnya pada Pakde Karto. Dia sudah tidak lagi dikuasai rasa cemburu atau rasa tertekan yang lain. Memang Herman termasuk lelaki yang paling mudah menyerah. Dengan sikapnya yang sabar dan selalu mau berpikir positip dia dengan cepat beradaptasi dengan kekalahannya. Tentu saja cara begini ini membuat rancu antara orang sabar dengan pikiran positif yang sejati versus orang yang memang tidak memiliki motivasi, daya juang dan stamina untuk bertahan di tengah berbagai kesulitan hidup macam si Herman ini.</p>
<p>Bangunan Villa Rimbun Ciawi milik Pakde Sastro ini relatip kecil dibandingkan halamannya yang hampir seluar 2 hektar itu. Dalam vila ada 2 kamar tidur, 1 utama yang besar lengkap dengan kamar mandi di dalam dan yang lainnya lebih kecil. Ada dapur yang lengkap dan ruang tamu berikut perabotannya yang sangat nyaman. Di belakang rumah ada taman yang asri lengkap dengan kali kecil yang mengalir di dalamnya. Nampak dikejauhan lebih ke belakang hutan pakis dan pinus yang bersuasana sangat alami. Kesejukkan pegunungan di kawasan Ciawi ini membuat villa ini terasa sangat romantis dan tepat bagi mereka pasangan yang sedang berbulan madu. Setelah menyerahkan kunci villa bersama amplop surat Pakde Karto khusus untuk Rini dan bungkusan besar berisi makanan untuk siang itu, Pak sopir minta pamitan untuk balik ke Jakarta.</p>
<p>Sepulang Pak sopir, Rini cepat membuka surat itu. Herman tahu menempatkan diri. Dia berpura tak acuh, berdiri dan jalan ke beranda. Pakde bilang agar Rini menempati kamar utama yang besar, dan Herman memasuki kamar di sebelahnya yang kecil. Pakde akan datang sekitar jam 3 sore, karena masih ada beberapa pertemuan di Jakarta. Tanpa bicara Rini kemudian menyerahkan surat itu kepada Herman agar tahu apa yang dimaui Pakdenya. Dengan membanting pintu dan menguncinya Rini memasuki kamar utama sesuai kemauan Pakde Karto. Dan Herman langsung mengangkat tasnya sendiri ke kamarnya.</p>
<p>Ah.. kamar ini.. betapa mewah dan nyamannya.. Diarah samping nampak jendela besar dengan pintu ke beranda yang memberikan pemandangan indahnya alam pegunungan. Sesudah menaruh kopernya Rini mengamati interior kamarnya. Di samping ranjang mewah yang beralaskan sutra dia dapati vas besar dengan kembang mawar merah yang segar. Haahh.. tentunya sesorang telah menatanya sebelum dia datang. Mungkin Pakde yang, siapa tahu, nginap disini tadi malam dan menyiapkan segalanya, kemudian subuh balik ke Jakarta. Ah.. ada surat kecilnya..<br />
“Rini sayangku.. aku mencintaimu .. Karto.”</p>
<p>Lihat di pojok itu. Bukankah itu wewangian aroma therapy di atas lilin kecil dari Korea yang sangat mahal itu? Sangat romantis. Rini sangat tersanjung dengan pernik-pernik itu. Sungguh pintar bulusnya Pakde Karto ini.</p>
<p>Rini ingin tahu lebih banyak lagi apa yang telah diperbuat Pakde Karto. Dia temukan baju tidur lembut tergantung di lemari pakaiannya disamping beberapa gaun-gaun mewah dan baru yang juga siap pakai. Dia pastikan semuanya itu untuk dia. Sesuatu yang belum pernah dia dapatkan dari suaminya sendiri. Dia ambil gaun-gaun itu dan bak peragawati dia memantas-pantaskan gaun-gaun itu pada tubuhnya di depan cermin. Sesekali dia senyum ketika menerawang ke cermin. Ah, bukankah kamu memang cantik dan luwes, Rin. Semua busana-busana itu dalam ukuran yang sungguh tepat untuk tubuhnya. Bukan main Pakde ini.</p>
<p>Berjam-jam dan hampir sepanjang hari Rini menyibukkan dirinya di kamar utama itu. Dia kembali membaca surat kecil romantis itu, Dia kembali mengamati wewangian mahal dari Korea itu dan berkali-kali mencoba pakaian-pakaian indah dan mewah yang bermacam dalam lemari itu.</p>
<p>Sementara itu Herman memasuki kamarnya. Tidak ada yang istimewa dia temukan dalam kamar itu. Mungkin ini kamar yang biasa dipakai pelayan atau penunggu villa ini. Nampak ranjangnya ditutup dengan sprei yang sudah lusuh. Kalau toh ada semburat wewangian itu karena aroma therapi yang semerbak menyebar keluar dari kamar utama dimana kini Rini berada. Sementara satu-satunya pemandangan adalah jendelanya yang justru menghadap ke arah jalanan dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang melintas. Selebihnya adalah dinding-dinding kamar yang menjadi batas kamarnya dengan kamar Rini.</p>
<p>Ohh.. tunggu dulu. Bukankah ini dinding artistik buatan dari papan-papan kayu pegunungan. Dan lihatlah, papan-papannya yang artistik ini penuh celah-celah dimana sesorang bisa mengintip ke kamar sebelahnya. Nah, aku bisa ngintip Rini, dong. Sedang apa dia?</p>
<p>Dan itu yang kemudian dilakukan Herman. Dan, ah.. benar.. dia kini bisa melihat istrinya sedang memantas-mantas dirinya dengan busana-busana indah yang pasti telah tersedia baginya. Ah, betapa cantik istriku Rini, begitu kata hatinya. Memang dia selalu bangga akan kecantikkan istrinya. Dan Herman tahu banyak lelaki yang kepingin bisa tidur dengan Rini.</p>
<p>Kemudian dia membayangkan sesaat nanti akan menyaksikan dari celah papan ini bagaimana Pakde Karto si bandot tua itu melahapi tubuh cantik isterinya itu. Ah, jangaann..!!<br />
Tiba-tiba kembali Herman disergap rasa sakit dan cemburu yang menyala-nyala. Rasanya tak mungkin dia bisa rela menyaksikan Rini dalam pelukan Pakdenya. Dan akan melihat bagaimana Pakdenya melepasi satu-satu pakaiannya hingga istrinya bertelanjang. Dan bahkan dia akan dalam rengkuhan penuh birahi Pakde Karto yang juga akan sama-sama telanjang. Tiddaakk..!!</p>
<p>Herman kepingin membenturkan kepalanya ke dinding-dinding kamar itu. Tetapi kenapa?? Bukankah karena pengorbanannya dan juga pengorbanan istrinya hutangnya yang kini mencekik lehernya itu akan lunas? Bukankah dia akan terlepas dari beban yang tak tak terelakkan itu? Dan Pakdenya tidak lagi mengejar-kejarnya? Ah.., aku rasa pantas apa yang mesti aku terima kini. Dan itu artinya, nilai istrinya tidak murah. Bayangkan hutang yang lebih dari 15 juta rupiah cukup dibayar dengan membiarkan Pakdenya tidur dengan isterinya selama 3 hari. Dan bukankah sesudah itu dia bisa kembali memiliki Rini untuk selamanya? Hanya 3 hari, Man!</p>
<p>Pikiran terakhirnya ini langsung meredakan perasaan marah, sakit dan cemburunya. Dia kembali ke lubang pengintipan. Tiba-tiba dia merasakan hal yang aneh pada dirinya..</p>
<p>Celananya langsung berasa sesak. Kini kemaluan Herman ngaceng saat membayangkan istrinya digauli Pakdenya. Memang terbersit rasa cemburunya kembali, tetapi dia juga membayangkan bagaimana nanti saat Rini menerima kenikmatan syahwat yang dilepaskan oleh Pakdenya. Bagaimana nanti dia mendengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rini sekaligus nafas-nafas yang memburu dari Pakde Karto. Bagaimana nanti tubuh telanjang Rini bergesekkan dengan tubuh telanjang Pakdenya untuk bersama-sama mendayung birahi dan melepaskan dendam-dendam nafsunya. Bagaimana nanti bibir Pakdenya yang melumati pentil susu istrinya dan sementara kemaluan Pakde berusaha mencari jalan untuk menembusi kemaluan istrinya. Dan bagaimana nanti saat kemaluan Pakde, yang dia yakin ukurannya pasti lebih hebat dari miliknya, menerjang dan merobek bibir kemaluan isterinya. Dan bagaimana nanti dinding-dinding vagina Rini dirundung rasa gatal kemudian mencengkerami batangan bulat besar dan panjang milik Pakdenya.</p>
<p>Ah.. sudah, sudah, sudaahh..!! Herman langsung lari keluar kamar. Dia nggak mau dikejar bayangannya sendiri. Dia menghambur ke taman dimana ada kali kecil yang mengalir di dalamnya. Dia hendak melupakan segala sakit dan cemburunya dengan menyibuki diri menangkapi ikan dan udang kecil dari kali itu untuk dilepaskannya kembali.</p>
<p>Hingga Pakde Karto datang Rini tidak pernah keluar dari kamarnya. Hari itu sama sekali tak ada dialog antara Herman dan Rini sebagai suami isteri. Nampaknya Rini memang menghindar dari kemungkinan dialog itu. Rini pasti kecewa padaku, demikian pikir Herman. Ah biarlah, yang penting dia sudah mau menuruti kemauan Pakdenya. Bayangkan seandainya Rini menolak, apa yang akan menimpa dirinya nanti. Dia bayangkan Satpam Pakdenya yang kekar berotot itu.</p>
<p>Pakde Karto datang lebih lambat dari janjinya disebabkan kemacetan lalu lintas saat memasuki gerbang tol Jagorawi. Begitu mobilnya memasuki halaman Pakde Karto turun dan melemparkan kuncinya kepada Herman yang telah siap di depan gerbang untuk berlaku sebagai pengganti pelayannya. Kini dialah yang harus membersihkan atau mencuci mobilnya sesudah perjalanan yang penuh debu dan kotor dari Jakarta itu.</p>
<p>Dari dalam rumah nampak Rini yang istrinya memperhatikan perlakuan Pakde pada suaminya. Tak terbersit sedikitpun keharuan Rini pada Herman. Rini akhirnya bisa menerima apa yang kini harus dilakukan suaminya. Suatu imbalan yang setimpal atas kepengecutannya sebagai lelaki maupun sebagai suami. Dan kini juga ingin menunjukkan pada Herman bahwa kini dia bulan Rini yang dulu. Dia kini adalah Rini yang bebas dan merdeka yang bisa mengambil keputusan apapun yang dia mau.</p>
<p>Begitu Pakde Karto memasuki teras rumahnya, secara menyolok didepan suaminya Rini keluar dari dalam untuk menyongsongnya. Sambil menebar senyuman dia menggait lengan Pakde Karto memasuki villanya. Herman hanya bisa mengikuti dengan ekor matanya. Dan Rini, lihatlah, dia seperti dewi dari surga. Rini mempersiapkan dirinya secara maksimal untuk menyambut Pakde. Dia memakai busana yang paling sensual. Nampak dari bahu dan dadanya yang setengah terbuka. Bahunya yang bidang itu menyajikan pesona sebersit ketiaknya sedemikian sensual.</p>
<p>Pakde Karto terpana. Dia tidak menduga bahwa Rini sedemikian antusias menyambut kedatangannya. Sebelumnya dia masih berpikir bahwa akan ada sedikit atau banyak kesulitan dalam menghadapi Rini ini. Ada apa? Mungkinkah ini merupakan ungkapan kekesalan Rini pada Herman suaminya? Ah, .. Pakde Karto tak sempat berpikir jauh. Parfum Rini telah menyeret naluri syahwatnya terbang ke-awang-awang. Rini langsung menggelandang Pakde menuju kamarnya. Ah, nanti aku akan tahulah, demikian acuhnya sambil menyambut rangkulan Rini pada lehernya, tangan-tangan Pakde merengkuh pinggul Rini.</p>
<p>Mereka kini saling berpagut. Kehausan bertahun-tahun Pakde Karto pada Rini kini tertumpahkan. Dan bagi Rini inilah puncak pelampiasan dari tumpukkan kemarahan, kekesalan dan kekecewaan pada kehidupannya yang telah beberapa waktu terus menjepit dan menyengsarakannya. Dia terus berusaha menapaki kehidupan yang baru ini. Tanpa ragu-ragu, tangannya dengan terampil melepasi ikat pinggang Pakde Karto. Dia ingin selekasnya menjamah khayalannya. Dia ingin merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu bersama Pandi di pantai Parangtritis. Kalau waktu itu gemuruhnya ombak Samudra Hindia, maka kini gemuruh nafsu birahi di dadanya yang akan mengiringi pelampiasan syahwatnya. Gemuruh nafsu birahi Rini dan kehausan syahwat yang amat sangat Pakde akhirnya bertemu dalam kamar Villa Rimbun Ciawi ini.</p>
<p>Akan halnya Herman yang telah siap menerima apapun yang harus dia saksikan. Bahkan kini dia sudah memiliki solusi. Dia akan ikut menikmati apa yang terjadi dari balik dinding artistik kamarnya. Dia akan menyaksikan adegan-adegan yang pasti bisa merangsang birahinya. Dan dia akan bisa meraih kepuasan syahwat juga seperti mereka berdua. Dan kini kembali rasa sesak langsung memenuhi selangkangan celananya. Tangannya bergerak membetulkan letak kemaluannya untuk mengurangi jepitan celananya yang menyakitkan.<br />
Sesudah dengan cepat menyelesaikan tugasnya Herman kembali memasuki kamarnya. Dengan hati-hati dia mulai mengintip dari celah papan itu dan menyaksikan ulah Pakdenya bersama Rini isterinya. Nafasnya terdengar memburu sejalan dengan apa yang dia saksikan melalui celah dinding papan artistik itu. Dia lihat bagaimana Pakdenya bersama istrinya bercumbu. Nampak celana Pakdenya telah merosot ke lantai dan tangan istrinya menggenggam kemaluannya yang gede panjang itu.</p>
<p>“Edan, penis Pakde itu.. penis kuda.., Duh penis Pakdee.. penis ituu..,” teriakkan histeris dari hati Herman melihat kemaluan Pakdenya yang membuatnya terpana.</p>
<p>Dia benar-benar terpesona dengan penis Pakdenya. Dan lebih-lebih lagi saat menyaksikan tangan indah dan manis isterinya yang biasa memegang berbagai macam makanan cattering pesanan tetangga itu kini menguruti batang penis yang berkepala mengkilat kecoklatan. Sementara Pakdenya dengan buas menyedot dan menggigiti dari leher turun ke susu dan puting-putingnya hingga membuat Rini menggeliat dan mendesah hebat sambil matanya merem-melek dan kepalanya tergeleng-geleng dan mendongak kelangit-langit kamar utama Villa Rimbun Ciawi itu.</p>
<p>Blusnya sudah lepas entah ke mana. Susu-susunya nampak ranum menggunung dan putingnya mencuat siap untuk lahapan haus nafsunya Pakde Karto. Sesekali kedengaran sentakan rintihannya. Itu disebabkan sesekali gigitan Pakde menyentuhi saraf-saraf peka pada buah dadanya yang sangat ranum itu.</p>
<p>Tanpa melepas pagutannya mereka bergeser dan bergeser untuk menuju rebah di ranjang. Masih dalam busana atas yang lengkap dengan dasinya yang setengah copot, sementara bagian bawahnya sudah telanjang bulat Pakde Karto menindih Rini. Ditelentangkannya kedua lengan Rini ke atas hingga kedua ketiaknya terbuka. Kemudian dengan penuh kehausannya Pakde Karto menyosorkan bibirnya melumati lembah-lembah indah ketiak Rini. Rini mendesah sambil bergelinjangan menggeliat-liat. Tak diragukan, pasti akan banyak nampak cupang-cupang bekas sedotan-sedotan ganas pada ketiak itu nantinya.</p>
<p>Dan kini Herman melihat mereka sambil mulai mengelusi kemaluannya sendiri. Kupingnya menikmati rintihan atau desahan istrinya. Sementara tangannya terus mengikuti alur sedotan dan jilatan Pakde yang turun dari ketiak ke lembah dan bukit di dada Rini isterinya itu.</p>
<p>Herman agak kesal, posisi Pakde Karto yang mencumbui istrinya tak nampak jelas disebabkan celah papan ini kelewat sempit. Yang jelas bisa dia tangkap jelas tinggalah suara-suara penuh iba nikmat. Betapa rintihan Rini dan dengus Pakdenya saling bersahut telah membuat dirinya semakin blingsatan karena terbakar birahinya. Tanpa sepenuhnya dia sadari, dia juga ikut-ikutan melepasi celananya, hingga tinggal kolornya yang tinggal. Tangannya merogoh kolor itu dan mengurut dan memijit-pijit kemaluannya. Herman ikut terbawa melayang bersama Pakde yang sedang melahap rakus isterinya.</p>
<p>Saat turun dari ketiak, ciuman dan lumatan Pakde meratai lembah dan bukit di dadanya, Rini nampak menggelinjang hebat. Pinggulnya menggeliat dan meliuk-liuk menahan kegelian yang amat sangat seperti ikan moa yang terlepas buruannya dan secepatnya berusaha menangkapnya kembali. Dan Herman juga semakin kenceng merabai kemaluannya sendiri sementara wajah Pakde Karto makin merosot ke perut isterinya.</p>
<p>Tak pelak lagi Rini mendesah keras dan tangannya seakan mengiringi desahannya menangkap kepala Pakde Karto dan menjambaki rambutnya untuk menahan badai birahinya. Dan Pakde semakin menggila. Kini bibirnya sudah me-lamuti bulu-bulu kemaluan Rini dan kemudian meluncur cepat ke bibir vaginanya.</p>
<p>Nampak banget bagaimana bibir Pakde Karto mencaplok untuk melumati bbir vagina Rini. Lidahnya yang menjilat sambil menyeruak menusuki vaginanya membuat Rini histeris. Tingkahnya yang jatuh bangun disertai derasnya desah dan rintih memaksa Herman mempercepat pijitan dan remasan pada kemaluannya, bahkan kemudian dengan cepat merubahnya menjadi kocokkan ritmis.</p>
<p>Sambil terus melototkan matanya untuk menembusi lubang intaian yang sempit, kocokkan Herman yang semakin cepat nampak seperti pompa piston lokomotif diesel penarik Parahyangan Ekspres. Herman tak tahan lagi untuk menahan spermanya. Dan terjadilah orgasme Herman. Yaitu orgasme pertama yang diraih berkat menyaksikan istrinya meliuk-liuk merasakan hebatnya nikmat digauli orang lain yang bukan suaminya. Rasanya inilah spermanya yang paling banyak tertumpah semenjak perkawinannya dengan Rini.</p>
<p>Pakde secara intensif memberikan kepuasan penuh sensasi syahwat pada Rini. Dia melakukan oral seks secara habis-habisan padanya. Lidahnya yang besar dan kasar tentunya menyentuhi organ-organ vagina yang peka dan lembut mlik Rini. Dan akibatnya tak terkatakan lagi, Rini bak kesetanan. Tenaganya berubah menjadi sangat kuat. Kedua pahanya yang berposisi menjepit leher Pakde menekan bahu Pakde untuk menaikkan pinggul dan mengangkat pantatnya. Tujuannya jelas agar tusukkan lidah Pakde bisa lebih jauh menembusi lubang vaginanya. Kegatalan yang amat sangat pada vaginanya itu pula yang membuat kedua tangannya terus menariki kepala ataupun rambut Pakde untuk lebih menekankan ke arah kemaluannya.</p>
<p>Pakde yang sangat berpengalaman ‘ngerjain’ para perempuan, tahu bahwa Rini sudah menunggu penisnya yang kini juga telah melar keras untuk secepatnya menusuki vaginanya. Dengan akar-akar sarafnya yang mengitari geligir batangnya serta desakkan darah yang menumpuk pada kemaluannya hingga membuat sang penis itu membengkak besar dan kepalanya licin mengkilat, kini Pakde sigap merubah posisi. Ditariknya kedua tungkai kaki Rini hingga arah vaginanya tepat di pinggiran ranjang. Kemudian dia angkat salah satu tungkainya untuk disandarkan pada panggulnya di bahu. Dengan cara itu Pakde mengasongkan penisnya yang sudah matang itu ke lubang kenikmatan vagina Rini. Sekali.., dua kali..</p>
<p>Herman kembali mengintip. Sesudah beberapa kali kepala penis Pakdenya yang besar sedikit kesulitan menembusi vagina istrinya yang sempit. Pada tusukkan yang kesekian kali disertai desisan panjang dan kemudian disusul dengan teriakkan nikmat, akhirnya penis gede itu berhasil menembus vagina Rini istrinya. Bleesszz..</p>
<p>Menyaksikan itu semua kemaluan Herman cepat kembali menegang. Dan agar menjadi leluasa, Herman melepas pula celana kolor berikut celana dalamnya. Dan tangannya kembali mengelusi sambil berharap bisa selekasnya tegak kenceng lagi. Herman ingin meraih orgasmenya yang kedua.<br />
Disaksikannya Pakde Karto mulai memompa istrinya. Dan Rini sang istri benar-benar tak berdaya oleh serangan syahwatnya. Sambil meracau dengan ucapan kata-kata erotis kotor di tengah desisan-desisannya, dia meremasi sprei atau bantal atau apa saja yang bisa diraihnya hingga ranjang itu berantakkan. Kepalanya bergoyang keras ke kanan dan kiri sambil melempar-lemparkan rambutnya yang indah itu.</p>
<p>Dan dari arah lebih tinggi dengan satu kaki isterinya di panggulannya mata Pakde Karto mengamati tingkah Rini serta menyimak segala racau dan desisan histerisnya itu. Dia mainkan pompaannya seakan berputar menyodok ke kanan atau kekiri atau ke atas atau ke bawah. Itulah ‘multi jurus’-nya Pakde. Dengan cara itu vagina Rini serasa di-ubek-ubek. Gatalnya tak lagi tertolong. Dan karena itu pula kini Rini mulai menapaki puncak kenikmatannya. Rini mulai menyongsong orgasmenya yang sejati. Orgasme yang rasanya belum pernah dia raih dari siapapun.</p>
<p>Herman tahu, selama ini belum pernah melihat isterinya sedemikian histeris sebagaimana yang dia saksikan kini bersama Pakde Karto. Rupanya Pakdenya ini tahu benar apa yang ditunggu Rini. Dan kini dia sedang suguhkan itu. Dari racau dan geliat serta menghebatnya remasan-remasan tangannya pada apapun yang dia raihnya, Rini kini menggelinjang hebat. Pinggulnya dia angkat-angkat tinggi-tinggi serasa hendak menjeputi kemaluan Pakde agar menusuk lebih dalam lagi ke vaginanya. Dan ketika akhirnya puncak-puncak itu benar-benar datang, wajah Rini langsung berubah ganas. Matanya menjadi nanar tanpa titik pandang. Dengan teriakkan bak hyena kelaparan Rini bangkit mendorong dan merubuhkan Pakde untuk ganti rebah telentang ke kasur. Dia ‘cengklak’ tubuh Pakde seperti seorang joki men’cengklak’ kudanya. Dengan gaya seakan hendak duduk tangannya merogoh dan meraih penis Pakde untuk dia tusukkan ke vaginanya, dan dengan cepat vaginanya langsung menelan amblas seluruh batangan kemaluan Pakde. Kini Rinilah pemegang kendali.</p>
<p>Dengan cepat dia menaik turunkan pantatnya memompakan penis Pakde ke vaginanya. Herman melotot mengamati vagina Rini yang bisa memuntahkan dan kemudian menelannya kembali kemaluan gede panjang milik Pakde Karto. Dari arah belakang pantatnya, nampak oleh Herman bagaimana bibir vaginanya ketarik keluar dan kedorong masuk terbawa oleh keluar masuknya kemaluan Pakde yang memang sangat sesak dan sarat memenuhi belahan dan rongga vagina isterinya itu.</p>
<p>Dan akhirnya datanglah malaikat nikmat itu.. Rini seakan membantingkan tubuhnya ke tubuh Pakde. Dia menggigit dada dan mencakar-cakar punggungnya. Vaginanya berdenyut keras menghisap-isap atau melumat-lumat batang kenyal milik Pakde. Itulah tanda bahwa orgasme beruntun-runtun sedang melanda Rini.</p>
<p>Mungkin runtunan orgasmenya itu berlangsung hingga 20 atau 30 detik sebelum akhirnya tubuhnya gugur dan rubuh dengan keringatnya yang mengucur menindih dan membasahi tubuh Pakde Karto. Villa Rimbun Ciawi yang sebelumnya berubah menjadi panas oleh radiasi yang memancar dari tubuh indah Rini kini sejuk kembali.</p>
<p>Dari balik dinding Herman juga ikutan terkapar bersama tarikan-tarikan nafas panjangnya. Dimatanya dia menyaksikan Pakde Karto telah menunjukkan peranannya sebagai pelayan seks yang benar-benar hebat. Herman merasa banyak belajar dari apa yang dia lihat hampir selama 1 jam ini. Pakde bisa membaca arah kemana Rini mau. Dia mengejar kepuasan tetapi dia meyakini kepuasannya akan dia raih apabila Rini, lawannya telah lebih dahulu terpuaskan. Dan bagi dia, sebagai lelaki, kepuasannya tidak perlu diraih seketika. Dia masih memerlukan stamina untuk berjalan lebih panjang. Sebagai lelaki memerlukan stamina macam itu lebih dari perempuan. Dengan cara itu rupanya Pakde Karto akan menikmati sepanjang malam pertama ini. Dan Herman mulai mengerti, bagaimana Pakde Karto akan mampu melayani Rini kapan saja, setiap saat. Dan segala marah, sakit atau cemburu akan sia-sialah di depan Rini sepanjang dia tidak mampu melakukan seperti yang Pakdenya bisa lakukan.</p>
<p>Sore itu sesudah permainan pertama, yang mungkin oleh Pakde hanya dipandang sebagai pemanasan, mereka berdua mandi bersama. Cukup dengan teriakkannya Pakde menyuruh Herman untuk menyalakan gas LPJ yang membakar water heater di kamar mandi utama. Sesudah mandi air hangat, dengan keduanya memakai mantel tidur lembut yang tersedia di kamarnya Pakde bersama istrinya bercengkerama di beranda villa. Atas permintaan Rini Herman disuruh Pakdenya untuk membeli sate kambing di warung sate sebelah villanya.</p>
<p>Malam itu Rini bersama Pakde menikmati sate kambing panas di meja makan. Herman mesti sabar menunggu mereka selesai makan untuk bisa ikut menikmati sate kambing dingin sisa mereka. Dia menerima semua perlakuan ini dengan sabar dan berpikir positip. Ahh.. Herman.. Herman.., hebat kau..</p>
<p>Selesai makan Rini dan Pakde pergi ke beranda dan duduk berhimpit di sofa. Villa bulan madu ini seakan memang dibuat untuk mereka. Dari balik pot-pot tanaman di samping beranda Herman merunduk mengintip diantara dedaunannya. Herman yang mentalnya sudah jatuh menjadi mental pelayan itu melihat bayang-bayang istrinya dalam rengkuhan Pakdenya kembali. Dia amati betapa asyik istrinya dan Pakdenya saling berpagut bertukar lidah dan ludah. Dan lihat, betapa agresifnya si Rini. Tak pernah dia bersikap begitu pada dia selama masa perkawinannya.</p>
<p>Dia saksikan bagaimana tangan Rini yang demikian lancar melepasi ikatan tali. Dengan sekali renggut lepaslah temali mantel tidur itu hingga tubuh Pakde langsung terbuka. Kemudian dengan rakusnya bibirnya kembali menyambar bibir Pakde Karto sambil tangan kanannya, tangannya yang cantik dengan jari-jarinya yang lentik itu meremas dan mengelusi batangan gede penis Pakde Karto. Ah, Rini.. Riniku.., batin Herman yang menangisi isterinya.<br />
Rini meliukkan lehernya. Kepalanya menggiring bibirnya meluncur ke leher Pakde. Dia memberikan sedotan cupang di seputar leher dan kuduknya. Bulu-bulu Pakde tegak merinding.</p>
<p>Kecupan dan jilatan itu mendongkrak saraf-saraf birahinya. Dan bibir seta lindah terus merambat meluncur turun ke dadanya. Dia kecupi buah dada Pakde dan bibirnya serta lidahnya menggigit dan menjilati puting-puting susunya. Nampak betapa bibir-bibir mungil istrinya membuka dan mengatup mengecupi bukit-bukit dada itu. Sesekali lidahya menjulur untuk menjilati berbagai rasa yang keluar dari pori-pori tubuh Pakdenya. Kini yang didengar Herman adalah desis Pakde yang menahan geli birahi akibat ulah istrinya itu. Tak puas-puasnya Rini menyedoti dada Pakde. Terkadang rambatan bibirnya juga menepi ke kanan atau ke kiri dada hingga semburat aroma ketiak Pakdenya yang tampan itu menerpa hidung Rini.</p>
<p>Rambatan ciuman itu terus meluncur turun keperut Pakdenya. Bulu-bulu halus mulai Rini rasakan di lidahnya. Bulu-bulu itu tumbuh berkesinambungan dari arah lebih bawah lagi. Bulu-bulu itu menjadi awal bagi lidah dan bibir Rini memasuki wilayah kemaluan Pakde Karto. Nampak penisnya yang tegak kaku bak tugu Monas itu seakan mengganjal leher dan bahu Rini. Dengan pipinya Rini menyisihkan batang tegak kaku itu untuk membuka jalan menggiring bibirnya terus turun hingga ke selangkangan Pakde. Beberapa kali Pakde menyibak sebaran rambut Rini agar tidak mengganggu alur lidah dan bibirnya yang terus berkecipak menyedot dan menjilat. Dia rasakan sangat nikmatnya bak siput sawah yang sedang merambati wilayah selangkangannya.</p>
<p>Tentu saja kini posisi duduk Pakde harus disesuaikan dengan kejaran nikmat bibir Rini ini. Dia memerosotkan tubuhnya pada bantalan sofa itu untuk memberikan ruang yang lebih terbuka kepada Rini saat mulai menggarap kedua selangkangannya. Dan kini wajah Rini benar-benar terjebak dalam rimbunan bulu kemaluan di seputar selangkangan Pakde Karto. Sesekali nampak kepalanya menggeleng kecil untuk mendorong agar lidah atau bibirnya bisa menjangkau pori-pori selangkangan itu.</p>
<p>Nampaknya Pakde tak mampu menahan kegelian yang melandanya. Dengan kedua tangannya dia merengkuh dan menjambak rambut Rini. Dia merintih sambil seakan hendak mencabut-cabut akar rambut itu. Dan rintihan Pakde itu membuat Rini semakin ganas serta liar untuk meningkatkan serangan birahinya. Pipinya yang semula digunakan untuk menyisihkan penis, kini dia gunakan untuk menariknya kembali. Batangan penis Pakde yang tonggak kaku itu mulai dia jilati. Dia tusukkan lidah lembutnya pada lubang kencing Pakde. Lubang kencing yang nampak macam belahan jamur merang itu langsung merah merekah menahan desakan darah syahwat yang menjalari penisnya.</p>
<p>Betapa nikmat saat lidah menyentuh saraf-saraf peka pada lubang itu. Gelinjangnya membuat Pakdenya seakan melonjak dari tempat duduknya. Mungkin itu semacam kekagetan saraf menerima sentuhan lembut lidah Rini yang sangat merangsang syahwatnya. Dan kemudian Rini mengkulum seluruh kepala dan batang penis itu. Dia memompa, menyedot, menjilat, mengkulum tonggak bulat panas yang kaku dan berkilatan dengan urat-urat yang kasar mengelilingi seluruh geligirnya.</p>
<p>Pemilik tonggaknya mendesah keras dan merintih dalam gelombang nikmat yang datang bertubi.<br />
Herman memperhatikan betapa mata istrinya merem melek menikmati kelakuannya sendiri itu. Dan juga bertanya, kenapa dia nggak pernah menerima perlakuan macam itu selama 3 tahun perkawinan ini?? Adakah ini karena kepiawaian Pakde Karto dalam menggiring birahi Rini? Sehingga membuat seluruh potensi syahwat istrinya terdongkrak keluar?</p>
<p>Rambut Rini yang panjang sering menghalangi pandangan Herman pada apa yang sedang berlangsung. Nampaknya Rinilah yang sekarang ganti memanjakan Pakde Karto dengan oralnya. Dia ciumi dan jilat bijih-bijih pelir Pakde. Lidahnya bolak-balik melata merambati pangkal hingga ujung kemaluan yang tegak kaku itu. Pakde Karto tidak keliru membaca perempuan. Betul-betul kini dia serasa terbang melayang diangkasa nikmat. Apa yang kini sedang dilakukan Rini sesuai dengan bacaannya. Rini adalah perempuan seksual yang sangat galak dan panas. Perempuan dengan betis ‘merit’ macam istri Herman ini tak mudah dipuaskan. Oleh karenanya pada garapan awal tadi Pakde Karto pusatkan pada bagaimana Rini bisa cepat disambar syahwatnya hingga tinggal kehendaknya sendirilah yang akan mendorong cepat atau lambat datangnya orgasmenya. Dan itu sudah terjadi.</p>
<p>Kini perempuan ini sudah kembali menimba birahinya. Kenikmatan orgasme beruntun yang dia rasakan tadi membuatnya ketagihan. Lihat, kini dia akan berusaha orgasmenya berulang kembali. Dia pikir dengan merangsang penisnya Pakde Karto akan cepat mengejar nafsunya. Dan harapan Rini untuk digenjoti lagi oleh Pakde akan kesampeyan. Tetapi dia keliru. Pakde Karto bukan anak kemarin sore. Dia bukan Herman. Kenikmatan yang kini diberikan Rini akan di ‘follow up’ di mulut Rini sendiri. Kini Pakde sedang mengamati dengan penuh nafsu bagaimana mulut cantik mungil Rini mengecupi penisnya. Dia mengamati bibir-bibir seksi istri Herman ini berkecipak melahap batang penisnya. Dia ingin bibir ini nantinya belepotan oleh semprotan spermanya. Dia ingin sekali menumpahkan air maninya ke mulut Rini. Dia pengin menyaksikan bagaimana Rini menenggak cairan kentalnya. Ya, dia ingin sekali. Bahkan dia mungkin akan sedikt paksa Rini untuk menjilati cairan kentalnya yang tercecer. Itulah nafsu hewaniah Pakde Karto yang kini merundung dirinya. Tangan-tangannya kembali mengelusi lembut kepala Rini, sementara khayalan birahinya terbang melesat ke awang-awang untuk menjemput puncak-puncak nikmatnya. Dia mulai mengerang dan mendesis. Dan Rini terjebak.</p>
<p>Dia menikmati erang dan desis Pakde dengan cara lebih meliarkan jilatan dan gigitan-gigitannya.<br />
Tetapi situasi berikutnya berubah. Kendalinya terlepas dan diambil alih Pakde Karto. Tanpa mau melepas rengkuhan Rini pada penisnya Pakde bangkit dari sofa empuk itu. Dibimbingnya Rini untuk naik kesofa dengan kepalanya bersandar pada ke bantalannya. Dengan penisnya yang tak pernah lepas dari mulut lembut Rini, kini posisi Pakde berada di atasnya dengan selangkangnnya mengangkang di atas dada Rini. Sementara Rini masih berpikir bahwa sesaat lagi Pakde akan merambati tubuhnya untuk menusukkan kembali kemaluannya pada vaginanya.</p>
<p>Tetapi sekali lagi harapan Rini ini keliru. Kini Pakde seperti sedang kerasukan nikmat dan merasakan bagaimana seakan spermanya datang dari seribu arah menjalari berjuta saraf-saraf di seputar selangkangannya untuk meledak dan tumpah di mulut Rini. Dan ketika batas batas sarafnya telah terlanggar oleh birahi, dengan suara erangan yang keras dari mulutnya dengan disertai tangan-tangannya yang kuat menekan kepala Rini agar tetap terpaku di sofa selama penis Pakde tetap menghunjam-hunjam ke rongga mulut Rini, Pakde telah siap menyemprotkan air maninya ke mulutnya. Dan Rini memang tak lagi mampu berkutik. Tekanan tangan Pakde terlampau kuat untuk ditolak. Akhirnya dia menyadari apa yang Pakde mau. Dia langsung pasrah. Bahkan selintas dia sempat berpikir tentang Herman. Biarlah Herman menyaksikan apa yang memang dia harus saksikan.</p>
<p>Sperma Pakde tumpah ruah menyemprot membanjir memenuhi mulutnya. Anggukan-anggukan penis Pakde menandai setiap semprotan spermanya. Mulut manis mungil Rini tak mungkin menampung seluruhnya. Sebagian tertelan membasahi tenggorokannya, sebagian lainnya muncrat tercecer ke dagunya, dadanya dan juga ke jok kulit sofa buatan Italy itu. Saat akhirnya Rini benar-benar menjilati sperma yang tercecer dia ingat kembali saat bersama Pandi di Parangtritis itu. Dan Pakde Kartopun terpenuhi harapannya.</p>
<p>Herman terbengong-bengong menyaksikan bagaimana nafsu liarnya Rini di atas sofa bersama Pakde Karto itu. Benar-benar tak habis mengerti, bahwa Rini yang kesehariannya cantik dan lembut itu bisa berubah menjadi malaikat seks yang dengan ganas membawa prahara birahi untuk menenggelamkan nafsu Pakdenya kedalam nikmat syahwat yang tak pernah dia berikan pada siapapun sebelumnya. Pakde Karto merasa bahwa menganggap lunas hutang suaminya amat sepadan dengan apa yang di berikan Rini kepadanya. Dielusinya dengan penuh kasih sayang kepala Rini yang kini bersandar di dadanya. Pakde mendapatkan kepuasan yang luar biasa dengan hadirnya Rini ini.</p>
<p>Dari balik pot-pot yang tidak jauh dari sofa Pakde dan istrinya Herman terduduk loyo. Sekali lagi ia semakin tak mampu berkilah lagi. Kepengecutannya sebagai lelaki membuat semakin tak mungkin mampu menyaingi kelebihan Pakdenya. Kesalahannya yang membuat tenggelam dalam judi togel itu membuat dia benar-benar tak lagi merasa punya hak untuk marah maupun cemburu. Dia akan sepenuhnya menerima apa yang dilakukan Pakde pada isterinya. Dari berbagai sudut dia sudah salah dan kalah total. Apalagi nampaknya Rini sendiri akhirnya demikian menikmati hubungannya dengan Pakde. Mungkin juga bagi Rini Pakde lebih bisa memberikan kepuasan nafsunya dibanding dia. Ya, sudahlah..</p>
<p>Yang kini masih dia miliki adalah hak untuk ikut menikmati. Dia jadi begitu menyala birahinya kalau melihat isterinya di’entot’ orang lain. Dia sangat terobsesi saat melihat wajah isterinya begitu histeris oleh kenikmatan syahwat yang diterima dari Pakde. Dia sangat terobsesi pula saat melihat isterinya begitu rakus menjilati dan minum air mani Pakde Karto. Rasanya Herman juga ikut merasakan bagaiman lendir hangat Pakdenya mengalir membasahi tenggorokan isterinya. Dan lepas dari semua hal itu, yang benar-benar melegakan Herman sekarang adalah lunasnya hutang-hutangnya dari Pakde Karto. Dia kini siap menjalani hidup baru tanpa beban hutang-hutang. Dia kini bertekad untuk tidak lagi main togel. Dia akan mencoba menepis godaan teman-temannya. Atau mungkin dia tak akan bergaul lagi dengan mereka. Karena merekalah kini Herman merasa sengsara. Dan nyatanya pada saat seperti ini mereka tak mampu membantu apapun.</p>
<p>Terlihat Pakde dan isterinya bangkit dari sofa menuju ke kamarnya. Adakah mereka akan melanjutkan permainannya. Sangat mungkin. Bukankah situasi macam begini yang Pakde impikan sejak pertama kali beberapa waktu yang lalu dia melihati Rini tanpa berkedip. Dan bagi Rini, bukankah lelaki macam Pakde ini yang telah terbukti bisa memuaskan syahwat birahinya?!</p>
<p>Dan bagi Herman, apa yang bisa dibuat selain kembali ke lubang pengintaian di balik dinding kamarnya?! Rupanya sate kambing tadi telah memberikan semangat dan kekuatan pada semua orang.<br />
Dari kamarnya Herman melihat Rini langsung rebah ke ranjang. Dalam jubah tidurnya yang nyaris tak dipakai secara utuh, Rini setengah tengkurap memeluki bantalnya. Nampak kaki dengan paha dan betisnya yang tersingkap dari pakaiannya terjuntai ke tepian ranjang. Dan Pakde dengan jubah tidurnya yang telah terbuka pula siap menyusul. Tetapi tidak. Pakde tidak menyusul naik ke ranjang. Pakde kini simpuh di lantai tepat di ujung kaki Rini. Apa yang akan dia lakukan? Ah, ini sangat menarik, pikir Herman.</p>
<p>Pakde pelan menjamah kemudian mengelusi kaki Rini. Dia raba betisnya yang ‘merit’ itu. Kemudian nampak kepalanya menunduk. Pakde mencium kaki Rini. Mencium telapak kakinya. Menciumi kemudian menjilati. Kemudian juga mengulumi jari-jari kakinya. Jari kaki Rini yang selalu terawat apik itu demikian indahnya dalam kuluman Pakde. Dan Rini seakan kena stroom ribuan watt langsung berteriak mendesisi-desis.</p>
<p>Dia terbangun-bangun menahan geli yang menjalari kakinya. Tanpa terpengaruh oleh ulah isterinya nampak Pakde sangat tenang. Ditahannya dengan tangannya yang kuat kaki-kaki Rini sehingga berontaknya tidak membuat lepasnya kaki dalam pagutannya. Jilatan dan kuluman bibir dan lidah Pakde semakin meratai telapak kaki dan mulai naik ke betisnya. Gelinjang nikmat membadai menghempas-hempaskan gelegak nafsu Rini.<br />
Bibir Pakde terus melata hingga lutut dan siap memasuki wilayah paha belalang Rini. Ya, paha ini dulu sangat terkenal. Saat Rini bermain volley dalam pertandaingan antar SMU, paha Rinilah yang selalu membuat para siswa lelaki meneteskan air liur. Anak-anak SMU bilang ‘paha dan betis belalang Rini’ selalu terbawa dalam mimpi mereka. Mungkin maksudnya saat anak-anak itu masturbasi khayalannya terbang menciumi paha Rini.</p>
<p>Dan paha itu kini bukan dalam impian Pakde. Paha itu kini nyata dalam rengkuhannya. Pakde mengecupi dan menjilat setiap sentimeter areal paha Rini. Duh, bukan main gatalnya. Ciuman Pakde dari mulut dan pipi serta dagunya yang bercukur bulu-bulu pendeknya begitu menggelitik sanubari Rini. Gatalnya telah manembus ke hulu hatinya. Rini kelabakan kewalahan menahan derita gatal nikmatnya. Dia menjerit-jerit minta Pakde melepaskannya. Kakinya menendang menolak tubuh Pakde.</p>
<p>Tetapi mana mungkin. Tubuh Pakde telah sempurna menindih dan tangannya menjepit dengan kuatnya. Aroma yang menebar dari paha Rini membuat tenaga Pakde semakin kukuh untuk tetap menguasai tingkah Rini. Tidak akan ada kata menyerah. Dan jilatan Pakde itu merambah terus hingga ke selangkangan Rini yang ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yang sangat lembut. Pakde merem melek saat lidah dan bibirnya melumat-lumat selangkangan Rini. Dan tak ayal lagi, rambahan itu sampai ke lubang vaginanya. Namun Pakde tidak melanjutkannya. Dia hanya mampir sejenak untuk kemudian dengan tangannya mendorong balik tubuh Rini hingga posisinya tengkurap di kasur.</p>
<p>Kini nampak pantat Rini yang menjumbul dengan indahnya. Pakde sudah kesetanan. Wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantat Rini. Dia menjilati lubang duburnya. Tentu saja hal ini membuat Rini tersentak. Bagi Rini lubang dubur adalah hal yang sangat tak senonoh untuk didekati, apalgi dicium atau bahkan dijilati macam yang dilakukan Pakde pada dirinya sekarang ini. Tabu, katanya. Pemali, orang bilang. Tetapi tidak bagi Pakde Karto. Jilatannya terasa ‘keri’ menusuk-nusuk lubang pantat Rini. Bahkan dengan tenaganya dia mengangkat pinggul Rini sehingga dia berposisi nungging. Pantatnya lebih menonjol dengan lubang duburnya tepat di arah wajah Pakde. Rini yang belum sepenuhnya mau menerima ulah Pakde yang tabu berontak mati-matian untuk menghindarkan Pakde menciumi pantatnya. Dia berusaha bangun sambil,<br />
“Tidaakk.. jangaann.. jangaann..”</p>
<p>Tetapi larangannya itu justru semakin memicu kehendak nafsu Pakde Karto. Dia cepat berpikir bahwa pantat Rini masih pantat perawan. Kalau dulu Herman merawani vaginanya, kini dia berkesempatan merawani lubang pantatnya. Dia telikung Rini dengan sekuat tenaganya. Dia pegang erat-erat pinggulnya sambil mulutnya tidak melepaskan sedotan-sedotan pada lubang anal yang perawan itu. Dan Pakde sangat kuat. Rini tak mampu melawannya. Perasaan tabunya membuat Rini ketakutan. Tetapi yang dia bisa perbuat sekarang hanyalah menangis sambil memohon,<br />
“Jangaann Pakdee.. ampuunn, jangaann.., ampuunn Pakdee..”</p>
<p>Apapun rintihan Rini tak lagi didengarnya. Ini sudak perkosaan. Dari balik dinding Herman juga mengutuk Pakdenya. Isak tangis istrinya benar-benar membuatnya iba. Akankah Pakde menyakitinya? Apa yang bisa dia perbuat untuk membantu Rini? Dan ternyata itu baru awal dari hal berikutnya yang akan membuat tangis Rini serasa tak berkesudahan.</p>
<p>Ciuman Pakde bergeser ke atas. Pinggul Rini dilumat-lumatnya. Juga punggung kemudian bahu dan kuduknya. Rini yang masih terisak kembali menemukan gelinjangnya. Tetapi itu tak lama. Di bawah sana penis Pakde yang demikian hebat ukurannya terasa mendesaki bokong Rini. Rini puny firasat. Sekali lagi dia berontak untuk mencegah nafsu setan Pakde Karto. Tetapi sekali lagi Pakde Karto mampu membuat isteri Herman itu tak berdaya.</p>
<p>Kini rambut Rini yang terurai dijambaknya. Dia gunakan rambut Rini ibarat tali kekang kuda. Dia hela rambut itu kebelakang sementara penis itu mulai menumbuk-numbuk lubang anal Rini. Rasa sakit yang hebat menimpa Rini. Lubang analnya serasa dicolok dengan kayu menyala, Panas dan sakitnya bukan main. Beberapa kali Pakde melumasi dengan ludah pada penisnya agar bisa menembus dengan lubang anal Rini. Memang ada kemajuan. Tetapi apa yang dirasakan Rini? Setiap mili kemajuan penis itu masuk menembus analnya, kepedihan tak terkatakan datang menjemput.</p>
<p>Dan disinilah dramatiknya. Akhirnya penis itu memang tenggelam tertelan anal Rini, tetapi akibatnya Rini kelenger, pingsan. Pakde tahu, tetapi dia sangat tenang. Dia bisa mengendalikan dirinya. Tanpa melepaskan kemaluannya pada lubang itu, dia raih wewangian aroma terapi yang tersedia di meja samping ranjang. Dia kecroti hidung Rini dengan wewangian itu. Dan, ah manjur benar. Rini terbangun dan langsung kembali menangis karena menahan rasa sakit di pantatnya. Dia tak lagi menolak karena pasti hanyalah sia-sia. Justru tolakannya semakin merangsang nafsu setannya Pakde. Dan Pakde sendiri berusaha sabar.</p>
<p>Untuk beberapa saat dia tidak bergerak. Pikirnya, biarlah Rini menyesuaikan diri dulu, dimana penisnya kini sedang menghunjam ke dalam pantatnya. Dia hanya peluki punggung Rini sambil merajuk dan mencumbu. “Nggak apa-apa Rin, jangan takuutt.. nanti ennaakk.. jangan takutt..” sedu sedan Rini masih terdengar.</p>
<p>Kembali ke Herman yang kini mengutuk habis-habisan ulah Pakdenya. Tetapi mana berani dia menyampaikan kutukkan itu hingga ke kuping Pakdenya. Yang ada tinggal rasa cemas dan semakin merasa betapa semua itu karena kesalahan dirinya. Rini telah menjadi korban tingkah lakunya yang pengecut. Ooo.., kenapa jadi beginii..??!!</p>
<p>Aneh, ternyata cumbuan Pakde Karto seperti menyihir Rini. Isakan tangisnya tak lagi terdengar. Walaupun masih sering terdengar kata<br />
“Aduuhh, sakiitt.., yang pelaann..” namun tak ada uapaya menolak dari Rini saat Pakde kembali menggoyang kemaluannya pada anal isteri Herman itu. Dan setelah beberapa saat kemudian goyangan Pakde berubah menjadi pompaan sebagaimana dia memompa vaginanya, Rini sama sekali tidak mengaduh tetapi, nah lihatlah.. Herman melotot keheranan.</p>
<p>Kini dia menyaksikan isterinya mengimbangi goyangan saat penis panjang Pakde menusuki pantatnya. Ternyata Rini dengan cepat memahami kenikmatan yang dijanjikan Pakde Karto. Bahkan ketika beberapa kali penis itu copot dari analnya, tangan Rini dengan sigap menjemputnya kembali untuk diarahkan tepat ke lubang duburnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat atraktip. Seorang dewi cantik manis dalam posisi menungging dia atas ranjang beralaskan sutra melengkungkan pinggulnya untuk mengangkat tinggi-tinggi pantatnya. Sementara di arah belakang seorang lelaki gagah sedang menusuk-tuskkan penis monsternya ke arah lubang pantat sang dewi. Kini Herman mempercepat kocokkan tangannya. Dia ingin meraih orgasmenya, entah untuk yang keberapa kali sejak sore tadi, saat menyaksikan pemandangan yang sangat atraktip itu.</p>
<p>Pakde Karto benar-benar nampak seperti joki. Kuda betina cantiknya diraih surainya. Dia memompa Rini sambil menarik rambutnya sebagai tali kekang. Dan ketika nafsu-nafsu menjemputi puncak-puncaknya. Ketika Rini merasakan betapa benar kata Pakde bahwa dia akan menerima kenikmatan yang kini sedang menapaki puncaknya. Ketika Herman dari balik dinding tak lagi merasakan lecet-lecet pada kulit kemaluannya karena kenikmatan puncak sedang merambatinya. Dan ketika Pakde Karto tak lagi mampu menahan sperma untuk tidak tumpah, dan bahkan kini telah berada di ambang nikmatnya yang paling tinggi.</p>
<p>Maka badai gaduh, jerit, desah dan rintih pada berhamburan. Mulut Rini menjerit dalam rintihan menahan gelora birahi sambil pantatnya dengan kencang maju mundur menjemputi kemaluan Pakde Karto. Dan Herman dari balik dinding merintih tertahan, karena khawatir tertangkap basah, sambil mempercepat koncokkan penisnya yang juga ngaceng berkilatan. Pakde Karto sendiri yang bagai serigala lapar sedang mengejar mangsa, meracau dan mendesah keras-keras menjemput spermanya yang .. naahh.. achirnyaa.. tak tertahan.. tumpah ruah.</p>
<p>Pantat Rini masih terus menjemputi, penis Pakde masih memompa, tangan Herman semakin menambah guratan-guratan pedih sebelum ketiganya tumbang, roboh. Rini dan Pakde bergelimpang di ranjang beralaskan sutera. Tetapi Herman bergelimpang di lantai dingin di kamarnya sendiri. Herman langsung tertidur. Hari ini begitu banyak hal yang sagat melelahkan. Tekanan fisik dan mental serta kesenangan birahi silih berganti. Dia terbangun saat matahri telah tinggi. Dia kaget geragapan. Pakde Karto pasti akan marah, pikirnya. Tetapi hal itu tak terjadi. Pakde Karto bersama Rini semalaman merguk kenikmatan madu. Mereka baru usai dan tertidur menjelang subuh. Kini nampak oleh Herman dari balik dinding, isterinya dalam pelukan Pakde Karto meringkuk dalam selimut tebal. Herman yakin mereka sama-sama bertelanjang.</p>
<p>Herman menjerang air untuk membuat kopi. Dia perlu ngopi. Dia juga membuat kopi untuk yang sekarang masih tidur dalam pelukan.</p>
<p>Perpisahan</p>
<p>Akhirnya Herman terbuka pikirannya. Dia akan dan harus meninggalkan Rini. Tak mungkin lagi baginya merintis dan memperbarui hubungan suami isteri dengan Rini. Hal itu dia yakini akan baik untuk dirinya dan juga baik untuk Rini. Dan dia merasa tak perlu bertanya setuju atau tidaknya pada Rini. Keputusan dia memang sepihak, tetapi itu sudah merupakan keputusan final. Mana mungkin, seorang isteri telah melakukan hubungan seksual dengan penuh nikmat dan sukacita, sementara tahu persis suaminya berada di kamar sebelahnya. Apapun alasannya.</p>
<p>Herman juga yakin Pakdenya bisa menerima jalan pikirannya. Dan bahkan mungkin setengahnya bersyukur. Bukankah dia sangat tergila-gila pada Rini. Dan kini kehendaknya telah kesampaian. Dan Pakde Karto menujukkan kepuasannya yang luar biasa. Siapa tahu, Pakde Karto akan meneruskan keinginannya untuk melamar dan kemudian menikahi Rini.</p>
<p>Pagi yang sangat cerah di Villa Rimbun Ciawi yang sejuk. Pagi itu kedua insan yang sedang mengumbar nafsu syahwatnya kembali saling bercumbu. Mereka menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi yang hangat. Dengan latar belakang dedaunan pakis, pohon pinus dan gemericiknya kali kecil yang aitnya jatuh ke bebatuan Pakde Karto menuntun Rini ke rimbunan tanaman hias yang penuh bunga. Wewangian bunga-bunga yang warna-warni itu mengantarkan mereka terbang mengawang-awang nikmat syahwat dan birahi tanpa batas. Lama mereka berpagut. Saling kecup dan jilat pada bagian-bagian tubuh mereka yang paling merangsang nafsu dilakukan di kebun indah di belakang villa itu.</p>
<p>Pakde Karto tak puas-puasnya menggeluti Rini yang isteri orang lain itu. Dan sebaliknya Rini yang tak pernah lagi memikirkan Herman suaminya tak lelah-lelahnya melakukan tingkah untuk merangsang syahwat Pakdenya. Dia memang benar-benar perempuan panas yang selalu ingin hubungan seksual dengan lelaki perkasa ini. Dia merasakan betapa Pakde mampu menggali seluruh rahasia nikmat syahwat yang ada pada dirinya. Kini Rinilah yang tergila-gila pada Pakde Karto. Dia bersedia melakukan apapun yang akan diminta Pakde. Bahkan sebagaimana yang kini terjadi. Pakde menggelandang Rini untuk berasyik masyuk di dalam taman Villa Rimbun Ciawi yang sejuk dan indah ini. Mereka kini telah bergulingan di atas matras yang sebelumnya telah disiapkan Herman atas permintaan Pakdenya.</p>
<p>Dan Herman juga baru tahu apa maksud permintaan Pakde Karto untuk menggelar matras tadi. Tetapi Herman sekarang juga bukan Herman yang kemarin. Walaupun di depan matanya kini dia saksikan isterinya Rini bergelut nikmat bersama Pakde Karto, dia tidak lagi terbawa emosi. Yang dia pikirkan sekaranga adalah, “Pergi.., pergi, pergi, pergi, pergi..!!”</p>
<p>Begitulah. Herman telah berketatapan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan isterinya, meninggalkan Pakde yang telah menghancurkannya dan dia juga akan meninggalkan judi togel. Selamat tinggal masa lalu!</p>
<p>Sementara Pakde bersama Rini sedang mendayung kenikmatan, Herman menyelinap. Dia pergi tanpa pesan.<br />
“Mereka akan tahu, tanpa harus kuucapkan,” demikianlah tekad dan keyakinannya.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/tukar-pasangan/karena-hutang-istriku-ditiduri.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nafsu Agnes Monica</title>
		<link>http://ceritadewasa.situsbokep.info/cerita-fiksi/nafsu-agnes-monica.htm</link>
		<comments>http://ceritadewasa.situsbokep.info/cerita-fiksi/nafsu-agnes-monica.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 18:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nafsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[agnes monica]]></category>
		<category><![CDATA[agnes monica ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[agnes monica oral seks]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks agnes monica]]></category>
		<category><![CDATA[memek agnes monica]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritadewasa.situsbokep.info/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum cerita ini dibuka, mohon dengan sangat agar dimengerti bahwa ini adalah cerita fiksi alias bukan sebenarnya / rekayasa. Beberapa cerita rekayasa dari artis dan tokoh terkenal lainnya, sengaja dikelompokkan dalam kategori : CERITA FIKSI
Perkenalkan namau Jimmy, umur 19 tahun. Aku akan menceritakan perjalanan seksku saat menikmati tubuh seorang artis cantik bernama Agnes Monica. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Sebelum cerita ini dibuka, mohon dengan sangat agar dimengerti bahwa ini adalah cerita fiksi alias bukan sebenarnya / rekayasa. Beberapa cerita rekayasa dari artis dan tokoh terkenal lainnya, sengaja dikelompokkan dalam kategori : CERITA FIKSI</p></blockquote>
<p>Perkenalkan namau Jimmy, umur 19 tahun. Aku akan menceritakan perjalanan seksku saat menikmati tubuh seorang artis cantik bernama Agnes Monica. Aku adalah salah satu mahasiswa di salah satu universitas negeri di Jakarta. Kata temanku, aku tampan, tinggiku ideal, dan bentuk tubuhku atletis.</p>
<p>Mungkin aku tidak akan menceritakannya terlalu panjang, tapi ringkas dan padat. Sebulan yang lalu, aku pergi ke toko buku yang cukup besar, untuk mencari buku tentang sex, karena aku kuliah di fakultas seksologi.. Tempat itu sekarang cukup sepi, karena sudah sore. Aku sangat menikmati pencarian itu, karena selain membaca inti-intinya, aku juga sambil mengembangkan fantasiku, mengikuti cerita buku-buku itu. Rasanya aku sudah sange. Kalau saja aku punya uang banyak, dan didekatku ada wanita panggilan, pasti aku sudah mengerjainya.<span id="more-77"></span></p>
<p>Aku baru sadar kalau disampingku ada seorang perempuan cantik, dan rasanya aku sering melihatnya, tapi aku lupa dimana. Dia memakai celana jeans dan kaos yang ketat. Aku baru ingat bahwa perempuan itu adalah artis idolaku, Agnes Monica. Aku memberanikan diri menyapanya dan berkenalan. Kami asyik ngobrol, dan aku mulai memancingnya bicara menjurus kemasalah sex. Ternyata dia juga menyukai hal-hal berbau sex. Dia suka melihat film blue, membaca cerita-cerita panas, dan melihat gambar-gambar porno di internet. Aku senang karena hobinya sama denganku. Pembicaran kami berlangsung secara terbuka, dan dia selalu menjawab setiap pertanyaanku, apapun pertanyaan itu. Aku berfikir untuk mengajaknya berhubungan sex. Aku mulai bertanya dengan maksud mengajaknya melakukan itu.</p>
<p>J(Jimmy): Kamu pernah berhubungan sex?<br />
A(Agnes): Pernah sih, baru dua kali.<br />
J: Aku juga pernah, juga dua kali.<br />
A: Dengan siapa?<br />
J: Dengan mantan pacarku, dan teman sekampusku. Kalau kamu dengan siapa?<br />
A: Aku nggak bisa mengatakannya, gimana kalau ternyata kamu wartawan? Lalu kamu mengatakannya pada orang-orang?<br />
J: Aku sudah bilang aku mahasiswa. Kalau kamu nggak bisa bilang nggak apa-apa kok. Aku ngerti. Kamu melakukannya suka sama suka, atau dipaksa?<br />
A: Aku tidak dipaksa. Aku menikmatinya. Terakhir aku bercinta, dua bulan yang lalu. Dan aku sangat ingin melakukannya lagi. Tapi tidak dengan sembarang cowok. Aku akan melakukan itu dengan cowok yang badannya tinggi, atletis, dan tampan seperti kamu.<br />
J: Kalau aku mengajakmu bercinta, kamu mau tidak? Permainanku sangat hebat. Aku hafal sampai 30 variasi gaya. Cewek yang pernah bercinta denganku sampai orgasme tiga kali. Kamu mungkin akan mati kepuasan.<br />
A: Tentu aku mau. Kamu ada tempat? Kalau tidak ada, kita dihotel saja.<br />
J: Dihotel saja. Di rumahku selalu ada orang.<br />
A: Baik, biar aku yang bayar ongkosnya.<br />
J: Agar tidak memancing kecurigaan orang, nanti kamu pergi duluan untuk &#8216;check in&#8217; dan masuk kamar dan aku akan mengikutimu dari belakang. Nanti , pintu kamarnya jangan dikunci dulu.<br />
A: Baik. Kalau begitu ayo kita pergi sekarang.</p>
<p>Kami pun pergi berdua, naik mobilnya Agnes. Setelah sampai dihotel, kami menjalankan rencana kami. Setelah aku sampai dikamar hotel, Agnes sudah menungguku, dia duduk disofa. Dia sudah melepaskan kaos dan celananya, dia hanya memakai bra hitam dan CD yang juga berwarna hitam. Aku langsung mendekatinya, dan mencium bibirnya. Dan kami mulai memainkan lidah. Dia juga sudah ahli memainkan lidahnya. Aku mencium lehernya, sambil meremas dadanya yang belum begitu besar dan memutar putingnya. Dia menjerit &#8220;ooouugghhh&#8221; Aku mulai menjilati dadanya. Dia bertweriak lebih keras lagi. &#8220;ooouuggghhh, aduuuuh&#8221; Aku lang sung membuka baju dan celanaku, Agnespun membuka semua pakaiannya hingga sekarang kami berdua telanjang. Tubuhnya sangat putih dan mulus. Aku semakin bersemangat.</p>
<p>Aku baru ingat pintu kamarnya belum dikunci, aku takut ada yang masuk dan mempergoki kami. Aku langsung mengunci pintinya. Agnes memelukku dari belankang lalu aku berbalik, aku memeluk dia dan mencium lagi bebirnya. Aku langsung menjilati payudara dan putingnya. Kemudian, Agnes langsung memegang kontolku dan mengulumnya. Sambil berkata &#8220;wah, kontolmu besar juga. Mungkin aku akan pingsan karena terlalu nikmat bercinta denganmu&#8221; Aku menjawab &#8220;apa aku bilang. kamu tidak akan kecewa&#8221; Agnes bertanya lagi &#8220;gimana , nikmat enggak? Aku hanya menganggukan kepala. Ternyata, Agnes sudah ahli melakukan oral seks.</p>
<p>Aku bilang pada dia &#8220;aduuh, udah mau keluar nich&#8221; Tapi Agnes tetap asyik menulum kontolku. Akhirnya spermaku keluar dalam mulut Agnes. Tapi dia tidakm marah, malah dia menelannya, dan terus menjilati punyaku hingga bersih. Aku langsung membaringkan tubuh Agnes ke tempat tidur, dan aku langsung me&#8221;licking&#8221; memeknya Agnes. Aku kemudian menjilati klitorisnya dan mulai menjilati kedalam vaginanya. Sambil sesekali mem&#8221;f*ck you&#8221; dengan jari tengahku. Dia teriak kegelian &#8220;aahhhhh&#8230; geli sekali&#8230; oughh terus Jim, ayo sayang ougghhh&#8221; Aku semakin mempercepat jilatanku ke klitorisnya lalu Agnes bilang &#8220;Jim, udah mau keluar nih aduuuhhhh&#8221; Agnes mengeluarkan cairan kewanitaannya, lalu aku meminum dan menyedotnya.</p>
<p>Agnes berkata lagi &#8220;hey Jim, ayo cepat masukan. Aku udah nggak tahan nih. Ayo dong&#8221; Aku langsung tancap gas dan memasukan kontolku ke vaginanya Agnes. Saat itu, aku diatas dan dia dibawah. Kami sambil berciuman. Aku merasakan betapa nikmatnya vagina Agnes Monica. Vaginanya masih sedikit rapat karena belum sering bercinta. Jepitannya pada kontolku sangat terasa. Aku sangat beruntung karena bisa bercinta dengan artis favoritku. Aku takan pernah melupakan ini dan aku berharap ini bisa terulang lagi.</p>
<p>Kami langsung berganti posisi, dengan gaya bintang laut. Agnes berbaring menghadap kesamping, dan daku ada di belakang dia. Aku kembali memompa kontolku. Aku mempercepat pompaanku. Agnes berteriak lagi &#8220;aaahhhh&#8230; nikmat aaahhh aduuuuhhhhhh terus Jim terus&#8221; Aku bembali ganti posisi dengan posisi Doggie Style/gaya anjing. Aku memompa lagi dengan pelan, sambil memegang pantantnya Agnes. Aku menekan punggungnya, hingga pantatnya semakin naik. Dan kami memakai variasi Servent Desire Variat.</p>
<p>Agnes bicara lagi &#8220;Jim, aku udah mau keluar lagi nih aduuuhhhh&#8221; Aku tidak menghiraukannya dan kembali mempercepat genjotanku. Dan &#8220;crooottt&#8221;, air mani Agnes keluar, dan aku merasakan hangat di kontolku. Aku mencabut kontolku dan ternyata kontolku sudah penuh oleh air mani Agnes. Aku membersihkannya dengan tissu. Setelah bersih, Agnes kembali mengulum kontolku selama satu menit. Lalu dia menempelkan kontolku di jepitan payudaranya sambil meremasnya. Serta memasukan lubang kontolku be putingnya. Kemudian permainan kami lanjutka kembali.</p>
<p>Kali ini aku duduk dan Agnes duduk diatasku lalu memasukan kontolku ke memeknya, dengan gaya belalang. Kami saling berhadapan, dan tubuhnya naik turun. Setelah 7 menit dia ganti arah, menjadi maju mundur dengan pelan, hingga kami bisa sambil berciuman. Lalu aku membalikan tubuh Agnes sehingga dia membelakangiku. Aku mendorong pantatnya naik turun.</p>
<p>Setelah itu aku kembali berbaring, sedangkan Agnes duduk diatasku, dengan memakai gaya Women On Top. Dia kembali naik turun, sambil aku terus memandangi tubuhnya, wajahnya, dadanya, dan memeknya. Rasanya seperti mimpi, ini bisa terjadi. Aku langsung bangun dan membalikkan tubuhnya sehingga sekarang aku ada diatas. Aku membuka kakinya dan membentangkannya hingga vaginanya sedikit lebar. Aku kembali menggenjotnya dan meremas payudaranya. Kakinya kembali aku rapatkan dan kami berpelukan kembali, dan aku mempercepat genjotannya karena rasanya aku sudah mau orgasme.</p>
<p>Agnes berkata &#8220;Jim aku mau orgasme lagi, aaghhhh geli, ouuughhhh aduuuhhhhhh&#8230;..oh Jim&#8221;</p>
<p>Aku menjawab &#8220;aku juga mau orgasme nih gimana, mau dikeluarin diluar atau didalam?&#8221;</p>
<p>Agnes berkata &#8220;keluarin didalam aja. Kebetulan besok aku kedatangan bulan. Sisa spermamu akan ikut terbawa keluar. Jadi aku tidak akan hamil&#8221;</p>
<p>Akhirnya kami berdua orgasme secara bersamaan dan terasa hangat sekali ada cairan di kontolku, saat itu kntolku masih ada didalam vagina Agnes. Kami berpelukan, berciuman, dan sepertinya aku mendengar dia bilang &#8220;ooughhh&#8230; Jim, i love you, makasih ya, kamu sungguh hebat. Aku sendiri merasa sangat puas, bisa orgasme sampai dua kali, dan Agnes tiga kali. Kami main selama 1 jam 17 menit. Setelah 15 menit kami beristirahat, kami mandi bersama pukul 8 malam. Aku bilang &#8220;kalau bertemu lagi, kamu mau nggak main lagi denganku?&#8221;</p>
<p>Agnes menjawab &#8220;tentu saja aku mau. Rasanya tidak ada lagi pria yang lebih perkasa dari kamu. Sungguh nikmat&#8221;</p>
<p>Kami kembali berpelukan dan berciuman selama 5 menit. Lalu aku pulang duluan agar orang tidak curiga. Sedangkan Agnes pulang belakangan. Aku berharap agar aku bertemu lagi dengan dia. Tapi Sampai sekarang aku belum pernah bertemu lagi dengan dia. Tapi aku selalu berdoa agar Agnes semakin sukses dan ngetop, walaupun aku tidak bisa memilikinya, tapi aku sudah merasakan nikmatnya vagina Agnes Monica. Terima kasih atas perhatian kalian yang telah membaca cerita ini.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritadewasa.situsbokep.info/cerita-fiksi/nafsu-agnes-monica.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 2.565 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-03-11 19:07:25 -->
